NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Zaman Kuno

Terlempar Ke Zaman Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Transmigrasi / Ruang Ajaib
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Ammoera(_)

Jia Li adalah seorang dokter genius dari modern. Meski begitu, keluarganya sendiri tidak pernah menghargainya dan lebih menyayangi kakak laki-laki nya yang menjadi pengangguran.

Tepat setelah Jia Li selesai melakukan operasi. Sebuah tamparan menantinya di pintu keluar. Awal dari segalanya.

Jiwa Jia Li terseret ke zaman kuno, lebih tepat nya memasuki raga Lin Jia. Lin Jia adalah putri dari Kaisar Lin Dong dan selir kedua. Diam - diam di belakang Kaisar. Lin Jia di remehkan karena tidak memiliki Elemen apapun dalam tubuhnya.

Namun semua berubah saat jiwa Jia Li menempati raga Lin Jia. Berkat bantuan sistem dan ruang ajaib. Jia Li akan mengubah takdir Lin Jia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Perburuan

Hari ini, lapangan istana Naga Langit terdengar sangat riuh. Angin musim gugur yang bertiup kencang tidak mampu mendinginkan antusias yang membakar tempat itu, karena hari ini adalah hari Perburuan Agung Kekaisaran.

Tidak hanya keluarga Kekaisaran yang akan ikut serta dalam kompetisi sakral tersebut, tetapi juga seluruh anggota dari keluarga bangsawan tinggi.

Semua orang sangat antusias untuk menunjukkan kemampuan kultivasi mereka dan membuktikan kekuatan masing-masing di hadapan takhta.

Terlebih lagi, sebuah rumor mengatakan bahwa Kaisar akan memberikan hadiah besar bagi siapa saja yang mampu menangkap hewan roh tingkat tinggi. Tentu saja, desas-desus tentang hadiah misterius itu membuat darah mereka bergejolak penuh rasa penasaran.

Namun, di antara riuhnya anak bangsawan yang memamerkan senjata dan elemen mereka, langkah kaki Lin Jia tampak sangat tenang saat keluar dari Paviliun Musim Semi menuju lapangan terbuka.

Tidak ada setitik pun ketakutan di wajahnya yang seputih porselen, hanya ada sebuah ketenangan sedalam lautan utara.

Saat langkah kakinya menapak di lapangan, atmosfer di sekitar seketika berubah. Beberapa putri keluarga bangsawan yang sedang berkumpul langsung menatapnya dengan kening berkerut dalam, seolah-olah melihat sesuatu yang merusak pemandangan indah.

"Bukankah itu Putri Mahkota Lin Jia? Jangan bilang dia juga ikut serta?" bisik salah satu putri bangsawan dari keluarga Guo, menutup setengah wajahnya dengan kipas sutra, namun matanya memancarkan penghinaan yang jelas.

"Jika benar, itu sama saja mencari mati secara sukarela. Kita semua tahu kalau dia hanyalah sampah tidak berguna yang tidak memiliki elemen," bisik temannya yang merupakan bangsawan dari keluarga Song, sengaja mengeraskan suara agar terdengar oleh orang sekitar.

"Bahkan... karena merasa malu, dia sampai melarikan diri dan keluar dari Akademi Tapak Dewa," sambung putri bangsawan yang lainnya, memicu tawa kecil yang sinis di kelompok mereka.

Namun, Lin Jia tetap berdiri tegak bagai pohon bambu di tengah badai, ekspresinya tidak berubah sedikit pun.

Di belakangnya, Mei Mei mengepalkan tinju hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya berkilat marah; dia sangat ingin menyumpel mulut para bangsawan bermulut racun itu. Berani sekali mereka menghina Nona nya di depan umum? Terlebih lagi adalah Putri dari seorang Kaisar. Meskipun di dalam hatinya yang paling dalam, Mei Mei sendiri juga dicekam rasa khawatir yang hebat akan keselamatan majikannya.

Tiba-tiba, embusan angin tajam beraroma parfum kemewahan menghadang jalan mereka. Lin Jia menghentikan langkahnya, kelopak matanya terangkat perlahan, menatap tenang pada sosok anggun yang kini berdiri angkuh di depannya bersama barisan pengikutnya.

"Putri Lin Jia... jangan bilang kalau kamu benar-benar akan mengikuti kompetisi perburuan ini?" tanya Putri Mahkota Lin Ju, menatap remeh saudaranya dari atas ke bawah, bibirnya melengkung membentuk senyuman sinis yang merendahkan. "Tempat ini adalah panggung bagi mereka yang memiliki kekuatan, bukan panggung permainan mudah."

"Lebih baik Putri Lin Jia berpikir ulang seribu kali sebelum melangkahkan kaki ke dalam gerbang perburuan," kata Rong Hui, gadis bangsawan dari keluarga Rong yang terkenal angkuh, yang juga merupakan sahabat karib sekaligus kaki tangan Putri Mahkota Lin Ju.

Rong Hui melangkah maju dengan tangan bersedekap, menatap Lin Jia dengan pandangan kasihan yang dibuat-buat. "Hutan Wanshou dipenuhi oleh hewan roh yang sangat berbahaya jika tidak bisa menaklukkan nya. Jika sampai Anda mati tercabik-cabik di dalam sana, kemungkinan bagi kami untuk menemukan potongan mayat Anda akan sangat sulit."

Di samping mereka, Zhang Hana mengangguk anggun, melirik Lin Jia dengan tatapan dingin tanpa emosi. "Ini bukan permainan anak kecil, Putri Mahkota Lin Jia. Sekali Anda menandatangani gulungan keikutsertaan, hidup dan mati Anda berada di tangan Anda sendiri. Jangan sampai penyesalan datang saat taring hewan roh sudah berada di leher Anda."

Mendengar rentetan kalimat tajam dan intimidasi tersebut, Lin Jia tidak mundur satu langkah pun. Dia justru mengulas senyum tipis—sebuah senyuman misterius. Mata indahnya berkilat tajam, memantulkan bayangan orang-orang di depannya yang mengira mereka berada di atas angin.

"Kalian semua tampaknya terlalu khawatir... aku sungguh tidak menyangka jika kalian sepeduli itu padaku," kata Lin Jia dengan nada suara yang teramat tenang dan datar.

Jawaban yang keluar dari bibir Lin Jia seketika membuat ketiganya tersedak udara. Atmosfer sombong yang semula mereka bangun mendadak runtuh, karena mereka sama sekali tidak menyangka reaksi setenang itu akan datang dari seorang Lin Jia yang biasanya mereka tindas secara halus.

Sebelum ketiganya sempat membalas, Lin Jia kembali melanjutkan kalimatnya, menatap lurus ke dalam manik mata mereka satu per satu dengan tatapan yang mengintimidasi secara perlahan. "Terima kasih banyak karena kepedulian kalian yang luar biasa ini... tapi sayangnya, sepasang kakiku sudah terlanjur melangkah maju, dan mereka menolak keras untuk mundur kembali."

Tanpa menunggu respons lebih lanjut, Lin Jia lalu melengos pergi begitu saja, mengabaikan ketiganya seolah-olah mereka hanyalah kerikil tak berharga di jalanan. Putri Mahkota Lin Ju mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih karena menahan amarah yang membakar dada, sementara Rong Hui dan Zhang Hana saling pandang dengan raut wajah penuh kebingungan, mulai merasakan ada aura yang jauh berbeda dan mengerikan dari ketenangan Lin Jia hari ini.

DUMMM!

Gong raksasa berbahan perunggu berbunyi dengan dengungan keras yang menggema ke seluruh penjuru lapangan, menjadi tanda sakral bahwa kompetisi yang mendebarkan akan segera dimulai.

Keheningan seketika terjadi di antara para peserta yang berkumpul. Jenderal Mo, dengan jubah perang berlapis baja yang berkilau di bawah sinar matahari, maju selangkah ke depan seraya membuka sebuah gulungan kain sutra emas di hadapan semua peserta kompetisi.

"Kompetisi akan dimulai! Seperti yang kalian semua ketahui, setiap setahun sekali Kompetisi Perburuan Agung akan dimulai untuk menguji kultivasi dan keberanian para garis keturunan bangsawan. Namun kali ini, ada sesuatu yang sangat berbeda diatur dalam dekret. Ini adalah keputusan mutlak dari Yang Mulia Kaisar sendiri. Perburuan kali ini, kalian tidak akan melakukannya sendirian!" kata Jenderal Mo, suaranya yang menggelegar dan penuh wibawa membuat semua orang yang hadir saling pandang satu sama lain, mulai berbisik-bisik menebak arah peraturan baru ini.

Jenderal Mo menjeda kalimatnya sejenak, mengedarkan pandangan tajamnya sebelum melanjutkan. "Kali ini, kalian berhak memilih satu orang pasangan yang akan berjuang bersama, hidup dan mati dengan kalian di dalam perburuan!"

Pengumuman tersebut langsung memecah suasana yang semula tegang menjadi riuh berisik. Sorak-sorai, gumaman tidak percaya, dan kepanikan mulai merebak di antara para peserta. Namun, Jenderal Mo belum selesai. Ia mengangkat tangannya, menuntut ketenangan sebelum kembali bersuara.

"Tak hanya itu, Kaisar juga telah menyiapkan hadiah yang luar biasa bagi siapapun pemenangnya, yang nilainya akan disesuaikan secara langsung dengan tingkat hewan roh yang nantinya berhasil kalian taklukkan!" lanjut Jenderal Mo, menyalakan api ambisi di mata para kultivator elemen yang hadir.

"Karena itu, pilihlah satu orang yang menurut kalian paling cocok, paling kuat, dan paling bisa dipercaya untuk menjadi partner kalian... waktu kalian untuk menentukan pilihan hanyalah selama 5 menit dari sekarang!" tutup Jenderal Mo dengan tegas.

Seketika itu juga, suasana lapangan luas tersebut benar-benar pecah dan menjadi kacau balau. Jelas sekali mereka semua terkejut dan hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar dari mulut sang Jenderal.

1
Cty Badria
up lg ni hadiah /Rose/
Mydar Diamond
lanjuutt upnya mungkin calon suami masa depan telah di temukan🤔
Dewiendahsetiowati
apakah ini calon imam Lin Jia
Hendri Wirawan
bagus....lanjutkan
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Anonim
ceritanya bagus, masih awal tapi menarik buat dibaca. lanjut semangat yaaa/Determined//Rose/
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. semangat✍️👈😍☺
Ardella Ardellaarcell
lanjut
Dania
semangat tor di tunggu upnya
Ardella Ardellaarcell
lanjut kak bgus crita'y😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!