NovelToon NovelToon
Bayangan Di Atas Atap

Bayangan Di Atas Atap

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: Kamal Fajar001

Rendra, mantan polisi jujur yang dijebak dan dicap pengkhianat oleh atasannya sendiri, Inspektur Bagas, yang ternyata pemimpin sindikat kriminal. Rendra kehilangan adik perempuannya yang tewas dalam kebakaran pabrik yang disengaja untuk menutup kejahatan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamal Fajar001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Matahari mulai condong ke barat saat Rendra dan Pak Haris kembali ke rumah sewa. Wajah mereka tidak lagi setegang sebelumnya—bertemu Ibu Ratna adalah harapan terbesar yang mereka temukan sejak meninggalkan lembah. Namun saat mereka masuk ke kamar, Dika segera menutup pintu rapat-rapat dengan wajah pucat.

“Ada yang salah,” bisiknya cepat. “Saya baru saja memeriksa rekaman kamera pengawasan di lorong gedung. Ada dua orang yang menyamar sebagai petugas kebersihan memeriksa pintu kamar kita satu jam yang lalu. Mereka mencoba membuka kunci, tapi beruntung kunci ini dilengkapi pengaman lama yang tidak mudah dirusak.”

Surya segera menyebarkan peta kota di atas meja. “Mereka tidak butuh waktu lama untuk melacak jejak kita. Kita harus pindah malam ini juga. Ibu Ratna memberi alamat tempat aman, kan?”

“Ya,” jawab Rendra. “Sebuah rumah pensiunan di kawasan selatan, dikelola oleh orang yang sudah lama dipercayainya. Tidak ada catatan resmi di sana, dan pengawasannya dilakukan secara diam-diam.”

Mereka segera mengemasi barang—hanya bukti penting dan perlengkapan darurat. Sebelum meninggalkan gedung tua itu, Pak Haris memastikan tidak ada satu pun jejak yang tertinggal: ia menyeka setiap permukaan yang disentuh, menyembunyikan sisa catatan di tempat yang tak akan ditemukan sembarang orang, dan mematikan semua alat elektronik agar tidak bisa dilacak sinyalnya.

Perjalanan menuju selatan Jakarta memakan waktu berjam-jam karena kemacetan dan kehati-hatian menghindari pos pemeriksaan tersembunyi. Sesampainya di sana, rumah itu tampak sederhana seperti bangunan lain di sekitarnya—dinding putih agak kusam, halaman penuh tanaman obat, dan tidak ada papan nama di depan pintu. Ibu Ratna sudah menunggu di sana bersama seorang wanita tua yang ramah, Ibu Sumi, penjaga rumah itu.

“Di sini kalian bisa beristirahat dengan tenang,” kata Ibu Ratna setelah mereka masuk ke ruang tengah yang sejuk. “Tapi kita tidak bisa menunda lama. Besok pagi saya akan mengadakan rapat tertutup dengan tim inti komisi—kita akan menyampaikan bukti ini dan meminta izin untuk melakukan penyelidikan resmi.”

Namun keesokan paginya, kabar buruk datang lebih dulu. Ibu Ratna kembali dengan wajah kecewa, berkas-berkas di tangannya tergenggam erat.

“Rapat dibatalkan mendadak,” katanya pelan. “Wakil ketua komisi yang seharusnya mendukung saya tiba-tiba meminta penundaan dengan alasan administrasi. Padahal saya tahu alasannya: malam tadi ada kunjungan tertutup dari perwakilan gubernur Jawa Timur ke kantor pusat. Mereka pasti sudah menanamkan keraguan atau bahkan ancaman.”

“Berarti mereka bergerak lebih cepat dari kita,” gumam Pak Haris. “Ridwan punya sekutu di pusat kekuasaan yang bisa menghentikan langkah resmi kapan saja.”

“Kita tidak bisa menunggu izin dari atas,” potong Rendra tegas. “Jika kita menunggu sampai mereka mengizinkan, bukti ini akan dinyatakan tidak sah, dan kita akan ditangkap sebagai pembuat berita bohong. Kita harus mengambil jalan lain: menyebarkan fakta ini langsung ke masyarakat, sebelum mereka sempat menutup semuanya.”

Dika mengangguk. “Saya punya kontak dengan sekelompok jurnalis independen yang tidak terikat pada perusahaan besar. Mereka bisa menyiarkan berita ini lewat saluran yang tidak mudah disensor. Tapi butuh waktu satu hari untuk menyusun berita dengan lengkap dan memastikan keamanan sumber.”

Mereka sepakat menunggu satu hari lagi. Namun malam itu, bahaya datang dari arah yang tak disangka. Saat tengah malam, Asep yang sedang berjaga di halaman belakang melihat cahaya lampu mobil berhenti di ujung jalan. Bukan mobil patroli—mobil hitam tanpa plat nomor yang sama persis dengan yang dulu mengantar pasukan ke lembah.

“Mereka tahu kita ada di sini!” serunya saat masuk ke dalam rumah.

Ibu Sumi segera menuntun mereka ke ruang bawah tanah rahasia di balik lemari besar. “Ada terowongan darurat yang keluar ke gang di seberang jalan. Ikuti sampai ujung, lalu cari taksi di stasiun lama.”

Mereka bergerak cepat dalam kegelapan. Di atas terdengar suara pintu didobrak dan langkah kaki berat. Saat mereka keluar di gang seberang, Rendra menoleh ke belakang—ia melihat sosok Ibu Ratna berdiri di pintu depan, menghadapi pasukan itu sendirian untuk memberi waktu mereka lolos.

“Ikut aku!” panggil Pak Haris cepat. “Dia sudah punya rencana sendiri—dia akan menahan mereka agar kita bisa menyelesaikan tugas!”

Mereka berlari menuju stasiun tua dengan hati yang cemas. Sekarang mereka tidak hanya dikejar karena bukti yang mereka bawa—mereka juga harus memastikan pengorbanan orang yang berani berdiri di pihak mereka tidak sia-sia. Di tengah kota yang luas dan penuh aturan ini, satu-satunya jalan yang terbuka adalah jalan yang paling berisiko: membiarkan seluruh rakyat Indonesia menilai kebenaran itu sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!