NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Pelakor / Kelahiran kembali menjadi kuat / Rumah Tangga
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Karin mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendukung suaminya Dimas menuju kesusksesan. Setelah berada di puncak kesuksesan, Suaminya justru mengkhianatinya dengan membawa pulang wanita muda dengan berniat untuk di jadikannya istri kedua. Lebih menyakitkan nya lagi keluarga suaminya ikut mendukung dan bahkan merendahkanya. Seolah pengorbanannya selama bertahun-tahun tidaklah berarti.

Saat nyawanya berakhir karena ulah sang pelakor. Karin terbangun kembali di masa lalu tepat saat Suaminya membawa wanita itu kerumahnya. Di beri kesempatan kedua Karin berubah menjadi wanita kuat dan bersumpah akan membalas rasa sakitnya di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Lampu kristal raksasa menggantung megah di tengah ballroom Hotel Grand Meridian. Alunan musik klasik mengiringi para tamu yang mulai memenuhi ruangan. Para pengusaha, pejabat, hingga tokoh masyarakat saling berjabat tangan sambil berbincang hangat. Di sudut ruangan, para wartawan dan fotografer telah bersiap mengabadikan setiap tamu penting yang datang malam itu.

Beberapa menit kemudian, Dimas memasuki ballroom bersama Bu Ratna dan Vina.

Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang dipadukan dasi berwarna perak. Di sisi kanannya, Bu Ratna berjalan dengan anggun mengenakan gaun berwarna ungu tua. Sementara Vina tampil begitu menawan dengan gaun merah marun yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Senyum tidak pernah lepas dari bibirnya sejak turun dari mobil.

Begitu mereka memasuki ruangan, beberapa rekan bisnis Dimas langsung menghampiri.

"Selamat malam, Pak Dimas."

"Selamat malam." sapa Dimas

"Senang akhirnya Bapak bisa hadir lagi tahun ini."

Dimas membalas jabat tangan mereka satu per satu dengan senyum ramah.

Tak lama kemudian, salah seorang pengusaha senior melirik ke arah Vina yang berdiri di samping Dimas.

"Pak... siapa wanita cantik ini?"

Senyum Vina semakin mengembang. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia berharap malam ini Dimas akan memperkenalkannya di depan semua orang.

Namun sebelum Dimas sempat membuka mulut, Bu Ratna lebih dulu menjawab.

"Dia Vina." kata Bu Ratna. "Anak yang sudah saya anggap seperti anak kandung sendiri."

"Oh..." pria itu mengangguk sambil tersenyum. "Pantas terlihat begitu akrab."

Vina tersenyum malu-malu, tetapi di dalam hati ia sedikit kecewa. Bukan jawaban itu yang ia harapkan. Ia ingin dikenalkan sebagai perempuan yang istimewa di sisi Dimas.

Di sisi lain, beberapa tamu mulai berbisik pelan.

"Bukankah Pak Dimas sudah menikah?"

"Iya."

"Lalu di mana istrinya?"

"Aneh, biasanya acara seperti ini didampingi istri."

Bisikan-bisikan itu membuat Dimas sedikit tidak nyaman.

Seorang relasi bisnis lain ikut bertanya dengan nada penasaran.

"Pak Dimas, istri Bapak tidak hadir?"

Rahang Dimas mengeras sesaat.

"Saya..." ucapnya sambil mencari alasan.

Sebelum kalimatnya selesai, Bu Ratna langsung menyela dengan senyum yang terlihat sangat ramah.

"Karin sedang kurang sehat." Sambar Bu Ratna. "Kasihan sekali. Jadi dia memilih beristirahat di rumah."

"Oh, begitu," jawab pria itu tanpa curiga.

Dimas mengembuskan napas pelan. Ia bersyukur ibunya kembali menyelamatkan keadaan.

Sementara itu, Vina diam-diam tersenyum. Malam itu, Semua berjalan persis seperti yang mereka rencanakan.

Vina bahkan mulai membayangkan bagaimana nanti dirinya akan berdiri di samping Dimas ketika sesi foto bersama para donatur utama dimulai.

Namun di saat yang sama...

Di depan pintu utama hotel, sebuah sedan hitam perlahan berhenti.

Arga turun lebih dulu, lalu berjalan mengitari mobil untuk membukakan pintu belakang.

Dengan anggun, sebuah sepatu hak tinggi berwarna hitam menyentuh lantai marmer.

Sesosok wanita kemudian turun dari dalam mobil.

Gaun hijau zamrud yang dikenakannya berkilau lembut di bawah cahaya lampu hotel.

Arga sedikit menundukkan kepala.

"Silakan, Nyonya."

Karin mengangkat wajahnya menatap megahnya hotel di hadapannya.

Keduanya berjalan menuju pintu utama hotel. Belum sampai beberapa langkah, beberapa fotografer yang sedang mengabadikan tamu penting tanpa sadar mengarahkan kamera mereka ke arah Karin.

Kilatan lampu kamera mulai menyala.

Beberapa tamu juga ikut menoleh.

"Siapa wanita itu?"

"Sepertinya bukan artis."

"Tapi auranya luar biasa."

Karin tetap berjalan seolah tidak mendengar bisikan siapa pun.

Sesampainya di meja registrasi, seorang petugas wanita menyambutnya dengan senyum profesional.

"Selamat malam, Bu. Selamat datang di Gala Charity Night. Mohon kartu undangannya."

Karin membalas senyum itu.

"Maaf, saya tidak membawa undangan."

Karin mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam dengan tulisan emas dari dalam tasnya, lalu meletakkannya di atas meja registrasi.

"Saya Karin Wijaya."

Petugas mengambil kartu nama itu. Begitu membaca nama yang tertera, matanya langsung membelalak.

"Karin Wijaya? Putri tunggal dari keluarga Wijaya. Salah satu keluarga pengusaha terbesar yang menjadi donatur utama Yayasan Harapan Bangsa."

Petugas buru-buru membuka daftar tamu VIP di komputer. Beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah drastis. Ia segera berdiri lebih tegak.

"Maaf, Nona Karin." Nada bicaranya kini jauh lebih hormat. "Nama Nona memang terdaftar sebagai tamu VIP."

Karin hanya mengangguk pelan.

"Apakah Ayah dan Ibu saya sudah datang?"

"Sudah, Nona."

"Mereka tiba sekitar lima belas menit yang lalu dan sekarang sedang berada di dalam ballroom."

Sudut bibir Karin perlahan terangkat.

"Syukurlah."

Sebelum berangkat ke hotel, ia memang sempat menelepon ayahnya. Saat itu ayahnya sempat heran karena selama ini Karin hampir tidak pernah meminta bantuan.

"Ayah, malam ini datanglah ke Gala Charity Night."

"Memangnya ada apa?"

"Percayalah padaku. Malam ini Ayah akan mengelihat pertunjukan seru."

Meskipun bingung, Pak Wijaya akhirnya mengiyakan permintaan putrinya. Semua telah berjalan sesuai rencana.

Petugas segera memanggil seorang panitia. "Pak, tolong antarkan Nona Karin menuju ballroom."

"Tentu." Panitia itu mempersilakan Karin berjalan lebih dulu. "Silakan, Nona."

Arga yang sejak tadi berdiri beberapa langkah di belakang hanya memperhatikan dalam diam. Melihat bagaimana seluruh panitia memperlakukan Karin dengan penuh hormat, ia semakin yakin bahwa nyonya mudanya memang berasal dari keluarga yang luar biasa.

Pintu ballroom perlahan terbuka. Dari dalam terdengar suara pembawa acara yang sedang memandu jalannya kegiatan.

"...dan malam ini kami juga mengucapkan terima kasih kepada para donatur yang selama bertahun-tahun telah mendukung kegiatan yayasan kami."

Di sisi lain ballroom, Dimas masih berbincang dengan beberapa rekan bisnisnya. Bu Ratna berdiri di sampingnya sambil sesekali tersenyum kepada para tamu, sedangkan Vina menikmati setiap perhatian yang diberikan orang-orang di sekitarnya.

Tak lama kemudian, pembawa acara kembali berbicara.

"Hadirin yang kami hormati, malam ini kita juga kedatangan salah satu donatur utama yang telah memberikan kontribusi besar bagi yayasan selama bertahun-tahun."

"Tepuk tangan yang meriah untuk keluarga Wijaya."

Seluruh ballroom langsung dipenuhi tepuk tangan.

Pintu utama terbuka lebar. Pak Wijaya dan istrinya melangkah masuk dengan anggun, menyapa para tamu yang langsung menghampiri mereka.

Dimas ikut menoleh.

"Oh, ternyata Pak Wijaya juga hadir," gumamnya.

Bu Ratna tersenyum kecil.

"Kalau bisa nanti kita sempatkan menyapanya, mereka kan besan."

Namun, sebelum senyum itu sempat bertahan lama, langkah Bu Ratna mendadak terhenti.

Beberapa langkah di belakang pasangan suami istri itu...

Seorang wanita dengan gaun hijau zamrud berjalan anggun memasuki ballroom.

Dengan kepala tegak dan senyum tenang, Karin melangkah mengikuti kedua orang tuanya.

Dalam sekejap, Senyum di wajah Dimas membeku.

Wajah Bu Ratna langsung kehilangan warna.

Sementara Vina membelalakkan mata, seolah tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.

1
Thewie
terlalu bertele tele.
Dede Dedeh
perasaan setiap episode nya kok cina and the geng yg selalu menang, karin terlalu lambat memberi balasan,,, kecewa aku thor/Pray/
Thewie
sikarin kayak jadi bodoh. keluar dr rmh itu kenapa. bawa smua berkas2 penting. ini pake acara belanja belanja . bodoh bodoh
Irma
puas banget 🤣🤣🤣 lanjut Thor semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!