Pernah gak sih, kamu sayang banget sama seseorang, tapi demi menjaga hati dan prinsip, kamu terpaksa bersikap sedingin es ke dia?
Itu yang dirasain Zaza. Waktu hatinya mulai telanjur jauh sama Rayyan, dia milih buat mundur perlahan. Gak ada chat basa-basi, gak ada modus pengen ketemu. Semua rindu dan riuhnya perasaan cuma dia tumpahin di sepertiga malam, langsung ke Pemilik Hati.
Rayyan pun sama. Dia kelihatan cuek dan gak peduli, padahal aslinya lagi berjuang mati-matian nahan rasa demi sebuah komitmen. Akhirnya, mereka berdua terjebak dalam kesunyian, sama-sama ngira kalau cinta mereka cuma bertepuk sebelah tangan.
Saling menjauh, tapi saling mendekat lewat doa apa mungkin cara sedekat ini malah bikin mereka makin jauh selamanya? Atau justru, menjaga jarak demi ibadah bakal berujung pada akhir yang gak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prasasti Cinta di Ujung Jalan
Waktu mengalir bagaikan air jernih yang menelusuri lekuk-lekuk sungai, tenang namun pasti. Langkah-langkah kecil Ghafi yang dulu terbata-bata kini telah berubah menjadi larian lincah yang memenuhi koridor rumah Dinoyo. Udara pagi Kota Malang bertiup lembut, membawa aroma tanah yang tersiram embun dan keharuman kelopak mawar yang baru saja dipetik dari sudut galeri RayyZa Florest.
Di ruang tengah yang luas, sinar matahari pagi menerobos masuk melalui jendela tinggi, membiaskan cahaya keemasan di atas meja kayu tempat Zaza biasa merangkai kata dan bunga. Zaza berdiri di sana, membenahi letak pashmina simpelnya. Wajahnya memancarkan kedamaian yang mendalam, kedamaian seorang wanita yang telah selesai bertarung dengan masa lalu dan kini menikmati panen dari benih-benih kesabaran yang ditanamnya.
Dari arah pintu belakang, Rayyan berjalan mendekat sembari menuntun Ghafi yang sibuk menggenggam sebuah buku cerita bergambar. Rayyan mengenakan kemeja putih kasual dengan lengan yang tergulung hingga siku. Penampilannya kian matang, memperlihatkan ketegasan seorang pria yang telah teruji kepemimpinannya, baik di dalam rumah tangga maupun di Dafril Group.
"Bunda! Lihat, Ayah belikan buku gambar baru!" seru Ghafi dengan suara cemprengnya yang khas, mengacungkan buku itu tinggi-tinggi dengan pendar mata yang bulat sempurna.
Zaza berlutut, menyambut tubuh mungil putranya dan mengecup kedua pipi tembamnya gemas. "Masyaallah, bagus sekali bukunya. Nanti melukis sama Bunda ya, Sayang?"
"Sama Ayah juga!" potong Ghafi tidak mau kalah, membuat Rayyan terkekeh pelan sembari mengacak rambut legam putranya.
"Iya, sama Ayah dan Bunda," sahut Rayyan penuh kehangatan. Ia kemudian memberi kode pada Ghafi untuk bermain di atas karpet bersama mainan kayunya, lalu melangkah mendekati Zaza.
Rayyan berdiri tepat di samping istrinya, menyandarkan siku di tepi meja merangkai bunga. Pandangannya tertuju pada sebuah draf buku tebal ber-sampel cover hard cover dengan ukiran tinta emas di atasnya: Penyulam Aksara: Menjaga Rasa di Ujung Takdir.
"Buku kelimamu ini akan resmi diluncurkan minggu depan, kan?" tanya Rayyan lembut, jemarinya mengusap timbulnya ukiran huruf di cover tersebut.
Zaza mendongak, menyunggingkan senyum tipis yang amat menenangkan. "Iya, Mas. Penerbit bilang semua proses cetak sudah selesai. Ini salinan pertama yang dikirimkan khusus untuk kita."
Rayyan mengambil buku itu, membalik lembar demi lembar yang harum aroma kertas baru. Setiap paragraf di dalamnya adalah saksi bisu perjalanan panjang mereka. Dari lorong-lorong sunyi saat mereka saling membatasi rasa demi menjaga keberkahan, guncangan fitnah keji dari orang-orang masa lalu yang hampir memporak-porandakan segalanya, hingga tangis pertama Ghafi di ambang fajar yang membongkar seluruh berkah langit.
"Za..." panggilan Rayyan terdengar berat namun sarat akan rasa haru. "Kadang kalau mengingat masa-masa di mana kita harus berdarah-darah mempertahankan kepercayaan ini, aku masih sering gemetar. Bagaimana kalau waktu itu kamu menyerah? Bagaimana kalau waktu itu kamu tidak memelukku dengan doamu di atas sajadah?"
Zaza memegang lembut pergelangan tangan Rayyan, menghentikan usapan jemari suaminya di atas kertas. Ia menatap lurus ke dalam netra Rayyan dengan binar keyakinan yang tak pernah pudar.
"Mas... tidak ada 'bagaimana kalau' dalam skenario Allah," tutur Zaza dengan nada suara yang mengalun bagai simfoni indah. "Setiap ujian yang datang bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk mengikis bagian-bagian diri kita yang masih sombong dan kekanak-kanakan. Jika kita tidak melewati badai itu, kita tidak akan pernah tahu seberapa kokoh pondasi yang kita bangun di atas hamparan sajadah sepertiga malam."
Rayyan mengangguk pelan, meresapi setiap frasa yang keluar dari bibir istrinya. Ia meletakkan buku itu kembali, lalu menggenggam kedua telapak tangan Zaza, membawanya ke dadanya, tepat di mana jantungnya berdetak teratur.
"Terima kasih, Zaza. Terima kasih karena tidak pernah melepaskan genggaman ini saat angin bertiup paling kencang," bisik Rayyan dengan ketulusan yang menggetarkan udara di antara mereka. "Buku ini bukan cuma sekadar karya untuk pembacamu, tapi ini adalah prasasti cinta kita. Prasasti yang mencatat bahwa cinta paling mulia adalah cinta yang selalu melibatkan Pemilik Hati di setiap helak jalannya."
"Dan tugas kita sekarang," sambung Zaza lembut, "adalah menjaga prasasti ini agar tetap bersih, membesarkan Ghafi dalam naungan syariat yang sama, hingga kelak kita dipertemukan kembali di pelataran surga-Nya."
Di atas karpet bermain, Ghafi tertawa renyah saat berhasil menyusun balok-balok kayunya tinggi-tinggi. Suara tawa polos itu menggema, berpadu syahdu dengan embusan angin pagi yang menggoyangkan daun-daun mawar di taman.
Rayyan menarik Zaza ke dalam dekapan hangatnya, mengecup kening istrinya dengan wujud syukur yang tak terhingga. Di rumah mungil kawasan Dinoyo itu, di bawah langit Kota Malang yang bersih dan terang, sang Penyulam Aksara tidak lagi sedang menantikan keajaiban. Sebab keajaiban itu telah nyata hadir di dalam dekapannya, sebuah takdir indah yang dirajut dengan sabar, dijaga dengan doa, dan diabadikan dalam rida Pemilik Semesta.
beruntung kalo perjodohan itu mengarah kesana 😙
bikin abang rayyan bingung
si eneng berada dijalur lain sih 😁
. sampai kamu gak bisa meninggalkan sholat hehe