NovelToon NovelToon
Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintamanis / Contest / Patahhati / Romansa-Teen angst / Tamat
Popularitas:222.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ina az-Zahra

BLURB:

Setiap manusia bukankah memiliki rupa yang berbeda-beda, baik rupa fisik juga perangainya. Bila Tuhan saja membedakan manusia dari amal perbuatannya tanpa memandang siapa dan seperti apa fisiknya, lantas kenapa manusia yang sesama makhlukNya lebih memilih menilai manusia lain dari segi fisik dan hartanya saja? Untuk sayap yang patah karena penilaian orang, terlebih karena fisik yang katanya tak sedap dipandang, seperti Kiyara Mentari misalnya, gadis gendut yang sering terabaikan dunia yang kini tengah menyiapkan sayapnya kembali, sayap yang lebih indah dari yang lalu tentunya. Mari terbang bersama, mengepakkan sayap dengan asa dan keyakinan, bahwa di depan sana akan ada kehidupan yang lebih baik dan akan ada manusia lain yang dengan senang hati menerima segala kekurangan, pelengkap ketidaksempurnaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina az-Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. You'r The Reason

~Entah karena kamu adalah alasannya atau karena takdir yang menuntunku kepadamu~

.

.

.

Pagi yang cerah selepas hujan tadi malam menyambut hari yang akan dilalui setiap insan di Kota Bandung pagi itu. Aroma petrichor masih menguar memenuhi indera penciuman, tetesan embun di dedaunan masih terlihat segar memanjakan mata. Jam masih menunjukkan pukul enam pagi, tapi Kiyara sudah sibuk dengan tanaman hidroponik di halaman depan rumahnya. Tangan gendutnya sibuk memindahkan rockwool yang sudah di tumbuhi sawi sendok ke dalam netpot, lalu

menaruhnya ke dalam pipa yang sudah di lubangi dan berisi air serta nutrisi AB mix di dalamnya.

Ekor matanya menangkap sosok pria yang sedari tadi sibuk memerhatikan dari atas,

lebih tepatnya di balkon sebelah kamarnya. Sengaja dia pura-pura tidak tahu, hatinya masih kesal bukan main dengan perbuatan Kakaknya yang menceritakan kehidupannya kepada orang yang entah siapa itu. “Maaf, Kak … aku masih kesel sama Kakak. Apapun itu alasannya, Kakak nggak ada hak buat ngasih tahu keadaanku pada siapapun itu, apalagi orang yang tidak aku ketahui,” lirihnya.

“Dek … ,” panggil Ayah Kiyara yang baru saja pulang dari jogging.

“Iya, Yah …”

“Ada yang udah bisa dipanen belum sayurnya?” tanya Pak Akbar, Ayah Kiyara.

“Ada, Yah. Selada sama bayam merah,  mau di

ambil sekarang?”

“Boleh, bayamnya nanti di tumis buat sarapan, seladanya buat nanti siang ya kita nyambel abis ini Ayah mau ke belakang mau mancing ikan dulu.”

Kiyara, menggelengkan kepalanya lalu tersenyum. “Ayah, ini aneh-aneh aja. Mana ada

mancing, tinggal diambil pakai saringan ikan udah dapet banyak, kolam ikan Ayah kan banyak isinya.”

Ayah dan anak itu pun tertawa bersama, menenangkan hati pria yang berada di balkon.

“Syukurlah …,” ucap Dafa lirih.

“Ehem … Assalamu’alaikum Om, Ki,” ucap pria dari arah gerbang rumah Kiyara, terlihat

tangannya menenteng tas yang kemarin Kiyara kenakan.

Kiyara membolakan matanya lalu berjalan perlahan mendekat ke arah ayahnya.

“Wa’alaikumsalam.”

Pria itu berjalan mendekati Pak Akbar lalu meraih tangannya untuk disalimi. “ Saya, Tama Om temennya Bang Dafa.”

Pak Akbar yang melihat gelagat aneh dari putrinya, langsung paham bahwa putrinya

tidak nyaman dengan kehadiran pria yang sekarang berada di hadapannya ini. “Oh, iya … iya … ayo masuk, Dafa ada di kamarnya. Ki, kamu ambil sayurnya yang udah siap panen dulu ya, Ayah mau nganter Nak Tama dulu buat ketemu Kakakmu.”

Kiyara mengangguk, mengabaikan Tama yang sedari tadi menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Kenapa, dia tampak berbeda seperti ini saat di rumah. Terlihat menenangkan  dan menyejukkan hati,” monolog Tama dalam

hati, ketika melihat Kiyara hanya menggunakan piyama tidur berwarna abu muda yang tampak kedodoran serta kerudung bergo berbahan jersey berwarna senada, dan jangan lupa wajah putihnya yang tanpa bedak.

Kiyara masih sibuk memanen selada dan bayam merah seperti yang diminta Ayahnya,

mengabaikan tamu yang tiba-tiba datang sepagi ini. Pikirannya juga masih belum

baik-baik saja, mengingat kejadian semalam. “Apa, Lele Mata Biru itu Bang Tama? Tapi masak iya?” monolog Kiyara dalam hati.

“Nak, ayo bantu Bunda masak, Ayah kamu udah kelaparan tuh habis olahraga, minta numis

sayuran yang kamu tanem katanya, udah selesai metiknya?”

“Eh, iya Bun … ini udah selesai kok.” Kiyara mengangkat keranjang kecil yang sudah penuh dengan sayur bayam dan selada, lalu berjalan menghampiri Bundanya yang berdiri di dekat pintu.

“Em … Kiyara lewat pintu samping aja deh Bun … kotor habis berkebun hehe.” Kiyara beralasan agar tak bertemu dengan Tama yang diyakininya berada di ruang tamu.

“Iya, udah sana …,”

Kiyara berjalan dengan santai, sembari bersenandung kecil. Dia teramat senang,

hidroponiknya sudah setahun ini berjalan dengan lancar bahkan beberapa bulan

belakangan ini juga, dia berhasil menyuplai sayuran hidroponik untuk warga kompleks perumahannya. Keuntungannya juga lumayan, bisa digunakan untuk uang jajan dan keuntungan lainnya ya, seperti yang akan sekarang dia lakukan, memasaknya dan menyantapnya bersama keluarga tercintanya.

Deg … .

Mata Kiyara menyipit, ketika melihat dua sosok pria sedang duduk berhadapan di kursi santai dekat pintu samping rumahnya. “Kok Kak Dafa sama Bang Tama di sini sih,” lirihnya sembari menghentikan langkah kakinya, berniat memutar langkahnya.

“Woi, Le … sini … !” teriak Dafa ke arah Kiyara.

Bugh … .

Keranjang yang ia bawa jatuh, sedangkan dahinya menabrak sesuatu yang keras. “Lu, nggak apa-apa?”

Deg … .

“Suara ini?” batin Kiyara, wajahnya masih menunduk ketika menyadari bahwa yang di tubruknya adalah manusia.

Pria di hadapannya berinisiatif untuk memungut keranjang sayur yang jatuh serta beberapa sayuran yang tercecer keluar keranjang. “Ini, lain kali hati-hati kalau jalan, jangan suka bengong.” Kiyara, tak menjawab hanya meraih kembali keranjang sayurnya lalu beranjak pergi dari tempat yang dia kira aman itu.

“Kamu kenapa?” tanya sang Ayah, yang kini tengah bersantai di depan televisi.

Kiyara menggeleng, lalu menyusut air matanya dengan lengan piyama yang dia kenakan. “Kiyara, ke dapur dulu Yah.”

Kiyara berjalan memasuki dapur, dari jauh dia sudah bisa melihat punggung wanita hebat

penuh pendirian tengah sibuk mengiris bawang untuk teman menumis bayam merah. Tanpa menunggu perintah lagi, Kiyara langsung mendekat ke arah keran air untuk mencuci sayuran yang dia bawa. “Bun, ini sayurannya udah Kiyara bersihin.”

“Iya, taruh di situ dulu aja airnya biar turun dulu.”

“Oke. Bun … Kiyara masuk ke dalam kamar dulu ya, mau mandi sama ganti baju dulu.

“Iya, udah sana mandi dulu, baru habis itu bantuin Bunda.”

Bunda Alana melihat kepergian anaknya dengan mata sendu, bukan tidak tahu dengan apa yang terjadi kemarin pada Kiyara, tapi dia diminta Dafa untuk pura-pura tidak tahu agar Kiyara tetap bersikap biasa tanpa merasa dikasihani, pun dengan rencana Dafa hari ini … mendatangkan orang-orang yang memiliki andil besar perubahan Kiyara.

“Semoga, kamu menemukan kebahagiaanmu, Nak. Mendapat teman, sahabat, pekerjaan, jodoh, dan lain sebagainya yang bisa menerima segala kekurangan dan kelebihanmu. Bunda

sayang, Ara … sayang sekali …,” monolog Bunda dalam hatinya.

“Assalamu’alaikum, Bun …,” ucap pria bermata biru.

“Wa’alaikumsalam, ada apa, Nak?” tanyanya lembut.

“Maafin, Dave ya Bun … sudah pergi tanpa kabar setelah apa yang dilakukan keluarga Bunda

untuk menolongku, merawatku di rumah sakit. Maaf juga, dulu waktu SMA suka bully anak Bunda.” Dave, pria itu menggenggam erat tangan wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya yang tak lagi muda.

“Sudahlah, Nak … Bunda paham. Kalau urusan bully kamu minta maaf sendiri sama anaknya ya, jangan diulangi lagi. Kamu kok, makin bercahaya gini mukanya, tutur katanya lembut gini beda sama tiga tahun yang lalu?”

“Ini, karena anak Bunda, hehehe.”

Bunda Alana mengernyitkan dahinya. “Kenapa gara-gara anak Bunda?”

“Ya, karena anak Bunda, penyemangat perubahan Dave.”

Tanpa keduanya sadari, ada pria lain yang kini tengah mengepalkan tangannya erat di

balik dinding antara pintu samping dan dapur rumah Kiyara.

1
Hera sasuwe
👍
Wiliam Zero
bagus dan happya ending 👍
allvaro Putra
suka kak apalgi tentang cewek gemoy
Dyah Shinta
Khadijah...
Dyah Shinta: kok jadi khadijah?
Aku ngetiknya 'luccuuukkk'...
total 1 replies
dila
karyanya bagus ringan banget bacany jdi gk monoton 💖
dila
aq komen ya 🥰 tpi gk tau mau ngmong apa, ini cerita bagus alurnya enak ringan banget tpi knp yg like dikit
yaty
bestt
Megumi
dave ya?
jangan bucin ya dave nanti 🤭
Megumi
baru mampir.
Biasanya kalo cowok hobi gangguin cewek itu cuma caper, padahal mah naksir
MA¹²queen
hai kak aku ma¹² mampir kenovel, jangan lupa mampir kenovel ku ya kak,, sukses selalu🤗🤗🥰
Senajudifa
salken dr kutukan cinta. mampirlah jika berkenan
siti hasanah
Alhamdulillah tks ya thor cerita bagus
Zahra: kalau berkenan silakan mampir dicerita saya lainnya di apk fizzo Kak dg nama pena yg sama
total 2 replies
siti hasanah
Karena keasyikan baca sampe lupa ngasih komen thor. alur ceritanya bagus banget. Semangat terus thor
🐾COCO🐾
mampir baca thor..
danisweet
hamidun tuh si ara
Zahra: Baca novelku di Fizzo juga Kak, judulnya Kutukan Cinta Inggrid, gratissss
total 1 replies
Almira Mira
next
Zahra: Baca novelku di Fizzo juga Kak, judulnya Kutukan Cinta Inggrid, gratissss
total 1 replies
re
Rendra ditaksir cewek
Zahra: Baca novelku di Fizzo juga Kak, judulnya Kutukan Cinta Inggrid, gratissss
total 1 replies
anna araroffatully
kiyowo triplets nya😍
Zahra: Baca novelku di Fizzo juga Kak, judulnya Kutukan Cinta Inggrid, gratissss
total 1 replies
re
next
re
Lahiran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!