Bunga adalah gadis piatu malang yang menjalani hidupnya dalam penderitaan meski pun dia tinggal bersama ayah kandung dan keluarga barunya.
Menderita dalam diam tapi Bunga bukan orang yang lemah.
Di kemudian hari Bunga berhasil membongkar rahasia kelam sang ayah sekaligus merebut haknya yang dirampas.
Awalnya Bunga mengira penderitaannya berakhir. Tapi ternyata masih ada luka lain yang akan mengoyak hatinya.
Mampu kah Bunga menyembuhkan semua luka di hatinya ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13 ( Sandra )
Setelah membuat laporan ke polisi tentang kasus hilangnya Bunga, Edo mengantar Maya kembali ke rumahnya.
Maya terlihat sedikit lebih tenang setelah membuat laporan tadi pagi.
Kini Maya tengah berbaring di sofa ruang tengah sambil memejamkan mata.
\=\=\=\=\=
Sementara itu di rumah pak Omar. Pria tua itu nampak murka mendengar laporan dari orang kepercayaannya tentang sepak terjang Sandra di luar sana.
" Braaakkk ...!"
Pak Omar melemparkan benda-benda yang ada di atas meja kelantai hingga hancur berkeping-keping. Meski usianya tak lagi muda pak Omar ternyata masih mampu menghancurkan benda di sekelilingnya.
Semua orang membisu dan tak berani bergerak saking takutnya. Mereka hanya menunggu apa yang akan pak Omar ucapkan.
Rupanya pak Omar marah mengetahui keterlibatan Sandra dalam hilangnya Bunga.
" Dasar anak kurang ajar !. Seret dia kemari secepatnya !" kata Pak Omar marah.
" Baik Tuan ...," jawab orang suruhan Pak Omar lalu segera keluar dari rumah dengan cepat.
Setelah orang kepercayaannya pergi, pak Omar pun duduk. Dia berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal itu. Seorang pria yang merupakan perawat pribadi pak Omar pun maju lalu menyodorkan segelas air kearahnya.
" Minum dulu ya Pak ...," kata sang perawat.
Pak Omar mengangguk lalu meneguk air dalam gelas dengan cepat. Kemudian sang perawat juga memberikan obat. Dan setelahnya pak Omar duduk bersandar.
Sambil bersandar pak Omar juga memejamkan mata dan mengusap dada karena kembali teringat dengan ulah Sandra.
" Sandra, Sandra. Hatimu penuh dengan dengki, sampai Kau lupa siapa dirimu...," gumam pak Omar sambil menggelengkan kepala.
\=\=\=\=\=
Sandra sedang menikmati pelayanan salon dan spa mewah langganannya saat pelayan salon yang sedang memanjakan dirinya itu berteriak ketakutan. Sandra pun menoleh dan terkejut melihat beberapa pria berpakaian hitam sudah menerobos masuk ke dalam ruangan.
" Kalian siapa ?. Apa Kalian ga liat Saya lagi menjalani treatment di sini. Dasar orang udik ga tau sopan santun !" jerit Sandra marah.
Para pria berpakaian hitam itu tak peduli. Mereka merangsek maju mendekati Sandra lalu menariknya dengan kasar. Nampaknya mereka ingin memaksa Sandra agar mau mengikuti mereka. Sandra pun menolak dan ingin minta tolong. Tapi sebelum itu terjadi, salah seorang pria itu melumpuhkannya dengan cara memukul tengkuk Sandra hingga jatuh pingsan. Setelahnya tubuh Sandra digendong dan segera dimasukkan ke dalam mobil.
" Jangan coba-coba telepon polisi jika Kalian mau aman dan tempat ini tetap jalan !" ancam seorang pria sambil menatap kearah semua orang yang menggigil ketakutan.
" Ba-baik ...," sahut salah seorang karyawan salon dengan gugup.
" Ini urusan keluarga, anggap saja tak pernah terjadi apa-apa," kata seorang pria lagi.
" Iya ...," sahut semua orang dengan patuh.
" Bagus. Ini ada sedikit uang. Semoga cukup untuk mengganti kerugian yang telah Kami buat tadi," kata seorang pria sambil melemparkan segepok uang pecahan lima puluh ribuan ke meja kasir.
Kasir salon segera meraih uang itu sesaat setelah pria itu menutup pintu. Dari balik dinding kaca semua orang bisa melihat para pria itu pergi dengan cepat sambil membawa Sandra bersama mereka.
Suasana di dalam salon seketika hening sejenak. Semua orang saling tatap dengan rasa bingung dan takut sambil berusaha mengatur nafas masing-masing.
" Seperti pesan mereka tadi, Kita ga usah ikut campur urusan mereka. Jadi lupakan semuanya dan lanjutkan aktifitas Kita seperti biasa," kata sang pemilik salon yang kebetulan ada di tempat itu dan melihat kejadian tadi.
Semua karyawan mengangguk lalu melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda akibat insiden tadi. Sedangkan pemilik salon nampak tersenyum sambil mengipasi wajahnya dengan segepok uang yang diberikan pria tadi.
Para pria yang menculik Sandra tiba di rumah pak Omar. Kemudian mereka memasukkan Sandra yang pingsan itu ke dalam kamar khusus. Setelahnya mereka mengunci kamar lalu keluar menemui pak Omar.
Beberapa jam kemudian Sandra pun siuman. Perlahan dia membuka mata lalu menatap ke sekeliling kamar seolah tak asing dengan kamar itu.
Sandra pun terkejut dan langsung bangkit saat sadar dia sedang berada di rumah ayahnya. Tapi nyeri di kepalanya membuatnya pusing hingga memaksanya kembali berbaring. Sandra meringis sambil memegangi kepalanya. Dan dia menoleh ke arah pintu saat terdengar suara kunci pintu dibuka dari luar.
Sandra nampak menghela nafas kasar saat melihat ayahnya berdiri di balik pintu. Namun dia terkejut saat sang ayah melempar sesuatu kearahnya.
" Bangun !" bentak pak Omar tiba-tiba sambil melempar foto-foto ditangannya ke wajah Sandra.
Sandra bangun dengan peluh yang membanjir di sekujur wajah dan tubuhnya. Jelas terlihat ketakutan di wajahnya apalagi saat melihat foto yang berjatuhan di atas tempat tidur itu.
" Papa, ini ... Aku bisa jelasin. Papa maaf...," kata Sandra dengan suara bergetar.
" Plaaakkk ...!"
" Kamu memang serakah, jahat dan tak tahu terima kasih !. Apa yang sudah Kau lakukan pada Anak dari saudarimu Sandra ?!" kata pak Omar dengan lantang.
" Tunggu dulu Pa. Aku bisa jelasin," sahut Sandra sambil berusaha menggapai tangan pak Omar tapi berhasil ditepis oleh pria itu.
" Apa lagi yang mau dijelasin ?. Papa udah tau semuanya. Apa Kamu ga kasihan sama Anak yang tak pernah mengenal ibunya sejak lahir itu. Dimana hati nuranimu Sandra ...?!" tanya pak Omar marah.
" Papa..., Aku terpaksa lakukan ini karena Papa tak memberiku uang. Aku butuh uang untuk bayar hutang Pa. Aku dikejar-kejar debt colector. Apa Papa ga kasihan sama Aku ...?" rengek Sandra berusaha membela diri.
" Plaaakk ...!"
Lagi-lagi tamparan keras mendarat di wajah Sandra hingga membuat wanita itu terjengkang di atas tempat tidur.
Sandra nampak memegangi pipinya dengan telapak tangan. Ada darah mengalir di sudut bibirnya pertanda tamparan sang papa telah membuatnya terluka.
Ternyata meskipun usia pak Omar tak lagi muda, tapi kekuatannya masih sanggup menjatuhkan tiga orang sekaligus. Dan Sandra menjerit setelah mendapat tamparan itu.
" Papa !. Kenapa Papa tak pernah sayang sama Aku ?, kenapa Pa ?. Kenapa cuma ada Sonia, Sonia terus di pikiran Papa. Apa Papa lupa, kalo Aku dan Sonia itu sama-sama Anak Papa ...!" jerit Sandra.
" Tutup mulutmu !, Kalian berbeda. Aku menyayangi Sonia karena dia penurut dan mudah diarahkan. Tidak seperti Kamu yang kembangkan dan semaunya sendiri seperti ga punya aturan. Dasar Anak ga tau diri !" bentak pak Omar.
" Papa ... Sonia sudah mati. Sonia mati Pa ...," runtuh Sandra.
Ucapan Sandra membuat pak Omar bertambah murka. Sebelum dia melayangkan tamparan berikutnya, Sandra kembali bicara
" Apa Papa tau kalo Aku begitu senang mendengar Sonia mati. Itu artinya warisan Sonia jatuh ke tanganku, untukku. Iya kan...," kata Sandra sambil tertawa lepas seperti orang kehilangan akal.
" Dasar gila. Bereskan dia dan cari cucuku !" kata pak Omar sambil meninggalkan kamar Sandra.
" Baik Pak ...!" sahut anak buah pak Omar dengan takzim.
Setelahnya mereka masuk ke dalam kamar lalu mendekati Sanda.
" Jangan mendekat, apa mau Kalian ?. Jangan sentuh Aku !. Pergi ... pergi... !. Papa tolong Aku, maafin Aku. Papaaa ... !" jerit Sandra.
Namun tiba-tiba jeritan Sandra sontak terhenti seketika saat ia dibius dengan obat penenang.
Pak Omar masuk ke ruang kerja yang bersebelahan dengan kamar tidurnya. Ia duduk merenungi nasib keluarganya setelah dia meninggal nanti.
Meski Pak Omar dan Aminah memiliki tiga orang anak, namun dua orang diantaranya telah meninggal dunia.
Anak sulung pak Omar berjenis kelamin laki-laki bernama Oka. Sayangnya telah meninggal dunia saat berusia dua belas tahun. Dan dua anak kembar perempuan yang diberi nama Sonia dan Sandra. Sayangnya Sonia juga telah meninggal dunia dan kini hanya tersisa Sandra seorang saja.
Pak Omar sedih karena ternyata Sandra adalah anak yang serakah. Sandra selalu menganggap dirinya anak tunggal yang akan mendapat warisan banyak. Nampaknya Sandra lupa sesuatu. Meski pun Sonia telah meninggal dunia, tapi anak Sonia yaitu Bunga masih berhak mendapat warisan dari pak Omar nanti.
\=\=\=\=\=