NovelToon NovelToon
Secangkir Kopi Tanpa Gula

Secangkir Kopi Tanpa Gula

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Atik's

Raka harus menikah mendadak dengan Laras setelah calon istrinya, Rara, kabur. Demi menjaga masa depan putrinya, ayah Laras mewajibkan surat perjanjian pranikah yang membuat Raka merasa tertekan dan membenci pernikahan ini. Meski Laras sangat mencintainya dan berharap membina rumah tangga, Raka tetap dingin, kasar, dan tak bisa melupakan Rara. Namun, Laras bertekad meluluhkan hati suaminya dan mengubah pernikahan yang bermula dari keterpaksaan ini menjadi penuh kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3

*****

 

Dengan suara tegas dan lantang, Raka mengucapkan ikrar akad tanpa kesalahan. Secara resmi, Laras kini telah menjadi istrinya yang sah.

Raka hanya bisa menerima kenyataan pahit ini. Ia menikahi wanita yang tidak dicintainya, masa depan rumah tangganya pun terasa samar. Ia hanya menuruti perintah orang tua agar tidak kehilangan hak waris dan fasilitas yang dimilikinya.

Berbeda dengan perasaan Raka, Laras justru meneteskan air mata bahagia. Mimpinya yang selama ini hanya ia pendam akhirnya terwujud. Kini ia hanya perlu berusaha meluluhkan hati suaminya, agar Raka bisa melupakan Rara dan menerima kehadirannya.

Keduanya kini berdiri di atas pelaminan, tampak serasi seperti raja dan ratu. Semua tamu memuji keserasian mereka.

“Kapan semua ini berakhir? Aku sudah lelah berpura-pura bahagia. Dasar gadis manja, pasti kau yang menyuruh orang tuamu meminta hal ini pada keluargaku. Jangan terlalu senang dulu, posisimu tidak akan pernah bisa menggantikan Rara. Kita lihat saja seberapa kuat kamu bertahan,” batin Raka sambil menatap tajam istrinya.

Laras yang ditatap begitu langsung merasa gugup dan salah tingkah.

“Kak, jangan terus menatap begini… aku jadi malu,” ujar Laras dengan nada lembut.

“Jangan terlalu percaya diri. Aku tak tertarik sama gadis manja yang tak bisa apa-apa. Kau hanya beruntung lahir di keluarga berada, sehingga selama ini cuma bisa menikmati harta orang tuamu saja,” bisik Raka tepat di telinga istrinya.

Kata-kata itu terasa seperti tusukan tajam di hati Laras, apalagi mereka masih berdiri di hadapan tamu di atas pelaminan. Namun ia berusaha menahan rasa sakit itu, lalu menggantinya dengan senyum yang tetap terlihat lembut. Bagi para tamu, sikap mereka terlihat seperti pasangan yang sedang berbisikkan kata-kata manja, sehingga Laras terlihat hanya tersipu malu.

“Dasar gadis munafik, pandai sekali berpura-pura,” gumam Raka dalam hatinya.

Acara berjalan lancar hingga akhirnya usai. Tamu mulai pulang, hanya menyisakan keluarga terdekat. Keempat orang tua mendekat dengan wajah penuh harap.

“Kalian beristirahatlah. Pasti lelah berdiri seharian menyambut tamu. Kamar pengantin sudah kami siapkan. Semoga kalian bahagia, kami sudah menanti kehadiran cucu nanti,” ujar Sari dengan senyum lebar.

“Mama…” Raka menjawab dengan nada tak senang mendengar ucapan itu.

“Sudah, jangan banyak protes. Ajak istrimu ke kamar. Ini tiket perjalanan bulan madu kalian, besok pagi kalian berangkat. Terimalah pernikahan ini, saling kenal dan buka hati. Jangan terus melihat masa lalu, tapi pandanglah ke depan agar tak menyesal nanti,” nasihat Bima tegas.

“Pakaian dan kebutuhanmu sudah disiapkan, semuanya ada di kamar. Sekarang istirahatlah agar tak terlambat besok,” tambah Lina.

Keduanya pun berpamitan, namun baru beberapa langkah melangkah, Darma memanggil Raka.

“Ada apa, Pa?” tanya Raka, sudah mulai terbiasa memanggil ayah mertuanya.

“Aku tahu kau belum mencintai putriku, tapi jangan berani menyakiti hatinya. Kami sudah merelakan dia menjadi istrimu demi menutupi rasa malu keluargamu. Jika kau berani berbuat gila, aku pastikan kau akan menyesal seumur hidup,” tegas Darma sebagai peringatan.

“Baik, Pa. Kalau begitu kami masuk dulu,” jawab Raka singkat, sudah tak tahan mendengar nasihat panjang lebar.

*****

Di dalam kamar, Laras sedang sibuk membersihkan sisa riasan di wajahnya.

Sementara itu, Raka sudah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, menghilangkan rasa gerah setelah seharian penuh dalam acara.

Jantung Laras berdegup kencang saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Saat melihat bayangan suaminya di cermin, ia tertegun dan tanpa sadar membiarkan pikirannya melayang ke mana-mana. Namun lamunannya segera terputus saat Raka menyuruhnya segera masuk dan membersihkan diri. Dengan tergesa-gesa, Laras pun masuk ke dalam kamar mandi.

Ia sudah bulat tekadnya: malam ini ia akan berusaha mendekatkan diri dan meluluhkan hati suaminya. Bahkan ia sudah menyiapkan pakaian yang dirasa cukup menarik, agar bisa menarik perhatian Raka.

“Aku harus bisa membuatnya jatuh hati padaku,” gumamnya dalam hati sambil menatap pantulan dirinya di cermin.

Setelah selesai berpakaian, Raka langsung duduk bersandar di tepi ranjang sambil membuka laptopnya. Ia ingin menyelesaikan sebagian pekerjaan yang tertunda. Baginya, malam pertama ini tak ada bedanya dengan malam-malam biasa. Jika saja yang menjadi istrinya adalah Rara, tentu suasana akan terasa sangat berbeda.

Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, tapi Raka tak menoleh sedikit pun. Ia tetap sibuk dengan layar di hadapannya, seolah tak ada orang lain di ruangan itu.

Laras memberanikan diri melangkah mendekat. Ada rasa kecewa melihat suaminya tak meliriknya sama sekali, tapi ia tak mau menyerah. Niatnya sudah bulat, ia akan berusaha sekuat tenaga merebut hati lelaki itu.

“Ya Tuhan, berikan aku kekuatan dan hilangkan rasa malu ini. Menggoda suami sendiri itu hal yang wajar, bukan? Semua ini kulakukan demi keutuhan rumah tangga kami. Bantu aku, ya Allah,” doanya dalam hati.

“Kau tidak lelah berdiri terus di situ?” tegur Raka dingin.

Laras hanya diam, lalu mengambil laptop itu dan meletakkannya di meja samping ranjang. Setelah itu ia duduk mendekat, perlahan menyentuh tangan Raka yang terasa kasar dan kokoh.

“Kak, aku sudah siap menjadi istrimu sepenuhnya. Aku serahkan seluruh hidupku padamu, mulai hari ini aku milikmu,” ucapnya lembut.

Raka hanya tersenyum sinis melihat tingkah istrinya. Ia tak menyangka gadis itu berani mendekat dan menyentuhnya dengan begitu terang-terangan.

“Kau kira aku akan tergoda dengan cara murahan begini? Bahkan seandainya kau tak berselimut kain pun, aku tak akan tergoda melihatmu. Jangan bermimpi aku akan menyentuhmu, dasar gadis murahan!” ucap Raka dengan nada menusuk.

Raka langsung beranjak pergi, lalu merebahkan diri di atas sofa tanpa memedulikan keberadaan istrinya sedikit pun.

Sementara itu, Laras berusaha menahan rasa sesak dan tangis yang ingin meledak mendengar ucapan tajam suaminya. Ia segera berbalik, naik ke tempat tidur, menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya, lalu mematikan lampu agar bisa segera beristirahat.

Ia mencoba menguatkan hatinya, menerima kenyataan pahit dan hinaan yang baru saja didengar. Bukankah ini sudah menjadi risiko yang ia pilih sendiri, menikahi lelaki yang hatinya masih tertuju pada orang lain? Ia sadar, untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan, pasti ada harga dan pengorbanan yang harus dibayar.

“Kamu harus kuat, Laras. Untuk meluluhkan hatinya, kamu memang harus bersabar dan berusaha lebih keras. Kebahagiaan takkan datang dengan sendirinya. Semua butuh waktu dan kesabaran,” gumamnya dalam hati untuk menenangkan diri.

1
helena
lanjuttt thor😍
Atik's: baik kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!