Arga Pratama adalah suami yang selama ini dikenal dingin, pekerja keras, dan mencintai istrinya sepenuh hati. Demi memenuhi semua keinginan sang istri, Nabila, ia rela bekerja siang malam hingga menjadi pengusaha sukses.
Namun, di balik kesibukannya, Nabila justru menjalin hubungan terlarang dengan Reza, sahabat terbaik Arga sendiri.
Pengkhianatan itu terbongkar pada hari ulang tahun pernikahan mereka.
Alih-alih langsung menceraikan, Arga memilih diam.
Ia mulai menyusun pembalasan yang begitu rapi, membuat semua orang yang telah mengkhianatinya kehilangan kehormatan, harta, dan kepercayaan satu per satu.
Tetapi di tengah balas dendam itu, muncul seorang wanita sederhana bernama Aisyah yang perlahan mengubah hati Arga.
Akankah Arga tetap menjadi suami yang kejam, atau memilih memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mabuok Hape, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebohongan yang Termanis
Lampu neon koridor gedung kejaksaan membias dingin di atas lantai keramik yang buram. Suasana begitu sunyi, hanya dihiasi gema langkah sepatu boots para penjaga dan gesekan berkas yang dipilah petugas. Di sebuah ruang periksa berukuran kecil ber-AC menusuk, Nabila duduk kaku di kursi kayu keras.
Wajahnya pucat pasi tanpa riasan. Matanya sembap, dilingkari warna keunguan yang kusam setelah berjam-jam berada di bawah tekanan pertanyaan penyidik. Di pergelangan tangannya yang halus, tidak ada lagi gelang emas putih pemberian Arga—hanya jemari yang memutih kaku karena terus-menerus meremas ujung gaunnya yang mulai kusut.
Pintu besi ruangan itu berdenyit pelan saat terbuka.
Nabila mendongak dengan napas tercekat. Di ambang pintu, Arga berdiri tegap. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang rapi dan jas yang terpotong sempurna. Penampilannya tampak sangat kontras dengan ruangan yang muram itu. Namun, yang paling meremukkan dada Nabila adalah raut wajah Arga: tidak ada kemarahan, tidak ada kebencian yang meluap, hanya ketenangan sempurna yang begitu berjarak.
"Mas... Mas Arga..." bisik Nabila, suaranya parau dan bergetar hebat. Ia hendak melompat berdiri, namun tatapan dari petugas penjaga membuat tubuhnya tertahan di kursi. "Mas datang... Mas beneran datang buat aku..."
Arga memberi isyarat pelan pada petugas untuk memberi mereka waktu lima belas menit. Setelah pintu kembali tertutup rapat, Arga melangkah masuk tanpa suara, lalu duduk di kursi kayu di seberang meja yang membatasi mereka.
Chemistry di antara keduanya kini begitu menyesakkan. Tidak ada lagi sisa-sisa kehangatan sepasang suami istri yang dulu saling melengkapi. Yang tersisa hanyalah tembok tak kasatmata yang terbuat dari kebohongan bertahun-tahun dan dinginnya pembalasan dendam.
"Aku datang karena kamu yang meminta bertemu melalui pengacara, Nabila," kata Arga. Suaranya mengalun sangat tenang, begitu teratur dan halus, seperti embun pagi yang membekukan.
Air mata Nabila menetes deras, melintasi pipinya yang tirus. "Mas... tolong cabut laporan itu... aku mohon, Mas," bisiknya dengan suara patah-patah oleh isak tangis yang tertahan. "Aku takut banget di sini. Reza sudah ditangkap... dia pelakunya, Mas! Dia yang merencanakan semuanya! Aku cuma dibodohi sama dia... aku cuma korban..."
Arga menatap wanita di hadapannya.
Di dalam pikirannya, berkelebat rekaman masa lalu—malam-malam ketika Nabila tersenyum manis di mejanya, menyuapinya sup hangat, lalu dengan lihai menerima pesan-pesan mesra dari Reza. Arga mengingat betapa rapinya Nabila merajut kebohongan demi kebohongan dengan nada suara yang penuh manja, membuat Arga dulu merasa menjadi pria paling beruntung di dunia.
Kebohongan yang termanis, batin Arga. Kebohongan yang dibungkus dengan perhatian, senyuman lembut, dan kata-kata cinta, yang ternyata merupakan belati paling tajam yang siap menghujam dadanya saat ia lengah.
"Kamu bukan korban, Nabila," ujar Arga pelan, memotong isak tangis istrinya tanpa nada tinggi. "Seorang korban tidak menerima transferan miliaran rupiah ke rekening pribadinya. Seorang korban tidak menikmati perhiasan dan vila mewah dari hasil merampok suaminya sendiri."
Nabila tertunduk dalam, bahunya terguncang hebat oleh tangisan yang kian pecah. "Aku salah, Mas... aku tahu aku berdosa besar sama Mas Arga... tapi demi Tuhan, Mas... di antara semua kebohongan dan dosaku... rasaku ke Mas Arga itu nyata... aku beneran sayang sama Mas..."
Arga mengamati Nabila yang tersungkur di atas meja periksa. Pengakuan itu meluncur dari bibir Nabila dengan pendar keputusasaan yang murni. Mungkin saat ini, setelah kehilangan segalanya dan disadarinya betapa busuknya sosok Reza, Nabila benar-benar merasakan kerinduan akan kehangatan Arga.
Namun bagi Arga, kebenaran yang terlambat itu tidak lagi memiliki arti.
"Kamu tahu apa kebohongan termanis yang pernah kamu berikan padaku, Nabila?" tanya Arga halus, memajukan tubuhnya sedikit ke depan. Nabila mendongak dengan mata basah, menatap Arga dengan secercah harapan liar bahwa suaminya akan luluh.
"Kebohongan termanis itu adalah saat kamu bilang bahwa kamu hanya punya aku di dunia ini," bisik Arga, tatapan matanya begitu jernih dan tanpa ampun. "Aku pernah memercayai kata-kata itu sepenuh jiwaku. Aku bekerja belasan jam sehari, memeras keringat dan darah, hanya agar wanita yang 'hanya punya aku' ini tidak pernah merasa kekurangan sepeser pun."
Arga tersenyum tipis—sebuah senyuman yang terukir indah namun membuat seluruh darah di tubuh Nabila membeku.
"Dan sekarang... setelah semua topengmu terbuka..." lanjut Arga dengan suara yang sangat dalam. "Kata-katamu itu akhirnya menjadi kenyataan. Kamu benar-benar tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Reza melemparmu ke jurang, dan aku... tidak akan pernah memulurkan tangan untuk menarikmu keluar."
Kalimat itu menghantam jiwa Nabila bagai petir yang meremukkan seluruh pertahanan mentalknya. Ia menyadari sepenuhnya logika dingin di balik tindakan Arga: Arga tidak membalasnya dengan kekerasan fisik atau caci maki. Arga menghancurkannya dengan mengabulkan kebohongannya sendiri—membiarkan Nabila benar-benar sendirian di dalam kegelapan yang ia ciptakan.
"Mas Argaaaaa!" jerit Nabila histeris, menyatukan kedua tangannya yang gemetar untuk memohon, namun Arga sudah berdiri dari kursinya.
Arga merapikan kancing jasnya dengan gerakan yang sangat berwibawa. Ia menatap Nabila untuk terakhir kalinya—sebuah tatapan perpisahan dari seorang pria yang telah sepenuhnya mengubur masa lalu dan rasa sakitnya.
"Pengacaraku sudah menyiapkan berkas perceraian kita," kata Arga datar saat melangkah menuju pintu. "Tanda tangani berkas itu di depan penyidik besok. Itu adalah hal terakhir yang bisa kamu lakukan untukku."
"Mas! Jangan tinggalkan aku, Mas! Mas Arga!" panggil Nabila dengan raungan tangis yang memecah kesunyian ruang periksa, menyeburkan dirinya ke lantai untuk menggapai pintu yang mulai terbuka.
Arga melangkah keluar dari ruangan itu. Pintu besi tertutup rapat di belakangnya, memotong suara jeritan dan tangisan Nabila yang perlahan memudar di balik tembok tebal kejaksaan.
Arga menghirup udara malam yang dingin di luar gedung kejaksaan. Langit malam tampak cerah berhiaskan bintang-bintang. Di dalam dadanya, kebohongan termanis yang pernah meracuni hidupnya kini telah sepenuhnya tawar—meninggalkan seorang Arga Pratama yang berdiri bebas, siap melangkah menuju masa depan yang murni dan tak tersentuh oleh pengkhianatan lagi.
laju dikit Thor biar gereget bacanya ini slowly Banggt