“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”
Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.
Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.
Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.
Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Hendra mulai runtuh perlahan.
Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.
Penyesalan memang selalu datang terlambat.
Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 35
Yeni mendengus kasar, merapikan duduknya dengan wajah masam, sementara Nawang menoleh tajam ke arah Hendra yang masih berdiri mematung dengan peluh dingin yang membasahi pelipisnya.
Nawang menyipitkan matanya, berjalan mendekati Hendra lalu melipat tangan di dada. "Mas, kamu kenal dengan mbak Ningsih? Kok kayaknya dia ketus banget sama kamu? Kamu lihat sendiri kan cara dia menatapmu tadi?!"
Hendra tersentak. Pertanyaan Nawang bagaikan alarm bahaya yang berdering nyaring di kepalanya. Jantungnya berdegup kencang, namun sebagai pria licik yang lihai bersandiwara, ia segera mengatur ekspresi wajahnya secepat kilat.
Hendra memaksakan sebuah tawa kecil yang terdengar canggung, lalu menggelengkan kepala dengan raut wajah yang dibuat bingung mungkin.
"Kenal? Mana ada. Aku sama sekali tidak mengenal wanita itu, Nawang," jawab Hendra, suaranya diusahakan tetap tenang dan berwibawa. Lalu, ia meletakkan tas-tas belanjaan di atas meja dan melangkah mendekati Nawang.
"Tapi kenapa ekspresi mbak Ningsih seolah-olah tahu sesuatu tentangmu? Dia bahkan menyindir pekerjaanmu," selidik Nawang lagi, masih merasa ada yang mengganjal di hatinya.
Hendra tersenyum tipis, dengan berani meraih kedua belah tangan Nawang, menggenggamnya dengan lembut. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Nawang, mengeluarkan jurus rayuan andalannya yang selama ini berhasil meluluhkan hati wanita muda itu.
"Nawang, Sayan dengar. Aku ini orang baru di lingkungan keluarga kalian. Kakakmu itu kan seorang direktur utama di perusahaan besar. Wajar saja kalau dia memiliki sifat angkuh dan selalu memandang rendah orang lain yang dianggap tidak selevel dengannya. Dia mungkin mengira aku ini cuma pria biasa yang memanfaatkan mu," ucap Hendra dengan penuh bujuk rayu.
Hendra mengusap punggung tangan Nawang dengan ibu jarinya, membuat Nawang perlahan mulai terbuai. "Baginya, pria yang mendampingi mu haruslah seorang konglomerat mapan. Dia tidak tahu saja kalau bisnis kontraktor yang sedang aku rintis ini punya prospek yang sangat besar. Dia sengaja bersikap ketus untuk menguji mental calon suamimu ini, Nawang."
Yeni yang duduk di sofa ikut menimpali sambil mendengus.
"Hendra benar, Nawang. Ningsih itu memang sombong sejak dulu karena merasa paling hebat di keluarga ini. Dia pasti sengaja ingin menjatuhkan mental Hendra di depan kita."
Mendengar pembelaan dari ibunya dan penjelasan manis dari Hendra, keraguan di wajah Nawang seketika sirna, berganti dengan binar manja.
"Benar juga, sih. Mbak Ningsih memang selalu merasa paling berkuasa. Maaf ya, Mas, kalau sikap kakak tiriku tadi membuatmu tidak nyaman."
"Sama sekali tidak masalah, Sayang," sahut Hendra sembari tersenyum mesra. Ia membawa tangan Nawang ke bibirnya, mengecupnya perlahan untuk mengunci kepercayaan wanita itu. "Justru, demi kamu, aku rela menahan harga diriku diinjak-injak seperti tadi. Menjadi sopir pribadimu dan membawakan barang-barangmu pun aku ikhlas, asalkan aku bisa selalu berada di dekatmu dan menjagamu setiap hari."
"Ih, Mas Hendra bisa saja," pipi Nawang merona merah, ia tersenyum kemenangan merasa telah memenangkan hati pria yang begitu memujanya. "Ya sudah, Mas ke belakang dulu saja ya, istirahat di paviliun belakang. Nanti kalau aku mau keluar lagi, aku kabari."
"Baik, Tuan Putri. Aku permisi dulu ya, Tante Yeni," pamit Hendra dengan sopan sebelum membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruang tamu utama.
Begitu kakinya melangkah keluar dari pintu dan menuju ke area paviliun belakang rumah, senyuman sopan di wajah Hendra seketika lenyap, digantikan oleh sebuah seringai licik yang sangat mengerikan.
Hendra mengepalkan tangannya kuat-kuat, namun kali ini bukan karena marah, melainkan karena rasa puas yang membuncah.
Alih-alih takut karena kedoknya terancam terbongkar, otak kriminal Hendra justru melihat ini sebagai sebuah keuntungan besar yang sangat langka.
"Sial, dunia ini benar-benar sempit! Tapi ini justru takdir yang luar biasa," gumam Hendra.
Ia terkekeh sendirian. Ningsih ternyata sangat angkuh dan memilih menyembunyikan status masa lalu mereka karena gengsi. Dan hal itu adalah keuntungan besar bagi Hendra. Dengan posisinya sebagai calon suami Nawang sekarang, ia tidak hanya akan berhasil menguras harta keluarganya, tetapi ia juga memiliki tiket emas untuk masuk ke dalam kehidupan Ningsih kembali.
"Kamu pikir kamu bisa lari dariku setelah mencampakkan ku, Ningsih?" bisik Hendra licik sembari menatap ke arah jendela lantai dua. "Melalui adik tirimu yang bodoh ini, aku bisa terus mengawasi setiap gerak-gerik mu. Kita lihat saja nanti, seberapa lama kamu bisa mempertahankan tatapan angkuhmu itu di depanku!"
*
*
Hendra berjalan terburu-buru menyusuri koridor lantai dua yang sepi, memanfaatkan momen saat Yeni dan Nawang sedang asyik memeriksa barang belanjaan di bawah.
Begitu melihat Ningsih baru saja keluar dari kamar mandi tamu dan hendak melangkah menuju kamar Yudha, Hendra langsung mempercepat langkahnya.
"Ningsih, sini kamu!" geram Hendra dengan suara setengah berbisik dan penuh penekanan.
Tanpa permisi, Hendra langsung menyambar pergelangan tangan Ningsih dan menariknya ke sudut ruangan sepi.
Plak!
Dengan gerakan cepat dan bertenaga, Ningsih menepis kasar tangan Hendra hingga terlepas.
"Jangan berani-berani menyentuhku dengan tangan kotor mu itu! Jaga batasanmu, kamu itu cuma sopir di rumah ini!"
Hendra menatap Ningsih dengan napas memburu, mengabaikan rasa sakit di tangannya.
"Aku tidak peduli! Kita perlu bicara, Ningsih. Aku tahu kamu sengaja diam di bawah tadi karena gengsi, kan? Bagus kalau begitu! Sekarang aku peringatkan kamu, jangan pernah berani membongkar masa lalu kita di hadapan Nawang ataupun calon mertuaku!"
Ningsih menaikkan sebelah alisnya, menatap Hendra dengan pandangan super merendah. "Oh, jadi sekarang kamu ketakutan?"
"Aku tidak takut! Aku hanya memperingatkan mu!" bentak Hendra, wajahnya memerah karena menahan panik dan harga diri yang tersudut. "Satu lagi, larang Luna untuk menyebutku papa di depan keluarga Nawang! Kalau sampai anak itu keceplosan dan merusak rencanaku, aku tidak akan tinggal diam!"
Mendengar nama anaknya dibawa-bawa dalam kelicikan pria di hadapannya, Ningsih terkekeh sinis. Sebuah tawa hambar yang justru membuat Hendra merinding.
Ningsih maju selangkah, menantang langsung tatapan mantan suaminya tanpa rasa takut sedikit pun.
"Dengar ya, Mas! Urusan pribadimu, kelicikanmu, bahkan rencana busuk mu untuk menipu Nawang dan tante Yeni sama sekali tidak penting untukku. Mereka berdua terlalu bodoh untuk menyadari harimau berbulu domba sepertimu, dan aku tidak punya waktu untuk mengurusi kebodohan mereka."
Ningsih merapikan blazernya dengan tenang, lalu menatap Hendra dengan senyuman paling meremehkan.
"Soal Luna? Kamu tenang saja. Anakku sudah jauh lebih cerdas dari usianya. Dia bahkan sudah tahu bedanya mana manusia berharga dan mana sampah yang harus dibuang ke tempatnya. Jadi, jalankan saja sandiwara murah mu itu dengan baik sebelum semuanya hancur berantakan karena keserakanmu sendiri. Minggir, aku mau lewat!"
Ningsih menyenggol bahu Hendra dengan keras, melangkah anggun meninggalkannya yang terpaku mati kutu menahan amarah yang meledak-ledak di dalam dada.
"Sial!" geram Hendra.
jika bener bener mau tobat
mka saat di panti nanti coba buka website
jualan apa gitu🤔🤔
kan bisa dpt penghasilan
asale tidak korupsi lgi
dasar satria nyicil melulu kapan lunasnya😀
pagi dan sore🤣🤣🤣
bengek bengek
dului kau congak menghina Ningsi h habis habisan
nah sekarang orang lain yang menghinamu
beres
yang resek justru yang tua
🤣🤣🤣
malam ,pagi
KLO siang untk kerja
maka sore juga bisa 🤣🤣🤣🏃🏃🏃