NovelToon NovelToon
Pegasus From Diamond Planet

Pegasus From Diamond Planet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:388
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Saat Planet Diamond runtuh menjadi abu akibat amukan monster legendaris Typhon, sebuah pengorbanan darah terakhir mengirim dua benih harapan ke Planet Bumi. Namun, badai dimensi memisahkan takdir mereka secara kejam.
Alan, bocah Pegasus berusia tujuh tahun yang cerdas, terdampar di danau sebuah kastil kuno. Ia ditemukan oleh Jacob, sang Raja Vampir penguasa malam yang mematikan. Di dunia yang dipenuhi predator berdarah dingin, Alan harus bertahan hidup, menyembunyikan sayapnya, dan tumbuh bersama seorang Pangeran Vampir misterius.
Sementara itu, di belahan kota seberang, seorang bayi perempuan berambut seputih salju terlahir dari kristal pualam ajaib di tengah hutan. Dirawat oleh sepasang petani miskin yang menamainya White Crystal, bayi itu menyembunyikan rahasia besar: setiap kali kulitnya menyentuh air, udara musim panas mendadak membeku menjadi es.
Dua penyintas terakhir. Dua klan bumi yang saling bertolak belakang—Vampir yang dingin dan Petani yang naif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Bayi Ajaib

"Sepertinya perasaan psikologis-mu saja yang saat ini sedang terlalu sensitif. Kau tadi sedang menahan amarah padaku soal pilihan baju berwarna merah muda itu, kan? Mungkin stres dan amarah itu terbawa hingga membuat halusinasimu bekerja sampai ke kamar mandi ini."

Sarah tertegun di tempatnya berdiri, matanya membelalak lebar. Dia segera berlutut di samping suaminya, mencelupkan kembali telapak tangannya sendiri ke dalam bak mandi tersebut.

Dan benar saja... jantung Sarah seolah berhenti berdetak sesaat. Air di dalam bak itu kini terasa hangat-hangat kuku di kulitnya. Tidak ada lagi jejak hawa dingin yang menusuk tulang atau kabut es seperti yang dia rasakan dua menit yang lalu.

"Tapi... tapi demi Tuhan, tadi air ini benar-benar sedingin es, Lucas! Aku berani bersumpah aku tidak sedang berbohong atau gila!"

Sarah tetap bersikeras pada pendiriannya, namun di dalam hatinya yang terdalam, dia mulai meragukan tingkat kewarasan otaknya sendiri.

"Sudahlah, Sarah. Sepertinya kamu memang benar-benar kelelahan karena kurang tidur sejak kita membawa anak ini pulang, makanya emosimu menjadi tidak stabil dan sensitif," jawab Lucas lembut, mencoba mengusap pundak istrinya untuk menenangkan.

Sementara itu, White yang berbaring di atas tempat tidur hanya menatap lurus ke arah Lucas dengan sepasang mata bulatnya yang jernih.

Sedetik kemudian, bayi perempuan itu memberikan seulas senyuman kecil yang teramat misterius—seolah-olah dia secara sadar sengaja menyembunyikan sisa energi es Pegasus miliknya dari jangkauan deteksi sang ayah asuh.

Melihat suaminya tetap memperlakukan ucapannya seperti angin lalu, Sarah mendengus kencang dan langsung berdiri dengan kedua tangan berkacak pinggang di depan Lucas. Matanya berkilat penuh amarah yang menyala.

"Kurang tidur? Emosi tidak stabil? Jadi secara tidak langsung maksudmu aku sudah gila dan mulai mengarang cerita fantasi di rumah ini, begitu?!"

"Bukan begitu maksudku, Sayang. Hanya saja jika dipikirkan secara logika normal manusia—"

"Logika konyolmu itu tidak berlaku di kamar ini, Lucas!" potong Sarah dengan kalimat cepat yang memotong argumen suaminya. "Aku yang memegangi tubuh bayi ini dengan kedua tanganku sendiri, aku yang mencelupkannya, dan aku yang merasakan kulit tanganku hampir membeku sampai mati rasa! Jika kau jauh lebih memilih untuk memercayai suhu air yang sekarang daripada memercayai kata-kata dari mulut istrimu sendiri, lebih baik kau angkat kaki dan keluar saja dari kamar ini sekarang juga!"

Lucas mengangkat kedua telapak tangannya ke udara, mengambil langkah mundur untuk menenangkan barier amarah istrinya yang kian meluap. "Oke, oke, maafkan aku. Mungkin tadi ada aliran udara dingin mendadak dari celah jendela luar atau sesuatu yang membuat kulitmu salah merasakan suhu air."

"Terserah apa katamu, Lucas!"

Sarah menepis kasar tangan Lucas yang kembali mencoba untuk menyentuh bahunya. Dia merasa harga diri dan kesaksiannya sama sekali tidak dihargai oleh suaminya sendiri.

"Kau selalu saja sibuk mencari alasan masuk akal untuk menjelaskan hal aneh yang jelas-jelas berada di luar nalar. Ambil saja seluruh tumpukan pakaian berwarna merah muda sialan itu dan keluar dari pandanganku!"

Lucas hanya bisa menghela napas panjang yang sarat akan rasa frustrasi. Dia melangkah mundur keluar dari kamar tidur sebelum amarah Sarah benar-benar meledak dan menghancurkan seisi rumah kayu mereka.

Begitu pintu kamar kayu itu tertutup rapat, Sarah kembali memutar tubuhnya menatap White. Bayi perempuan berambut putih itu kini terdiam membisu di atas kasur, menatap lurus ke langit-langit dengan mata yang berkilauan indah, seolah-olah dia sadar betul bahwa keberadaan elemen magisnya baru saja memicu pertengkaran domestik kecil di antara kedua orang tua asuhnya.

Tak lama kemudian, suara pintu kamar kembali berderit terbuka perlahan. Menampilkan sosok Lucas yang berdiri di ambang pintu dengan wajah pias, tampak sudah merangkai rentetan kosakata baru untuk membujuk Sarah agar bersedia memaafkan kesalahannya.

"Mau apa lagi kau kembali ke sini?" tanya Sarah dengan nada suara ketus, langsung menghujani suaminya dengan pelototan tajam yang mematikan.

Lucas tersentak di tempatnya berdiri. Belum sempat dia membuka mulut untuk bersuara, pertanyaan ketus dan beraura dingin dari istrinya itu seketika membuat lidahnya kelu dan semakin gelagapan setengah mati.

"Ak-ku... aku hanya—"

Lucas tidak berani melanjutkan untaian kalimatnya saat dia melihat sorot mata Sarah yang kian menajam dengan deru napas yang masih memburu kasar akibat sisa kekesalan tadi.

Lucas segera menelan kembali seluruh kosakata bujukannya di tenggorokan. Dia tahu betul psikologi istrinya; dalam kondisi emosi yang membara seperti ini, permohonan maaf apa pun hanya akan dianggap sebagai angin lalu yang tidak berguna atau justru berpotensi memicu ledakan argumen yang jauh lebih destruktif.

Dengan gerakan tangan yang pelan dan pasrah, Lucas menarik kembali lengannya yang sempat terulur di udara. Dia memilih untuk mengalah dan memberikan ruang privasi bagi istrinya untuk menenangkan diri.

"Baiklah... aku akan keluar dan menunggumu di teras depan. Mungkin kau memang sedang membutuhkan waktu tenang berdua bersama White," gumam Lucas pelan dengan nada bersalah. Dia membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari kamar dengan bahu yang tampak merosot lesu.

Di luar pintu kamar, Lucas menyandarkan punggung tegap petaninya pada dinding kayu rumahnya sembari mengembuskan napas panjang berulang kali ke udara. Otak logisnya masih tidak habis pikir, bagaimana mungkin air hangat di dalam wadah bisa berubah drastis menjadi sedingin es dalam hitungan detik?

Baginya, penjelasan medis mengenai sindrom kelelahan akut atau halusinasi visual jauh lebih masuk akal dan aman untuk diterima daripada harus mempercayai keberadaan entitas sihir di dunia fana ini.

Sementara di dalam kamar, Sarah masih mendengus kesal untuk meredakan sisa amarahnya. Dia melangkah mendekati kasur, memandangi wajah White yang kini terlihat begitu tenang dan polos seolah tidak terjadi malapetaka apa pun sebelumnya.

"Kau lihat sendiri itu, kan, Sayang? Ayah asuhmu itu selalu saja lebih memilih untuk mempercayai logika dunianya yang kaku daripada harus mempercayai insting ibunya sendiri," bisik Sarah lembut pada White sembari mulai menyeka perlahan tubuh bayi perempuan berambut putih itu menggunakan handuk kecil yang basah.

Setelah selesai menyeka seluruh lekuk tubuh mungil White dengan handuk basah dan memakaikannya selembar baju bayi bermotif sederhana, Sarah menggendong putri kecilnya itu menuju ke ruang tengah. Langkah kakinya perlahan memotong keheningan rumah kayu mereka.

Di sana, dia menemukan Lucas yang sedang duduk bersandar di atas sofa usang sembari menatap layar televisi yang menyala redup, mencoba mengalihkan pikirannya yang sempat tegang akibat pertengkaran kecil mereka sebelumnya.

Sarah melangkah mendekat, lalu mengulurkan bundelan hangat di pelukannya. "Tolong gendong White sebentar, Lucas. Aku mau ke dapur untuk mengambil camilan sore dan membuatkan kita minuman hangat."

Lucas mendongak, keterkejutannya langsung berganti dengan raut wajah gugup. Pria petani itu menerima tubuh White ke dalam dekapan lengannya dengan gerakan yang teramat kaku dan berhati-hati.

Otot-otot tangannya menegang; sudah sangat lama sekali dia tidak pernah menggendong seorang bayi yang begitu rapuh, dan fakta bahwa White terlahir dari sebuah kristal misterius di kawah hutan membuat Lucas merasa seolah sedang memegang sebuah bom waktu yang berharga.

Sementara suaminya sibuk menimang White dengan kikuk, Sarah melangkah ke dapur kayu mereka. Dia berniat membuatkan segelas jus apel dan jeruk segar, kombinasi buah favorit Lucas setelah seharian penuh memeras peluh di ladang kentang.

Hanya butuh waktu beberapa menit bagi Sarah untuk menyelesaikan racikannya. Wanita tomboi itu kembali berjalan menuju ke ruang tengah sembari membawa sebuah nampan kayu berisi dua gelas besar jus buah yang segar dan sepiring kue kering. Namun, takdir rumah tangga mereka sore itu tampaknya sedang gemar bermain-main.

Tepat saat langkah kakinya tinggal dua meter lagi mencapai area karpet sofa, ujung sandal rumah yang dikenakan Sarah tidak sengaja tersangkut pada lipatan karpet yang menonjol. Sarah kehilangan keseimbangan tubuhnya.

Wanita itu terpekik kecil saat tubuhnya limbung ke depan. Nampan kayu di tangannya terlepas, membuat piring kue kering dan dua gelas kaca berisi jus buah berwarna jingga itu melayang bebas di udara, bersiap untuk jatuh berantakan menghantam lantai papan rumah mereka.

Tepat pada detik yang krusial itu, ketika cairan jus jeruk dan apel tersebut hampir tumpah mengotori lantai, White yang berada di dalam dekapan kaku Lucas tiba-tiba menggeliat. Bayi perempuan berambut putih itu menggerak-gerakkan sepasang tangan mungilnya yang bebas ke udara.

WUSS—

Tanpa ada suara ledakan, seberkas cahaya putih keperakan yang sangat tipis menyembur keluar dari ujung jari telunjuk mungil sang bayi. Sinar itu menghantam kumpulan cairan jus yang sedang melayang bebas di udara.

Dalam sekejap mata, hukum fisika Bumi seolah diputus paksa; cairan jingga yang semula berbentuk fluida itu mendadak membeku di udara, bermutasi menjadi jutaan butiran salju dan kristal es kecil yang teramat indah dan berkilauan sebelum akhirnya jatuh perlahan menimpa lantai kayu seperti hujan salju mikro di tengah musim panas. Piring dan gelas kaca yang menyertainya mendarat di atas tumpukan salju itu tanpa sedikit pun mengalami keretakan.

Lucas dan Sarah seketika mematung di posisi masing-masing. Udara di dalam ruang tengah mendadak membeku oleh keheningan total.

Sepasang mata mereka membulat sempurna, napas mereka tertahan di tenggorokan seiring dengan detak jantung yang berpacu liar.

"Lucas... apa... apa matamu juga melihat apa yang baru saja kusaksikan?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!