NovelToon NovelToon
Komandan Galak Itu, Suamiku

Komandan Galak Itu, Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Dokter
Popularitas:22.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Bagi Rahma Wulandari, Sakti Prawira adalah sosok kakak asuh masa kecilnya yang galak dan protektif. Namun, garis takdir mendadak berubah ketika impiannya menjadi dokter terancam kandas akibat kesulitan ekonomi. Satu-satunya jalan keluar yang ditawarkan orang tuanya adalah sebuah perjodohan. Demi masa depan, Rahma akhirnya pasrah. "Gak apa-apa deh nikah sama Kak Sakti, dia sudah aku anggap seperti kakaku sendiri!"

Di sisi lain, Sakti seorang Komandan TNI AD yang terkenal tegas, kaku, dan berhati dingin sejak ditinggal menikah oleh masa lalunya merasa tak habis pikir. "Kenapa aku harus menikah dengan gadis bau kencur dan masih ingusan itu?" protesnya keras. Baginya, menikahi sahabat adiknya sendiri adalah hal yang konyol.
Namun, titah orang tua tak bisa diganggu gugat. Pernikahan beda usia dan prinsip ini pun tetap terjadi.

Mampukah pernikahan yang terbentur perbedaan usia, prinsip, dan watak ini menumbuhkan benih-benih asmara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2

Sakti menghentikan langkahnya tepat di depan kedua gadis itu. Tatapannya yang semula sedingin es perlahan mencair, digantikan oleh kilatan geli saat menatap Rahma. Bayangan masa kecil sekilas melintas di benak sang perwira, bayangan seorang anak perempuan bertubuh mungil dengan rambut di kuncir dua, yang menangis tersedu-sedu sambil bersembunyi di balik punggungnya.

Salma yang menyadari perubahan atmosfir itu langsung menyenggol lengan kakaknya. "

Sakti mendengus pelan, seulas senyum tipis terukir di sudut bibirnya. "Masihlah. Kalian itu duo bocil paling rese. Sudah cengeng... keras kepala lagi," jawab Sakti dengan suaranya yang mantap.

Seketika Rahma langsung menundukkan kepalanya, menyembunyikan pipinya yang kembali merona merah karena malu. Ucapan Sakti barusan seolah menampar balik ingatan konyol yang baru saja ia tertawakan bersama Salma.

"Itu kan dulu, kak Sakti. Sekarang aku sudah jadi anak baik-baik. Iya kan, Salma?" bela Rahma pada dirinya sendiri, sambil menahan tawa agar tidak terlihat makin salah tingkah.

"Betul sekali, Rahma! Dia sekarang calon dokter, Kak," sahut Salma membela sahabatnya, lalu beralih menatap sang kakak dengan heran. "Eh, tapi aku pikir Kak Sakti masih di tempat transit luar negeri, kok sudah sampai Indo aja? Kapan sampainya, Kak?"

"Tadi malam kakak sudah sampai di bandara dan langsung meluncur ke Bandung karena ada urusan penugasan di Kodam III/Siliwangi. Kebetulan kakak juga mendapatkan kabar kalau Pak Salim masuk rumah sakit," jelas Sakti, lalu tatapannya beralih sepenuhnya pada Rahma dengan raut tulus. "Memangnya ayahmu sakit apa, Rahma?"

"Serangan jantung ringan, Kak. Tapi alhamdulillah masih bisa diselamatkan dan sekarang kondisinya sudah stabil," jawab Rahma, perlahan mulai bisa mengontrol rasa gugupnya.

Sementara itu, di dalam kamar rawat inap, suasana berubah menjadi lebih emosional. Di atas brankar, Pak Salim dengan suara parau mulai menceritakan badai yang menimpa keluarganya, termasuk tentang pabrik tempenya yang gulung tikar akibat meroketnya harga kedelai.

Mendengar penuturan jujur sang sahabat, Pak Wirahadi merasa sangat iba. Hatinya tergerak untuk mengulurkan bantuan finansial, namun Pak Salim dengan halus menolaknya karena tidak ingin merepotkan sahabat baiknya itu.

Pak Wirahadi menghela napas panjang, memikirkan dampak dari masalah ini. "Lantas... bagaimana dengan kuliahnya Rahma, Salim? Dia baru semester empat, kan? Sama seperti Salma, putriku."

Pak Salim menatap langit-langit kamar dengan pandangan sendu. "Untuk sementara waktu, mungkin Rahma akan cuti kuliah dulu, Wir. Dia harus mencari pekerjaan untuk membantu ekonomi kami."

"Jangan, Salim! Kasihan Rahma," potong Pak Wirahadi cepat, tidak setuju dengan keputusan itu. "Dia itu anak yang pintar, calon dokter yang hebat. Dan... sebenarnya, saya ingin sekali memiliki seorang menantu dokter," ucap Pak Wirahadi tanpa berbasa-basi lagi.

Pak Salim mengernyitkan dahinya, bingung dengan arah pembicaraan sahabatnya. "Maksudnya bagaimana, Wira?"

Pak Wirahadi memajukan posisi duduknya, menatap Pak Salim dengan kesungguhan yang mendalam. "Jadi begini, Salim. Kita kan sudah lama berteman, bahkan sudah seperti saudara sendiri. Saya memiliki niatan untuk berbesanan denganmu. Kebetulan putraku, si Sakti, baru saja pulang tugas dari Lebanon setelah empat tahun di sana."

Pak Wirahadi menjeda kalimatnya sejenak, melirik istrinya yang mengangguk setuju. "Kau tahu sendiri, Syila putri keduaku baru menikah setahun yang lalu. Dia sudah melangkahi kakaknya. Saya tidak mau sampai nanti Salma juga melangkahi kakaknya lagi. Yang ada nanti Sakti, putra tunggal saya itu, malah tidak mau menikah sama sekali karena terlalu sibuk dengan dunianya."

"Jadi, bagaimana kalau kita jodohkan saja Rahma dengan Sakti? Soal biaya kuliah Rahma, kau tidak usah khawatir, Salim. Dia akan terus melanjutkan pendidikannya sampai menjadi dokter spesialis. Biar itu menjadi tanggung jawab keluarga kami," lanjut Pak Wirahadi tegas namun penuh ketulusan.

Mendengar tawaran yang begitu besar dan tak terduga, Pak Salim terdiam seribu bahasa. Ia melirik ke arah istrinya yang duduk di sisi ranjang tempat tidur. "Bagaimana, Bu? Apakah Ibu setuju?"

Bu Rima mengusap air mata di sudut matanya, lalu mengangguk pelan. "Kalau Ibu sih gimana baiknya saja, Pak. Bukankah Nak Sakti itu orang yang baik, tegas, dan bertanggung jawab? Daripada nanti Rahma mendapatkan laki-laki yang kurang baik di luar sana, alangkah baiknya kalau Rahma menikah dengan Nak Sakti yang sudah kita kenal sejak kecil."

Pak Wirahadi dan istrinya pun tersenyum lega. Harapan mereka kini bertumpu pada restu kedua orang tua ini. "Baiklah kalau begitu, Wira... saya setuju Rahma dijodohkan dengan Sakti," ucap Pak Salim akhirnya, memantapkan hati demi masa depan putrinya dan juga ketenangan kesehatannya.

Ceklek.

Tepat setelah kalimat persetujuan itu terucap, pintu kamar rawat inap terbuka. Rahma, Sakti, dan Salma melangkah masuk secara bersamaan ke dalam ruangan. Namun, langkah ketiganya langsung terhenti kaku di dekat pintu.

Kalimat terakhir yang diucapkan Pak Salim barusan menggema dengan sangat jelas di telinga mereka. Ketiganya terkejut setengah mati dengan mata membelalak tak percaya. Terutama Rahma dan Sakti, yang seketika saling pandang dengan tatapan yang sulit diartikan. Perjodohan? Antara sang Komandan kaku dan gadis bau kencur?

Sakti dan Rahma buru-buru melangkah masuk ke dalam kamar rawat inap, memotong jarak di antara mereka dan para orang tua yang masih berkumpul di sana. Kebetulan jam besuk masih berlangsung, sehingga suasana di dalam ruangan terasa begitu intens. Sakti, dengan aura militernya yang kuat, menatap kedua orang tuanya dengan kening berkerut dalam.

"Pah, Mah... apa maksud dari perkataan kalian ini?" tanya Sakti dengan suaranya yang terdengar tegas, menuntut penjelasan.

Pak Wirahadi sama sekali tidak gentar dengan nada bicara putranya. Dengan santai, pria paruh baya itu memperbaiki posisi duduknya lalu menjawab, "Kami berencana untuk menjodohkan kamu dengan Rahma."

Mendengar informasi yang begitu gamblang, Rahma spontan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Rasa tidak percaya dan panik bercampur aduk menjadi satu. Ia langsung beralih menatap ranjang pasien.

"Ayah... ini semua tidak benar, kan?" tanya Rahma dengan suaranya yang bergetar, berharap sang ayah akan menggelengkan kepalanya.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Pak Salim menyunggingkan senyum hangat yang sudah lama tidak Rahma lihat. Wajah sang ayah mendadak terlihat ceria dan penuh harapan. "Ini benar, Nak. Mau ya, dijodohkan dengan Nak Sakti?"

Melihat binar bahagia di mata ayahnya yang sedang sakit, Rahma seketika terkunci. Ia tak berani menggeleng ataupun menjawab tidak, karena takut penolakannya akan membuat kondisi jantung sang ayah kembali memburuk. Keadaan yang sama juga menimpa Sakti. Sang Komandan yang biasanya punya seribu satu argumen tegas, kini hanya bisa terdiam kaku, tak mampu membantah demi menghormati kesehatan sahabat karib ayahnya itu.

Di tengah keheningan yang canggung dan menegangkan itu, Salma justru tersenyum jahil. Alih-alih ikut tegang, gadis itu malah sengaja memanfaatkan situasi untuk menggoda Rahma dan Sakti.

"Wah, kenapa baru kepikiran sekarang, ya? Kak Sakti dijodohkan dengan Rahma... Wah, kalau begitu, nanti Rahma bakal jadi kakak iparku, dong!" seru Salma dengan nada heboh yang dibuat-buat.

Rahma yang berdiri tepat di samping Salma langsung melotot. Tanpa aba-aba, jemarinya bergerak cepat mencubit lengan sahabatnya itu dengan gemas.

"Aw! Rahma, sakit tahu!" ringis Salma sambil mengusap lengannya, namun senyum usilnya sama sekali tidak pudar. Ia justru semakin gencar menggoda. "Oh iya, bukankah waktu kecil kau pernah bilang ingin menjadi pengantinnya Kak Sakti? Bukan begitu, Rahma?"

Perkataan Salma yang semakin menjadi-jadi itu seketika membuat suasana ruangan terasa makin panas. Wajah Rahma memerah sempurna, matanya bergerak panik ke segala arah demi menghindari tatapan mata Sakti.

"Salma, kau ini ngomong apa sih?" tegur Sakti, mencoba melerai meski ia sendiri mulai merasa kikuk dan salah tingkah saat menatap Rahma yang sudah matang di depannya.

"Beneran, Kak! Andai saja kejadian waktu masuk got itu bisa aku rekam. Tapi syukurlah, Tuhan sepertinya langsung mengabulkan permintaanmu yang dulu itu, Rahma!" lanjut Salma tanpa dosa, tertawa puas.

Rahma yang sudah berada di puncak rasa malunya langsung menutup kedua telinganya dengan rapat. Rasanya saat ini ia ingin sekali menenggelamkan wajahnya ke dalam ember agar terbebas dari tatapan semua orang di dalam ruangan. Sementara itu, Sakti hanya bisa menghembuskan napas panjang dan berat. Sang perwira hanya bisa pasrah, menyadari bahwa pelarian dari perjodohan mendadak ini sepertinya tidak akan berjalan mudah.

Bersambung...

1
Teh Euis Tea
yg sabar Sakti km mah ganas main sosor aj
duhhh malu bgt ketahuan sm Salma, mau ngilang aj kelobang semut saking malunya🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: ketangkap basah 🤣🤣🤣
total 1 replies
Nar Sih
kalau udah ada rsa suka pasti bntr lgi cinta datang nih
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul sekali, tinggal menunggu waktu saja kak
total 1 replies
Nar Sih
cemburu mu lucuu sakti ,dan bikin rahma sedih karena sikap mu
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: bener kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
dewi rofiqoh
Benar tu sakti apa yang sama bilang, klo kamu gk segera ungkapkan rasamu pada rahma keburu diambil orang tu si rahma🤭🤭🤭
Ilfa Yarni
tau nih sakti klo suka bila g aja pake gengsian sgala liat Rahma akrab dgn laki2lain km cemburu hadeeh sakti
Uba Muhammad Al-varo
Sakti.......kena sama jebakan nya Salma,ayo jujur kamu sukakan, cintakan ke Rahma, jangan gengsi yang digedein /Joyful//Joyful//Joyful//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 🤣🤣🤣
total 1 replies
Ilfa Yarni
hahahaha dasar sakti gengsi setinggi la git udah tau suka sama Rahma malah tidak mau mengakuinya
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hooh Bun 🤣🤣🤣
total 1 replies
Patrick Khan
masih pagi wes delok sakti ambek rahma nag kasor🥱🥱🥱😁
Anonim
Aku suka
Anonim
🤭🤭🤭🤭
depoll_poll aje 😉😉😉
astagfirullah..
sakti u itu keterlaluan sekali SM s Rahma..
cemburu s cemburu tp sadar diri donk udh mantap blm hati u nya...
hahahaha kepergok s adik nya juga,,
gimna ya cerita selanjutnya...
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Anonim
❤️❤️❤️
depoll_poll aje 😉😉😉
cie cie yg sakit cemburu jugaa.. hahahaha
kepo ya kamu dengan keakraban Rahma dengan pria lain... hihihihihi
Anonim
😍😍😍
Patrick Khan
cemburu kan kau sakti🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betoolll🤣
total 1 replies
Patrick Khan
q aja pengen bisa pakai motor gede lo..tp punya siapa yoan 🤣🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: apalagi aku kak, yg ada nyungsep 🤣🤣🤣
total 1 replies
Patrick Khan
aku lupa cara ciuman 🤣🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: weleh... masa iya lupa, kak 🤣🤣🤣
kocak nih 🤣🤣
total 1 replies
Nar Sih
gak usah cemburu sakti ,dr adnan cuma mau bicara sbntr dgn istri mu tentang wanita pujaan nya yg kebetulan profesor nya rahma di kmpus
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 😄
total 1 replies
Nar Sih
wah ..rahma hebat lho bisa bwa motor besar suami nya👍
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Chuckle//Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
Anonim
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!