Jeslyn tidak percaya jika dirinya masuk kedalam cerita novel dan parahnya menjadi istri kedua yang tidak diceritakan dalam novel, ibu tiri dari pria yang diceritakan akan meninggal karena memperebutkan seorang wanita.
Jeslyn istri tidak diinginkan suaminya serta anak tirinya berniat mengubah takdir Lucian anak tirinya, siapa sangka niatnya hanya ingin menyelamatkan tokoh Lucian saja malah mendapatkan bonus jika suaminya malah jatuh cinta padanya dan juga Lucian yang bucin pada ibu tirinya.
Mampukah Jeslyn menyelamatkan Lucian dan mengubah takdir Lucian? Selamat Membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata Aku Pelakor dan Istri Kedua!
"Hah? Apa-apaan ini?!"
Kepala Jeslyn terasa seperti dihantam palu godam. Ingatan-ingatan asing menyerbu otaknya bagaikan kaset rusak yang diputar paksa, suara-suara sumbang, kilasan pesta kapal pesiar yang gemerlap, alkohol, dan wajah seorang pria dingin bernama Keith Emmanuel Zephyr.
Jeslyn terduduk lemas di pinggiran ranjang yang empuk. Ia menjambak rambutnya sendiri, mencoba mengurai benang kusut yang tiba-tiba memenuhi kepalanya.
"Ibu tiri? Gue... gue pelakor?" Jeslyn mendesis, suaranya terdengar tidak percaya.
"Sialan! Jadi gue bukan ibunya Lucian? Gue cuma orang ketiga yang manfaatin keadaan buat ngerusak rumah tangga orang? Wah, gila! Ini bener-bener di luar dugaan!"
Ia terus bergumam, matanya menatap nanar ke arah meja rias. Ingatannya yang sekarang mulai tersusun rapi namun menyakitkan.
Jeslyn atau pemilik tubuh ini adalah seorang wanita yang terobsesi dengan Keith, pria kaya raya yang dingin dan tidak peduli pada apa pun kecuali pekerjaannya. Peristiwa di kapal pesiar itu bukan sebuah ketidaksengajaan, melainkan jebakan. Dan sekarang, dia sedang mengandung benih yang diminta sebagai syarat pertanggungjawaban.
"Keith cuma mengiyakan? Dia nggak peduli sama gue?" Jeslyn tertawa sinis.
"Ya pantas aja, orang dia sendiri juga nggak peduli sama anaknya sendiri! Terus kalau gue istrinya... di mana Lucian sekarang? Apa dia masih hidup?"
Jeslyn bangkit berdiri, perut buncitnya terasa semakin berat, tapi pikirannya lebih berat lagi. Ia mondar-mandir di kamar yang terasa jauh lebih mencekam daripada sebelumnya.
"Tunggu, tunggu, tunggu," ia berhenti sejenak, jarinya mengetuk-ngetuk dagu.
"Di novel yang gue baca, nggak ada tuh disebutin soal istri kedua. Yang gue tahu, Lucian itu menderita karena ayahnya kerja terus dan ibunya, si Vivian itu, sibuk selingkuh. Tapi... nggak ada cerita soal wanita yang jebak Keith di kapal pesiar!"
"Apa jangan-jangan..." Jeslyn menelan ludah, tenggorokannya terasa kering.
"Gue masuk ke sini malah ngerubah alur? Atau jangan-jangan, di cerita aslinya, si Jeslyn ini emang nggak pernah ada? Atau dia cuma karakter figuran yang nggak penting sampai penulisnya pun lupa nyebutin dia?"
Ia merasa panik. Jika ia bukan bagian dari alur asli, apakah artinya ia adalah anomaly? Apakah keberadaannya justru akan membuat Lucian lebih menderita?
"Lucian..." gumamnya lagi. Nama itu terasa getir di lidahnya.
"Di umur berapa dia sekarang? Apa dia udah jadi kerangka di gang sempit itu, atau dia lagi nunggu waktu buat dibunuh sama sahabatnya?"
Jeslyn memutar-mutar jari di rambutnya, frustrasi. "Kalau dia masih hidup, gue harus nemuin dia. Tapi gimana caranya? Gue bahkan nggak tahu rumah ini di mana, atau di mana kamar Lucian berada. Ini rumah luasnya kayak labirin pastinya, dan gue cuma sendirian di kamar ini!"
Ia berjalan menuju pintu, tangannya gemetar saat memegang gagang pintu berlapis emas itu.
"Gue harus keluar. Gue harus tahu keadaan sekarang. Kalaupun gue ini pelakor di mata orang lain, gue nggak peduli. Misi gue cuma satu yaitu selamatkan Lucian. Titik!"
Namun, saat tangannya hampir memutar gagang pintu, ia ragu. Ia teringat kembali sosok Lucian yang digambarkan di novel, anak laki-laki pendiam, dingin, dengan mata yang selalu terlihat lelah dan kesepian.
"Kalau dia masih kecil dan gue datang sebagai ibu tiri yang jahat, dia bakal makin benci sama gue," bisiknya pada ruangan kosong.
"Jeslyn, lo harus pinter. Jangan bar-bar dulu. Lo di sini sebagai istri sah kedua. Lo punya akses. Lo punya kekuasaan buat ngelindungin dia, setidaknya di dalam rumah ini."
Ia kembali ke depan cermin, menatap wajah cantik namun penuh kekecewaan di sana.
"Vivian selingkuh, Keith sibuk kerja, dan si Jeslyn ini malah sibuk jadi benalu. Lucian benar-benar hidup di neraka dunia."
"Oke, Jeslyn, fokus!" teriaknya pada pantulan diri.
"Lo bukan lagi cuma pembaca novel yang nangis gara-gara keripik singkong. Lo sekarang adalah bagian dari cerita ini. Kalau ceritanya harus berubah, maka biar gue yang ubah! Gue bakal jadi tembok buat Lucian. Gue bakal bikin dia ngerasa punya rumah, bukan cuma sekadar bangunan megah tanpa jiwa."
Ia mencoba mengatur napasnya. "Pertanyaannya, di mana si Lucian sekarang? Apa dia lagi di kamarnya? Apa dia lagi sekolah? Atau jangan-jangan..."
Jeslyn merasa bulu kuduknya berdiri. "Jangan-jangan dia lagi disiksa oleh keheningan rumah ini?"
Ia kembali menatap perutnya. "Dan bayi ini... apa dia bakal jadi alat buat Keith, atau jadi pelipur lara buat Lucian? Sialan, kenapa takdir hidup orang lain jadi serumit ini?"
Jeslyn kembali duduk di tepi ranjang, masih dengan sejuta tanda tanya yang menari-nari di kepalanya. Tidak ada suara orang lain, hanya keheningan rumah besar yang justru membuatnya semakin waspada.
"Tenang, Jeje. Lo bisa. Lo anak bar-bar, lo nggak bakal takut sama plot twist sampah kayak gini," ucapnya meyakinkan diri sendiri.
"Sekarang, cari tahu di mana Lucian. Itu prioritas utama. Kalaupun dia udah besar dan dingin, gue bakal jadi ibu tiri paling cerewet yang pernah dia punya, sampai dia capek buat jadi dingin terus!"
Ia tersenyum miring. Meski bingung, semangatnya mulai berkobar. Ia tidak akan membiarkan Lucian berakhir menjadi kerangka di dalam novel ini. Ia akan menjadi anomali yang mengubah tragedi menjadi sebuah cerita yang jauh lebih hangat, meski ia harus menjadi "ibu tiri" yang menyebalkan bagi semua orang di rumah ini.
"Lucian, tunggu gue. Entah lo di mana, Mami baru lo yang nggak tahu malu ini bakal cari lo sampai ketemu!"
Bersambung...
Semoga kalian suka, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.