Aruna tak menyangka kematiannya justru membawanya bertransmigrasi ke dalam novel kerajaan Eropa sebagai Lady Evelyne Ashcroft, villain yang ditakdirkan berakhir tragis.
Berbekal ingatan akan alur cerita, ia bertekad mengubah nasibnya dan menghindari semua bendera kematian. Namun, rencananya langsung berantakan ketika seluruh keluarganya dan sang tunangan tiba-tiba dapat mendengar isi pikirannya.
Rahasia masa depan yang terus terungkap membuat jalan cerita berubah. Keluarga yang semula membencinya mulai melindunginya, sementara tunangan yang seharusnya meninggalkannya justru semakin tergila-gila padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Pagi itu, sinar matahari belum sepenuhnya menyelinap masuk lewat celah jendela ketika Aruna terbangun dengan perasaan yang tak menentu. Dadanya terasa sesak seakan tertindih beban berat yang tak tampak mata, napasnya pun terasa tak lepas sepenuhnya.
Ia melangkah perlahan mendekati jendela dan menarik tirai lebar-lebar. Di luar sana, taman yang asri masih terbasuh embun pagi yang berkilau lembut.
"Mungkin saja aku terlalu banyak memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi," gumamnya pelan sambil kembali menutup tirai perlahan.
Aruna sama sekali tak menyadari bahwa sesaat sebelum ia membuka jendela itu, sepasang mata yang bersembunyi di atas atap bangunan sebelah baru saja lenyap ke dalam kegelapan, membawa serta bayang-bayang bahaya yang tak pernah lepas dari jejaknya.
Di ruang makan keluarga Ashcroft, suasana pagi itu terasa jauh lebih sepi dan berat daripada biasanya. Tak ada canda tawa yang terdengar.
Duke Arthur duduk di kursi kebesarannya dengan raut wajah yang tenang namun penuh pemikiran yang mendalam.
Adrian sesekali melirik ke arah jendela yang terbuka, matanya tak lepas dari pergerakan apa pun yang terjadi di luar, sementara Cedric tampak lebih pendiam dan waspada dari biasanya, seakan setiap deru napas pun ia perhatikan dengan saksama.
Aruna pun duduk di tempatnya sambil memegang sendok dengan perlahan, hatinya tak tenang melihat perubahan sikap seluruh keluarganya.
"Mengapa kalian semua tampak begitu serius pagi ini?" tanyanya pelan memecah keheningan.
Duke Arthur pun akhirnya membuka suara, menatap putranya yang duduk tak jauh darinya.
"Adrian, bagaimana hasil penyelidikan yang kau lakukan terhadap Duke Harold?"
Adrian meletakkan cangkir teh yang dipegangnya perlahan ke atas meja, suaranya terdengar rendah namun penuh makna.
"Aku belum menemukan bukti yang cukup kuat untuk menjatuhkannya, Ayah. Namun satu hal yang pasti, Duke Harold menyembunyikan begitu banyak urusan di balik senyum ramahnya. Ia memiliki banyak transaksi yang tak tercatat secara resmi."
Aruna seketika menghentikan gerakan tangannya. Matanya membelalak tak percaya.
"Transaksi?"
"Jika ingatanku tak keliru," lanjut Adrian sambil menatap lekat-lekat wajah adiknya, "ia juga menyembunyikan sebagian kekayaannya di bank kerajaan menggunakan nama samaran yang tak diketahui siapa pun."
Adrian mencondongkan tubuh sedikit ke arah Aruna, matanya menyelidik tajam.
"Evelyne, bagaimana kau bisa tahu hal-hal yang bahkan belum sempat kusampaikan?"
Aruna tersentak hebat, jantungnya seakan berhenti berdetak sejenak.
"A-apa?"
"Kau tampak seakan sudah mengetahui segala hal yang kukatakan," ucap Adrian semakin yakin ada sesuatu yang tersembunyi.
Aruna pun tersenyum canggung, berusaha menyembunyikan kegugupannya di balik senyum yang dipaksakan.
"Aku... aku hanya menebak begitu saja. Sebuah firasat saja."
Ia menarik napas panjang dalam hati. [Syukurlah aku masih mengingat dengan jelas setiap kejadian yang tertulis dalam novel itu. Jika tidak, pasti mereka akan semakin curiga kepadaku.]
Adrian pun kembali terdiam, menyimpan segala keraguannya di dalam hati. Sementara Duke Arthur semakin memantapkan tekadnya untuk tidak pernah mempercayai pria yang selama ini ia anggap sahabat itu.
Namun sebelum pembicaraan itu berlanjut, seorang pelayan melangkah masuk dengan membawa selembar surat yang tersegel rapi.
"Tuan Duke, surat yang dikirim langsung dari istana kerajaan."
Arthur segera membuka segelnya dan membaca isinya perlahan. Wajahnya yang semula tenang perlahan berubah serius.
"Ada kabar apa dari istana, Ayah?" tanya Adrian yang tak melepaskan pandangan dari wajah ayahnya.
"Tiga hari lagi," ucap Arthur pelan, "kerajaan akan mengadakan pesta perayaan musim semi. Seluruh keluarga bangsawan diundang untuk hadir."
Cedric pun mendongak seketika.
"Seluruh keluarga bangsawan tanpa terkecuali?"
"Benar."
Tangan Aruna yang sedang memegang cangkir teh seketika membeku di udara. Hatinya mencelos tak percaya. Pesta musim semi... Ia mengenal peristiwa itu dengan sangat baik.
Dalam cerita yang pernah dibacanya, pesta itu menjadi salah satu titik balik yang kelak mengubah segalanya. Di sanalah untuk pertama kalinya Putri Isabelle berdansa secara resmi bersama Putra Mahkota di hadapan seluruh bangsawan.
Dan Evelyne yang melihat kebahagiaan mereka berdua tak mampu menahan rasa cemburu yang meluap-luap hingga kehilangan kendali atas perkataannya sendiri. Dari sanalah bermula skandal besar yang kelak menghancurkan nama baiknya dan meruntuhkan seluruh kehidupannya.
[Aku tidak boleh pergi ke pesta itu,] batin Aruna tanpa sadar.
"Mengapa kau berkata demikian?"
Aruna tersentak dan mendongak panik.
"A-apa yang kukatakan? Aku tidak mengatakan apa-apa"
[Kenapa mereka melihatku dengan tajam?]