"Saya akan berikan kamu satu milyar, jika kamu bisa melahirkan anak laki-laki untuk saya!"
Demi kesembuhan sang ibu, malam itu Aluna mengambil keputusan yang begitu besar dalam hidupnya
Arjuna Bimantara, pengusaha ternama yang ingin mencari seorang wanita untuk melahirkan penerus bagi Bimantara sebab istrinya yang super model menolak memberikan anak
Akankah kesepakatan Arjuna dan gadis muda itu menghadirkan cinta? Atau selamanya Aluna hanya akan menjadi istri rahasia pria bernama Arjuna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA BELAS
"Tuan"
"Hmm" Arjuna membalas dengan gumaman. Saat ini Aluna tengah bersandar di dadanya
Sebenarnya berada diposisi seperti ini, membuat jantung Aluna tidak karuan. Ia tak pernah duduk begitu dekat dengan seorang pria
"Jika mereka semuanya laki-laki, artinya saya dapat dua milyar?"
Arjuna menurunkan wajahnya, tatapannya bertemu dengan mata bulat nan menggemaskan milik sang istri
"Maksud kamu?"
"Ya kan perjanjiannya, saya lahirkan bayi laki-laki dan mendapatkan satu milyar sebagai bayarannya, sekarang saya mengandung dua bayi, kalau dua-duanya laki-laki artinya saya dapat dua milyar"
Arjuna terkekeh, apa dikepala istrinya ini hanya ada uang saja? Aluna bahkan begitu antusias jika bicara perihal uang
"Jika mereka laki-laki, maka kamu akan dapatkan dua milyar itu" Jawab Arjuna membuat wanita itu menarik diri
Aluna duduk dan menatap wajah tampan suaminya "Tuan serius kan? Astaga, saya gak bisa bayangin sebanyak apa dua milyar"
Terlihat sekali jika wanita ini sangat bahagia. Arjuna senang melihat senyum nya hingga tanpa sadar ikut menarik sudut bibirnya
"Tuan tersenyum?" Aluna tampak kagum melihat wajah suaminya yang untuk pertama kalinya tersenyum
"Itu bagus, tuan harus sering tersenyum. Belajarlah untuk dicintai bukan ditakuti"
"Maksud kamu?"
"Tuan lihat orang-orang itu? Mereka tidak menghargai tuan, tapi takut" Maksud Aluna adalah para pelayan dirumah ini
"Itu bagus, saya tidak suka orang-orang menganggap saya lemah karena bersikap lembut, kamu juga harus seperti itu"
"Saya tidak mau, saya suka berteman sama semua orang. Jika mereka takut, mereka tidak akan merasa sedih saat saya sakit tapi malah sebaliknya"
Arjuna diam, berpikir. Gadis kecil ini ada benarnya "Saya tahu tuan merasa kesepian, itu karena tuan tidak ingin dekat dengan semua orang"
"Kamu sok tahu" Arjuna hendak menarik lagi istrinya
"Tuan mau tidur disini?" Tanya Aluna, karena biasanya Arjuna akan pergi setelah menuntaskan hasratnya
"Memangnya saya harus tidur dimana?"
"Tuan kan punya kamar sendiri"
"Saya ingin bersama istri saya, sudahlah ayo tidur!" Aluna kembali berbaring diatas dada bidang suaminya
"Saya mau mandi dulu! Badan saya rasanya lengket" Keluh Aluna
"Besok saja!"
"Tapi.."
"Kamu tidur sekarang, atau mau saya tiduri?" Arjuna mengancam
Takut, wanita hamil itu segera menutup matanya. Terlihat sekali jika wanita itu belum tidur
Arjuna mengeratkan pelukannya, mungkinkah ini kehidupan yang selama ini ia inginkan
Ia seperti berada saat dimana sang ibu masih ada, Aluna membuatnya banyak bicara dan ia suka
Pagi yang membuat Aluna begitu bahagia, rasanya sudah sangat lama. Ia ingin segera memeluk wanita yang telah melahirkannya itu
"Aluna" Tetangga samping rumah menegur saat Aluan keluar dari mobil mewah suaminya
"Bu Erni, selamat pagi" Sapa Aluna dengan ramah
"Selamat pagi, udah lama banget loh kamu gak keliatan"
"Iya, Aluna kerja Bu"
"Ohh, ini siapa?" Tanya wanita paruh baya itu pada pria yang berdiri tegap disamping Aluna
"Ini majikannya Aluna" Ucapnya berbohong, lagi pula tidak mungkin mengatakan siapa pria ini sebenarnya
"Ganteng banget majikan kamu Lun" Wanita paruh baya itu terkikik
"Ah ibu bisa saja! Luna masuk dulu yaa Bu" Aluna masuk bersama suaminya, Arjuna setia dengan wajah dinginnya
Jika tahu akan ketempat seperti ini, lebih baik ia perintahkan saja Joseph untuk menemani Aluna
"Aluna"
"Ibu" Aluna memeluk wanita yang telah melahirkannya itu, berbulan-bulan tidak bertemu membuatnya sangat rindu
"Kamu apa kabar nak? Kamu kok gak pernah telepon? HP kamu juga mati" Ujar Diah, sambil mengusap pipi putrinya
"Maaf ya Bu, Luna emang jarang pegang HP kalau lagi kerja" Bohongnya
"Iya, ibu ngerti. Maaf yaa"
Aluna menggeleng, kembali ia peluk wanita paruh baya itu
Suara deheman Arjuna membuyarkan kehangatan itu, Aluna merasa tidak enak karena telah mengabaikan suaminya
"Bu, kenalin ini tuan Arjuna! Dia majikannya Luna" Diah mengangguk, tak berani mengulurkan tangan, takut pria yang terlihat berkelas ini tidak nyaman
"Bukannya waktu dirumah sakit bukan yang ini?"
Aluna ingat, saat dirumah sakit yang menjemputnya adalah Joseph
"Itu tuan Joseph, dia asistennya tuan Arjuna"
Diah mengangguk mengerti, orang kaya memang seperti itu, pasti memiliki asisten
"Ibu mau aku disini terus? Luna kangen sama masakannya ibu" Aluna sengaja memasang wajah cemberut
"Astaga maaf, ibu lupa. Ayo masuk, mari tuan!"
Diah mempersilahkan, Arjuna diam saja namun tetap melangkah masuk
"Silahkan duduk tuan! Maaf karena rumahnya seperti ini"
"Tidak masalah Bu, terima kasih"
"Sebentar ya nak, ibu ambilkan minum dulu! Adikmu masih disekolah soalnya" Diah masuk hendak membuat minuman, ia tak tahu apa yang harus dipersiapkan untuk pria seperti Arjuna ini
"Maaf yaa kalau tuan gak nyaman disini! Harusnya tadi minta sama Joseph saja buat nganterin" Ucap Aluna tidak enak hati
"Kamu lebih suka jalan sama Joseph?" Tanya Arjuna penuh selidik
"Bukan gitu, aduuh gimana yaa ngomongnya" Rasanya Aluna salah bicara saat ini
"Kamu tidak usah bicara apapun, saya tahu semuanya"
Aluna tidak lagi menjawab, terlebih sang ibu sudah datang dengan membawa nampan berisi tiga gelas teh hangat serta beberapa toples cemilan
"Ini berlebihan Bu"
"Maaf yaa tuan, saya hanya bisa menyiapkan ini. Aluna tidak mengabari jika mau datang, makanya saya tidak sempat belanja" Diah benar-benar tidak enak pada Arjuna
Pria dihadapannya ini jelas tidak terbiasa dengan makanan sederhana seperti ini, terlebih melihat penampilannya, semua yang melekat ditubuhnya terlihat mahal
Belum lagi pria bernama Arjuna ini tidak bicara, tidak ada yang bisa membaca raut wajahnya karena tidak pernah tersenyum
"Tidak masalah Bu, ini sudah cukup" Arjuna meraih gelas lalu menyesap teh nya
"Oh iya tuan, terima kasih karena berkat kebaikan tuan Arjuna saya masih bisa hidup sampai hari ini"
"Anak ibu sudah membayarnya" Arjuna berdehem "Maksud saya Aluna sudah mulai mencicil pembayaran nya"
Diah tersenyum "Aluna ini selalu memikirkan kebaikan orang lain, dia tidak peduli sama dirinya sendiri"
Arjuna tersenyum, ia pandangi sang istri yang duduk disampingnya
Aluna memang sangat lembut, bahkan pada para pelayan. Wanita seperti ini jelas tidak akan cocok bila menjadi pendamping seorang seperti Arjuna yang tidak menggunakan hati