NovelToon NovelToon
Cinta Lama, Dendam Baru

Cinta Lama, Dendam Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Cilia

Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

XIX - Tekanan

Kafe di sudut jalan itu masih sepi ketika Kirana tiba pukul sepuluh pagi, cuma ada beberapa pelanggan duduk sendirian dengan laptop mereka. Aroma kopi panggang bercampur bau hujan semalam yang masih menempel di trotoar luar, mengingatkannya sekilas pada basement yang sama sekali tidak ingin ia ingat pagi ini.

Ia sengaja memilih tempat ini, kafe yang cukup jauh dari kantornya dan jarang dikunjungi rekan kerja mereka, tempat dimana mereka bisa bicara tanpa ada resiko untuk didengar atau dikenali oleh orang lain.

Sepanjang perjalanan ke sana, pikirannya terus berputar menyusun berbagai kemungkinan.

Kalau benar Dimas pengirimnya, berarti sahabat yang selama ini ia percaya telah menyimpan rahasia sebesar itu tanpa memberi Kirana petunjuk sekecil apa pun. Ia tidak tahu reaksi apa yang harus ia tunjukkan

Apakah ia harus marah? Atau ia harus berterima kasih?

Dimas sudah menunggu, dua cangkir kopi tersaji di depannya, tak satu pun tersentuh. Wajahnya tampak lelah.

“Lu yang ngirim paket itu,” Kirana spontan menuduhnya begitu ia sampai di kursinya.

Dimas tidak membantah, cuma mengangguk pelan, matanya menatap Kirana dengan rasa bersalah. “Gua udah nyimpen dokumen itu dua tahun, Kir. Gua nemu nggak sengaja waktu bantu audit arsip lama perusahaan. Tapi gua nggak pernah berani nunjukin ke lu.”

“Dua tahun.” Kirana mengulang, suaranya bergetar menahan emosi. “Lu nyimpen sesuatu sepenting ini… dua tahun dan nggak pernah bilang ke gua?”

“Gua mau kasih tau lu...” Mata Dimas menghindar sesaat sebelum kembali menatap Kirana. “Tapi setiap kali gua mau ngomong, gua liat betapa kerasnya lu berjuang, betapa rapuhnya lu setiap kali nama ayah lu disebut. Gua nggak sanggup jadi orang yang buka luka lama itu lagi.”

“Terus… kenapa sekarang?” Kirana bertanya, suaranya bergetar antara marah dan bingung. “Kenapa lu simpen dua tahun, terus tiba-tiba kasih tau sekarang? Pakai acara kirim paket misterius segala, harusnya kan sebagai sahabat, lu kasih tau langsung di depan muka gua…”

“Gua bingung, Kir. Gua nggak tau caranya kasih tau lu tanpa harus liat lu hancur di depan mata gua,” Dimas menjawab.

Kirana menatapnya lama, mencoba memahami logika di balik keputusan sahabatnya, meski bagian dari dirinya masih merasa dikhianati karena dibiarkan dalam ketidaktahuan selama itu. “Kenapa sekarang, Dim? Kenapa lu pilih waktu ini?”

“Karena gua liat lu makin deket sama Radit,” Dimas menjawab, suaranya penuh emosi yang tidak bisa dipendam lagi. “Gua takut lu bakal jatuh cinta lagi sama dia tanpa pernah tau kebenaran soal keluarganya, dan gua nggak sanggup biarin itu terjadi tanpa ngasih lu kesempatan buat tau kebusukan keluarga mereka.”

Kata-kata itu menohok Kirana. Di satu sisi, ia memahami niat baik di balik keputusan Dimas. Di sisi lain, ia juga menyadari ada sesuatu yang lebih personal, lebih posesif, tersembunyi di balik alasan itu.

“Ini bukan cuma soal ngasih tau gua kebenaran, kan?” Kirana bertanya pelan, menatap Dimas lurus. “Ini juga soal perasaan lu… lu pengen gua berhenti deket sama Radit.”

Dimas tidak langsung menjawab, rahangnya tampak mengeras. “Mungkin iya. Tapi itu nggak bikin apa yang ada di dokumen itu jadi kebohongan, Kir.”

“Gua tau,” Kirana menjawab lirih. “Gua cuma pengen lu jujur soal alasan lu.”

“Gua udah jujur. Gua peduli sama lu, mau lu percaya atau nggak.” Dimas menyandarkan tubuh ke kursi, suaranya berubah menjadi lebih tegas. “Sekarang lu udah tau, lu harus pake ini, Kirana. Bawa bukti ini ke publik. Ekspos kebusukan Hartono Wibowo. Hancurin reputasi Wibowo Group kayak mereka udah ngehancurin ayah lu, keluarga lu.”

“Lu pikir bisa segampang itu?” Kirana menatap Dimas. “Lu pikir gua bisa gitu aja ekspos semua ini tanpa mikirin konsekuensinya?”

“Gua udah mikirin ini berbulan-bulan sebelum akhirnya ngirim paket itu.” Suara Dimas makin bersemangat. “Kalau lu ekspos sekarang, sebelum lamaran Radit dan Valerie, lu nggak cuma ngehancurin reputasi Wibowo Group. Lu juga batalin pernikahan itu, bebasin Radit dari komitmen yang bukan pilihannya.”

“Konsekuensi apa yang lebih besar dari kematian ayah lu, Kir?” Suaranya makin keras. “Lu nggak bisa terus ngelindungin mereka cuma karena lu masih punya perasaan sama Radit.”

“Ini bukan cuma soal Radit,” Kirana menjawab, menahan emosinya sendiri. “Kalau gua ekspos ini sekarang, sebelum proyek ini selesai, gua nggak cuma ngehancurin Wibowo Group. Gua juga ngehancurin Cipta Prada Land, karyawan-karyawan gua, semua yang udah gua bangun lima tahun terakhir.”

“Lu bisa bangun dari awal lagi,” Dimas berkata, meski nada suaranya sendiri terdengar tidak yakin.

“Maksud lu, kayak waktu ayah gua nyoba buat bangun perusahaannya lagi?” Kirana bertanya, matanya mulai berkaca-kaca menahan campuran antara kemarahan dan kesedihan. “Dia nggak sempet, Dimas. Dia meninggal sebelum sempet bangkit lagi. Gua nggak mau ngulang kesalahan yang sama dengan bertindak gegabah tanpa perhitungan yang matang.”

Dimas terdiam, tampak terkejut dengan ketegasan Kirana. “Jadi.. lu bakal biarin mereka lolos gitu aja? Biarin Hartono terus hidup dengan kekayaan yang dibangun dari kehancuran ayah lu?”

“Gua nggak bilang gua bakal biarin dia lolos,” Kirana menjawab, suaranya lebih tenang meski hatinya masih bergejolak. “Gua bilang, gua butuh waktu buat mikirin cara yang tepat, yang nggak ngehancurin orang-orang yang nggak bersalah dalam prosesnya.”

“Orang-orang yang nggak bersalah kayak Radit, maksud lu?” Nada sinis mulai menyelinap ke dalam suara Dimas.

“Ya.” Kirana menjawab tegas, menatap Dimas dalam, ia tidak lagi berusaha menyembunyikan kemarahan yang selama ini ia coba pendam. “Kayak Radit. Dia bukan ayahnya, Dimas. Dia nggak milih dilahirkan dalam keluarga itu, sama kayak gua, gua juga nggak milih dilahirkan sebagai korban dari perbuatan mereka. Gua nggak bisa ngehukum seseorang atas dosa orang lain.”

“Lu masih aja belain dia,” Dimas berkata, suaranya kini penuh kekecewaan. “Setelah semua yang lu temuin, lu masih nyari cara buat ngelindungin dia.”

“Gua nggak pernah ngelindungin dia, Dim.” Kirana membalas, suaranya bergetar menahan emosi. “Gua ngelakuin itu karena gua tau rasanya dihukum atas sesuatu yang bukan kesalahan gua sendiri. Orang-orang ngeremehin gua bertahun-tahun karena kegagalan bisnis ayah gua, seolah itu cerminan siapa diri gua. Gua nggak mau ngelakuin hal yang sama ke orang lain, bahkan kalau orang itu adalah anak dari orang yang udah ngehancurin hidup gua.”

Dimas menatapnya lama, dan Kirana bisa melihat kekecewaan yang dalam mulai terpancar di matanya.

“Lu tau,” Dimas akhirnya berkata sembari berdiri dari kursinya, “gua pikir, dengan ngasih lu bukti itu… lu bakal berubah jadi berani ambil tindakan… setelah tujuh tahun mendam luka ini sendirian. Tapi sekarang gua tau, lu masih terlalu cinta sama dia. Lu nggak bisa nilai secara objektif kalau menyangkut Radit.”

“Dimas —” Kirana mencoba menahannya, tapi Dimas sudah mengambil jaketnya dan bersiap untuk pergi.

“Lu terlalu baik, Kirana,” Dimas bergumam, sebelum berbalik dan berjalan keluar dari kafe itu, meninggalkan Kirana sendirian dengan dua cangkir kopi yang sudah dingin.

Kirana duduk diam, termenung beberapa saat, ia menatap kursi kosong yang baru saja ditinggalkan oleh Dimas.

Ia tidak menyesali keputusannya untuk tidak segera mengekspos kebenaran itu, tapi ia juga tidak bisa mengabaikan rasa sakit karena kehilangan dukungan dari salah satu orang yang paling ia percaya selama beberapa tahun terakhir.

Ia meraih cangkir kopinya, meminum sedikit meski rasanya sudah tidak enak karena dingin.

Apakah keputusannya melindungi Radit itu bijaksana, atau sekadar kelemahan?

Ia tidak tahu jawaban pastinya. Yang ia tahu, hatinya, meski ia sudah dikhuanati berkali-kali oleh keadaan, ia masih belum sanggup untuk menghukum seseorang yang tidak sepenuhnya bersalah.

Ia meraih ponselnya, mempertimbangkan untuk mengirim pesan pada Dimas, mencoba memperbaiki keretakan yang baru saja terjadi. Tapi jarinya berhenti di atas layar.

Ia sadar, apa pun yang akan ia katakan sekarang, dengan emosi mereka berdua yang masih sama-sama panas, kemungkinan besar cuma akan memperburuk keadaan.

Ia memutuskan untuk memberi waktu, buat Dimas maupun dirinya sendiri, sebelum mencoba menjembatani jarak yang baru saja terbentuk di antara mereka.

Sepulang dari kafe, Kirana menghabiskan sisa harinya dengan pikiran yang terus melayang antara kekecewaan pada Dimas dan keraguan pada keputusannya sendiri.

Ia tahu, cepat atau lambat, ia harus menemukan cara untuk menuntut keadilan bagi ayahnya tanpa menghancurkan orang lain di dalam prosesnya, tanpa mengorbankan semua hal berharga yang masih tersisa di sisinya.

...****************...

TING!!!

Notifikasi pesan datang dari Nadia.

Dimas kelihatan aneh banget pas balik ke kantor tadi. Kalian berantem?

Kirana menatap layar lama sebelum membalas.

Panjang ceritanya, Nad. Nanti gua ceritain kalau udah siap.

Oke. Gua nggak akan maksa. Tapi lu makan yang bener, ya. Jangan cuma ngopi doang seharian.

Kirana tersenyum tipis, satu-satunya senyum yang berhasil ia keluarkan sepanjang hari itu.

Setidaknya, di tengah semua yang sedang terjadi, ia masih punya satu orang yang tidak pernah berhenti mengulurkan tangan untuk selalu membantunya.

1
Dian Meilani
bagus kk , pnasaran alurnya gimana
m.marsela
kalau masih sayang, kenapa melepaskan sih duit, kepo banget sama alasannya ninggalin kirana
Ade Chubi
Radit hebat 👍
Ade Chubi
selalu nyerang pihak perempuan nya ,kalo menyerang Radit , Valerie tau akan konsekuensinya 😂😂
Cilia: Radit punya kuasa ka😂
total 1 replies
m.marsela
padahal ada orang baru yang siap untuk selalu ada
tapi orang yang pernah memberi luka justru masih selalu memenangkan ruang di hati.
Cilia: Terlsdang masa lalu selalu menang ka… huhu
total 3 replies
Raudhatul Zannah
buat penasaran kak ceritanya, semangat ya kak
Ery Sithi Badriyyah
seru bgt ceritanya
Ery Sithi Badriyyah
seru ceritanya lanjut yuk
white star ⭐
bikin ketagihan membacanya
mary dice
Nah gitu dong Kirana 🔥🔥 ditunggu gebrakan-gebrakanya melawan m
para musuh 💪💪
Arni Arlinawati pratiwi
semangat anak ku sayang..
helena
lanjut thoor
m.marsela
Fix lanjut baca, penasaran banget
Putri Ayu/PqxxyZ
Sangat merekomendasi ceritanya... Yang belum baca wajib baca sih ini
Cilia
Penjelasannya bisa dibaca di bab-bab selanjutnya! Makin seru loh😆
Putri Ayu/PqxxyZ
terjadi salah paham ya...tapi kenapaa gak dijelasin sih malah ilang 😊
Putri Ayu/PqxxyZ
yuk bisa yuk cari cowok selain Raditya...💪💪 🤭
Cilia
Terimakasih atas dukungannya kak❤️
Raudhatul Zannah
semangat kak
Wawan
Satu iklan dan mawar buat mu Thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!