NovelToon NovelToon
Dihina di Depan Umum, Bangkit Jadi Pengacara Terkuat

Dihina di Depan Umum, Bangkit Jadi Pengacara Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Galaxy

Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.

Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.

Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2: Bayang-Bayang Sebelum Badai

"Kau baru saja mengetuk pintu yang salah," gumam Alexander.

Kalimat itu tenggelam di antara suara kendaraan malam Kota Cahaya. Di belakangnya, gedung kaca restoran masih terang, seolah tidak ada harga diri yang baru saja dipatahkan di dalam sana. Alexander tahu sesuatu sudah berubah. Priscilla Salim menjadi masa lalu. Anthony Wongso kehilangan senyum di depan tamu-tamu berjas mahal.

Di depan matanya, panel biru masih menggantung.

Ting! Hadiah misi pemula selesai dihitung.

Peti Perunggu diperoleh.

Alexander berhenti di bawah kanopi gedung. Hujan akhirnya turun, tipis-tipis, membuat trotoar mengilap seperti kaca hitam. Ia menatap tulisan itu beberapa detik, lalu menarik napas pelan.

"Buka."

Tidak ada suara dari luar. Tidak ada cahaya yang bisa dilihat orang lain. Namun di mata Alexander, Peti Perunggu itu retak dari tengah, memancarkan garis cahaya keemasan yang tipis.

Ting! Peti Perunggu terbuka.

Hadiah diperoleh: penguatan awal Basis Data Hukum.

Efek: akses cepat pada pasal, asas, dan rujukan hukum dasar dalam memori pengguna meningkat drastis.

Sebuah rasa dingin menyapu belakang kepala Alexander.

Ia nyaris terhuyung. Terlalu banyak pintu terbuka sekaligus di dalam pikirannya. Potongan pasal, istilah hukum acara, asas pembuktian, jenis alat bukti, prosedur laporan, hingga perbedaan tipis antara penghinaan, fitnah, pemerasan, dan pemalsuan dokumen bermunculan seperti rak arsip yang tiba-tiba menyala satu per satu.

Alexander memejamkan mata.

Ketika ia membukanya lagi, kekacauan itu sudah tersusun rapi.

"Jadi begini caranya," bisiknya.

Ia tidak menjadi orang lain. Ia tetap Alexander Wijaya, advokat muda yang saldo rekeningnya belum cukup untuk merasa aman. Namun sesuatu di dalam dirinya kini bekerja dengan kecepatan yang tidak manusiawi.

Ia menuruni anak tangga, menolak tawaran valet, lalu berjalan ke halte terdekat. Jasnya mulai basah. Di saku bagian dalam, Lencana Advokat Herman Wijaya menempel dingin di dada, tetapi genggamannya pada benda itu tidak lagi gemetar.

Kos-kosannya terasa lebih sempit saat ia pulang.

Kipas tua masih berputar dengan suara yang sama. Meja lipat masih miring. Tagihan SPP Nathan Wijaya masih menunggu di layar ponsel seperti luka kecil yang tidak mau menutup. Bedanya, Alexander kini tidak lagi menatap semua itu sebagai orang yang terpojok tanpa jalan.

Ia menggantung jas, mengeringkan rambut dengan handuk, lalu duduk di tepi ranjang.

"Panel Status."

Cahaya biru terbuka penuh.

Nama: Alexander Wijaya, S.H.

Jenjang: Lv3 Magang Hukum.

Status fisik: lelah ringan; tekanan emosi tinggi; fokus meningkat.

Sistem Misi: aktif.

Skill dasar:

Teori Hukum: aktif.

Logika Hukum: aktif.

Pengumpulan Bukti: aktif.

Basis Data Hukum: diperkuat.

Argumentasi Hukum: aktif.

Penyusunan Dokumen Hukum: aktif.

Debat Persidangan: aktif.

Di bawah tujuh baris itu, ada peta bercabang yang masih kelabu. Beberapa simpul tampak redup, seolah menunggu syarat tertentu. Skill Tree Psikologi. Skill Tree Negosiasi. Skill Pasif Sidang. Sistem Guru-Murid. Nama-nama itu belum bisa disentuh, tetapi keberadaannya saja sudah cukup membuat napas Alexander tertahan.

Ini alat yang bisa mengubah posisi hidup seseorang.

Ini peta perang.

Ia menyentuh simpul Skill Pasif Sidang. Panel kecil muncul.

Syarat pembukaan belum terpenuhi.

Selesaikan tekanan hukum formal pertama.

Alexander membaca kalimat itu dua kali.

"Tekanan hukum formal pertama," gumamnya. "Jadi Anthony belum selesai."

Seolah menjawab pikirannya, ponselnya bergetar.

Pesan dari nomor tidak dikenal masuk ke aplikasi percakapan yang biasa dipakai kalangan kantor hukum.

Kau pikir malam ini membuatmu menang?

Alexander menatap layar tanpa ekspresi.

Pesan kedua muncul.

Besok orang-orang akan tahu siapa yang sebenarnya memeras siapa.

Tidak ada nama pengirim. Tetapi Alexander tidak perlu bertanya. Cara seseorang mengancam sering kali lebih jujur daripada tanda tangannya.

Ia memotret layar, menyimpan tangkapan pesan, lalu menyalinnya ke folder baru: Anthony Wongso.

Folder itu masih kosong selain dua foto cek dari restoran, satu rekaman suara pendek yang tanpa sengaja tertangkap saat ia mengaktifkan kamera, dan catatan pribadi tentang manajer restoran serta posisi CCTV.

Dulu, ia mungkin akan panik.

Malam ini, ia membuat daftar.

Nomor satu: minta salinan rekaman CCTV secara resmi.

Nomor dua: cek status nomor seri cek melalui jalur perbankan yang sah.

Nomor tiga: jangan hubungi Priscilla lebih dulu.

Nomor empat: tunggu lawan bergerak, lalu kunci jalurnya.

Alexander berhenti pada nomor empat. Ujung bibirnya bergerak sedikit, bukan senyum penuh, lebih seperti garis tipis yang lahir dari kesadaran baru.

Di layar Panel Status, sebuah indikator kecil berkedip.

Misi lanjutan belum aktif.

Kondisi pemicu: ancaman hukum nyata terkonfirmasi.

"Baik," katanya pelan. "Aku tunggu."

Sementara itu, di sisi lain Kota Cahaya, lampu ruang rapat sebuah kantor hukum masih menyala.

Anthony Wongso berdiri di depan meja besar dengan rahang mengeras. Jas biru tuanya sudah tidak rapi. Priscilla duduk di sofa dekat jendela, memeluk tas brandednya seperti perisai. Matanya masih merah, tetapi gengsinya menolak menangis.

Di ujung meja, seorang pria paruh baya berkacamata membaca laporan singkat dari ponsel Anthony. Namanya tidak disebut siapa pun di ruangan itu dengan nada akrab. Para staf memanggilnya Pak Direktur.

"Kau membuat masalah di restoran umum," kata Pak Direktur. Suaranya rendah, tetapi lebih berbahaya daripada bentakan.

Anthony menelan ludah. "Saya bisa mengendalikannya, Pak. Dia menggertak. Dia tidak punya akses bank. Tidak punya koneksi. Dia cuma membaca dari permukaan."

"Cuma membaca dari permukaan?" Pak Direktur meletakkan ponsel di meja. "Dan permukaan itu cukup untuk membuat manajer restoran menyimpan CCTV, tamu-tamu bicara, dan namamu disebut dalam gosip internal tiga kantor hukum sebelum tengah malam."

Priscilla mengangkat wajah. "Tiga kantor?"

"Minimal." Pak Direktur menatapnya sekilas, lalu kembali ke Anthony. "Kau pengacara. Kau seharusnya tahu, orang hukum tidak perlu media sosial untuk menghancurkan reputasi. Cukup satu ruang tunggu pengadilan."

Anthony mengepalkan tangan.

Kemarahan membuat wajahnya panas. Yang paling menyakitkan bukan cek itu. Bukan juga tatapan tamu restoran. Yang paling menyakitkan adalah cara Alexander berdiri tenang, seolah Anthony hanya mahasiswa baru yang salah membawa berkas.

Sejak kuliah, Anthony terbiasa menang lewat nama kantor, koneksi keluarga klien, dan cara bicara yang membuat lawan merasa kecil sebelum perdebatan dimulai. Alexander seharusnya jenis lawan paling mudah. Miskin. Baru. Tidak punya pelindung.

Tapi malam itu, pria miskin itu mencabik rencananya tanpa berkeringat.

"Saya akan membuat dia mencabut ucapannya," kata Anthony.

Pak Direktur mengangkat alis. "Dengan cara?"

"Laporan pemerasan." Anthony membuka map hitam di meja. "Saya sudah siapkan tangkapan pesan. Rekaman bisa dipotong dari panggilan lama Priscilla dengan dia. Kita buat seolah dia mengancam membuka hubungan pribadi Priscilla kalau tidak dibayar."

Priscilla tersentak. "Anthony, itu..."

"Diam dulu." Nada Anthony tajam.

Priscilla membeku. Malam itu, ia melihat sisi Anthony yang tidak pernah ditunjukkan saat memberinya jam tangan dan tas mahal: panik yang berubah menjadi kejam.

Pak Direktur tidak langsung menolak. Ia menatap map itu lama.

"Kalau kau melakukan ini, jangan setengah-setengah," katanya akhirnya. "Polisi harus datang sebelum dia sempat menyiapkan narasi. Buat dia terlihat defensif. Orang kecil sering kalah saat terlambat bicara."

Anthony mengangguk cepat. "Besok pagi."

"Dan pastikan namaku tidak ada di berkas."

"Tentu, Pak."

Priscilla merasakan tenggorokannya kering. "Kalau Alex bisa membuktikan itu palsu?"

Anthony menoleh. Senyumnya kembali, tetapi kali ini tidak hangat sedikit pun.

"Kalau dia bisa, berarti dia memang pantas dihancurkan lebih dulu."

Di kos-kosan kecilnya, Alexander tidak tahu kalimat itu baru saja diucapkan. Namun entah mengapa, ia terbangun dari tidur pendeknya sebelum subuh.

Panel Status masih samar di sudut pandangannya, seperti bara biru yang tidak padam.

Ia duduk, menatap folder Anthony Wongso di ponselnya, lalu membuka catatan anggaran keluarga. Di baris paling atas tertulis SPP Nathan. Di bawahnya: uang kos. Makan. Transportasi. Fotokopi berkas.

Hidupnya masih sempit.

Tetapi sempit bukan berarti buntu.

Alexander menutup catatan itu dan membuka dokumen baru.

Judulnya singkat.

Kronologi Restoran.

Jari-jarinya mulai mengetik. Waktu, lokasi, posisi meja, kata-kata Priscilla, bentuk cek, reaksi Anthony, saksi, CCTV, pesan ancaman.

Satu demi satu.

Rapi.

Tanpa amarah yang tumpah.

Ketika matahari pertama menyentuh kisi-kisi jendela kos, dokumen kronologi itu sudah selesai. Alexander menyimpannya, mencadangkannya ke dua tempat, lalu berdiri untuk mandi.

Di luar kamar, langkah kaki terdengar di lorong kos. Suaranya berbeda dari sandal penghuni. Ini langkah sepatu.

Tegas.

Lebih dari satu orang.

Ketukan keras menghantam pintu.

"Alexander Wijaya?"

Suara pria di luar pintu terdengar resmi.

"Kami dari kepolisian. Buka pintunya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!