Aku, *Aira Putri*, dipaksa nikah sama *Arka Mahendra* demi bayar utang rumah sakit mamaku.
Dia CEO dingin, tajir, dan paling benci sama wanita matre. Aku? Cuma karyawan biasa yg apes.
Aturannya jelas:
1. Gak boleh saling cinta
2. Gak boleh pegang tangan
3. Cerai setelah 1 tahun
Masalahnya...
Kenapa dia yg paling pertama nolongin pas aku diganggu?
Kenapa dia yg marah pas aku deket sama cowok lain?
Kenapa tatapan dinginnya bikin jantungku anget?
*Arka Mahendra* bersumpah gak akan jatuh cinta.
Tapi takdir bilang: *"Jodoh gak akan kemana"*
Akankah pernikahan kontrak ini berakhir di meja hijau... atau di pelaminan beneran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nabila claraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 - PERNIKAHAN KONTRAK
Hujan mengguyur Jakarta malam itu tanpa ampun. Seolah langit ikut menangis untuk nasibku.
Aku, *Aira Putri*, berdiri mematung di teras KUA dengan baju kurung putih pinjaman dari tetangga. Ujung kerudungku basah kuyup, sandal jepitku penuh lumpur. Di sampingku, kursi roda mama berderit pelan. Selang infus masih menempel di punggung tangannya yang kurus dan pucat.
Tiga hari lalu dokter spesialis jantung bilang dengan nada datar: _“Butuh operasi bypass segera, Bu. Biayanya 500 juta. Kalau telat, kami tidak bisa jamin.”_
Tiga hari juga aku keliling. Ke bank ditolak karena gak punya jaminan. Ke saudara, semua ngeles. Ke rentenir, bunganya bikin aku mual.
Sampai akhirnya dia datang.
*Arka Mahendra.*
Langkahnya mantap membelah hujan. Jas hitam mahal yang pasti harganya 20 juta, dasi dilepas setengah, rambutnya agak basah tapi tetap rapi seperti habis dari salon. Aura CEO. Dingin. Jauh. Menakutkan.
Di belakangnya, dua bodyguard berbadan tegap memayungi. Tapi bukan aku yang dipayungi.
“Waktunya,” katanya singkat. Suaranya berat, datar, tanpa emosi. Seperti robot.
Aku menelan ludah yang rasanya pahit. “P-Pak... makasih udah mau nolongin mama saya.”
Dia menatapku sekilas. Tatapan cokelat tuanya kosong. Tidak ada iba. Tidak ada apa-apa. “Aku bukan nolongin. Ini transaksi.”
Dari dalam map kulit hitam, dia mengeluarkan selembar kertas tebal. *SURAT PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK.* Kop surat Mahendra Group di atasnya.
Jantungku berdegup kencang pas baca poin-poinnya dengan mata berkaca-kaca.
*Pasal 1:* Masa pernikahan 1 tahun terhitung sejak hari ini.
*Pasal 2:* Tidak ada hubungan suami istri. Tidak ada cinta. Tidak ada publikasi ke media.
*Pasal 3:* Pihak Aira menerima 500 juta untuk biaya pengobatan Ibu Sari. Pihak Arka menerima status “sudah menikah” untuk memenuhi permintaan terakhir Nenek Mahendra.
*Pasal 4:* Setelah 1 tahun, wajib cerai. Pihak Aira tidak boleh menuntut harta, nama, atau anak jika ada.
“Tangan basah, tintanya bisa luntur,” katanya dingin sambil menyodorkan pulpen Montblanc.
Aku menatap mama. Wajahnya semakin kuning. Dia mengangguk pelan sambil menggenggam tanganku. _“Jalanin nak. Demi mama.”_
Dengan tangan gemetar, aku menandatangani. Nama _Aira Putri_ terlihat kecil dan rapuh di samping tanda tangannya yang besar, tegas, dan penuh tekanan: _Arka Mahendra_.
Di dalam ruang akad, hanya ada kami berempat. Aku, Arka, mama di kursi roda, dan penghulu tua yang terlihat bingung.
“Dengan mas kawin seperangkat alat sholat tunai, saya nikahkan Arka Mahendra bin Mahendra Wijaya dengan Aira Putri binti Hartono...”
Sah.
Deg.
Cincin emas polos melingkar di jari manisku. Dingin. Tidak ada ukiran. Tidak ada janji. Hanya formalitas.
Usai akad dan foto formalitas 3 detik, Arka langsung melangkah keluar. Gak nungguin. Gak nengok. Seolah aku ini angin.
“Pak, Nyonya kehujanan,” bisik asistennya, Mas Bayu, dengan gugup.
Arka berhenti di depan mobil Alphard hitamnya. Menoleh setengah. Wajahnya tetap datar. “Dia dewasa. Bisa naik taksi. Aku ada meeting penting 30 menit lagi.”
Pintu mobil tertutup. Meninggalkanku, mama, dan hujan.
Mas Bayu yang akhirnya nyuruh sopir nganterin kami ke rumah sakit. Sepanjang jalan aku hanya bisa memeluk mama dan menahan tangis.
---
Malam itu aku dibawa ke rumah Arka. Rumah mewah 3 lantai di Menteng. Marmer Italia, lampu kristal, kolam renang, dan taman yang lebih luas dari kontrakan kami sekeluarga.
Tapi rasanya sedingin kulkas.
“Ini kamar tamu di lantai 1. Jangan pernah masuk ke lantai 2 tanpa izin Tuan,” kata Bu Yati, ART senior yang mengantarku. Nadanya hati-hati.
Kamarnya luas, ada TV, kamar mandi dalam. Tapi kosong. Hanya ada kasur king size, lemari, dan aku. Tidak ada foto. Tidak ada kehangatan.
Jam 11 malam. HP bututku bergetar. Nomor tak dikenal.
*:* _Aturan main sudah jelas. Jangan cari perhatian. Jangan berharap lebih. Jangan ikut campur urusan kantorku. Besok jam 7 sarapan sendiri. Aku sibuk._[Arka]
Aku balas dengan tangan gemetar: _Baik, Pak. Terima kasih._
Dia tidak membalas lagi. Centang dua biru pun tidak.
Aku duduk di tepi ranjang, memeluk lutut. 500 juta sudah masuk ke rekening rumah sakit siang tadi. Mama akan dioperasi besok pagi. Seharusnya aku lega. Seharusnya aku sujud syukur.
Tapi kenapa dada rasanya sesak? Seperti ada batu besar yang menindih.
---
*3 MINGGU KEMUDIAN*
Hidup kami seperti dua orang asing satu rumah.
Pagi dia berangkat jam 6. Pulang jam 11 malam. Kadang jam 2 pagi.
Aku urus mama di rumah sakit, lalu pulang ke rumah besar yang sepi. Makan sendiri. Tidur sendiri.
Kami belum pernah sarapan bareng. Belum pernah ngobrol lebih dari 5 kalimat.
Sampai hari itu...
Aku kerja part time sebagai admin di butik temanku. Gaji 2 juta buat jajan dan bayar kos yang belum sempat aku keluarin.
Tiba-tiba dunia berputar. Mual. Kepalaku berdenyut. Pandanganku gelap.
Pas sadar, aku sudah terbaring di sofa ruang istirahat. Dan di depanku... Arka.
Dia yang biasanya cuek dan telat 5 menit aja marah, sekarang duduk di depanku. Jasnya dilepas. Kemeja putihnya kebuka 2 kancing. Dahi mengerut.
“Kamu kenapa?” tanyanya. Suaranya masih dingin, tapi ada nada khawatir yang dia sembunyikan buruk.
“A-aku... pusing Pak. Mungkin masuk angin,” jawabku lemah sambil mau duduk.
Tanpa banyak bicara dia mengangkatku. Gendong.
Tubuhnya keras. Hangat. Wangi parfum mahalnya menusuk sampai ke paru-paru.
“Turunkan saya! Saya bisa jalan!” protesku dengan pipi merah.
“Diam. Kamu mau jatuh,” jawabnya ketus. Tapi langkahnya hati-hati sekali. Seolah aku ini barang pecah belah.
Di mobil, dia diem aja. Tapi tangannya sesekali menyentuh dahiku. Mengecek demam. Gerakan itu cepat, lalu dia menarik tangannya seolah malu.
Di rumah, dia nyuruh dokter pribadi datang dalam 15 menit.
“Gastro. Kurang makan. Istirahat,” kata dokter setelah periksa.
Setelah dokter pergi, Arka berdiri di pintu kamarku. Bayangannya tinggi dan menekan.
“Makan yang bener mulai besok. Jam 8, 12, 7. Jangan bikin repot,” katanya lalu pergi. Pintu ditutup pelan.
Malamnya, aku ke kamar mandi. Iseng beli tespek kemarin karena haid telat 2 minggu. Kupikir karena stres.
Dua garis.
Merah. Jelas. Tidak bisa dibantah.
Tanganku gemetar hebat. Ini... anaknya Arka?
Mustahil. Kami bahkan belum pernah bersentuhan selain pas akad.
Tapi ingat 3 minggu lalu? Hari pertama pindah. Dia pulang mabuk. Aku yang disuruh Bu Yati antar dia ke kamar karena dia salah jalan. Dia menarik tanganku, menarikku ke ranjang. Pagi harinya dia sudah tidak ada. Dan aku... aku tidak ingat apa-apa karena ketiduran karena kecapekan.
Pintu kamarku diketuk keras 3 kali.
“Aira! Buka!”
Suara Arka. Marah. Menekan.
Aku buka pintu dengan wajah pucat dan tespek masih di tangan.
Mata Arka melebar pas lihat itu. Rahangnya mengeras. Urat di lehernya timbul.
“Apa ini?” tanyanya dengan suara rendah yang menakutkan.
Aku menggeleng. Air mata jatuh tanpa bisa kutahan. “Aku... aku nggak tau Pak... sumpah...”
Dia merebut tespek itu dari tanganku. Meremasnya sampai remuk.
“Jangan harap aku percaya. Dan jangan pernah berpikir mau pakai anak ini buat mengikatku! Aku benci dijebak!” bentaknya. Matanya merah.
Lalu dia pergi. Membanting pintu sampai rumah bergetar.
Dari balik pintu, aku terduduk di lantai. Dingin.
Aku dengar dia berteriak ke telepon di ruang kerjanya:
*“Nenek! Aku bilang aku nggak mau! Pernikahan ini cuma kontrak! Aku nggak akan punya anak sama dia! Aku nggak akan jadi seperti Ayah!”*
Ternyata, pernikahan kontrak ini... lebih menyakitkan dari yang aku kira.
Malam itu aku tidak tidur. Hanya memeluk guling dan tespek yang sudah remuk.
Di lantai atas, lampu kamar Arka menyala sampai subuh.
Kami... terjebak dalam kontrak yang sama. Tapi dengan luka yang berbeda.
---
*BERSAMBUNG KE BAB 2 - "KAMU MAU ABORSI?"*
*CLiFFHANGER BUAT BAB 2:*
Arka ngajak Aira ke dokter buat mastiin. Tapi di jalan mereka kecelakaan kecil. Dan Arka yang lindungin Aira duluan.
---