Gymora Sasami seorang mahasiswa yang terkenal akan kepintarannya, dia juga putri tunggal keluarga kaya.
Dia selalu dipuji dan dieluh-eluhkan di kampus.
Namun, citra yang sebelumnya sudah dibangun olehnya terancam dihancurkan oleh seorang Badboy kampus yang tidak sengaja memergoki dirinya digudang saat sedang memuaskan dirinya sendiri.
Pagi itu digudang, Draka Nilon mengambil alat yang ada ditangan Gymora, hal itu membuat Gymora yang akan mencapai titik kepuasannya terkejut.
"Aku tidak menyangka, seorang wanita cantik yang terkenal pintar dan jual mahal di kampus melakukan hal yang tidak terpuji seperti ini," sindir Draka.
Gymora langsung menutup tubuh bagian bawahnya.
"Draka aku mohon, jangan sebarkan video itu!" pinta Gymora.
Melihat Draka yang diam, Gymora terus memohon.
"Karena kamu terus memohon dan berlutut, baiklah kita buat kesepakatan. Kalau kamu ingin aku tidak menyebarkan videomu itu. Kamu harus melayaniku!"
Kedua bola mata Gymora membelalak, mengingat dia belum pernah melaku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8.
Draka yang melihat wajah cantik Gymora begitu menyedihkan merasa iba.
Tapi, apa yang bisa ia perbuat sekarang? Ia juga tidak mungkin menunjukkan simpatinya secara terang-terangan.
Mengingat dirinya dan gadis didepannya tidak pernah dekat.
Takutnya Gymora akan curiga dengan sikapnya.
"Kamu tinggal saja di apartemen milikku! Walaupun apartemennya jelek, tapi masih layak dihuni!"
Gymora menggeleng. "Aku nggak bisa merepotkan mu!"
Draka ikut menggeleng. "Aku nggak repot kok!"
"Aku tahu kamu nggak punya tempat tinggal, dan ayahmu juga tidak mempunyai saudara. Bahkan keluarga ibumu, aku tahu mereka selama ini merendahkan mu karena ayahmu. Lebih baik tinggal denganku saja!" Jelas Draka dengan tatapan sedikit mesum.
Hal itu membuat Gymora ragu untuk berurusan dengan draka.
Tapi kalau sampai ia berkeliaran di luar sana dan tidak memiliki tempat tinggal, bisa saja ia akan menjadi korban pelecehan.
Apalagi sebelumnya banyak mahasiswa dikampus yang mengejar cintanya.
Ia menatap ke arah Draka sekali lagi seraya menghembuskan napas kasar. Bagaimana pun juga pria didepannya adalah orang yang menyelamatkan dirinya saat dikampus.
Gymora tidak boleh berpikiran buruk dan tidak tahu balas budi.
"Oke Draka, terimakasih banyak." Katanya seraya senyuman manis.
Senyuman Gymora yang sangat cantik dan tulus, membuat Draka sangat terpesona.
Apalagi melihat kedua bola mata Gymora yang sangat cantik.
Draka tak kuasa menahan senyumannya.
"Kalau begitu kamu bersiap! Aku akan pergi mengurus biaya kepulangan," kata Draka bersiap pergi meninggalkan ruangan.
Gymora lantas bertanya dengan wajah bingung. "Memangnya sudah ada orang yang mau membeli chip game milik ku?"
Seingatnya Draka tidak memfoto chip miliknya, ataupun bermain ponsel.
Bukanya Gymora meremehkan Draka.
Tapi, seingatnya Draka berasal dari kalangan biasa.
Uang lima puluh juta, bukanlah uang yang sedikit.
Draka yang bisa menebak apa yang dipikirkan Gymora. Lantas ia berkata, "Aku tahu, kamu nggak percaya kalau aku punya uang sebanyak itu. Karena penampilanku yang seperti ini bukan?"
Gymora dengan polos mengangguk.
Kedua sudut Draka terangkat, dia tidak menyangka jika Gymora masih sepolos itu.
Ia pun memilih untuk menggoda gadis itu.
"Tapi sayangnya, seperti apa yang kamu pikirkan! Aku memang tidak punya uang sebanyak itu."
Kedua pupil mata Gymora membulat sempurna. Wajahnya terlihat sangat panik, "Terus gimana? Katanya kamu mau mengurus administrasi rumah sakit?"
Draka memasang wajah tidak berdaya seraya mengedikkan bahunya. "Nggak jadi, aku mau pulang."
Lalu ia berjalan mendekat seraya menyerahkan chip kembali ke tangan Gymora. "Ini chip mu aku kembalikan."
Tanpa menunggu jawaban Gymora, Draka berjalan ke arah pintu.
Menunggu Gymora memohon kepadanya.
Tapi yang terjadi gadis itu malah diam.
Gymora sebenarnya reflek ingin memohon, tapi ia sadar.
Siapa dia? Siapa Draka? Bahkan ia dan Draka belum pernah dekat sebelumnya.
Akhirnya ia memilih mencari jalan lain.
Gymora melirik ke arah pisau yang ada di samping tempat tidur. "Apakah dengan mengakhiri hidup, semua permasalahan hidupku akan selesai?" gumamnya dalam hati putus asa.
Ceklek, terdengar suara pintu ruangan inapnya yang tertutup, Draka benar-benar keluar, tapi Gymora tidak peduli.
Awalnya ia ingin menyalahkan Draka, karena memasukkannya dalam ruang inap presidential dirumah sakit dengan biaya perawatan yang sangat tinggi.
Tapi, tanpa Draka ntah apa yang terjadi pada kaki dan tangannya?
Ia menatap tangan kanannya yang diperban. "Kalau tanganku begini? Apakah aku bisa membuat teknologi baru untuk menyambung hidup kedepannya? Terus kalau tanganku nggak bisa sembuh!"
Ingatannya kembali memutarkan saat ibunya dan Wiliam tidak peduli saat dirinya mendapatkan perundungan, bahkan menoleh ke arahnya pun tidak.
Sakit? Ini sangat menyakitkan.
Gymora merasa hidupnya berada diujung tanduk.
Ia memutuskan untuk mengambil pisau buah yang ada diatas nakas samping tempat tidur, tapi tangannya tidak sengaja malah memencet remote tv.
Di televisi, ada berita yang begitu menggemparkan.
"Ayahnya, Alan Timoti bunuh diri didalam penjara."
Pisau yang ada ditangan Gymora terjatuh.
"Nggak ... Ayah ... Bukankah ayah janji akan hidup berdua bersamaku selamanya."
Gymora menangis histeris.
Ia langsung turun dari brangkar, kakinya yang patah karena habis di injak membuatnya kesulitan berjalan dan akhirnya terjatuh.
Gymora terduduk diatas dinginnya lantai rumah sakit seperti pecundang yang bodoh.
Sebelumnya saat ia ikut jamuan makan malam bersama ibunya, banyak orang yang sudah memperingatkan dirinya tentang bahaya penyakit ain.
Tapi bagi Gymora yang menjalani kehidupan yang sangat sulit ini dan penuh kepura-puraan.
Apa yang membuat semua orang iri dengan hidupnya yang palsu dan penuh dengan karangan? Semuanya tidak seperti yang dilihat.
Gymora sebenarnya ingin sekali hidup normal seperti orang-orang dengan kasih sayang kedua orang tua, dan ingin hidup tanpa tekanan.
Tapi ...
Air mata terus luruh.
Tak berselang lama pintu diketuk, Draka sudah datang kembali dengan satu kresek obat ditangannya.
Draka bingung melihat keadaan Gymora, ada sedikit rasa bersalah pada gadis itu.
Draka pikir keadaan Gymora seperti ini karena dia yang sebelumnya tidak berniat membantunya. Jadi Gymora merasa sakit hati dan tidak berdaya.
Tapi tatapan Draka beralih ke arah televisi.
"Pejabat Alan Timoti mengakhiri hidupnya sendiri."
Gymora terisak.
Saat ingin memegang tangan Gymora, Draka sedikit terkejut.
Banyak sekali bekas luka disepanjang tangan dan kaki Gymora.
Dan setelah diperhatikan lebih teliti, bekas luka itu bukankah bekas luka baru.
Tatapan Draka kepada Gymora semakin berbeda.
"Biaya rumah sakit sudah aku bayarkan dengan uang organisasi yang aku kelola," kata Draka bohong.
Baginya uang 50 juta hanyalah uang receh.
Saat Gymora ingin membuka mulutnya, Draka buru-buru berkata. "Nanti kita jual chip mu bersama, ayo kita kembali dulu ke apartemen milikku. Nanti kalau jenazah Tuan Alan sudah berada dirumah duka, aku akan mengantarmu kesana!"
Walaupun Gymora merasa tubuhnya lemas dan tidak bertenaga, tapi tetap memaksakan diri untuk bangkit dengan dibantu Draka saat bangkit berdiri dan berjalan.
"Kenapa kamu mau membantuku? Kita nggak pernah dekat sebelumnya!" Kata Gymora dengan suara yang terdengar begitu sedih.
Draka tahu, Gymora bukan orang bodoh. Bahkan genius kampus, kalau ia mengatakan alasannya mau membantunya karena jatuh cinta pada pandangan pertama digudang.
Draka yakin, Gymora tidak akan percaya.
Makanya ia dengan tenang berkata, "Aku nggak tahu masah hidupmu. Dan apa alasannya kenapa ibumu yang biasanya terlihat sangat menyangi dan perhatian padamu tiba-tiba saat kamu terluka dia tidak peduli."
Draka tentu saja melihat dengan jelas, tatapan Gwen Sasami yang dingin saat pandangannya menatap ke arah putri kandungnya saat mengalami perundungan.
Ia saja yang tidak menjadi orang tua Gymora merasa tidak tega, melihat Gymora diperlakukan seperti itu.
Harusnya, Gwen sebagai ibu kandung Gymora, membela putrinya bahkan marah dan sakit hati melihat putrinya diperlakukan seperti itu.
Apa kesalahan Gymora?
Bahkan dia yang sangat sulit diatur, tapi ibunya malah begitu menyayanginya dan terus mendukung penuh segala sesuatu yang dia putuskan.
Tapi, ia tidak berani menyimpulkan lebih jauh.
"Yang jelas alasannya aku mau membantumu! Itu karena kamu harus menepati janjimu dengan menyerahkan tubuhmu padaku," imbuh Draka dengan senyuman sedikit mesum.
Jantung Gymora seakan langsung berhenti berdetak.
Sementara itu disebuah bangunan mansion yang begitu mewah.
Ada seseorang pria sedang duduk depan meja dengan papan kecil tulisan Roland Timoty.
"Tuan, mayat palsunya sudah dimasukkan ke dalam peti mati yang dikunci."
Roland mengangguk, "pastikan tidak ada yang berniat membuka peti matiku."
"Setelah itu cari putriku dikampus!!" titah Roland.
cerita nya seruuu👍