NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anvika

Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.

Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?

📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 Sabar, Dia Istrimu Sekarang

Walaupun bukan hari libur, suasana pasar tradisional selalu sesak. Teriakan para penjual yang saling bersahutan menarik perhatian pelanggan mewarnai setiap sudut, belum lagi keriuhan emak-emak yang sedang tawar-menawar dengan sengit. Sesuatu yang tentu saja tidak bisa Nara lakukan. Kemampuan tawarnya payah, bahkan sudah sering memicu omelan dari ibunya.

"Aa nggak masalah, kan, menemaniku belanja?" tanya Nara seraya menoleh sekilas ke arah Sagara.

Bagaimanapun, pria di sampingnya ini adalah seorang anak konglomerat yang mungkin saja tidak pernah menginjakkan kaki di tempat seramai ini, lengkap dengan aroma menyengat khas pasar.

"Ya, tidak masalah. Asalkan ada kamu di sampingku," ujar Sagara santai seraya meraih tangan Nara yang kemudian digenggamnya erat.

Nara menunduk, menatap tautan tangan mereka, lalu kembali menoleh ke arah Sagara dengan isyarat mata yang menuntut penjelasan.

"Lihat, banyak orang di sekeliling kita. Aku takut hilang. Ini kan pertama kalinya aku ke sini," ucap pria penuh alasan.

"Idih, tidak sadar diri ya, A. Tinggimu itu sudah seperti tiang listrik. Kalaupun hilang, gampang kusamperin. Lagipula ... sudah sebesar ini, masa masih takut hilang!" gerutu Nara yang sama sekalian tidak dihiraukan oleh Sagara.

Nara hanya bisa menghela napas pasrah, menatap genggaman tangan mereka sekali lagi. Rasanya ia sudah seperti seorang ibu yang ditempeli anaknya ke mana-mana.

"Kita ke bagian lapak ikan dulu di sebelah sana," ucap Nara melangkah ke arah sana yang otomatis diikuti oleh Sagara.

"Nanti kalau ada cumi beli, ya. Udang juga. Sudah lama benget aku nggak makan itu." Request pria itu. Benar-benar kaya bocil yang meminta emaknya beli ini, beli itu, saat dalam berpergian.

"Boleh saja, tapi uangnya mana?" Nara menengadahkan tangannya yang bebas, setelah menyampirkan tas belanjaan ke pundak.

"Eh, iya juga. Aku belum pernah memberimu uang nafkah ya, Istri?" gumam pria itu, menggunakan panggilan yang sudah beberapa hari ini tidak Nara dengar.

Panggilan itu seketika menggelitik hatinya, mengingatkan Nara kembali pada status barunya bahwa dirinya bukan lagi perawan lajang, karena jelas masih gadis.

"Tunggu sebentar, aku lihat dompetku dulu." Sagara melepaskan genggaman tangan mereka, lalu merogoh saku celana untuk mengambil dompet.

Namun saat dibuka, tidak ada uang tunai sepeser pun di sana. Semua uangnya sudah terpakai untuk mahar pernikahan mereka, dan sisa lima puluh ribu terakhir sudah ia gunakan untuk membeli bensin motornya. Alhasil, hanya ada deretan kartu di dalamnya.

"Bayar pakai kartu bisa, kan?" tanya pria itu dengan wajah serius.

Nara spontan menepuk dahinya. "Kita tidak sedang belanja di supermarket yang kalau mau bayar tinggal gesek, A. Ini di pasar kampung, semuanya pakai uang lembaran," sahut Nara dengan nada suara yang setengah meninggi akibat gemas.

"Ya, maaf. Kamu jangan marah dong. Nanti kita mampir ke ATM terdekat untuk tarik tunai. Setelah itu, semua uangnya aku serahkan kepadamu," ujar pria itu bersungguh-sungguh seraya memasukan kembali dompetnya ke saku celana.

Mata Nara seketika berbinar mendengar kalimat terakhirnya. Punya suami CEO memang beda! batinnya.

"Memangnya mau kasih berapa?" tanya Nara, tidak bisa menyembunyikan buncahan nada bahagia di suaranya.

"Kamu maunya berapa?" Pria itu malah balik bertanya seraya kembali meraih tangan Nara, menyelipkan jari-jari mereka hingga saling bertaut rapat.

"Ya ... seikhlasnya Aa saja, sih. Aku mah diberi berapa saja tidak masalah," lanjut Nara sambil tersenyum lebar.

Baginya, berapa pun jumlahnya tentu akan ia terima dengan senang hati karena uang itu datang secara cuma-cuma. Eh, benarkah cuma-cuma? Nara mendadak menoleh ke arah Sagara dengan pandangan rumit. Dalam pernikahan, ada hak dan tentu saja ada kewajiban yang harus ditunaikan.

"Kenapa?" tanya Sagara saat menyadari tatapan aneh dari Nara di sampingnya.

Nara segera menggeleng cepat, lebih baik tidak membahasnya. Biarkan apa yang ada dalam pikirannya ini hanya dirinya yang menyadari.

Sagara mengedikkan bahu, tidak terlalu ambil pusing. Ia justru sibuk berpikir apakah harus memberikan Nara uang nafkah dua digit atau tiga digit. Dan masih berpikir ... apakah segitu cukup?

***

Mereka pun mulai berpindah dari satu lapak ke lapak lainnya; mulai dari bagian ikan, daging, sayur-sayuran, hingga bumbu dapur.

Tas belanjaan kain yang dibawa Nara kini sudah penuh, ditambah beberapa kantong plastik yang kini memenuhi kedua tangan Sagara.

Jangan harap mereka bisa berpegangan tangan lagi, karena sekarang Nara sibuk menunjuk apa saja yang menarik perhatiannya.

"Kamu kaya mau stok aja, ini belanjaan kita udah penuh. Ibu juga belum pulang, jadi hanya kita berdua yang makan."

Terdengar sedikit nada protes yang keluar dari mulut pria itu. Soal hal yang begini, semua perempuan sama saja! Selalu kalap! Bilangnya hanya belanja itu saja, tapi ujung-ujungnya hampir semua isi pasar ingin diborong.

Nara menghentikan langkah dan menoleh ke belakang, tepatnya pada Sagara yang berjalan di belakang punggungnya.

Matanya seketika membelalak lebar saat melihat tumpukan barang yang dibawa Sagara akibat jari telunjuknya, mana belinya tanpa tawar-menawar lagi. Kalau ibunya tahu, ia pasti sudah habis diomeli.

"Eh, serius itu belanjaan aku semua? Kok aku sampai tidak sadar, ya? Niatnya memang mau menyetok, tapi tidak mengira bakal sebanyak ini juga," ucap Nara dengan wajah syok.

Sagara hanya bisa mendelik, lalu memutar bola matanya jengah. "Ya sudah, sih. Kita pulang, sudah banyak ini. Mana perutku sudah mulai lapar," keluh pria itu dengan nada merengek yang samar.

Sikap manja itu tidak dibuat-buat, melainkan reaksi yang meluncur keluar begitu saja menjadi tindakan. Kedekatan keduanya yang intens belakang ini, membuat mereka menjadi terbiasa dan merasa nyaman untuk satu sama lain tanpa mereka sadari.

Nara diam sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju. Keputusan itu membawa angin segar bagi Sagara yang lengannya sudah mulai pegal. Namun, rasa lega itu hanya bertahan sesaat sebelum wajah Sagara kembali lesu akibat kalimat Nara selanjutnya.

"Tapi kita mampir ke lapak buah dulu, ya? Soalnya persediaan buah di rumah sudah habis," ujar Nara dengan cengiran lebar tanpa dosa.

Sagara hanya bisa mengembuskan napas panjang, berusaha menguatkan diri. Sabar, dia istriku sekarang, batinnya menghibur diri sendiri sembari mengikuti langkah Nara.

Setelah puas berkeliling hampir ke seluruh pasar, Nara kini membawa Sagara ke tempat makan legendaris di pasar tersebut.

Sebuah rumah makan sederhana berbangku kayu yang menyajikan aneka menu andalan yang langsung membuat Sagara merasa semakin lapar.

Di balik etalase kaca, berjejer rapi gepuk daging sapi empuk bertabur serundeng gurih, balakutak berupa cumi kuah hitam pekat yang beraroma harum, serta tumis oncom ulukutek leunca yang menggoda selera.

Aroma sedap juga menguar dari deretan ayam goreng dan bakar berbumbu meresap, bersanding dengan perkedel kentang yang selalu disajikan hangat dari wajan. Sebagai menu pelengkap, tersedia pula aneka pepes ikan dan telur asin, sayur asem yang segar, sayur lodeh, hingga sambal dadak merah merona yang siap membakar lidah.

"Tadi katanya sudah lama nggak makan cumi, kenapa tidak ambil menu itu?" tanya Nara saat melihat menu di piring Sagara.

"Tadi kan sudah beli cumi, jadi aku makan cumi yang kamu masak aja."

"Heh?"

***

Bersambung ...

1
Maseni Maseni
perasaanmu sudah terjawsb oleh sagara ga usah repot cari cari cara ya nara

cukup layani suamimu, hormati, jaga dari pelakor
dijamin bucin tuh Aa saga
lanjut kak 😍/Coffee//Rose/
Maseni Maseni
awalnya nara kasihan ma sagara yg tersiksa , nanti tinggal nara yg tersiksa

lanjut kak
Maseni Maseni
kalau orang kaya tuh makanya getuk ya nara😀

wuih bau baunya ibu mertua bakal ketagihan masakan nara nih
lanjut kak 😍/Coffee//Rose/
Anvika: Siap Kak🤗🥰
total 1 replies
Maseni Maseni
huahaha nara takut digigit ibu mertua
Maseni Maseni
hahaha nara lucu, ditanya ukuran malah marah .....tinggal bilang aja size 38 cup B😀

mereka dekat dengan cara yg lucu
makasih upnya kak😍/Coffee//Rose/
Anvika: Heheh, malu dia Kak🤭

Siap Kak, makasih juga sudah membaca karyaku🥰🥰💕
total 1 replies
Maseni Maseni
nah gitu dong nara..... balas dendamnya cantik halus
dan suami juga seneng
hati hati menhaga istri ya sagara

lanjut /Coffee//Rose/
Anvika: Siap Kak💕
total 1 replies
Hosniyah Niyah
lanjut Thor ❤❤❤💞💞💞😘😘😘👍👍👍👌👌👌
Anvika: Siap Kak😍🥰🥰🥰
total 1 replies
Maseni Maseni
wuih bisa balas kesongongan sang mantan nih

balas dendam yg elegan dengan suami sah ya nara
yg akhirnya tumbuh rasa cinta
lanjut kam
Anvika: Siap dilanjut, kak🤗
total 1 replies
Maseni Maseni
wah bakal ada tantangan besar nih buat sagara, memperjuangkan cintanya atau jadi anak yang takut miskin?

hayo pilih mana kak othornya
Anvika: Sagara sudah bucin mampus Kak 🤭 jadi milih jadi miskin beliau 😁
total 1 replies
Maseni Maseni
ayo gara cari tau ke ibu mertua apakah istrimu pergi ke jakarta? jangan lupa minta alamatnya

atau jangan jangan nanti pas gara pulang dari kantor melihat nara naik motor sagara

lanjut kak 😍
Maseni Maseni: yesss
total 2 replies
fabdul
Lanjut💪
Anvika: Siap 😊
total 1 replies
Maseni Maseni
balas dendamnya dibantu suami ya nara
libatkan sagara semua akan bere
lanjut kak😍
Anvika: Siap Kak🥰
total 1 replies
Maulidia Okta
sakit ya. bang... cinta blm berbalas....
tenang aj bang... nara juga mulai suka lho..
Maulidia Okta
sabar bang.... emang rada sulit njelasin orang yg tetlanjur sakit hati..
Maulidia Okta
bucin bang...
Anvika: Bucin dia Kak 🤭
total 1 replies
Maulidia Okta
mau nalas dendam nich ceritanya
Maulidia Okta
ikut penasaran thor
Maulidia Okta
semakin menggelitik pesona sagara.....
Maseni Maseni
makin dibaca makin asyik nih cerita
Anvika: Wahhh, makasih Kak 🤗 😍
total 1 replies
Maseni Maseni
betul bu ratna, cara menampar mulut tetangga macam nurlela tuh emang harus dengan kepastian

lanjut A saga ma neng nara
semangat kak😍
Anvika: Siap Kak, makasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!