Semua orang menganggap Gunung Sumber Abadi hanyalah tempat wisata gagal yang dikutuk, tetapi bagi Rizky Santoso, warisan yang dibuang oleh seluruh keluarganya ini adalah awal dari segalanya. Tepat saat ia menerima beban hutang dan kawasan wisata yang hancur itu, sebuah sistem misterius bangkit dan memberinya kekuatan untuk mengubah gunung tandus menjadi destinasi kelas dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Suasana pagi di Gunung Sumber Abadi hari ini terasa jauh lebih sibuk dari biasanya.
Suara notifikasi pendaftaran dari komputer ruang kontrol terus berbunyi bersahutan tanpa henti sejak matahari terbit.
Ting ting ting.
Siska yang baru saja resmi menjabat sebagai Wakil Direktur Utama duduk tegak di kursinya dengan mata menatap tajam ke arah layar.
"Bos Rizky, strategi mematok harga sepuluh juta rupiah per malam untuk Hotel Kapsul Melayang ternyata sama sekali tidak menghentikan orang bule itu," lapor Siska menggelengkan kepalanya takjub.
Rizky duduk santai di sofa panjang sambil menyilangkan kakinya dan meminum segelas susu hangat.
Sruput.
"Berapa banyak kamar yang sudah dipesan untuk hari peluncuran pertama ini Siska?" tanya Rizky meletakkan gelasnya di atas meja kaca.
"Lima puluh kapsul yang kita miliki sudah ludes dipesan penuh untuk satu bulan ke depan Bos," jawab Siska dengan nada suara yang bergetar menahan rasa senang.
"Pendapatan kotor kita hanya dari penginapan saja sudah mencapai lima ratus juta rupiah dalam sehari."
Rizky tersenyum puas mendengar angka yang fantastis tersebut.
Namun sebelum Rizky sempat membalas ucapan asistennya itu, suara HT di atas meja kerja Siska mendadak berbunyi nyaring.
Krsak krsak.
"Lapor Mbak Siska, ini Bagas dari gerbang bawah, ada sedikit keributan dengan pengunjung dari luar negeri," suara Bagas terdengar cukup tegang dari balik radio komunikasi.
Siska langsung meraih HT tersebut dan menekan tombol bicaranya.
"Keributan apa Bagas, bukannya pengunjung bule itu harusnya lebih tertib antre daripada warga lokal?" tanya Siska sedikit kesal.
"Mereka rombongan anak muda dari Amerika yang membawa banyak kamera besar Mbak," lapor Bagas menjelaskan situasinya.
"Mereka memaksa masuk menerobos antrean reguler sambil marah-marah pakai bahasa Inggris yang tidak saya mengerti."
Rizky langsung berdiri dari sofanya dan mengambil HT dari tangan Siska.
"Bagas, tahan mereka sebentar, aku dan Siska akan turun ke gerbang sekarang juga," perintah Rizky mengambil alih komando.
"Siap Mas Bos, saya akan menyuruh anak buah saya membuat barikade manusia agar mereka tidak bisa lewat," balas Bagas patuh.
Rizky dan Siska segera berjalan cepat keluar ruangan dan menuruni tangga menuju area gerbang masuk utama.
Tap tap tap.
Sesampainya di sana, mereka melihat antrean pengunjung reguler yang cukup panjang sedang menatap kesal ke arah empat orang bule berpakaian kasual.
Bule pria yang paling depan memiliki rambut pirang dan memegang tongkat kamera panjang untuk merekam wajahnya sendiri.
"Hei kawan-kawan, penjaga gerbang di gunung terpencil ini benar-benar tidak tahu siapa aku," ucap bule pirang itu berbicara ke arah kameranya dengan nada mengejek.
"Aku Logan, vlogger dengan sepuluh juta pengikut, dan mereka menyuruhku mengantre seperti warga miskin lainnya."
Bagas berdiri membusungkan dadanya yang kekar tepat di depan bule bernama Logan tersebut.
"Mister, you queue backward, no cut line, understand?" usir Bagas menggunakan bahasa Inggris pas-pasan sambil menunjuk ke arah belakang antrean.
Logan mendengus kasar dan sengaja menyorotkan kameranya ke wajah Bagas yang terlihat sangar.
"Lihatlah preman kampung ini, dia bahkan tidak bisa berbicara bahasa Inggris dengan benar," hina Logan tertawa meremehkan.
Hahaha.
"Hei preman, aku sudah membayar tiket VVIP seharga puluhan juta untuk tidur di kapsul terbang omong kosong kalian itu," teriak Logan mulai kehilangan kesabaran.
Rizky berjalan maju menembus barisan petugas keamanan dan menepuk bahu Bagas pelan untuk menenangkannya.
"Mundur sedikit Bagas, biar aku yang mengurus turis arogan ini," bisik Rizky tenang.
Rizky menatap lurus ke arah mata biru Logan dengan ekspresi wajah datar tanpa senyum sedikit pun.
"Selamat pagi Tuan Logan, saya Rizky, direktur utama dari tempat wisata ini," sapa Rizky menggunakan bahasa Inggris yang sangat fasih dan beraksen rapi.
Logan sedikit terkejut mendengar bahasa Inggris Rizky yang jauh lebih bagus dari dugaannya.
"Oh, akhirnya ada orang berpendidikan di gunung ini," sindir Logan menurunkan tongkat kameranya sedikit.
"Aku menuntut perlakuan khusus karena kami adalah penyewa pertama hotel kapsul kalian, kami ingin segera melihat fasilitas penipuan itu."
Siska yang berdiri di belakang Rizky mulai mengepalkan tangannya kesal mendengar kata penipuan.
"Tuan Logan, semua tamu VVIP memang memiliki jalur khusus, namun sikap Anda menerobos antrean reguler sangat tidak sopan," tegur Rizky dengan nada dingin.
"Kami tidak peduli seberapa banyak pengikut Anda di internet, di gunung ini Anda harus mematuhi aturan saya."
Wajah Logan memerah karena merasa dipermalukan di depan puluhan warga lokal yang sedang menonton keributan tersebut.
"Dengar ya Tuan Direktur, aku datang ke sini jauh-jauh dari Amerika hanya untuk membongkar kebohongan kalian," ancam Logan menunjuk wajah Rizky.
"Tidak mungkin ada teknologi kapsul melayang tanpa penyangga baja di negara dunia ketiga seperti ini."
"Pasti kalian menggunakan kabel sling tipis atau tipuan cermin optik untuk menipu menteri kalian yang bodoh itu kan?" tuduh Logan sangat lancang.
Bagas yang meskipun tidak mengerti bahasa Inggris sepenuhnya bisa merasakan hawa permusuhan dari nada bicara bule tersebut.
Bagas bersiap melangkah maju untuk memukul rahang Logan namun Rizky kembali menahannya.
"Anda bebas membuktikan teori Anda sendiri Tuan Logan," jawab Rizky tersenyum miring merasa tertantang.
"Siska, tolong antar rombongan vlogger hebat ini menuju area tebing kanan Jembatan Kaca sekarang juga."
"Baik Bos," jawab Siska dengan nada malas sambil memaksakan senyum palsunya ke arah rombongan bule itu.
"Silakan ikuti saya Tuan-tuan, mari kita lihat apakah kabel tipuan kami bisa putus saat kalian naiki nanti," sindir Siska berjalan mendahului mereka.
Rombongan Logan mengikuti Siska sambil terus merekam setiap sudut tempat wisata itu dengan ekspresi meremehkan.
Rizky berjalan paling belakang untuk mengawasi pergerakan mereka secara langsung.
Sesampainya di area tebing kanan, pemandangan luar biasa dari puluhan kapsul kaca yang melayang di atas jurang langsung menyambut mereka.
Wushhh.
Angin lembah bertiup kencang membuat daun-daun pinus berguguran di sekitar tebing.
Namun kapsul-kapsul kaca yang melayang di udara kosong itu sama sekali tidak bergoyang sedikit pun meskipun diterpa angin kencang.
Logan dan ketiga temannya seketika menghentikan langkah mereka dengan mulut terbuka lebar.