Sebuah pernikahan yang berdiri di atas pilar rasa utang budi, bukan cinta. Nindya menerima lamaran Haris karena takdir mempertemukan mereka dalam tragedi berdarah yang hampir merenggut nyawa Haris—dimana Nindya bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu dan dikaruniai seorang putra yang menggemaskan, Nindya harus menelan kenyataan pahit: rasa terima kasih Haris tidak pernah berubah menjadi cinta. Di balik dinding rumah tangga mereka yang dingin, Haris masih menyimpan bayang-bayang masa lalunya bersama wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyangkalan Dan Kecewa
Haris menggelengkan kepalanya pelan, mengusir rasa ganjil yang sempat mengusik dadanya selama beberapa detik. Ia memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan perubahan sikap Nindya. Bagi Haris, diamnya Nindya mungkin hanyalah aksi merajuk sesaat seperti yang biasa dilakukan para wanita pada umumnya. Lagipula, bukankah ini yang selalu ia inginkan? Sebuah rumah yang tenang tanpa cecaran pertanyaan, tanpa tangisan, dan tanpa tuntutan akan rasa cinta yang tidak pernah bisa ia berikan?
Pikirannya terlalu penuh untuk mengurusi emosi istrinya. Pikiran Haris saat ini melayang jauh kembali ke ruangan beraroma antiseptik di rumah sakit tempat Siska terbaring. Bayangan wajah pucat Siska dan rintihan kesakitannya saat memegangi kakinya yang cedera jauh lebih mendominasi benak Haris ketimbang sikap dingin Nindya di hadapannya.
Siska lebih membutuhkan aku saat ini, batin Haris membenarkan keputusannya. Nindya sudah dewasa, dia aman di rumah ini bersama Arka dan semua fasilitas yang kuberikan. Tapi Siska... dia sendirian di kota ini.
Dengan pemikiran itu, Haris melangkah menuju kamarnya tanpa berniat mengejar atau mengajak Nindya berbicara lebih lanjut. Ia membersihkan diri secara terburu-buru, lalu langsung meraih ponselnya di atas meja nakas. Jari-jarinya dengan lincah mengetikkan pesan untuk Siska, menanyakan apakah rasa sakit di kakinya sudah berkurang dan apakah perawat sudah memberikan obat malamnya.
Sembari menunggu balasan dari Siska, Haris berbaring di atas tempat tidur. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka pelan. Nindya masuk setelah memastikan Arka tertidur lelap. Nindya berjalan menuju sisi tempat tidurnya tanpa melirik sedikit pun ke arah Haris yang sedang memegang ponsel. Tidak ada sapaan malam, tidak ada usapan di bahu, bahkan tidak ada usulan untuk mematikan lampu kamar. Nindya mematikan lampu di sisinya sendiri, menarik selimut, lalu langsung memunggungi Haris.
Haris sempat menghentikan ketukan jarinya di layar ponsel. Ia menatap punggung Nindya yang membelakanginya. Ada kejengkelan tipis yang tiba-tiba muncul di benaknya. Haris merasa Nindya mulai bersikap berlebihan dan kekanak-kanakan.
Kenapa dia harus bersikap sedingin ini hanya karena aku menolong seseorang yang sedang kecelakaan? gerutu Haris dalam hati. Rasa egoisnya menolak untuk mengakui bahwa yang ia tolong bukanlah sekadar "seseorang", melainkan mantan kekasih yang masih menjalin hubungan gelap dengannya di belakang sang istri. Haris memilih untuk menyalahkan Nindya yang dianggapnya tidak memiliki rasa empati.
Denting notifikasi ponsel membuyarkan lamunan Haris. Pesan dari Siska masuk, berisi ucapan terima kasih bernada manja karena Haris telah menjadi pahlawan yang menyelamatkannya malam ini. Senyum tipis terukir di bibir Haris. Rasa khawatirnya perlahan mereda, digantikan oleh perasaan dibutuhkan yang selama ini tidak pernah ia dapatkan saat bersama Nindya.
Di balik kegelapan kamar, Nindya sebenarnya belum tertidur. Ia mendengar jelas bunyi denting ponsel Haris dan merasakan pergerakan kecil suaminya di atas kasur. Namun, tak ada lagi denyut nyeri yang meremukkan dadanya seperti dulu. Hatinya telah mati rasa. Nindya memejamkan mata dengan tenang, membiarkan Haris tenggelam dalam dunianya sendiri bersama Siska, sementara ia mulai membangun benteng tak tertembus untuk melindungi dirinya dan Arka dari pria yang tak pernah menghargainya itu.
Denting notifikasi ponsel di sisi tempat tidur Haris seolah tak memiliki niat untuk berhenti. Di tengah keheningan malam yang makin larut, suara getaran singkat berulang kali itu menusuk telinga seperti ketukan jarum jam yang menyiksa. Haris masih sibuk membalas pesan-pesan dari Siska—menenangkan wanita itu yang mengaku ketakutan dan tidak bisa tidur di ruang rawat rumah sakit.