NovelToon NovelToon
Angsa Cantikku

Angsa Cantikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Myz Pena

​"Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kau cintai,
ragu memilihmu demi seseorang yang paling kau benci.
​Dan di antara amarah yang membakar serta air mata yang bengkak,
dua jiwa yang terluka dipaksa melangkah di jalan yang sama...
tanpa sadar, bahaya sebenarnya justru sedang mengintai dari jarak paling dekat"

​Bagi Lulu, menjadi sosok culun dan tak kasat mata di kantor adalah hal biasa. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, senyum hangat dan ketulusannya justru menjadi "racun" paling mematikan bagi dua pria kelas atas.

​Angga, manajer berdingin hati yang membenci kesalahan, mendadak kehilangan fokus tiap kali Lulu berada di dekatnya.

Sementara Riko, CEO angkuh yang awalnya
memandang Lulu sebelah mata, malah terjatuh paling dalam akibat sebuah insiden tak terduga. Ketika dua pria berkuasa ini saling berhadapan demi merebut satu perhatian...

siapakah yang akhirnya memenangkan hati Lulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myz Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 : PERGOLAKAN HATI

Udara pagi di ruang kerja tim logistik masih terasa lengang saat Vika melangkah terburu-buru menembus pintu kaca. Dengan napas sedikit terengah, ia lekas merogoh ponselnya untuk melakukan clock in melalui aplikasi absensi online. Begitu layar menampilkan tanda hijau persetujuan tepat waktu, Vika bernapas lega.

​"Hampir saja..." gumamnya sambil menepuk dadanya pelan.

​Beberapa menit pun berlalu, keheningan ruangan mulai pecah saat Rama dan rekan-rekan kerja lainnya bermunculan. Suasana yang tadinya sepi seketika berubah riuh. Ada yang mengomel panik sambil tergesa-gesa membuka aplikasi absen di ponsel masing-masing, ada pula yang saling lempar kelakar. Rama dengan gaya jenakanya yang khas, melepaskan gelak tawa yang berhasil mencairkan ketegangan pagi itu. Bawaan cerianya bagaikan bahan bakar alami yang membakar semangat tim untuk bersiap menghadapi tumpukan pekerjaan yang amat padat.

​Sementara yang lain masih berbincang santai, Vika sudah bergelut dengan tumpukan berkas penting di atas mejanya. Ia memilah lembar demi lembar dokumen dan menyatukannya dengan rapi. Namun, saat hendak mengikat dokumen tersebut, stapler di tangannya tertekan kosong. Isinya telah habis.

​Vika berdiri dan berinisiatif melangkahkan kakinya ke meja di sampingnya . Ya.. meja kerja Lulu untuk meminjam stapler. Namun, langkah Vika terhenti. Kursi di balik meja itu masih kosong melompong.

​"Loh..., Rama... kamu lihat Lulu tidak?" tanya Vika sambil menoleh ke arah Rama. Mendengar hal tersebut, Rama menyipitkan mata sejenak, lalu menggeleng..

"Belum lihat dari tadi.... Kirain belum naik dari parkiran"

​Vika refleks melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Waktu sudah tepat menunjukkan pukul 08.00 WIB. Rasa terkejut bercampur khawatir seketika menyelimuti Vika. Lulu bukan tipe karyawan yang gemar terlambat tanpa alasan jelas. Biasanya, kalaupun Lulu datang agak siang, itu karena seluruh tim sudah tahu ia sedang sakit atau kelelahan akibat mendapat tugas berlebih dari Pak Angga. Tapi hari ini... tidak ada kabar sama sekali dari gadis itu.

​Dengan cepat, Vika merogoh saku blazernya dan mengambil ponsel untuk bersiap menelpon rekan kerjanya itu. Namun, sebelum tombol panggil sempat ia tekan, sebuah notifikasi pesan masuk berbunyi di layarnya. Vika dengan lekas membuka dan membaca pesan singkat dari Lulu.

​" Vik .... maaf banget aku kemungkinan bakal terlambat masuk pagi ini. Jalanan macet parah dan kendaraan ramai banget...."

​Membaca pesan tersebut, Vika menghela napas lega. Setidaknya ia tahu rekannya baik-baik saja di jalan dan tidak mengalami hal buruk . Namun, Vika sama sekali tidak menyadari situasi menegangkan yang sebenarnya tengah dialami Lulu di dalam mobil mewah Riko.

...****************...

Sejak pagi sekali, Angga sudah tiba di kantor. Usai melakukan clock in melalui aplikasi absensi di ponselnya, ia tidak langsung menuju ke ruangan kerjanya.

Langkah kakinya yang lebar dan cepat menelusuri koridor, mengarah langsung ke ruang sekretaris nomor satu di perusahaan tersebut.

Di sana, Angga menemui Mario rekan kerjanya hanya untuk menanyakan dan memastikan jadwal rapat penting pagi ini secara singkat. Setelah mendapatkan kepastian penuh terkait detail rapat yang sebentar lagi akan dimulai, Angga bergegas kembali menelusuri koridor menuju area divisinya untuk mempersiapkan beberapa berkas penting.

​Saat tiba di depan pintu masuk divisinya, Angga melangkah masuk. Ia melihat para bawahannya sudah duduk rapi di meja kerja masing-masing dan terlihat sangat fokus bergulat dengan tumpukan dokumen.

​Tanpa bisa ia tahan, mata Angga refleks melirik ke arah meja Lulu. Dimana, sosok wanita yang belakangan ini berhasil mencuri perhatiannya dan membuat jantungnya berdebar tak menentu. Entah karena memang sengaja dicari atau sekadar dorongan impulsif, benak Angga mendadak dipenuhi rasa bingung saat melihat kursi di belakang meja itu masih kosong melompong.

​Ke mana gadis berkacamata itu?

​Angga berdiri tegak di tengah ruangan. Sepasang matanya berputar cepat, mengedarkan pandangan ke setiap sudut area kerja, mencoba menemukan keberadaan Lulu yang biasanya selalu hadir paling awal atau bergelut teliti dengan tugas-tugasnya.

​Rama yang menyadari gelagat aneh manajernya yang berdiri mematung di dekat pintu sambil menyapu pandangan seperti sedang mencari barang hilang, mulai merasa bingung. Dengan ragu namun berani, Rama akhirnya menghentikan ketikannya dan membuka suara.

​"Selamat pagi...., Pak Angga... Ada yang bisa dibantu, Pak? Atau Bapak sedang mencari berkas sesuatu?" Tanya Rama sopan, menawarkan bantuan pada sang manajer yang tampak tak tenang.

​Teguran Rama membuat Angga tersentak pelan dari lamunannya. Ia seketika menoleh ke arah Rama, lalu secara refleks mengukir senyum tipis. Sebuah senyum singkat yang jarang sekali terlihat.

​"Deg!"

​Rama terbelalak, tatapan matanya membeku melihat ulasan senyum sang manajer. Dalam batinnya, Rama benar-benar kaget setengah mati. Seingatnya, Pak Angga yang ia kenal adalah tipe atasan yang selalu bermuka masam, bernada ketus dan gemar memberi perintah seenak jidat.

Namun belakangan ini sang manajer mendadak menjadi jauh lebih ramah kepada para karyawan. Ditambah lagi dengan perhatian-perhatian kecilnya sejak tadi malam membuat pikirannya makin heboh tak karuan.

​"Aneh banget... Pak Angga habis menang lotre bernilai miliaran rupiah kali ya? Atau dapat undian mobil mewah?" Tebak Rama konyol dalam hati, mencoba mencerna perubahan drastis bosnya itu. Menghalau keheningan, Rama kembali membuka suara dengan nada sopan.

"Ada yang sedang Bapak cari? Atau Bapak butuh bantuan saya untuk mengambil dokumen?"

Pertanyaan Rama menggema cukup jelas di area kerja hingga terdengar oleh Vika dan beberapa rekan tim yang duduk tak jauh dari sana. Mereka kini ikut mengamati sang manajer.

​Sadar bahwa dirinya tengah menjadi pusat perhatian, Angga lekas memutar otak untuk mencari alasan netral. Ia enggan bawahannya mengendus rasa penasarannya pada gadis berkacamata itu.

​"Tidak..." Jawab Angga datar, memasang wajah sekaku mungkin.

"Saya hanya ingin memastikan keutuhan tim sebelum rapat. Apakah... pagi ini ada anggota divisi kita yang belum hadir?"

​Vika yang mendengar pertanyaan itu seketika menegang. Dada Vika berdebar cemas takut jika keterlambatan rekan baiknya itu akan memicu amukan sang manajer. Dengan terburu-buru, Vika langsung menimpali untuk pasang badan.

​"Maaf, Pak Angga... Lulu yang belum datang" potong Vika cepat.

"Tadi dia baru saja memberi kabar kalau terkena macet parah di jalan raya. Kendaraannya tersendat, Pak. Tapi dia sedang dalam perjalanan ke sini" Ucap Vika menahan napas, bersiap jika Pak Angga akan mengomel atau menyemburkan ketegasannya seperti biasa.

​Namun, alih-alih meledak marah sebersit rasa khawatir justru merayapi dada Angga.

"Macet? Dalam perjalanan jam segini?" batinnya cemas.

Meski hatinya resah, Angga mengontrol ekspresi wajahnya agar tetap datar dan tak terbaca untuk mencegah timbulnya kecurigaan dari bawahannya maupun tuduhan miring terhadap Lulu.

​"Begitu..." Ujar Angga pendek, menetralkan intonasi suaranya.

"Beri tahu dia kalau sudah sampai di kantor untuk segera menemui saya di ruangan. Atau... kalau memang dia menemui kendala lain di jalan, minta dia segera melapor.... Pagi ini pekerjaan kita sangat padat" Tambahnya.

​Tanpa menunggu jawaban lagi, Angga membalikkan badan dan melangkah tegas menuju ruangannya meninggalkan timnya yang bernapas lega terutama Vika yang merasa Lulu terbebas dari ancaman amukan pagi hari.

Pintu ruang kerja tertutup rapat, menyisakan Angga dalam keheningan. Ia melangkah terburu-buru, lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi kerja yang empuk. Tangannya bergerak cekatan, merapikan dan memilah lembar demi lembar berkas penting yang perlu ia bawa untuk laporan rapat sebentar lagi.

​Meski jemarinya nampak begitu sibuk menyusun dokumen, pikiran Angga terdistraksi sepenuhnya. Bayangan Lulu terus berputar tanpa permisi di kepalanya.

​Angga melirik ponsel di samping laptopnya. Layar digital itu kini menunjukkan angka 08.30 WIB.

​Ibu jarinya mengusap tepi ponsel. Batinnya berbisik, mendorongnya untuk menelpon gadis itu hanya sekadar menanyakan keberadaannya atau memastikan ia baik-baik saja. Bahkan muncul dorongan impulsif dalam benaknya yaitu jika Lulu tertimpa masalah atau kesusahan di jalan, ia tak keberatan untuk bergegas turun dan menjemputnya.

​"Terkekeh.."

​Angga tertawa pelan, sebuah tawa satir meratapi rencana konyolnya sendiri.

"Please, Angga.. berhentilah bersikap konyol" Bisik Angga.

​Sejak kapan ia menjadi pria serentan ini? Mengapa dadanya diliputi rasa gelisah yang begitu menyiksa hanya karena memikirkan seorang wanita bahkan sesuatu yang hampir tak pernah terjadi dalam hidupnya? Sekali lagi, Angga mengutuk dirinya sendiri atas tingkah absurd yang makin tak terkendali ini.

​Namun, di tengah tumpukan berkas itu Angga mendadak terdiam. Ia merenung jauh.

​Ia baru menyadari satu hal yang mengejutkan yaitu perasaannya. Entah sudah berapa hari lamanya bayangan sosok yang begitu ia cintai Anna, wanita yang selalu membuat hatinya galau dan terbelenggu selama lima tahun terakhir ini hampir tak pernah lagi melintas di pikirannya.

​Nama Anna memang masih tersimpan di sudut hatinya, namun rasanya... mendadak hambar. Tak ada lagi gelora atau rasa sakit yang biasanya menyiksa. Angga kembali terkekeh hampa dan menggelengkan kepalanya. Ia merasa ada yang salah dengan logikanya. Rasa suka ini pasti keliru, Ia menyimpulkan bahwa hatinya hanya sedang merasa kesepian karena ketidakhadiran Anna dan bukan karena ia benar-benar menginginkan Lulu.

​Bagi Angga, Lulu bukanlah gadis yang tepat untuk ia cintai. Latar belakang dan posisi mereka terlalu berbeda. Lagipula, hatinya mungkin hanya sedang bermain-main karena luapan emosi sesaat.

​"Stop, Angga..... Hentikan sekarang..." Bisiknya tegas pada diri sendiri.

​Ia menatap tumpukan berkas rapat di tangannya, bertekad menyumbat rapat-rapat perasaan aneh ini sebelum ia jatuh terlalu dalam dan sebelum ia memberi harapan palsu yang bisa membuat gadis berkacamata itu salah paham.

1
-Thiea-
kenapa wanita itu bisa sampai dibunuh? Apa yang menjadi dasar dari tindakannya itu kira-kira?"
ginevra
astaga!!! tokoh utamanya meninggal dari episode pertama.
Myz Pena: penasaran kan.. ?? 🤭
total 1 replies
ginevra
ada apa ini? awal udah disuguhi adegan bekap membekap.
sinnox
Hayoloh lulu🫢
Myz Pena: Lulu OTW kerja keras 💪
total 1 replies
Wawan
Salam kenal untuk Lulu 💪✍️
Wawan
Waow /Toasted/
Myz Pena: ini karya pertama ku,, mohon selalu dukungannya ya... dan mari kita saling mendukung 🥹❤️❤️❤️❤️
total 1 replies
ciber ara
makin suka sama ceritanya
semangat thor
Myz Pena: mohon dukungannya ya,, jalan ceritanya akan tetap mendebarkan hanya saya menyesuaikan bab2 sebelumnya karena terlalu panjang..terimah kasih sudah memberi banyk dukungan 🥹❤️❤️
total 2 replies
Anisa Nur Afifah
haii kak mampir lagi nih aku, semangat yaa . jngan lup mampir lagi di novelku🥰
Myz Pena: siap 🤩🤩
total 2 replies
Myz Pena
terimah kasih 😍❤️❤️❤️
Anisa Nur Afifah
seruu banget kaa, aku balik lagiii nih🥰
ciber ara
lnjut💪
Myz Pena: siap, updatenya setiap hari ya.. 😍
total 1 replies
Nisaicha
wah menarik kak ada visualnya juga 😍
jadi penasaran nih lanjut baca..
Myz Pena: di tunggu ya... updatenya tiap hari 😍
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut kakkk
Myz Pena: terimah,, kasih ❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!