NovelToon NovelToon
Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.

Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.


Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Malam itu, terminal terasa lebih ramai dari biasanya atau mungkin hanya hati Kiara yang terlalu berisik.

Lampu-lampu kuning menggantung di atas peron, memantulkan bayangan orang-orang yang lalu-lalang. Bus tujuan desa sudah terparkir, mesinnya menyala pelan, seperti menghitung waktu sebelum benar-benar membawa Alvar pergi.

Kiara berdiri di hadapan Alvar, jemarinya menggenggam ujung jaket pria itu erat-erat. Seolah kalau ia melepas, Alvar akan langsung menjauh.

“Kamu yakin harus malam ini?” tanyanya untuk kesekian kali, suaranya bergetar meski ia berusaha terdengar kuat.

Alvar mengangguk pelan. “Kalau aku tunda, orang tuaku makin kepikiran. Aku nggak tenang di sini kalau tahu mereka butuh aku.”

Kiara tahu itu, dia tahu Alvar adalah anak yang bertanggung jawab. Tapi mengetahui dan menerima adalah dua hal yang berbeda.

“Jakarta rasanya … sepi kalau kamu nggak ada,” gumam Kiara jujur.

Alvar tersenyum kecil, lalu mengangkat kedua tangannya dan menarik Kiara ke dalam pelukannya. Pelukan yang hangat, erat, dan terasa seperti rumah.

“Ini cuma sementara,” bisiknya di rambut Kiara.

“Aku pulang bukan buat menjauh. Aku pulang supaya nanti bisa balik ke kamu dengan tenang.”

Air mata Kiara jatuh begitu saja, membasahi dada Alvar.

“Mas…” Kiara menahan isak.

“Jangan lupain aku.”

Alvar menegang, lalu sedikit menjauh agar bisa menatap wajah istrinya. Ia mengusap pipi Kiara dengan ibu jarinya, menghapus air mata yang terus mengalir.

“Kok bisa kepikiran begitu?” tanyanya lembut.

Kiara menunduk. “Di desa … ada Dokter Hesti.”

Nama itu keluar dengan ragu, penuh ketakutan yang ia simpan sejak tadi.

“Aku cuma takut,” lanjut Kiara pelan. “Takut kamu … menggantikan posisiku. Takut aku cuma istri di atas kertas.”

Alvar menahan napas, lalu ia menggenggam wajah Kiara dengan kedua tangan, memaksa wanita itu menatapnya.

“Dengar aku baik-baik,” ucap Alvar tegas tapi penuh rasa.

“Aku menikah dengan kamu bukan karena terpaksa. Aku memilih kamu, dan pilihan itu nggak berubah cuma karena jarak.”

Kiara menggeleng pelan, air matanya jatuh lagi.

“Aku cinta sama kamu, Kiara,” lanjut Alvar, suaranya lebih rendah.

“Kalau jarak bisa bikin orang berpaling, berarti dari awal cintanya nggak kuat. Tapi kita—”

Ia menempelkan keningnya ke kening Kiara.

"Hati kita tahu pulangnya ke mana.”

Tangis Kiara pecah di sana. Tangannya mencengkeram punggung Alvar, seolah takut pelukan itu adalah yang terakhir.

“Pulang yang cepat,” pintanya lirih.

“Aku janji.”

Suara kondektur memanggil penumpang. Waktu benar-benar habis. Alvar mencium kening Kiara lama, lalu bibirnya, singkat tapi penuh makna.

“Jaga diri kamu,” katanya. “Makan teratur, jangan begadang.”

Kiara mengangguk sambil tersenyum di antara air mata. “Kamu juga.”

Alvar melangkah naik ke bus, tapi sebelum benar-benar masuk, ia menoleh lagi.

“Kiara.”

“Iya?”

“Aku pulang ke desa sebagai anak. Tapi aku akan kembali ke Jakarta sebagai suamimu.”

Bus itu akhirnya bergerak perlahan, meninggalkan terminal dan meninggalkan Kiara berdiri dengan dada yang masih bergetar. Tangannya terangkat pelan, melambaikan ke arah jendela hingga bayangan Alvar menghilang.

Bus itu melaju perlahan, lalu semakin cepat, meninggalkan peron yang sejak tadi terasa terlalu sempit untuk menampung perasaan mereka.

Kiara berdiri di tempatnya, matanya tak lepas dari badan bus yang kian menjauh. Dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang ikut tercabut saat roda-roda itu berputar. Tangannya masih terangkat setengah, lambaian kecil yang tertinggal di udara.

Dari balik kaca jendela, Alvar menatapnya. Tatapan mereka bertemu, hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk menyampaikan semua yang tak sempat diucapkan. Mata Alvar berkaca-kaca, rahangnya mengeras menahan emosi yang tak biasa ia tunjukkan. Ia mengangguk kecil, seolah berkata aku akan kembali.

Kiara membalas dengan senyum yang dipaksakan, senyum perempuan yang sedang belajar kuat, meski hatinya rapuh.

Bus berbelok, sosok Kiara menghilang dari pandangan.

Alvar menghembuskan napas panjang. Tangannya terangkat, menyeka sudut matanya cepat-cepat, seakan tak ingin perasaan itu terlihat meski tak ada siapa pun yang memperhatikannya. Ia menunduk, menatap layar ponselnya.

Sebuah foto terpampang di sana. Kiara, tertidur lelap semalam. Rambutnya tergerai di bantal, wajahnya damai, bibirnya sedikit terbuka seolah sedang bermimpi indah. Alvar ingat betul momen itu bagaimana ia menatap Kiara lama, memastikan wanita itu benar-benar ada di sisinya.

Jarinya menyentuh layar dengan hati-hati, lalu menyimpan foto itu ke folder khusus. Alvar bersandar di kursi bus, memejamkan mata sejenak.

Kiara menatap jalan kosong itu, sambil menggenggam dadanya sendiri.

“Pulang yang cepat, Mas,” bisiknya pada angin.

“Hatimu … aku jaga di sini.”

Subuh belum benar-benar lahir ketika Alvar tiba di desa. Udara dingin menyambut langkahnya begitu turun dari kendaraan. Langit masih gelap, hanya semburat abu-abu di ufuk timur yang perlahan membuka hari. Desa itu sunyi, tak ada suara ayam berkokok, tak ada aktivitas pagi seperti biasanya.

Alvar tak langsung pulang ke rumah langkahnya justru berbelok ke arah gudang bawang miliknya.

Gudang itu berdiri agak terpisah dari rumah-rumah warga, di pinggir sawah yang kini menghitam di beberapa sisi. Begitu ia mendekat, dadanya terasa mengencang. Bau sisa kayu terbakar masih tercium samar, bercampur dengan aroma tanah lembap.

Atap sengnya sebagian ambruk. Dinding kayu yang biasanya kokoh kini menghitam, gosong di banyak bagian. Beberapa karung bawang hangus tak berbentuk, sisanya basah terkena air pemadam, rusak dan tak lagi layak jual.

Ini bukan sekadar kerugian materi. Gudang itu adalah hasil kerja kerasnya bertahun-tahun. Tempat ia membangun hidup, tempat ia ingin membawa Kiara suatu hari, menunjukkan bahwa pria desa ini punya sesuatu yang bisa ia banggakan.

“Mas Alvar…”

Suara itu datang dari belakang. Beberapa warga sudah berkumpul, wajah-wajah mereka penuh rasa prihatin. Ada yang membantu sejak malam itu, ada yang baru datang pagi ini.

“Apinya besar, Mas. Cepat sekali menjalar,” kata seorang pria paruh baya.

“Untungnya nggak sampai ke sawah sebelah,” sambung yang lain.

Alvar mengangguk pelan, tapi matanya justru menyapu sekeliling. Ia memperhatikan detail kecil, jejak kaki di tanah, posisi karung yang tak wajar, satu sudut dinding yang terlihat lebih parah terbakar dibanding sisi lain.

Alvar jongkok, menyentuh tanah yang masih lembap. Matanya menyipit, naluri yang selama ini ia pendam sebagai orang yang terbiasa berpikir tenang dan logis, kini mulai bekerja.

“Alvar," panggil ibunya dari kejauhan.

Alvar berdiri dan menoleh. Wajah wanita itu terlihat lelah dan jelas semalaman tak tidur. Alvar melangkah mendekat dan langsung menggenggam tangan ibunya.

“Ibu nggak apa-apa?” tanyanya lirih.

Ibunya mengangguk, meski matanya berkaca-kaca.

“Ibu lebih mikirin kamu. Baru aja nikah, langsung dapat cobaan begini.”

Alvar terdiam sejenak. Bayangan Kiara melintas di benaknya, wajah istrinya semalam di terminal, mata yang berkilau menahan air mata, pelukan yang terasa terlalu singkat.

“Aku kuat, Bu,” katanya akhirnya. “Sekarang aku punya alasan lebih buat kuat.” Ia kembali menatap gudang itu.

1
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
tapi emang harusnya gini ga sih kan logika nya yg makan adalah konsumen harusnya dikasihin yg sesuai pesanan konsumen kok jd nurutin orang lain tanpa konfirmasi 😌
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
naahhh wkwk
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ini kagak ada cctv nya di ruangan kerja pribadi? harusnya kalo level manager yg nanganin proyek ada ya slnya buat jaga2 kalo ada kejadian begini hehe
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
orang stress nya ilang satu tumbuh satu lagi 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ini jatohnya apa sih? stress? depresi atau apa? tapi aku bingung lho kok bisa orang dengan gangguan kejiwaan gini dia lolos sekolah jd dokter kandungan 🤔 emang selama proses belajar mengajar sampe sumpah dokter ga ada psikotes nya ya? kok bisa ngelolosin orang sakit jiwa 😌
Soleh Sudarna
tuu kaaannn.. beneran gillaa.. sedeng.. sableng.. sinting.. eddaann.. 😠😡😡
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
beneran stress ternyata, slnya patah hati nya sampe ngebunuh orang 😩
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
bukan apa ya tp kayak pantes aja si pradi akhir hidupnya ngenes, si bahrul juga wkwk ternyata makan hasil uang orang 🙂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
inilah kalo siluman ular sm siluman lipan di satukan wkwk tp aku suka keributan ini, pengen tau di antara sesama siluman siapa yg menang 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kaaan wkwk perempuan ini bikin repot, harusnya dr awal gausah segala acara ngeboncengin dan berusaha cari tau dr ini orang, salah strategi kan 🙂
Soleh Sudarna
dr hesti terbangsat.. iblizz gila 😡😡😡
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kok bisa ga kepikiran ngabarin isteri nya, aku ga di kabarin suami ku dia udah sampe kantor apa belum ada tantrum 🙏🙂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
better di bakar sih wkwk
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kalo gua mah ga ridho gua tarik kalung nya 🤣😂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kok bisa hamil duluan jd kebanggaan sih wkwk padahal itu top tier aib bikin malu keluarga selain jd gundik/pelakor 😂 slnya di bahas nya sepanjang segala abad sm ibu2 satu kampung 😅
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
buset 10 ga bayar sewa tanah jatohnya gatau diri sih 🙂 bukan apa ya tp takutnya dia aja ga menuhin kewajiban dia, sama aja mencurangi hak orang lain trus gara2 ngasih makan keluarga nya dr cara begini si supradi jd begitu kelakuannya, suka KDRT 😅
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
mungkin aku jahat tp aku ga suka kalo situasi alvar terjadi di kenyataan, niat nya mungkin baik ya belain mantan dr kdrt atau apalah tp kalo bikin berantem sama pasangan kita sekarang aku mending di bilang jahat gapapa deh slnya kelakuan nya si hesti juga begini, niat alvar nolong tp di tanggap nya masih ada rasa jd ya repot sih kataku mending manggil warga aja kalo mau nolongin ramean 🙏🏻
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
penasaran banget sama pencetus mitos ini, pengen nanya slnya dia awalnya mencetuskan ini dr mana 🙏🙂 slnya bingung sm korelasi hamil sm ngelayat, nanti giliran ga ngelayat di omongin juga di bilang suami berduka kok isterinya ga ikut ☺️
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢: aku malah baru tau ada mitos ini kak 😅
total 2 replies
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ini buat dokter hesti: wleeeeek 😛😛😛
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ya kata gua juga lu aneh, kenal enggak deket apalagi tp nyeritain kisah cinta dokter (yg mungkin dia tau kiara isteri nya alvar) kayak buat apa coba? 🤷🏻‍♀️ gua kalo jd pasien biasa aja kayak hah lu stress tiba2 ngomong gini, mau itu mantan pacarnya kek mantan isteri nya kek bodo amat 🙏🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!