Demi melindungi harga diri suaminya yang mandul, Larissa rela menanggung caci maki sebagai wanita mandul. Namun, pengorbanannya dibalas dengan surat cerai dan pengusiran kejam setelah sang suami memalsukan hasil medisnya demi bersanding dengan wanita lain.
Tiga tahun berlalu, dunia terguncang ketika Larissa bangkit sebagai istri dari CEO terkaya dan melahirkan dua anak yang sehat. Saat kebohongan masa lalu mulai terbongkar, giliran Larissa yang memegang kendali untuk membuat mantan suaminya merangkak dalam penyesalan seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - Tempat tinggal baru, harapan baru
Sebuah mobil sedan hitam mewah berlogo Megah Corp meluncur mulus membelah gerbang besi setinggi empat meter yang menjadi barikade utama sebuah kediaman megah di kawasan elite Menteng.
Kompleks hunian pribadi itu berdiri kokoh di atas lahan seluas satu hektar, dikelilingi oleh pepohonan rindang yang asri dan jajaran penjaga berseragam yang selalu bersiaga. Di sinilah pusat kehidupan pribadi Bayu Wicaksono, sang penguasa tertinggi Megah Corp.
Mobil berhenti tepat di depan sebuah paviliun dua lantai bergaya kolonial modern yang terletak di sisi barat gedung utama. Larissa melangkah turun, membawa satu koper berisi sisa pakaiannya.
Ketika asisten Harris membukakan pintu depan paviliun tersebut, Larissa sempat tertegun di ambang pintu selama beberapa detik.
Kontras antara kamar kos sempitnya dengan kemewahan tempat tinggal barunya ini terasa begitu masif.
Paviliun ini memiliki ruang tengah yang luas dengan lantai marmer putih Italia, jendela-jendela kaca besar yang menghadap langsung ke taman belakang, dapur bersih modern, dan sebuah kamar tidur utama dengan ranjang king size berlapis selimut yang lembut.
Semua fasilitas ini disediakan Bayu secara cuma-cuma demi memfasilitasi Larissa agar bisa mendampingi Elang kapan saja anak itu membutuhkannya.
Larissa menarik napas dalam-dalam, mengusir rasa terpana yang sempat merayap di benaknya. Dia meletakkan kopernya di sudut kamar, lalu menatap pantulan dirinya di cermin besar.
"Ini adalah benteng pertahanan barumu. Setiap jengkal kemewahan ini adalah modal yang diberikan takdir untuk menghancurkan mereka yang pernah membuangmu.”
Hari pertama dia resmi bertugas sebagai pendamping khusus langsung diuji. Pukul satu siang, atmosfer di dalam rumah utama mendadak berubah menjadi sangat tegang.
Suara langkah kaki yang tergesa-gesa dan bisikan panik dari para pelayan terdengar menggema di sepanjang koridor lantai dua, tepat di depan pintu kamar tidur Elang.
"Bagaimana ini? Den Elang sudah mengunci diri di dalam kamar sejak jam sebelas tadi," bisik seorang pelayan paruh baya dengan wajah cemas.
"Beliau menolak menyentuh makanan siangnya sama sekali. Malah piringnya sempat dilempar hingga pecah di depan pintu."
Dua orang pengasuh bersertifikat internasional yang digaji mahal oleh Bayu hanya bisa berdiri pasrah di depan pintu kayu ek tersebut. Wajah mereka pucat dan dipenuhi rasa frustrasi.
Mereka sudah mencoba segala cara, mulai dari merayu dengan mainan robot edisi terbatas, menawarkan es krim kesukaan, hingga membujuk dengan nada tegas, namun semuanya gagal total.
Elang justru semakin histeris, berteriak dari dalam kamar karena merindukan ayahnya yang sejak pagi harus memimpin rapat mendesak bersama investor asing di luar kota.
Larissa melangkah perlahan mendekati kerumunan pelayan tersebut. Blazer kerjanya sudah diganti dengan blus santai yang memberikan kesan hangat dan tidak mengintimidasi.
"Biar saya yang menangani ini. Kalian semua bisa kembali ke bawah," ujar Larissa kepada para pengasuh dan pelayan yang ada di sana.
Para pengasuh lama itu melirik Larissa dengan tatapan meremehkan. Di mata mereka, Larissa hanyalah wanita asing tanpa latar belakang pendidikan psikologi anak yang beruntung bisa menarik perhatian Bayu.
"Kita yang sudah berpengalaman bertahun-tahun saja tidak bisa membujuk Den Elang jika sedang tantrum karena merindukan Pak Bayu. Sebaiknya kita tunggu Pak Bayu pulang saja, daripada kamu membuang waktu," cetus salah satu pengasuh dengan nada sinis.
Larissa tidak membalas ucapan ketus itu, dia hanya menatap pengasuh itu dengan sepasang mata gelapnya yang dingin, membuat wanita paruh baya itu refleks membungkam mulutnya karena merasa terintimidasi.
Setelah seluruh pelayan dan pengasuh pergi ke lantai bawah, koridor panjang itu seketika menjadi sunyi, hanya menyisakan suara isak tangis tertahan dari dalam kamar Elang.
Larissa melangkah mendekati pintu kamar yang terkunci rapat. Dia tidak mengetuk pintu dengan keras, tidak juga memanggil nama Elang dengan suara keras yang menuntut.
Digerakkan oleh nalurinya, Larissa justru duduk perlahan di atas lantai karpet menyandarkan punggungnya tepat di depan daun pintu kayu tersebut.
Larissa mengeluarkan sebuah buku cerita dongeng bergambar yang sempat dia ambil dari perpustakaan rumah tadi.
Tanpa memaksa Elang untuk membuka pintu, Larissa mulai membuka halaman pertama dan membacakannya dengan suara yang sangat lembut dan menenangkan, sebuah teknik pendekatan yang mengutamakan rasa aman sang anak.
"Alkisah, di sebuah hutan yang sangat luas dan indah, ada seekor anak rajawali kecil yang sedang duduk sendirian di dalam sarangnya yang tinggi," Larissa mulai bercerita, suaranya mengalun lembut menembus celah bawah pintu.
"Anak rajawali itu sedang sedih karena ayahnya, sang raja langit, harus terbang jauh untuk menjaga perbatasan hutan dari badai. Anak rajawali itu mengira ayahnya melupakannya. Dia menangis, menutup matanya dengan sayap kecilnya karena takut..."
Suara isak tangis di dalam kamar perlahan-lahan mulai mengecil. Elang yang semula sedang meringkuk di sudut tempat tidur sembari memeluk bantalnya, mendengarkan suara familiar itu dengan telinga yang terpasang cermat.
Getaran suara Larissa yang begitu hangat dan penuh ketulusan perlahan mulai meruntuhkan dinding ketakutan di dalam hati kecilnya.
Larissa terus membaca halaman demi halaman dengan sabar, mengabaikan rasa pegal di punggungnya.
"Tapi, anak rajawali itu tidak tahu, bahwa dari atas langit yang sangat tinggi, sang ayah selalu melihat ke bawah, memastikan bahwa sarang anak rajawali itu tetap hangat dan aman dari angin malam. Sang ayah tidak pernah pergi melupakannya, dia hanya sedang bekerja untuk membawa pulang ranting-ranting pohon terkuat agar rumah mereka tidak roboh saat hujan datang..."
Klik.
Suara halus kunci pintu yang berputar seketika memutus narasi dongeng Larissa.
Larissa menghentikan bacaannya, lalu menolehkan kepalanya perlahan. Daun pintu kayu itu terbuka sedikit, menyisakan celah selebar sepuluh senti.
Dari balik celah tersebut, muncul sebuah wajah kecil yang tampan dengan sepasang mata bulat yang sembap dan hidung yang memerah akibat terlalu lama menangis. Elang menatap Larissa dengan pandangan ragu, tangannya masih memegang erat gagang pintu bagian dalam.
Larissa tersenyum manis, dia meletakkan buku dongengnya di lantai, lalu mengulurkan kedua tangannya dengan terbuka ke arah Elang.
"Hai, Elang anak pintar. Cerita anak rajawalinya belum selesai, lho. Mau dengar kelanjutannya bersama Tante di dalam?" tanya Larissa dengan suara yang sangat lembut.
Elang menatap sepasang mata gelap Larissa yang memancarkan rasa aman, sangat berbeda dengan tatapan mata para pengasuh lamanya yang selalu memandangnya dengan rasa jengkel tersembunyi.
Tanpa sepatah kata pun, Elang membuka pintunya lebar-lebar. Anak itu langsung berlari kecil menubruk tubuh Larissa, melingkarkan kedua lengan mungilnya di sekeliling leher wanita itu dengan sangat erat.
Larissa mendekap tubuh kecil Elang dengan penuh kasih sayang, mengusap punggungnya yang sempat tegang akibat tantrum. Setelah Elang benar-benar tenang, Larissa membimbing anak itu duduk di sofa kecil kamarnya.
Dengan kesabaran penuh, Larissa menyuapkan sendok demi sendok nasi tim ayam yang tadi sempat ditolak Elang.
Ajaibnya, di tangan Larissa, Elang memakan seluruh makanan siangnya hingga bersih tanpa ada aksi mogok makan sedikit pun, membuat para pelayan yang diam-diam mengintip hanya bisa ternganga tak percaya.
Malam harinya, jarum jam dinding di ruang tengah rumah utama sudah menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas menit. Hujan gerimis tipis mulai membasahi halaman berumput menciptakan suasana sunyi yang kian pekat.
Pintu utama rumah besar itu terbuka perlahan. Bayu melangkah masuk dengan raut wajah yang dipenuhi oleh gumpalan rasa letih setelah seharian penuh memeras otak di meja negosiasi bisnis luar kota.
Pria itu melepaskan jas hitam mewahnya, menyerahkannya kepada Harris yang setia mengekor di belakangnya dengan langkah kaki yang diredam.
"Bagaimana kondisi Elang hari ini, Harris?" tanya Bayu dengan nada suara terdengar parau dan lelah. Di dalam kepalanya, dia sudah bersiap menerima laporan buruk mengenai tantrum hebat putranya seperti yang biasa terjadi jika dia pulang terlambat.
"Menurut laporan kepala pelayan malam ini... Den Elang sempat mengunci diri siang tadi, Pak," jawab Harris dengan suara rendah.
"Tapi Ibu Larissa berhasil mengatasinya dalam waktu singkat. Sejak siang tadi, Den Elang kabarnya sangat tenang dan enggan lepas dari sisi Ibu Larissa."
Bayu menghentikan langkah kakinya sejenak, alis tebalnya bertaut samar mendengar laporan tersebut.
Pria itu melangkah perlahan menuju ruang tengah yang luas, berniat memeriksa sendiri kondisi sang putra sebelum masuk ke kamar pribadinya.
Tapi begitu dia melangkah melewati pilar marmer ruang tengah, seluruh langkah kakinya seketika terhenti total.
Sepasang mata elangnya yang biasanya terlihat mengintimidasi mendadak melembut.
Di atas sebuah sofa panjang berwarna krem yang terletak di tengah ruangan, tampak sebuah pemandangan yang sangat damai. Sebuah pemandangan indah yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ada di dalam rumah mewah yang dingin ini sejak kepergian mendiang istrinya.
Larissa sedang tertidur dalam posisi duduk bersandar di sudut sofa yang empuk. Kepalanya sedikit miring ke kanan, bertumpu pada bantal kecil sofa, dengan napas yang teratur dan wajah polos yang tampak begitu lelah namun damai.
Sementara Elang meringkuk sangat erat di sampingnya. Kepala kecil anak itu tidak lagi beralih mencari bantal, melainkan berbantalkan paha Larissa dengan nyaman. Tubuh mungilnya melengkung protektif bagai seekor anak kucing yang sedang mencari kehangatan.
Yang membuat pemandangan itu terasa begitu menggetarkan hati adalah kedua tangan mungil Elang mencengkeram erat ujung kain blus milik Larissa, bahkan dalam kondisi tidur lelap sekalipun. Seolah-olah, Elang takut jika dia melepaskan cengkeraman itu, sosok hangat yang baru didekapnya ini akan hilang saat dia terbangun nanti.
Sebuah selimut rajut tipis sewarna gading tampak menutupi tubuh mereka berdua, menyatukan keduanya dalam sebuah potret kebersamaan yang begitu intim.
Bersambung
Emak suka cerita ini , tidak bertele- tele, alurnya runtut