Seorang Hakim Ketua yang menjunjung tinggi keadilan harus memilih antara hukum, ayahnya, dan cinta kelamnya pada seorang buronan nomor satu yang pernah menghancurkan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yrp putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya Semu dan Bayangan Keraguan
Tiga bulan berlalu semenjak malam amal itu, kehidupan Aluna dan Arjuna berubah menjadi sebuah utopia yang tak pernah berani mereka bayangkan sebelumnya. Di bawah sinar matahari Jakarta yang terik, mereka tidak lagi harus bersembunyi di balik kabut asap gas air mata atau berlindung dari bidikan *sniper*.
Sebagai "Arkanza Dirgantara", Arjuna perlahan melangkah masuk ke dalam dunia Aluna—sebuah dunia yang terang, bersih, dan bergerak di atas rel hukum yang pasti.
Akhir pekan mereka tidak lagi diisi dengan ketegangan melarikan diri dari kejaran aparat atau merencanakan taktik mafia. Sebaliknya, Arjuna mulai terbiasa dengan rutinitas kencan yang normal. Mereka berjalan-jalan di taman kota, menonton pertunjukan teater, dan sesekali Arjuna akan menjemput Aluna di lobi Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan membawa sebuket bunga *lavender* kesukaan wanita itu. Tidak ada senjata yang terselip di balik jasnya. Tidak ada pengawal bayangan yang mengawasi dari jauh. Hanya ada seorang pria yang sedang jatuh cinta pada ratunya.
Malam itu, Aluna mengundang Arjuna untuk makan malam bersama lingkaran pertemanan terdekatnya di sebuah restoran bernuansa taman terbuka. Meja itu dipenuhi oleh rekan-rekan sesama penegak hukum—beberapa hakim muda, jaksa, dan tentu saja, Risa, panitera asisten Aluna yang sangat setia.
Arjuna duduk di samping Aluna, tangannya bertaut erat di bawah meja. Pria itu menatap takjub pada pemandangan di sekitarnya.
Aluna, Sang "Palu Es" yang biasanya berwajah lurus dan dingin di mimbar kehormatan, malam ini tertawa begitu lepas. Matanya menyipit bahagia saat Risa menggoda Aluna habis-habisan mengenai betapa tampan dan sempurnanya sosok "Arkanza" yang berhasil meluluhkan hati sang Hakim Ketua.
"Jujur saja, Pak Arkanza," canda Risa sambil mengangkat gelas minumannya, "kami di pengadilan sempat mengira Bu Aluna ini akan menikah dengan buku undang-undang. Tapi melihat beliau sekarang bisa tersenyum dan tersipu malu... kami benar-benar berterima kasih pada Anda."
Rekan-rekan yang lain ikut tertawa dan menimpali dengan hangat. Arjuna membalas candaan mereka dengan senyum yang sangat menawan dan karisma seorang CEO yang sempurna. Ia merangkul bahu Aluna, mengecup pelipis wanita itu dengan lembut di hadapan teman-temannya, membuat pipi Aluna merona merah muda.
Namun, di balik senyum sempurna "Arkanza", dada Arjuna tiba-tiba bergemuruh hebat.
Sambil menyesap air putihnya, mata kelam Arjuna menyapu wajah-wajah bersih di meja itu. Orang-orang ini adalah mereka yang mendedikasikan hidup untuk menjebloskan orang-orang seperti "Baskara" ke balik jeruji besi. Dunia ini begitu murni. Tawa Aluna terdengar begitu nyata, ringan, tanpa beban trauma atau bayang-bayang kematian. Ini adalah kehidupan yang seharusnya dimiliki oleh Aluna sejak awal, jauh sebelum Arjuna remaja merusaknya, dan jauh sebelum dunia gelap bawah tanah menariknya masuk.
Senyum Arjuna perlahan luntur. Sebuah kegelisahan yang kelam dan mencekik perlahan merayapi tenggorokannya.
Dalam perjalanan pulang menuju apartemen Aluna, suasana di dalam mobil terasa hening. Rintik hujan mulai turun membasahi kaca mobil, mengingatkan Arjuna pada malam di mana Aluna menodongkan pistol ke dadanya sendiri demi melindunginya di markas sang Raja Mafia.
Aluna menyandarkan kepalanya di bahu Arjuna yang sedang menyetir, jari-jarinya memainkan ujung kemeja pria itu.
"Kau diam saja sejak kita keluar dari restoran, Juna," bisik Aluna lembut, memecah keheningan. "Kau tidak nyaman dengan teman-temanku? Risa memang sedikit berisik, tapi dia orang yang baik."
Arjuna menepikan mobilnya di sebuah ruas jalan yang sepi, mematikan mesin, lalu memutar tubuhnya untuk menatap Aluna. Cahaya lampu jalanan yang temaram mencetak siluet wajah Arjuna yang kini tampak begitu lelah dan rapuh.
Pria itu meraih kedua tangan Aluna. Ia menatap jemari wanita itu—bersih, anggun, jemari yang diciptakan untuk mengetuk palu keadilan. Lalu, Arjuna menatap tangannya sendiri. Meski kini terbalut setelan jas mahal, dalam ingatannya, tangan itu masih berlumuran darah kotor dari dunia bawah tanah.
"Teman-temanmu luar biasa, Na," ucap Arjuna parau. "Duniamu... sangat indah. Tadi, saat aku melihatmu tertawa lepas bersama mereka... aku baru sadar betapa terang dan hangatnya tempat asalmu."
Aluna mengerutkan keningnya, menangkap gurat kesedihan di mata pria itu. "Lalu kenapa kau terlihat sangat sedih?"
Arjuna menundukkan kepalanya, menyentuhkan dahinya pada punggung tangan Aluna yang ia genggam erat.
"Karena aku takut, Aluna," bisik Arjuna, suaranya bergetar oleh kegelisahan yang tak lagi bisa ia bendung. "Aku takut setengah mati."
"Takut apa, Juna?"
"Takut aku tidak akan pernah bisa memberikan dunia yang bersih itu untukmu secara permanen," Arjuna mendongak, matanya memancarkan keputusasaan. "Kau lihat bagaimana teman-temanmu menghormatimu? Kau lihat bagaimana ayahmu, Inspektur Arya, menatapmu dengan penuh kebanggaan? Semua itu nyata, Na. Tapi identitas yang aku pakai sekarang... Arkanza... ini semua hanyalah ilusi yang diciptakan oleh ayahku."
Arjuna membelai rahang Aluna, sentuhannya penuh dengan pemujaan namun juga sarat akan rasa bersalah.
"Aku adalah Baskara. Sebanyak apa pun aku memakai jas mahal, jiwaku tetaplah seorang buronan yang tangannya penuh dosa. Malam ini aku menyadari, kau adalah malaikat yang seharusnya terbang bebas di bawah sinar matahari. Sementara aku... aku adalah bayangan yang cepat atau lambat akan menarikmu kembali ke dalam lumpur." Arjuna menelan ludah yang terasa sepahit empedu. "Aku gelisah, Na. Bagaimana jika suatu hari nanti, gelembung kebohongan ini pecah? Bagaimana jika aku gagal melindungimu dari ayahku, atau dari hukum itu sendiri, dan akhirnya merenggut semua tawa bahagia yang kulihat malam ini?"
Aluna terdiam. Matanya berkaca-kaca mendengar pengakuan yang begitu jujur dan menyayat hati dari pria yang terkenal sebagai monster tanpa belas kasihan itu.
Bukannya menjauh, Aluna justru melepaskan sabuk pengamannya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan merengkuh rahang Arjuna dengan kedua tangannya, memaksa pria itu untuk menatap lurus ke dalam matanya yang tak sedikit pun memancarkan keraguan.
"Dengarkan aku, Arjuna Dirgantara," ucap Aluna tegas, memberikan ketenangan absolut pada badai yang sedang mengamuk di dada pria itu. "Duniaku yang 'bersih' itu tidak pernah terasa hidup sebelum kau kembali ke dalamnya. Kau mungkin merasa dirimu adalah bayangan, tapi kau adalah satu-satunya bayangan yang membuatku merasa aman beristirahat."
Aluna mendaratkan kecupan lembut dan panjang di bibir Arjuna, menghapus keraguan yang membeku di bibir pria itu.
"Jangan pernah berpikir kau akan merenggut kebahagiaanku, karena kau *adalah* kebahagiaanku, Juna," bisik Aluna tepat di depan bibirnya. "Kita sudah melangkah sejauh ini. Kita sudah menipu negara, hukum, dan ayahmu. Aku tidak peduli jika ilusi ini suatu saat pecah. Selama kau ada di sisiku, aku siap menghadapi kehancuran dunia sekalipun."
Mendengar sumpah yang begitu berani dari ratunya, Arjuna memejamkan mata. Ia menarik pinggang Aluna, membalas ciuman itu dengan putus asa, gairah, dan janji tak terucap bahwa ia akan menghancurkan siapa pun—termasuk takdir itu sendiri—jika berani mencoba merenggut wanita ini dari pelukannya.