Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA KELUARGA MAHENDRA
Alya masih berdiri di samping Raka ketika mereka keluar dari bandara.
Koper berada di tangan Raka.
Namun pikirannya tidak lagi tertuju pada perjalanan pulang.
Satu kalimat terus berputar di kepalanya.
“Dia ingin mengambil alih perusahaan.”
Alya menatap Raka.
“Siapa orangnya?”
Raka tidak langsung menjawab.
“Belum pasti.”
“Tapi kamu punya dugaan?”
“Iya.”
“Siapa?”
Raka memasukkan ponselnya ke saku.
“Nama belakangnya Santoso.”
Alya mengerutkan kening.
“Bukan nama yang asing.”
“Memang.”
“Hubungannya dengan keluarga Mahendra?”
Raka menarik napas.
“Dia anak dari kakak ayah saya.”
Alya terdiam.
“Jadi…”
“Sepupu saya.”
Alya semakin bingung.
“Kenapa sepupumu ingin mengambil perusahaan?”
Raka menatap jalan di depan.
“Karena menurutnya perusahaan itu seharusnya bukan milik keluarga saya.”
Alya tidak berkata apa-apa.
Mereka masuk ke mobil.
Baru setelah mobil meninggalkan bandara, Raka mulai bercerita.
DUA PULUH LIMA TAHUN LALU
Ayah Raka bukan pendiri pertama Mahendra Group.
Perusahaan itu awalnya dibangun oleh dua bersaudara.
Aditya Mahendra dan Bram Mahendra.
Aditya adalah ayah Raka.
Bram adalah ayah dari sepupunya, Reza.
Mereka membangun perusahaan bersama dari nol.
Namun setelah perusahaan berkembang, terjadi perselisihan.
Aditya ingin memperluas perusahaan.
Bram ingin mempertahankan bisnis dalam skala keluarga.
Perbedaan itu semakin besar.
Sampai akhirnya Bram menjual seluruh kepemilikannya.
Sejak saat itu, keluarga Mahendra terpecah.
Raka menatap ke depan.
“Bram meninggal beberapa tahun lalu.”
“Dan anaknya?”
“Reza.”
Alya mengangguk.
“Dia menyimpan dendam?”
“Bukan sekadar dendam.”
Raka terdiam.
“Dia percaya ayah saya mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi milik keluarganya.”
Alya menatap Raka.
“Padahal ayahnya menjual sahamnya sendiri?”
“Ya.”
“Lalu kenapa sekarang?”
“Karena harga saham perusahaan meningkat pesat.”
Alya memahami.
“Jadi dia ingin mengambil kembali sesuatu yang dulu dijual keluarganya.”
“Kurang lebih.”
Alya terdiam.
“Dan sekarang dia punya cukup saham untuk menantangmu?”
“Belum cukup untuk mengambil alih.”
“Tapi?”
“Kalau dia berhasil mendapatkan dukungan beberapa investor lain…”
Raka berhenti.
“Posisi saya bisa terancam.”
Alya menggenggam tangannya sendiri.
“Raka…”
“Hm?”
“Kamu takut?”
Raka tersenyum kecil.
“Sedikit.”
Alya menatapnya.
“Baru kali ini kamu mengaku.”
“Saya bukan robot.”
Alya tertawa.
“Kadang saya lupa.”
MALAM ITU
Raka mengantar Alya pulang.
Sebelum turun dari mobil, Alya bertanya,
“Kapan kamu akan menghadapi Reza?”
“Besok.”
“Sendiri?”
“Dengan dewan.”
Alya mengangguk.
“Kalau kamu membutuhkan saya…”
Raka tersenyum.
“Saya tahu.”
“Serius.”
“Saya tahu.”
Alya membuka pintu.
Namun Raka memanggilnya.
“Alya.”
Dia menoleh.
“Selamat pulang.”
Alya tersenyum.
“Terima kasih.”
Dia turun.
Raka menunggu sampai Alya masuk.
Namun kali ini Alya tidak langsung masuk rumah.
Dia berdiri di depan pintu dan menatap mobil Raka pergi.
Setelah enam bulan berjauhan, semuanya terasa seperti mimpi.
Mereka akhirnya bisa bersama.
Tetapi masalah baru datang tepat ketika mereka mendapatkan kesempatan itu.
KEESOKAN PAGI
Pukul 08.00.
Alya tiba di kantor.
Tidak ada lagi meja kecil di depan ruang Raka.
Sekarang dia memiliki ruang sendiri sebagai Executive Office Manager.
Dia masuk.
Di atas mejanya sudah ada sebuah map.
Tulisan di atasnya:
CONFIDENTIAL
Alya membuka.
Isinya dokumen struktur saham.
Dia membaca satu per satu.
Kemudian menemukan sesuatu yang membuatnya terkejut.
Ada transaksi saham besar tiga bulan terakhir.
Pembelinya menggunakan perusahaan investasi bernama:
Arkana Capital.
Alya mengerutkan kening.
Dia pernah melihat nama itu.
Di Jakarta.
Dalam salah satu proyek yang dia kerjakan selama program.
“Tidak mungkin…”
Dia membuka laptop.
Mencari dokumen lama.
Benar.
Nama Arkana Capital pernah muncul dalam salah satu proyek investasi yang dikerjakan kantor pusat.
Dan orang yang mewakili perusahaan tersebut—
Reza Santoso.
Alya langsung berdiri.
Dia membawa dokumen itu ke ruang Raka.
Mengetuk.
“Masuk.”
Alya masuk.
“Raka.”
Raka mengangkat wajah.
“Ada apa?”
Alya meletakkan dokumen.
“Saya menemukan sesuatu.”
Raka membaca.
Ekspresinya berubah.
“Kamu pernah bertemu perusahaan ini di Jakarta?”
Alya mengangguk.
“Waktu program.”
“Kenapa tidak bilang?”
“Saya tidak tahu kalau ada hubungannya.”
Raka membaca lagi.
“Reza.”
Alya mengangguk.
“Dia memang orang yang sama.”
Raka terdiam.
Kemudian mengambil ponselnya.
“Saya harus bertemu dia.”
PUKUL 10.00
Rapat dewan dimulai.
Reza datang.
Alya melihatnya untuk pertama kali.
Pria itu sekitar akhir tiga puluhan.
Rapi.
Tenang.
Tidak terlihat seperti seseorang yang sedang mencoba mengambil alih perusahaan.
Dia masuk sambil tersenyum.
“Raka.”
“Reza.”
Mereka berjabat tangan.
Reza kemudian melihat Alya.
“Ini siapa?”
Raka menjawab,
“Alya.”
Reza tersenyum.
“Oh.”
Tatapannya sedikit lebih lama.
“Saya pernah mendengar namanya.”
Alya tidak menjawab.
Rapat dimulai.
Reza mempresentasikan proposal investasi.
Angkanya besar.
Terlalu besar.
Salah satu anggota dewan terlihat tertarik.
Reza berkata,
“Saya tidak datang untuk menghancurkan Mahendra Group.”
Dia menatap Raka.
“Saya datang untuk menyelamatkannya.”
Raka tersenyum dingin.
“Dengan mengambil alih?”
Reza mengangkat bahu.
“Kalau itu yang diperlukan.”
Ruangan menjadi tegang.
Raka bersandar.
“Kenapa sekarang?”
Reza tersenyum.
“Karena sekarang saya punya kesempatan.”
“Dulu kamu tidak punya?”
“Dulu saya belum cukup kuat.”
Raka menatapnya.
“Jadi ini balas dendam?”
Reza tertawa kecil.
“Tidak.”
Dia berhenti.
“Ini soal keadilan.”
Raka mengerutkan kening.
“Keadilan menurut siapa?”
“Menurut keluarga saya.”
SETELAH RAPAT
Reza menghampiri Alya.
“Bu Alya.”
Alya menoleh.
“Ya?”
“Saya dengar Anda pernah bekerja langsung dengan Raka.”
“Pernah.”
“Sekarang tidak?”
“Tidak.”
Reza tersenyum.
“Bagus.”
Alya mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Karena saya tidak suka konflik kepentingan.”
Alya tidak menjawab.
Reza kemudian berkata,
“Jaga diri.”
Alya menatapnya.
“Maksudnya?”
“Dunia perusahaan lebih kejam daripada yang terlihat.”
Kemudian Reza pergi.
Alya berdiri diam.
Ada sesuatu dari cara pria itu bicara yang membuatnya tidak nyaman.
SIANG
Alya kembali ke ruang Raka.
“Dia aneh.”
Raka menatapnya.
“Reza?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Dia bilang saya harus menjaga diri.”
Raka mengerutkan kening.
“Dia mengatakan apa lagi?”
“Tidak ada.”
Raka berdiri.
“Alya.”
“Hm?”
“Mulai sekarang, jangan bertemu Reza sendirian.”
Alya mengangguk.
“Kenapa?”
“Karena saya tidak percaya dia.”
“Kamu pernah dekat dengannya?”
“Tidak.”
“Lalu bagaimana tahu?”
Raka diam.
“Karena saya mengenal keluarganya.”
Alya menatapnya.
“Baik.”
PUKUL 17.00
Hari mulai sepi.
Alya sedang bekerja ketika sebuah email masuk.
Pengirim:
Arkana Capital.
Subjek:
Permintaan Pertemuan Pribadi
Alya membuka.
Isinya singkat.
Bu Alya, saya ingin membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan masa depan Mahendra Group. Saya berharap Anda bersedia bertemu tanpa kehadiran Pak Raka.
Alya menatap email itu.
Dia tahu seharusnya menolak.
Namun ada sesuatu yang membuatnya penasaran.
Dia membalas:
Apa yang ingin dibicarakan?
Jawaban datang kurang dari lima menit.
Tentang Raka.
Alya membeku.
Dia tidak membalas lagi.
Namun beberapa detik kemudian ponselnya berdering.
Nomor tidak dikenal.
Alya mengangkat.
“Halo?”
Suara Reza terdengar.
“Bu Alya.”
Alya langsung tahu.
“Ya?”
“Saya tahu Anda mencintai Raka.”
Alya terdiam.
“Saya juga tahu Raka mencintai Anda.”
Alya menggenggam ponselnya erat.
“Kalau Anda menelepon untuk mengancam saya—”
“Saya tidak mengancam.”
“Lalu?”
“Saya menawarkan pilihan.”
“Pilihan apa?”
“Pergi dari hidup Raka.”
Alya membeku.
Reza melanjutkan dengan tenang,
“Dan saya akan memastikan dia tetap menjadi direktur.”
Alya tidak bisa berkata-kata.
“Kalau Anda menolak…”
Reza berhenti.
“Apa?”
“Raka akan kehilangan lebih banyak daripada jabatan.”
Alya menelan ludah.
“Bapak mengancamnya?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Saya hanya memberi tahu Anda bagaimana permainan ini bekerja.”
Telepon berakhir.
Alya masih berdiri dengan ponsel di tangan.
Wajahnya pucat.
MALAM
Raka datang ke ruang Alya.
Dia langsung menyadari ada sesuatu yang salah.
“Kamu kenapa?”
Alya menggeleng.
“Tidak apa-apa.”
“Jangan bohong.”
Alya menatapnya.
“Reza menelepon saya.”
Raka langsung berubah serius.
“Apa katanya?”
Alya ragu.
“Dia meminta saya pergi dari hidup kamu.”
Raka diam.
“Dia bilang kalau saya pergi, kamu akan tetap menjadi direktur.”
Raka mengepalkan tangannya.
“Dia mengancammu?”
“Tidak secara langsung.”
“Alya.”
“Saya baik-baik saja.”
Raka mendekat.
“Kamu jangan pernah menghadapi orang seperti dia sendirian.”
Alya menatapnya.
“Dia tahu tentang kita.”
“Saya tahu.”
“Dia tahu semuanya.”
Raka mengangguk.
“Dan saya tidak akan membiarkan dia menggunakan kamu.”
Alya mulai menangis.
“Bagaimana kalau dia benar-benar bisa mengambil semuanya dari kamu?”
Raka mengusap air mata di wajah Alya.
“Dengar.”
Alya menatapnya.
“Kalau saya kehilangan jabatan, saya masih punya hidup.”
“Kalau saya kehilangan perusahaan, saya masih bisa membangun lagi.”
“Tapi kalau saya kehilangan kamu karena ancaman orang lain…”
Raka berhenti.
“Itu yang tidak akan saya biarkan.”
Alya menangis.
“Raka…”
“Jangan pergi karena takut.”
Alya mengangguk.
“Saya tidak akan pergi.”
Raka memeluknya.
Kali ini lebih lama.
Tidak ada lagi alasan untuk menjaga jarak.
Namun ketika mereka masih berdiri dalam pelukan—
ponsel Raka berbunyi.
Dia melihat layar.
Sebuah pesan dari dewan.
Rapat luar biasa ditetapkan besok pagi. Agenda: evaluasi posisi Direktur Utama dan perubahan struktur kepemilikan.
Raka menatap pesan itu.
Wajahnya berubah.
Alya melihatnya.
“Besok?”
Raka mengangguk.
“Ya.”
“Jadi ini sudah dimulai.”
Raka memasukkan ponsel ke saku.
“Ya.”
Alya menggenggam tangannya.
“Kita hadapi bersama.”
Raka menatapnya.
“Kamu yakin?”
Alya mengangguk.
“Kali ini saya tidak akan pergi.”
Raka tersenyum kecil.
“Baik.”
Namun di tempat lain—
Reza berdiri di depan jendela kantornya.
Di tangannya ada sebuah foto lama.
Foto dua bersaudara, Aditya dan Bram Mahendra.
Di belakang foto itu terdapat tulisan tangan:
“Apa yang dulu diambil keluarga Mahendra akan kembali kepada keluarga Santoso.”
Reza menatap foto itu.
Kemudian tersenyum.
Karena yang tidak diketahui Raka dan Alya—
pengambilalihan perusahaan ini bukan sekadar perebutan saham.
Reza memiliki satu rahasia tentang kematian ayah Raka.
Dan jika rahasia itu terbuka…
seluruh keluarga Mahendra bisa runtuh.
Termasuk Raka.