Kau adalah milikku. Jika aku tidak mendapatkannya, maka tidak siapa pun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Alena?
"Aku menemukannya," Pax merasakan ujung pisau menemukan badan peluru, ia pun berusaha mendorongnya keluar.
Alena merasakan sekujur tubuhnya sakit luar biasa. Tidak sanggup menahan sakitnya ia mencengkram punggung Pax, yang membuat kukunya menancap di sana, ia juga menggigit bahu pria itu dengan sekuat tenaga.
"Menjerit saja kalau kau merasa sakit."
Alena tidak menjawab. Wanita itu terlalu tenang. Tapi setidaknya, Pax menghela napas lega begitu ia berhasil mengeluarkan peluru tersebut.
"Jangan meminta aku menjahitnya," Pax mengurai pelukan Alena untuk memastikan wanita itu masih bernapas.
"Ya, kita tidak mempunyai alatnya. Ternyata perbanmu juga sudah di lepas." Suaranya mulai terputus-putus.
Pax mengernyit bingung, sejak kapan ia memakai perban. Tapi belum sempat ia menanyakan hal itu karena Alena sudah kehilangan kesadarannya.
"Nah, pingsan juga dia."
“Apa dia baik-baik saja?” tanya Ansel begitu ia berdiri di dekat keduanya.
“Dia pingsan.” Pax segera berdiri, beringsut menjauh dari Alena agar Ansel bisa memeriksanya dan menjahit lengannya. “Aku juga sudah mengeluarkan pelurunya,” Pax menunjukkan sebutir peluru yang ia dapatkan dari tubuh wanita itu.
Ansel dan Pax memperhatikan peluru tersebut. Ya, peluru yang digunakan bukanlah jenis peluru mematikan. Pax dan Ansel saling menatap tanpa berkomentar.
“Ucapkan selamat padaku, katakan aku sudah bekerja keras.”
Ansel menukik alisnya mendengar penuturan Pax. Baginya itu ucapan paling sia-sia.
“Hei, Kakak sepupumu ini baru saja melakukan pembedahan darurat tanpa bius dan peralatan yang lengkap.”
“Itu artinya kau memperagakan ilmu yang kuajarkan padamu dengan baik dan benar. Berhenti bersikap berlebihan. Ini bukan pertama kali untukmu.” Ansel berdecak.
“Dia wanita.”
“Menyingkirlah, aku akan memeriksanya,” Ansel mendorong tubuh Pax. “Hm, sepertinya dia kehabisan banyak darah. Apa kau menanyakan golongan darahnya?”
“Kau pikir aku petugas donor darah?”
“Bawakan alat-alatku. Aku akan menjahit lukanya terlebih dahulu,” perintah Ansel tanpa menoleh kepada Pax yang berdiri anteng di belakangnya sambil bersedekap, tidak beranjak sama sekali.
“Alat-alatku, Pax!” Ulang pria itu karena Pax tidak juga beranjak.
“Aku bukan babumu, aku kakak sepupumu jika kau lupa, bocah tengil!”
“Wanita ini butuh diobati dengan segera.”
“Kau mengambilnya, aku akan menjaganya.”
“Pax!”
“Tidak ada bantahan.” Pax menarik Ansel agar menjauh dari tubuh Alena. Ansel berdecak, mendelik tajam ke arahnya yang dibalas Pax dengan senyum menyeringai.
Ansel berjalan ke arah mobilnya, mengambil yang ia butuhkan lalu kembali ke tempat Alena dan Pax. Ia pun segera melakukan tugasnya. Meminta Pax agar mengeluarkan Alena dari dalam mobil.
Kali ini Pax melakukannya tanpa bantahan, ia merebahkan kepala Alena di atas pangkuannya. Menatap lekat wajah cantik Alena, yang menurutnya sangat unik.
“Bagaimana bisa dia mendapatkan luka ini?” Ansel membersihkan lukanya terlebih dahulu.
“Itu jugalah yang ingin kutanyakan.”
“Kau mengenalnya?”
“Tidak. Tapi dialah wanita yang melakukan serangan di selangkanganku.”
“Lalu kenapa kau repot-repot menyelamatkannya?”
“Naluri manusia,” jawaban asal Pax membuat Ansel tergelak.
“Kau yakin? Sejak kapan kau jadi berperikemanusiaan, Pax?” ledek Ansel, tapi tetap fokus pada luka di tangan Alena.
“Jika berhubungan dengan wanita cantik,” Pax kembali menjawabnya dengan lempeng.
“Ya, setidaknya itu lebih masuk akal.” Ansel membenarkan. “Kau sudah memeriksa mobilnya?”
“Untuk apa?”
“Untuk memastikan bahwa kita sedang tidak menyelamatkan atau melindungi seorang kriminal.”
Pax tergelak, “Dia hanya wanita lemah.”
“Dan wanita lemah ini pernah melumpuhkanmu, Pax. Dan lihatlah, kau bahkan mengeluarkan peluru tanpa obat bius. Aku sungguh penasaran apa alat yang kau gunakan untuk mengeluarkannya?” Ansel menyelesaikan jahitannya. Ia pun segera berdiri.
“Pisau. Dia yang memberikannya.”
Ansel mengangguk paham, “Wanita lemah hanya akan menggunakan pisau di dapur.”
“Itu juga lah yang kupikirkan tadi.” Pax membenarkan.
"Aku akan memeriksanya,” Ansel masuk ke dalam mobil Alena. Memeriksa setiap sudut dan memang tidak menemukan apa-apa. Ia pun ke luar tanpa hasil selain tas Alena yang ada dalam genggamannya.
“Aku tidak menemukan apa-apa,” jelas Ansel.
“Periksa tasnya,” perintah Pax, mengarahkan matanya ke tas yang ada di tangan sepupunya itu.
“Kau yakin?” tanya Ansel.
“Kau sudah melakukannya, jadi lakukan dengan benar dan tuntas.”
Ansel pun berjongkok di samping Pax, lalu mengeluarkan semua isi tas Alena. Keduanya terperangah dan terbelalak. Pistol. Sebuah pistol dan beberapa benda tajam lainnya.
“Periksa dompetnya,” titah Pax kemudian. nadanya tidak bergurau lagi.
“Alena Ferara. Indonesia. Berusia 25 tahun.” Ansel membacakan tanda pengenal yang ia temukan.
“Apa ada tanda pengenal lainnya?” Pax menatap Alena penuh selidik. Siapa wanita itu? untuk apa wanita asing itu berkeliaran di negaranya dengan berbagai senjata.
“Tidak ada.” Ucapan Ansel membuat Pax menoleh ke arahnya. “Aku sudah mengambil foto identitas dirinya. Aku akan memeriksanya nanti.” Pungkas Ansel seakan tahu apa yang akan dikatakan Pax.
“Bisa saja dia penyelundup senjata.”
“Apa kau pikir kita tidak akan tahu siapa saja penyelundup yang masuk ke negara ini?” Pax menolak pernyataan itu.
“Mungkin dia masih baru dan mau coba-coba.”
“Aku tidak yakin,” gumam Pax. “Kevin, aku yakin wanita ini juga lah yang membuat pria itu terbaring di rumah sakit. Minta seseorang untuk melakukan penyelidikan terhadap Kevin. Apa hubungan keduanya.” Pax mengangkat tubuh Alena, membawanya ke dalam mobilnya.
“Bawakan semua jenis golongan darah, dia kehabisan banyak darah.”
“Ck! Berlebihan. Aku sudah memeriksanya. A, jika kau penasaran, golongan darahnya, A.” Ansel melewati Pax dan masuk ke dalam mobilnya.
***
Pax dan Ansel menatap Alena yang sudah terbaring di atas ranjang. Ansel juga sudah melakukan tranfusi darah. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Menerka-nerka tentang siapa sebenarnya wanita Indonesia itu.
“Kapan dia akan bangun?” tanya Pax mencairkan keheningan.
Ansel melihat jam tangan yang melingkar indah di pergelangan tangannya. “Tengah malam,” sahut Ansel. “Kenapa tidak mengantarnya saja ke rumahnya?”
“Aku tidak tahu alamatnya,” sahut Pax seadanya.
“Hotel. Kau membawanya ke hotel. Kenapa harus ke sini?” Ansel kurang menyetujui tindakan Pax.
“Hanya ini tempat yang aman.”
“Tidak aman untuk kita, Pax. Bisa saja dia seorang mata-mata yang sedang berpura-pura!” sergah Ansel.
“Naluriku mengatakan, tidak.”
“Nalurimu selalu saja salah jika berhubungan dengan wanita!” sinis Ansel.
“Terima kasih. Kau bisa kembali bekerja.” Pax mempersilakan Ansel ke luar.
“Kau mengusirku?” Ansel menyorotnya dengan kesal.
“Anggap saja seperti itu.”
“Pax, apa kau sadar, kau membawa wanita ke atas ranjangmu,” Ansel masih bergeming di tempatnya.
“Ya,” sahutnya dengan singkat. Lalu mengibaskan tangan, mengusir Ansel.
“Siapa kau sebenarnya? Wanita harusnya tidak boleh terluka, tapi kau bahkan bertahan di saat peluru sialan itu menembus kulitmu. Kau membuatku penasaran, Alena.” Pax bergumam, menatap wanita itu penuh arti.