NovelToon NovelToon
Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Putra

"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 034: Pengakuan Raka dan Rantai Pembunuhan

Saat Raka Mahendra dibawa kembali, ia tidak lagi terlihat seperti pekerja harian di foto daftar kru.

Tidak ada lagi topi hitam yang membuatnya terlihat santai. Rambutnya lepek oleh keringat. Wajahnya penuh debu. Bibirnya pecah. Kedua matanya merah karena kurang tidur dan terlalu banyak takut.

Bambang membawanya masuk lewat pintu belakang Polres setempat.

"Kami pakai rute memutar," kata Bambang. "Tidak ada yang mengikuti sejauh saya lihat."

Adira mengangguk. "Masukkan ruang pemeriksaan dua. Dokter Arka ikut observasi."

Raka duduk di kursi dengan tangan gemetar. Borgolnya dipasang di depan agar pemeriksaan tetap manusiawi. Di meja ada air mineral, tisu, dan formulir hak tersangka. Statusnya belum dibuat kabur: ia diduga terlibat dalam tindak pidana, tetapi juga korban ancaman.

Adira membaca haknya dengan suara jelas.

"Kamu berhak didampingi penasihat hukum. Kamu berhak memberikan keterangan tanpa tekanan. Semua yang kamu katakan akan dicatat dalam BAP. Kamu paham?"

Raka mengangguk cepat.

"Jawab dengan suara."

"Paham, Bu."

"Kamu mau didampingi pengacara sekarang?"

Raka menatap Bambang, lalu Arka, lalu Adira. "Saya mau cerita dulu. Saya takut kalau nunggu, orang itu tahu saya di sini."

Adira tidak langsung memulai. Ia memastikan pernyataan itu dicatat.

Arka berdiri di sisi ruangan, tidak duduk terlalu dekat. Ia melihat pergelangan kiri Raka. Sayatan itu dangkal, rapi, melintang. Luka itu tidak cocok dengan luka kerja atau goresan batu. Sayatannya dibuat untuk memberi pesan.

Sistem menyala tipis.

[Luka: Sayatan Tajam Dangkal]

[Usia Luka: 48-72 Jam]

[Karakter: Intimidasi / Kontrol]

Arka tidak mengucapkannya.

Ia hanya menulis: foto luka, ukuran, arah, kedalaman visual, perlu pemeriksaan medis ringan.

Adira membuka pertanyaan.

"Nama lengkap."

"Raka Mahendra."

"Di tambang kamu memakai nama Raka?"

"Iya, Bu. Saya takut dicari."

"Siapa yang menyuruh kamu masuk ke produksi Rusa Kecil?"

Raka menelan ludah. "Mbak Mawar."

Nama itu jatuh tanpa jeda.

Bambang menatapnya tajam. "Langsung?"

"Awalnya bukan langsung. Ada orang vendor yang bilang ada kerja harian di produksi. Setelah saya masuk, Mbak Mawar panggil saya lewat asisten. Katanya ada kerja tambahan."

"Kerja apa?" tanya Adira.

Raka menangis sebelum menjawab.

"Katanya bikin alatnya rusak sedikit. Biar Rusa Kecil jatuh, tapi tidak mati. Cuma cedera. Katanya produksi butuh... butuh drama, Bu. Katanya kalau dia patah kaki, jadwal berubah, kontrak iklan tertentu bisa dialihkan. Saya bodoh. Saya percaya."

Bambang menahan napas marah.

Adira tetap datar. "Berapa bayaran?"

"Tujuh puluh lima juta."

"Dibayar kapan?"

"Enam hari sebelum kejadian. Masuk rekening. Saya disuruh tarik sebagian tunai, sisanya jangan dipakai dulu."

"Siapa yang mengajari cara merusak pengait?"

Raka menunduk. "Mbak Mawar kasih gambar."

Adira memberi isyarat ke Bambang.

Bambang mengambil map bukti tambahan. Dari sepatu Raka di tambang, selain kertas ancaman, polisi juga menemukan plastik kecil berisi lipatan kertas lain yang disembunyikan di bawah sol dalam.

Kertas itu dibuka di depan kamera.

Ada sketsa pengait keamanan.

Garis-garisnya sederhana tetapi tepat.

Di sisi dalam pengunci ada tanda merah kecil dan tulisan tangan.

Jangan putus total. Kurangi ketebalan maksimal 40%. Biar beban adegan yang menyelesaikan.

Arka menatap tulisan itu.

Kalimat itu terlalu rapi untuk orang panik.

Itu bahasa orang yang paham cara membuat kerusakan terlihat seperti kegagalan alat.

"Siapa yang menulis ini?" tanya Adira.

"Saya tidak tahu. Dikasih Mbak Mawar. Dia bilang dari orang teknis."

"Mawar memberi alat?"

"Iya. Kikir segitiga kecil. Gagang hitam. Sarung tangan lateks. Dia bilang jangan pakai alat produksi."

"Kapan kamu mengikis pengait?"

"Malam sebelum kejadian saya mulai. Tapi belum berani banyak. Lalu pagi hari, waktu alat disiapkan, saya pura-pura bantu bersihkan meja kontrol. Saya lanjut sedikit. Setelah makan siang, Ratna datang ke belakang. Dia marah karena katanya belum cukup."

Adira menatap Arka.

Ratna dua puluh lima menit.

Lubang itu mulai terisi.

Raka melanjutkan, "Ratna bilang, kalau cuma lecet, semua gagal. Dia bilang Kirana selalu dapat kontrak duluan, selalu dipilih duluan. Dia bilang saya sudah dibayar, jangan pengecut."

"Ratna menyentuh pengait?"

"Tidak lama. Dia pegang sebentar waktu saya tunjukkan bagian yang sudah saya kikir. Dia pakai tisu. Saya takut. Saya bilang sudah cukup. Dia bilang belum."

"Lalu?"

"Saya kikir lagi. Tidak banyak. Saya kira cuma bikin lemah. Saya tidak tahu beban saat adegan sebesar itu. Saya tidak tahu dia bisa mati."

Bambang memukul meja sekali dengan telapak tangan.

Raka tersentak.

Adira menatap Bambang.

Bambang menarik napas. "Maaf, Bu."

Adira kembali ke Raka. "Setelah kejadian?"

"Semua panik. Saya mau pergi. Mawar kirim pesan: jangan pulang ke kos, tunggu di parkiran belakang. Saya tunggu. Saya pikir dia mau kasih instruksi. Tapi yang datang bukan Mawar."

"Siapa?"

"Laki-laki. Tinggi. Pakai masker hitam, jaket abu-abu, sarung tangan. Suaranya pelan. Dia tahu nama saya. Dia tahu rekening saya. Dia tahu alamat ibu saya di Lamongan."

Raka mulai gemetar lagi.

"Dia minta kikir, sarung tangan, dan gambar. Saya bilang kikir ada di tas. Dia ambil semuanya. Lalu kasih amplop tiga puluh juta dan kertas ancaman."

"Dia melukai tanganmu?"

Raka mengangguk.

"Dia pakai cutter kecil. Dia bilang ini supaya saya ingat garis. Katanya, kalau saya bicara, garis berikutnya bukan di tangan."

Arka merasakan rahangnya mengeras.

Orang itu bekerja lebih jauh dari kurir.

Ia menghapus alat, memberi uang, memberi ancaman, dan menanam rasa takut dengan luka yang tidak cukup berat untuk masuk rumah sakit.

Itu pekerjaan rapi.

Adira bertanya, "Mawar tahu orang itu?"

"Saya tidak tahu. Tapi dia datang setelah Mawar suruh saya tunggu. Jadi... mungkin tahu."

"Ratna tahu?"

"Saya tidak tahu. Ratna cuma tahu saya dibayar. Dia bilang Mawar yang atur semuanya."

Bambang menunjukkan foto Mawar, Ratna, Rafi, Bagus, Seno, dan beberapa kru lain. Raka mengenali Mawar dan Ratna. Ia tidak mengenali pria bermasker dari foto kru.

"Bukan orang produksi," katanya. "Saya yakin. Cara dia bicara... beda. Dia tidak panik sama sekali."

Pemeriksaan berlangsung hampir tiga jam. Setiap pengakuan dipatahkan menjadi pertanyaan kecil: siapa, kapan, di mana, bagaimana, lewat apa, disaksikan siapa, bukti apa yang masih ada.

Adira tidak membiarkan Raka hanya menangis.

Menangis bukan bukti.

Tetapi air mata kadang membuka pintu menuju bukti.

Dari ponsel cadangan yang ia sembunyikan di tambang, ditemukan satu chat terhapus sebagian. Kevin belum bisa memulihkan isinya penuh, tetapi metadata menunjukkan komunikasi dengan nomor prabayar yang aktif hanya empat hari.

Waktu panggilan cocok dengan malam sebelum kejadian dan satu jam setelah kejadian.

Nomor itu tidak atas nama Mawar.

Tetapi lokasi aktivasi pertama dekat kantor manajemen Mawar.

Cukup untuk dikejar.

Saat pemeriksaan jeda, Raka menatap Arka.

"Dok, saya pembunuh?"

Ruangan diam.

Adira tidak menjawab. Bambang juga tidak.

Arka menatap pemuda itu.

"Saya dokter forensik. Saya tidak menentukan pasalmu. Tapi saya bisa bilang satu hal: kalau kamu tahu alat itu dibuat lemah dan kamu tetap melakukannya, ada nyawa yang hilang karena tindakanmu. Sekarang satu-satunya hal yang bisa kamu lakukan adalah berhenti menjadi alat. Bicara lengkap. Beri bukti. Jangan tambah kebohongan."

Raka menangis tanpa suara.

"Saya mau hidup, Dok."

"Kalau begitu bantu korban yang tidak bisa bicara."

Adira memberi waktu lima menit. Setelah itu BAP dilanjutkan.

Menjelang malam, rantai awal tertulis di papan.

Ratna Sari: motif iri, tekanan karier, mendorong agar kerusakan cukup parah.

Mawar Anggraini: menyediakan uang Rp 75.000.000, gambar pengait, alat kikir, pengarahan saksi, serangan media.

Raka Mahendra: pelaksana pengikisan, dibayar, kemudian diancam.

Pria bermasker: mengambil kikir, sarung tangan, gambar, memberi Rp 30.000.000, membuat luka ancaman, menghilangkan jejak.

Bambang membaca papan itu pelan. "Kita dapat rantainya. Tapi ujung paling bersih belum punya nama."

Adira menambahkan satu kotak kosong di bawah pria bermasker.

Tidak dikenal.

Arka menatap kotak itu.

Sistem muncul.

[Progres Misi: 53%]

[Rantai Kejahatan Awal Terbentuk]

[Pelaksana: Teridentifikasi]

[Pengendali Lapangan: Mawar Anggraini]

[Motif Internal: Ratna Sari]

[Entitas Tambahan: Pembersih Jejak Profesional]

[Status: Identitas Tidak Diketahui]

Pembersih jejak profesional.

Arka membaca kata itu dua kali.

Rungkut punya pembunuh yang menyembunyikan korban di cold storage.

Kasus ini punya orang yang membersihkan alat sebelum polisi tahu alat itu penting.

Levelnya berbeda.

Raka dibawa ke ruang tahanan sementara dengan pengamanan terpisah. Ia masih gemetar. Tetapi setidaknya ia hidup, dan kata-katanya sudah menjadi BAP awal.

Adira menutup map.

"Besok kita tunggu hasil VMD. Kalau sidik atau DNA dari pengait mengarah ke Mawar, kita tidak perlu mengejar opini publik lagi. Kita tangkap."

Bambang mengangguk. "Dan pria bermasker?"

"Kita cari setelah dua orang pertama tidak bisa lagi menghapus jejak."

Arka menatap papan.

Di sana ada nama korban, nama pelaksana, nama penyusun rencana, dan satu kotak kosong.

Kotak kosong itu tidak diam.

Ia seperti lubang di tengah berkas.

Seseorang telah datang setelah kejahatan selesai, mengambil kikir, mengambil sarung tangan, mengambil gambar, lalu meninggalkan Raka hidup hanya karena hidupnya lebih berguna sebagai orang yang takut.

Arka tahu satu hal.

Kasus Rusa Kecil sudah melewati perkara artis jatuh dari ketinggian.

Ini adalah perkenalan pertama dengan orang yang pekerjaannya membuat kebenaran terlihat tidak pernah ada.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!