NovelToon NovelToon
Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:206
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.

This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.

Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.

Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2: Seni Membuat Orang Gila di Tempat Umum

Pria berkaus hitam itu berdiri di lorong bus seperti satpam dadakan yang baru menemukan panggung.

"Mas," katanya, suara dibuat berat, "mulut kamu dari tadi terlalu tajam. Di tempat umum itu jangan sok paling benar."

Bu Santo langsung mendapat napas baru. Perempuan itu menunjuk Bima seolah baru saja menemukan bukti kejahatan. "Nah, dengar? Saya juga melihat begitu. Anak muda sekarang memang perlu diajari adab."

Bima masih duduk di kursi 12A. Tiketnya sudah masuk ke saku. Panel SBE melayang tipis di sudut pandangnya.

[Misi Pertama Aktif: Hadapi Semua Pemerasan Moral di Perjalanan Ini.]

[Pilihan belum diperlukan. Respons bebas dinilai berdasarkan dampak.]

Bima hampir tertawa.

Sistem ini bahkan malas pura-pura netral.

Ia menatap pria berkaus hitam itu dari atas ke bawah. Badannya besar, perutnya sedikit maju, satu tangan menggantung di pegangan kursi seolah siap menarik Bima berdiri. Beberapa penumpang menahan napas. Ponsel yang tadi merekam dari belakang kini bertambah dua. Ada yang pura-pura membuka kamera sambil memiringkan layar.

"Pak," kata Bima tenang, "kalau mulut saya tajam, kenapa Bapak yang berdarah?"

Pria itu mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?"

"Saya bicara ke Ibu yang menyuruh orang lain berkorban. Bapak yang berdiri kesakitan. Berarti yang kena kebiasaan Bapak."

Beberapa kepala menunduk. Seseorang di kursi belakang mengeluarkan suara batuk yang terlalu mirip tawa.

[Poin +26]

Wajah pria berkaus hitam itu memerah. "Jangan kurang ajar. Saya cuma mengingatkan."

"Mengingatkan boleh." Bima menunjuk lorong yang masih penuh. "Tapi kalau Bapak ingin mengajarkan adab, mulai dari yang sederhana. Jangan berdiri menghalangi lorong bus sambil membuat penumpang lain susah lewat."

Kenek yang sejak tadi pura-pura tidak mendengar akhirnya melirik dari depan. "Pak, kalau bisa jangan berdiri di tengah. Nanti kalau rem mendadak bahaya."

Pria itu seperti ditampar tanpa tangan. Ia mundur setengah langkah, tapi gengsinya menolak duduk.

Bu Santo buru-buru menyela, "Masalahnya bukan lorong. Masalahnya sikap dia. Dari tadi dia mempermalukan ibu hamil."

Bima menoleh kepadanya. "Ibu hamilnya sudah duduk, Bu. Yang masih berdiri cuma amarah Ibu. Mau saya carikan kursi juga?"

Kali ini tawa terdengar jelas dari tiga arah.

[Poin +31]

[Poin +18]

Perempuan hamil yang sudah duduk di depan memilih memalingkan wajah ke jendela. Anaknya di pangkuan sibuk membuka keripik. Konflik kursi sudah selesai, tetapi orang-orang yang tadi terlanjur merasa suci masih mencari cara agar tidak terlihat kalah.

Saat itulah tendangan kecil menghantam sandaran kursi Bima.

Duk.

Bima diam.

Duk.

Tendangan kedua lebih keras.

Ia menoleh pelan. Di kursi belakang, seorang bocah laki-laki berusia sekitar delapan tahun menyeringai sambil menggoyang-goyangkan kaki. Ibunya, perempuan berkaus merah muda, menatap Bima dengan wajah lelah yang pura-pura tidak melihat apa pun.

Duk.

Tendangan ketiga membuat bahu Bima sedikit terdorong.

"Dik," kata Bima, "kakinya sakit?"

Bocah itu menjulurkan lidah. "Biarin."

Ibunya langsung mengangkat suara sebelum Bima melanjutkan. "Mas, namanya juga anak-anak. Jangan galak-galak."

Bu Santo seperti menemukan senjata kedua. "Betul. Masa anak kecil juga mau dimarahi?"

Bima memejamkan mata sebentar.

Di dunia mana pun, kalimat "namanya juga anak-anak" selalu dipakai orang dewasa yang malas menjadi orang dewasa.

Panel SBE berkedip.

[Target tambahan terdeteksi: pembiaran perilaku merugikan dengan dalih anak-anak.]

[Poin bonus tersedia.]

Bima membuka mata. Senyumnya halus, hampir ramah.

"Bu," katanya kepada ibu bocah itu, "saya setuju. Namanya juga anak-anak. Karena itu saya tidak akan menyalahkan anak Ibu."

Wajah perempuan itu sedikit melunak. "Nah, begitu dong."

"Saya salahkan Ibu."

Senyumnya langsung beku.

Bima melanjutkan dengan nada yang masih sopan, "Anak kecil belum paham batas. Orang tua yang harus paham. Kalau anak Ibu menendang kursi orang, lalu Ibu membela, berarti yang perlu dididik bukan anaknya saja. Paket keluarga."

Bus meledak oleh tawa tertahan.

[Poin +42]

Perempuan itu berdiri setengah. "Mulut kamu jahat sekali!"

"Tidak, Bu. Jahat itu kalau saya balas tendang kursi anak Ibu selama dua jam lalu bilang, namanya juga penumpang."

Bocah itu berhenti menendang.

Bima belum selesai. Ia menoleh kepada anak itu, suaranya dibuat lembut. "Dik, kalau kursi ini kamu anggap drum, Mas boleh anggap kaki kamu stiknya? Nanti kalau stiknya patah, jangan nangis."

Mata bocah itu membesar. Ia cepat-cepat menarik kakinya.

Ibunya menunjuk Bima. "Kamu mengancam anak saya?"

"Saya sedang pakai metode Ibu," jawab Bima. "Kalau tindakan mengganggu orang boleh disebut anak-anak, maka kalimat saya juga bisa disebut bercanda. Jangan sensitif."

Pukulan itu bersih.

Karena kalimat "jangan sensitif" tadi adalah kalimat yang sering dipakai orang seperti mereka setelah merusak hari orang lain.

[Poin +55]

[Poin +33]

Kenek akhirnya berjalan ke tengah bus. "Bu, mohon anaknya jangan tendang kursi penumpang lain. Kalau ada keributan lagi, nanti kami turunkan di rest area untuk pindah kursi."

Perempuan berkaus merah muda ingin membalas, tetapi puluhan mata sedang mengarah padanya. Ponsel yang merekam juga belum turun.

Ia menarik anaknya mendekat. "Duduk diam."

Bocah itu cemberut, tapi kakinya berhenti bergerak.

Bima kembali menghadap depan. Di kaca jendela, ia melihat bayangan Bu Santo masih menatapnya dengan marah. Pria berkaus hitam sudah duduk, pura-pura sibuk dengan ponsel. Ibu hamil menunduk, tidak lagi bicara. Beberapa penumpang yang tadi ikut menghakimi kini memilih diam seperti baru sadar bahwa diam ternyata bisa menyelamatkan muka.

Panel SBE muncul lagi.

[Misi Pertama selesai.]

[Evaluasi: A]

[Hadiah: Poin +200]

[Level naik: 1 -> 2]

[Fitur Undian terbuka.]

[1x Undian Gratis tersedia.]

Total poin berhenti di angka 517.

Bima menatap panel itu beberapa detik. Tidak buruk untuk perjalanan pertama di dunia baru.

Satu jam kemudian, bus memasuki Terminal Waringin. Sore mulai turun. Udara di luar lebih panas daripada di dalam bus, tapi Bima merasa kepalanya jauh lebih jernih dibanding saat ia membuka mata tadi.

Begitu bus berhenti, penumpang bergerak turun. Pria berkaus hitam melewati Bima tanpa menoleh. Bu Santo turun paling cepat, seolah terminal itu tempat perlindungan. Ibu bocah menarik anaknya dengan wajah kaku. Hanya pemuda yang sejak tadi merekam dari belakang berhenti sebentar di samping Bima.

"Mas," katanya pelan, antara kagum dan geli, "video tadi sudah naik. Teman saya upload di TikTok."

Bima mengangkat alis. "Cepat sekali."

Pemuda itu menunjukkan layar. Video berdurasi hampir tiga menit sudah ditonton 47.000 kali. Judulnya terlalu dramatis: Penumpang Muda Bikin Satu Bus Diam.

Komentar bergerak cepat.

Ada yang mendukung. Ada yang memaki. Ada yang menyebutnya tidak punya empati. Ada juga yang menulis: akhirnya ada yang ngomong.

Panel SBE berkedip kecil.

[Poin pasif bertambah dari reaksi publik.]

[Poin +3]

[Poin +5]

[Poin +2]

Bima memasukkan ponselnya ke saku. Ia mengambil koper kecil dari bagasi bawah, lalu berdiri di tepi terminal. Di depan sana, Kabupaten Waringin menunggu dengan jalanan padat, pedagang minuman, tukang ojek yang saling memanggil, dan rumah keluarga yang belum benar-benar ia kenal.

Di sudut pandangnya, tombol Undian Gratis menyala pelan.

Bima tersenyum tipis.

Baru satu perjalanan, dunia ini sudah memberinya musuh, penonton, poin, dan hadiah.

Kalau begini cara hidup barunya dimulai, ia tidak keberatan melihat sejauh mana semuanya bisa dibawa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!