"Lima tahun lalu, dia diusir dalam keadaan hamil dan dianggap mandul. Kini, dia kembali bukan untuk mengemis cinta, melainkan untuk merebut apa yang menjadi miliknya."
Elena kembali ke ibu kota sebagai desainer interior kelas dunia dengan satu misi rahasia: mengambil kembali anak perempuannya yang sempat tertinggal di keluarga mantan suaminya, Arthur Arkananta. Namun, takdir mempermainkannya. Klien besar pertama yang harus dia hadapi adalah Arthur sang CEO berdarah dingin yang dulu mencampakannya karena fitnah kejam.
Di saat Elena mati-matian menyembunyikan putra kembarnya yang genius dari jangkauan Arthur, sebuah rahasia besar di masa lalu mulai terkuak satu per satu. Arthur yang mulai curiga kini berbalik mengejarnya, tetapi Elena bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas.
Akankah Arthur menemukan kebenaran tentang anak kembar mereka sebelum Elena pergi membawa semuanya? Atau akankah penyesalan sang CEO datang terlambat saat Elena justru bersanding dengan pria lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi Dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benteng Perlindungan dan Detektif Cilik
Suara rintik hujan yang kembali membasahi kaca mobil SUV hitam mewah itu seolah mempertegas atmosfer mencekam yang menyelimuti Arthur dan Elena. Di kursi belakang, Leon dan Lia sudah tertidur karena kelelahan setelah upacara sekolah. Di kursi depan, Arthur mencengkeram kemudi dengan erat, sementara Elena menatap kosong ke luar jendela, meremas kertas ancaman yang kini sudah kusut di tangannya.
"Kita tidak akan kembali ke apartemenmu malam ini, Elena," suara Arthur memecah keheningan, rendah namun sarat akan nada perintah yang tidak menerima bantahan.
Elena menoleh dengan cepat, matanya menyipit tajam. "Apa maksudmu, Arthur? Aku tidak mau kembali ke rumah besarmu yang penuh kenangan buruk itu."
"Bukan ke rumah utama," Arthur memutar kemudi, membelokkan mobil ke arah kawasan super eksklusif di daerah Kebayoran Baru. "Kita ke penthouse pribadiku. Tempat itu memiliki sistem keamanan militer dengan pengawal berlapis. Wanita ular itu mantan tunanganku—dia sudah berani menerormu di hari pertama sekolah anak-anak. Aku tidak akan membiarkanmu dan si kembar berada dalam bahaya sedikit pun."
Elena hendak mendebat, namun saat melihat sorot mata Arthur yang dipenuhi rasa takut kehilangan yang amat sangat, lidahnya mendadak kelu. Untuk kali ini, demi keselamatan Leon dan Lia, Elena memilih untuk mengalah. Dia menyandarkan kepalanya ke kursi, membiarkan Arthur membawa mereka masuk ke dalam benteng perlindungannya.
Penthouse milik Arthur terletak di lantai teratas gedung pencakar langit privat. Tempat itu sangat luas, bergaya modern minimalis dengan dominasi warna monokrom. Begitu tiba, Arthur langsung menggendong Lia yang tertidur ke kamar utama, sementara Elena menggandeng Leon yang tampak terjaga dengan mata bulatnya yang penuh selidiki.
Setelah memastikan kedua anak mereka aman di kamar, Elena dan Arthur berdiri di ruang tengah yang menghadap langsung ke arah kerlip lampu kota Jakarta.
"Aku sudah memerintahkan Evan untuk memperketat penjagaan di sekitar sekolah dan kantor proyek kita," ucap Arthur, berjalan mendekati Elena dan menatapnya dengan pandangan protektif yang mendalam. "Aku bersumpah, Elena. Lima tahun lalu aku gagal melindungimu karena kebodohanku. Tapi kali ini, bahkan jika aku harus mempertaruhkan seluruh nyawaku, tidak akan ada satu pun helai rambutmu atau anak-anak kita yang terluka."
Elena menatap dada bidang Arthur yang naik turun karena emosi yang tertahan. Getaran tulus dari ucapan pria itu meruntuhkan sedikit lagi dinding es di hatinya. "Grup Arkananta dan nama besarmu selalu membawa badai, Arthur. Aku hanya berharap badai kali ini tidak menghancurkan kebahagiaan anak-anak kita yang baru saja menyatu."
"Tidak akan," bisik Arthur tegas, merapatkan jarak di antara mereka hingga Elena bisa merasakan kehangatan tubuhnya. "Badai kali ini akan aku hancurkan sebelum sempat menyentuh kalian."
Keesokan paginya, saat matahari mulai menerangi kamar penthouse, Leon dan Lia ternyata sudah bangun lebih awal. Di dalam kamar bermain yang luas, Leon duduk di depan laptop berspesifikasi dewa pemberian Arthur, sementara Lia duduk di sampingnya sambil memegang boneka kelincinya, bertindak sebagai 'asisten' setia.
"Leon, apakah kamu sudah menemukan siapa yang mengirim surat jahat itu kepada Mama?" tanya Lia dengan suara berbisik, takut terdengar oleh Elena yang sedang memasak di dapur.
Jemari mungil Leon bergerak dengan kecepatan luar biasa di atas papan ketik, menampilkan barisan kode dan peta satelit digital kawasan sekolah mereka kemarin. "Sedang kulacak, Lia. Aku sedang meretas satelit GPS dari mobil SUV hitam mencurigakan yang terparkir di seberang sekolah saat upacara kemarin. Pria tua itu mengira tim IT-nya hebat, padahal mereka melewatkan detail sekecil ini."
Bip. Bip. Bip.
Layar laptop Leon mendadak berkedip merah, menampilkan sebuah foto profil dan data pribadi dari pemilik mobil misterius tersebut. Mata elang mini Leon menyipit tajam saat membaca nama yang tertera di layar.
"Seline Wijaya..." gumam Leon membaca nama sang pelakor utama, mantan tunangan Arthur yang baru kembali dari luar negeri. "Dia adalah putri dari pemilik Grup Wijaya, kompetitor bisnis terbesar pria tua itu. Dan lihat ini, Lia... dia baru saja melakukan transaksi keuangan besar untuk menyewa sekelompok orang dari dunia bawah tanah Jakarta."
Lia menutup mulutnya dengan tangan mungilnya karena terkejut. "Leon, mereka mau menyakiti Mama?"
"Tidak akan kubiarkan," balas Leon dengan senyuman miring yang dingin dan mematikan. "Dia pikir dia bisa bermain-main dengan keluarga Eleanor Vance? Aku akan memberikan 'hadiah penyambutan' yang tidak akan pernah dia lupakan."
Leon dengan lincah memasukkan perintah peretasan tingkat tinggi, menyusup ke dalam seluruh jaringan sistem operasional ponsel pribadi Seline, menyalin semua data konspirasi jahatnya, sekaligus mengunci rekening bank pribadi wanita itu hingga tidak bisa digunakan sepeser pun.
Tepat saat Leon menyelesaikan aksinya, pintu kamar bermain terbuka. Arthur melangkah masuk dengan mengenakan kemeja santai, membawa dua kotak susu cokelat untuk anak-anaknya. Pria itu menghentikan langkahnya saat melihat layar laptop Leon yang dipenuhi data pelacakan Seline Wijaya.
Arthur berjalan mendekat, menaruh susu tersebut, lalu menatap layar laptop dan wajah putranya bergantian dengan rasa takjub yang luar biasa. "Kamu... berhasil melacak lokasi Seline hanya dalam waktu satu malam, Leon?"
Leon bersedekap dada, mendongak menatap Arthur dengan pandangan angkuh yang setara. "Tentu saja. Sementara tim keamanan Anda yang mahal itu sibuk berjaga di lobi, aku sudah tahu kalau wanita ular itu saat ini sedang berada di sebuah klinik kecantikan mewah di kawasan SCBD, sedang merencanakan sabotase untuk peluncuran proyek resor Bali besok malam."
Arthur terpaku sesaat, lalu sebuah senyuman penuh kebanggaan dan binar berbahaya muncul di wajah rupawannya. Dia berlutut di depan Leon, menepuk bahu kecil putranya dengan mantap. "Kerja bagus, Putraku. Kamu benar-benar asisten intelijen terbaik yang pernah Papa miliki. Karena kamu sudah menemukan lokasinya... bagaimana kalau sore ini kita berdua pergi memberikan pelajaran padanya?"
Leon menatap uluran tangan Arthur, lalu sudut bibirnya ikut terangkat membentuk senyuman konspirasi yang sama persis. "Tawaran yang menarik, Tuan Arthur. Mari kita tunjukkan padanya apa akibatnya jika berani mengusik keluarga kita."
Di ambang pintu, Elena berdiri bersandar sambil melipat tangan di depan dada, memperhatikan interaksi kompak antara ayah dan anak kandung yang sama-sama genius dan berbahaya itu. Ada rasa hangat sekaligus ngeri di hatinya; dua singa Arkananta kini telah bersatu, dan siapa pun musuh yang berani menghadang mereka, dipastikan akan hancur tanpa sisa.