Seorang driver ojol tampan tapi bernasib sial mendapatkan sistem aplikasi "Godjek" misterius, di mana setiap orderan absurd dari pelanggan cantik memberinya hadiah kekuatan aneh yang bikin geleng-geleng kepala.
Bertahun-tahun lalu, sebelum jadi ojol, Raka memiliki seorang adik perempuan yang sangat dia sayangi. Suatu hari, adiknya memesan ojek online malam-malam untuk pulang. Raka yang saat itu sibuk, tidak bisa menjemputnya sendiri.
Malam itu, ojol yang ditumpangi adiknya mengalami kecelakaan fatal.
Kata-kata terakhir adiknya di telepon sebelum kecelakaan adalah: "Mas, aku udah jalan ya, ojolnya baik banget." Raka tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Dia menjadi ojol yang baik untuk "menebus Dosa" dan penyesalan di dasar hatinya setelah adiknya pergi untuk selama-lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lihazel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat dari Kerajaan Pratama
Tiga hari setelah kekacauan wartawan yang mengepung gang Tambora mereda, kehidupan di pangkalan "PODOMORO" perlahan kembali ke ritme normalnya. Bang Jay sudah kembali duduk santai di kursi kulit shelter kaca sambil menyeruput kopi arabika, Dedi "Gacor" kembali sibuk menekan tombol refresh di tiga ponselnya, dan Mbak Sri kembali melayani pelanggan dengan senyum khasnya—meski sesekali masih melirik curiga ke arah Arya setiap kali nama Alya, Citra, atau Nadia disebut dalam obrolan warkop.
Pagi itu, Arya baru saja pulang dari mengantar orderan pertama—sebuah pengantaran dokumen reguler ke kawasan Grogol yang, syukurlah, sama sekali tidak melibatkan notifikasi sistem gaib apa pun. Ia memarkirkan Supra Fit-nya di bawah pohon beringin, melepas helm INK bututnya, dan baru saja hendak duduk menikmati kopi hitam yang disodorkan Mbak Sri ketika sebuah motor matic berlogo perusahaan kurir ekspedisi berhenti tepat di depan warkop.
"Permisi, ada yang atas nama Ibu Aminah Prasetya di sini?" tanya kurir itu, membawa sebuah amplop cokelat tebal berlapis segel resmi yang terlihat jauh lebih formal daripada surat-surat tagihan listrik yang biasa diterima warga Tambora.
Arya mengernyit. "Saya anaknya. Ada apa ya, Mas?"
"Ini surat resmi dari kantor hukum, Mas. Harus ditandatangani langsung sama penerima atau keluarga terdekat," jawab kurir itu sambil menyodorkan buku tanda terima.
Arya menandatangani dokumen itu dengan tangan yang mulai terasa dingin—instingnya sebagai anak kampung yang tumbuh besar di tengah kerasnya Jakarta langsung mencium sesuatu yang tidak beres begitu melihat kop surat di sudut amplop: Kantor Hukum Wijaya & Rekan, mewakili PT Pratama Land Development.
"Pratama?" batin Arya, jantungnya langsung berdegup kencang. "Ini pasti ada hubungannya sama si Reynald. Anjing, belum kapok juga ternyata dia."
Begitu kurir itu pergi, Arya merobek amplop dengan tangan yang sedikit gemetar. Bang Jay dan Dedi, yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan, langsung bangkit dan mendekat begitu melihat raut wajah Arya berubah pucat pasi saat membaca isi surat itu.
"Ya, ada apa? Kok mukanya kayak abis liat kuntilanak siang bolong?" tanya Bang Jay cemas.
Arya membaca surat itu sekali lagi untuk memastikan matanya tidak salah lihat. Kalimat demi kalimat dalam bahasa hukum yang berbelit-belit itu pada intinya menyatakan satu hal yang sangat sederhana namun mengerikan: tanah tempat pangkalan ojol "PODOMORO" dan warkop Mbak Sri berdiri, berikut sebagian besar rumah petak di sekitarnya termasuk rumah kontrakan keluarga Arya sendiri, diklaim sebagai bagian dari sertifikat hak guna bangunan milik PT Pratama Land Development—anak perusahaan dari Pratama Logistics Group. Surat itu memberi waktu tujuh hari bagi seluruh penghuni untuk "secara sukarela mengosongkan lahan" sebelum proses hukum pembongkaran paksa dilaksanakan.
"Ya Tuhaan, cobaan apa lagi ini.." gumam Arya, suaranya nyaris tak terdengar. "Mereka mau ngambil tanah kita, Bang?"
God-Phone di saku jaket Arya bergetar hebat, memancarkan cahaya merah pekat yang langsung membuat bulu kuduknya berdiri.
TING-TONG!
[PERINGATAN DARURAT SISTEM: SERANGAN EKONOMI TERSTRUKTUR TERDETEKSI!]
[Analisis: Dokumen yang baru diterima adalah bagian dari operasi balas dendam terorganisir yang diperintahkan langsung oleh Hendarto Pratama, patriark utama keluarga Pratama sekaligus ayah kandung dari Reynald Pratama. Setelah kegagalan putranya menyerang reputasi Driver secara digital, Hendarto memutuskan untuk menyerang lewat jalur yang jauh lebih terukur dan legal—klaim tanah menggunakan sertifikat lama yang belum pernah diperbarui sejak era Orde Baru.]
[Status Sertifikat: Sertifikat kepemilikan lahan atas nama warga Tambora yang ditempati selama lebih dari 30 tahun sebagian besar berbentuk girik dan surat keterangan tanah adat, belum bersertifikat resmi BPN. Ini menciptakan celah hukum yang bisa dimanfaatkan pihak dengan sumber daya legal lebih besar.]
[Batas Waktu: 7 Hari (168 Jam) sebelum eksekusi pembongkaran paksa dijadwalkan.]
[Catatan Sistem: Ini bukan lagi pertarungan fitnah yang bisa dipatahkan dengan kejujuran semata. Ini pertarungan dokumen melawan dokumen. Sistem tidak bisa menciptakan sertifikat tanah dari udara kosong—ini murni memerlukan kekuatan hukum, solidaritas komunitas, dan kejujuran sejarah yang harus digali bersama-sama.]
Arya merasakan dadanya sesak, bukan karena kepanikan komedi seperti biasanya, melainkan kekhawatiran murni seorang anak yang menyaksikan rumah masa kecilnya—satu-satunya tempat yang pernah ia sebut "rumah" seumur hidupnya—terancam hilang dalam waktu tujuh hari.
"Bang, Ded," ujar Arya, suaranya berat menahan gejolak emosi. "Ini bukan cuma soal gua lagi. Ini soal semua orang di gang ini. Rumah kalian, warkop Mbak Sri, semuanya kena."
Dedi merebut surat itu dari tangan Arya, matanya membelalak membaca isi dokumen tersebut. "Anjir... ini serius, Bang Jay! Mereka bilang tanah kita ini sertifikatnya udah dibeli sama perusahaan Pratama sejak tahun 2019! Ini gimana ceritanya kita nggak pernah tahu apa-apa?!"
Bang Jay merebut surat itu dari Dedi, membacanya dengan alis berkerut dalam, tangannya yang kasar sedikit gemetar menahan amarah yang mulai membakar dadanya. "Ini nggak masuk akal, Ya. Kakek gua dulu yang pertama kali buka lahan di sini tahun 70-an. Kita punya girik tanah warisan, meskipun emang belum pernah diurus jadi sertifikat resmi. Tapi masa iya perusahaan segede itu bisa tiba-tiba klaim tanah yang udah ditempatin orang berpuluh-puluh tahun?"
Mbak Sri, yang sejak tadi mendengarkan dari balik counter warkop dengan wajah pucat, ikut mendekat sambil memegangi dadanya. "Ya Allah... warung saya juga kena? Ini... ini gimana ceritanya, Ya? Saya kan udah investasi renovasi baru pakai bantuan Nona Citra sama Nona Nadia. Masa sekarang malah mau digusur?"
Arya menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri di tengah kepanikan yang mulai menjalar ke seluruh pangkalan. Warga lain yang mulai mendengar kabar itu berbondong-bondong mendekat, wajah mereka dipenuhi kecemasan yang sama—cemas kehilangan satu-satunya tempat berlindung yang mereka miliki di tengah kerasnya ibu kota.
"Tenang dulu, semuanya," ujar Arya, berusaha mengumpulkan sisa-sisa ketenangan yang bisa ia kerahkan meski hatinya sendiri bergejolak hebat. "Ini emang masalah besar, tapi kita nggak akan diem aja. Gua akan cari cara."
Sore harinya, Arya duduk di teras rumah petaknya bersama Pak Surya dan Bu Aminah, ketiganya menatap surat yang sama dengan raut wajah yang berbeda-beda—Arya dengan kemarahan yang tertahan, Bu Aminah dengan kekhawatiran yang mendalam, dan Pak Surya dengan ketenangan khas seorang lelaki tua yang sudah terlalu banyak melihat kehidupan mengujinya.
"Bapak inget," ujar Pak Surya pelan, suaranya berat namun tenang, "waktu Bapak masih muda, tanah ini dibuka sama Almarhum Bapaknya Bang Jay bareng beberapa keluarga transmigran dari Jawa Tengah. Ada surat keterangan dari kelurahan lama, girik tanah, tapi memang belum pernah diproses jadi sertifikat BPN karena dulu prosesnya ribet dan mahal buat orang miskin kayak kita."
"Terus gimana, Pak?" tanya Arya, menatap ayahnya dengan harapan yang mulai tumbuh.
Pak Surya berdiri perlahan, melangkah masuk ke dalam kamarnya yang sempit, lalu kembali dengan sebuah kotak kayu tua yang catnya sudah pudar. Ia membuka kotak itu dengan hati-hati, mengeluarkan setumpuk dokumen lama yang kertasnya sudah menguning dimakan usia.
"Ini girik tanah warisan keluarga kita, sama beberapa surat keterangan dari kelurahan zaman dulu," ujar Pak Surya, menyerahkan tumpukan dokumen itu kepada Arya. "Bapak simpen baik-baik selama ini karena Bapak tahu, suatu hari mungkin bakal berguna. Tapi Bapak nggak ngerti hukum modern, Le. Bapak cuma orang kampung yang bisanya kerja keras sama berdoa."
Arya menerima dokumen-dokumen itu dengan tangan gemetar, hatinya dipenuhi haru sekaligus tekad baru yang membara. Ia menatap girik tua itu, membaca setiap huruf yang sudah mulai pudar, merasakan beban sejarah keluarganya yang tertulis di atas kertas rapuh itu.
"Bapak nggak salah nyimpen ini," bisik Arya, matanya berkaca-kaca. "Ini bakal jadi senjata kita, Pak."
God-Phone di saku Arya bergetar lembut, memancarkan cahaya hijau yang menenangkan—berbeda dari cahaya merah mengancam sebelumnya.
TING-TONG!
[NOTIFIKASI SISTEM: DOKUMEN BERSEJARAH TERDETEKSI!]
[Analisis: Girik tanah dan surat keterangan kelurahan yang dipegang Pak Surya, jika diverifikasi dan diproses secara hukum, memiliki kekuatan pembuktian kepemilikan adat yang sah menurut hukum agraria Indonesia. Namun proses verifikasi ini memerlukan bantuan ahli hukum profesional dan koneksi birokrasi yang kuat—sesuatu yang tidak dimiliki oleh warga Tambora secara mandiri.]
[Saran Sistem: Pertimbangkan untuk memanfaatkan jaringan sosial yang telah Anda bangun. Kejujuran dan ketulusan Anda selama ini telah menciptakan sekutu-sekutu yang tidak terduga.]
Arya menatap layar itu, dan seketika sebuah nama melintas di benaknya. "Citra. Dia CEO perusahaan besar, pasti punya tim legal yang jago banget soal beginian."
Namun sebelum Arya sempat mengambil ponselnya sendiri untuk menghubungi Citra, sebuah suara familiar terdengar dari arah gang, disusul langkah kaki yang tergesa-gesa.
"Mas Arya!"
Arya menoleh, dan mendapati Alya Nindita berlari kecil menuju rumahnya, wajahnya dipenuhi kekhawatiran yang tulus. Ia masih mengenakan jas dokter mudanya yang sedikit kusut, tampak baru saja selesai jaga di rumah sakit dan langsung meluncur ke Tambora begitu mendengar kabar.
"Mbak Alya? Kok bisa tau—"
"Bang Jay yang kabarin lewat WhatsApp grup komunitas ojol," potong Alya cepat, napasnya masih terengah. "Katanya rumah kalian mau digusur? Ini benar, Mas?"
Arya mengangguk pelan, menyerahkan surat itu kepada Alya yang langsung membacanya dengan mata yang membelalak kaget.
"Ini... ini gila," bisik Alya, tangannya sedikit gemetar. "Ini jelas-jelas serangan balas dendam. Mas Arya, aku... aku nggak punya kekuatan hukum, tapi papaku punya banyak kenalan pengacara top di Jakarta lewat asosiasi rumah sakitnya. Aku bisa coba minta bantuan."
Sebelum Arya sempat menjawab, ponselnya sendiri berdering—nomor yang tidak dikenal, namun begitu ia mengangkatnya, suara yang begitu familiar langsung terdengar di seberang telepon.
"Arya," suara Citra Kirana terdengar tegas namun ada nada kekhawatiran yang jarang ia perlihatkan. "Aku baru dapat laporan dari tim intelijen bisnisku. Pratama Land Development baru saja mengajukan klaim sengketa tanah di kawasan Tambora. Apakah ini menyangkut daerahmu?"
Arya merasakan dadanya sedikit lega mendengar suara itu. "Iya, Nona Citra. Kena rumah gua, pangkalan ojol, warkop Mbak Sri, semuanya."
Terdengar helaan napas tajam di seberang telepon. "Baiklah. Jangan tanda tangani apa pun, jangan setuju dengan tawaran kompensasi apa pun yang mungkin mereka ajukan nanti. Aku akan kirim tim legal terbaikku ke sana besok pagi. Dan Arya—simpan baik-baik dokumen kepemilikan lama apa pun yang kalian punya, sekecil apa pun itu."
"Sudah, Nona. Bapak saya masih nyimpen girik tanah warisan dari dulu."
"Bagus," suara Citra terdengar sedikit lega. "Itu bisa jadi senjata paling kuat kita. Aku akan pastikan tim ahli waris tanah dan sejarah agraria ikut turun tangan. Ini bukan lagi soal siapa yang paling kaya, Arya. Ini soal siapa yang punya bukti paling sah."
Panggilan telepon itu berakhir, dan Arya menghela napas panjang, merasakan sebuah kelegaan aneh menyelinap di tengah kekhawatirannya yang masih membara. Dua wanita yang selama ini bersaing memperebutkan hatinya, kini justru bersatu tanpa diminta untuk melindungi rumahnya dan seluruh komunitas yang ia sayangi.
Malam itu, sebelum tidur, God-Phone Arya bergetar sekali lagi, menampilkan rangkuman status yang jarang muncul.
[RANGKUMAN STATUS SISTEM GODJEK — MALAM INI]
[Ancaman Utama: PT Pratama Land Development, dikendalikan oleh Hendarto Pratama, telah resmi memulai serangan ekonomi terhadap komunitas Tambora. Batas waktu tersisa: 6 hari 14 jam.]
[Sekutu yang Bergerak: Citra Kirana (mengerahkan tim legal korporat), Alya Nindita (mengerahkan jaringan pengacara dari kalangan medis), Bang Jay & komunitas ojol se-Jakarta Barat (mempersiapkan solidaritas sosial dan dokumentasi sejarah lisan warga).]
[Peringatan Sistem: Hendarto Pratama bukan sekadar pengusaha licik biasa. Ia adalah dalang di balik jaringan bisnis Faksi Segitiga Emas yang jauh lebih luas dari yang pernah Driver hadapi sebelumnya. Kekalahan kali ini bagi Hendarto akan menjadi preseden berbahaya bagi seluruh rencana ekspansi bisnis keluarganya di masa depan—yang berarti, ia tidak akan menyerah dengan mudah.]
[Catatan Tambahan: Sistem mendeteksi satu keping informasi tersembunyi dalam arsip sertifikat lama yang diajukan Pratama Land Development—terdapat kejanggalan tanggal penerbitan yang mencurigakan. Kebenaran penuh baru akan terungkap jika diinvestigasi lebih dalam oleh pihak yang tepat.]
Arya menatap layar itu lama, dadanya dipenuhi tekad baru yang jauh lebih kuat dari sekadar mempertahankan rating bintang lima. Ini bukan lagi soal harga diri sebagai driver ojol, bukan pula soal perang asmara antar-heroine yang selama ini mewarnai hidupnya.
Ini soal rumah. Soal akar. Soal Ibu Aminah yang sudah puluhan tahun berjualan nasi timbel di tanah yang sama, soal Pak Surya yang menghabiskan separuh hidupnya di teras rumah petak itu sambil menemani burung perkututnya, soal Bang Jay, Dedi, Mbak Sri, dan seluruh warga Tambora yang selama ini menjadi keluarga keduanya.
"Kalau perlu, gua bakal gali semua kebusukan si Hendarto Pratama ini," batin Arya, rahangnya mengeras dengan tekad yang belum pernah ia rasakan sekuat ini sebelumnya. "Tanah ini bukan cuma soal sertifikat di atas kertas. Ini soal seluruh hidup keluarga gua. Dan gua nggak akan biarin orang kaya sombong kayak dia ngerampasnya cuma karena anaknya sakit hati ditolak sama Nayla—eh, salah, sama Citra."
Ia memejamkan mata, membiarkan kelelahan hari yang panjang perlahan menariknya ke dalam tidur, namun kali ini dengan tekad yang membara di dalam dadanya—tekad untuk melindungi bukan hanya dirinya sendiri, melainkan seluruh dunia kecil yang telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang di gang sempit Tambora.
Di luar jendela kamarnya, bulan menggantung terang di atas gang yang mulai sepi, seolah menjadi saksi bisu dari sebuah pertempuran baru yang jauh lebih besar dari apa pun yang pernah dihadapi Arya Prasetya—pertempuran yang akan menentukan apakah rumah masa kecilnya akan tetap berdiri, atau lenyap ditelan ambisi seorang konglomerat yang tidak pernah bisa menerima kekalahan.