Gagal total merantau di kota, Arga terpaksa pulang kampung dengan dompet kosong dan niat setengah hati untuk bertani di lahan tua peninggalan kakeknya. Namun, nasib sialnya mendadak berbalik 180 derajat ketika sebuah layar biru hologram muncul di pagi buta, mengaktifkan "Sistem Check-in Harian" yang terus memberinya hadiah gila-gilaan setiap hari, mulai dari saldo puluhan juta rupiah, benih super ajaib, hingga barang-barang mustahil lainnya. Kini, dengan cangkul di tangan dan sistem overpower di sisinya, Arga bersiap menampar mulut julid para tetangga, menendang tengkulak serakah, dan membangun kerajaan bisnis pertaniannya sendiri untuk menjadi petani paling sultan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Bu Tejo menepuk bahu Pak RT dengan heboh seolah baru saja memenangkan lotre.
"Kamu yang sabar ya Ga, makanya kalau kerja di kota itu jangan malas-malasan biar gak dipecat."
Pak RT ikut menimpali sambil menghembuskan asap rokoknya ke udara.
"Iya Pak RT, terima kasih nasihatnya yang sangat tidak saya minta itu."
Arga memutar bola matanya malas dan kembali melanjutkan makannya dengan cuek.
"Loh anak ini dikasih tahu malah ngeyel, kamu itu harusnya malu pulang kampung jadi pengangguran."
Bu Tejo melotot tidak terima melihat reaksi Arga yang terlalu santai.
"Daripada ibu repot mengurusi nasib saya mending ibu bayar hutang panci di koperasi desa."
Uhuk uhuk.
Pak RT sampai tersedak asap rokoknya sendiri mendengar balasan Arga.
Wajah Bu Tejo langsung merah padam karena malu rahasianya dibongkar di tempat umum.
"Kamu ini anak muda mulutnya lancang sekali ya."
"Saya cuma bicara fakta Bu, lagian saya di sini mau makan bukan mau dengar ceramah pagi."
Arga menghabiskan suapan terakhirnya lalu mencuci tangan di mangkok kobokan.
"Berapa semuanya Uda?" Arga berdiri dan berjalan mendekati etalase kaca.
"Totalnya empat puluh lima ribu Ga."
Arga membuka dompetnya sengaja memperlihatkan tumpukan uang merah yang tebal di dalamnya.
Sring.
Mata Bu Tejo dan Pak RT langsung terbelalak lebar melihat isi dompet Arga.
"Ini uang seratus ribu Da, kembaliannya ambil saja buat ongkos cuci piring."
Arga menaruh uang itu di atas etalase lalu berjalan keluar meninggalkan mereka yang masih melongo.
"Duit dari mana anak itu kok tebal banget dompetnya?" Bu Tejo berbisik keras ke arah Pak RT.
"Jangan-jangan dia ikut pesugihan babi ngepet di kota." Pak RT menjawab ngawur dengan mata melotot.
Arga yang mendengarnya dari luar warung hanya tersenyum sinis dan menggelengkan kepala.
"Tunggu saja sampai ladangku panen, kalian pasti akan menangis darah melihat kesuksesanku."
Arga kembali menaiki sepedanya dan mengayuh menuju toko bangunan dan alat pertanian di ujung jalan.
Toko Pak Kumis adalah toko paling lengkap di desa ini dan harganya cukup masuk akal.
Kring kring.
Arga membunyikan bel sepedanya saat memasuki pelataran toko.
"Pak Kumis, saya mau beli cangkul baru satu, arit satu, sama slang air panjangnya dua puluh meter."
Pak Kumis yang sedang minum kopi di teras langsung berdiri dengan semangat.
"Siap laksanakan Bos Arga, tumben beli alat tani mau alih profesi jadi petani ya?"
"Iya Pak, meneruskan lahan kakek di belakang rumah biar tidak jadi sarang nyamuk."
"Bagus itu daripada luntang-lantung di kota tidak jelas rimbanya."
Arga tidak peduli dengan komentar Pak Kumis karena dia sibuk memilih alat yang paling bagus.
Dia mengambil cangkul berbahan baja yang mengkilap dan arit yang sangat tajam.
"Sekalian pupuk kandang tiga karung ya Pak, tolong diantarkan ke rumah Mbah Darmo nanti siang."
"Beres Ga, total belanjamu semuanya tiga ratus dua puluh ribu rupiah."
Arga mengeluarkan empat lembar uang seratus ribuan dari dompetnya dan menyerahkannya.
"Kembaliannya buat ongkos antar pupuk kandangnya ya Pak."
"Wah mantap ini, siap meluncur nanti jam dua belas siang Ga."
Arga mengikat cangkul dan arit barunya di boncengan sepeda belakang.
Sedangkan slang airnya dia kalungkan di lehernya seperti ular piton hijau yang besar.
"Meskipun terlihat aneh yang penting alat perangku sudah lengkap semua."
Dia mengayuh sepedanya kembali menuju rumah dengan perut kenyang dan hati yang jauh lebih tenang.
Matahari mulai naik semakin tinggi menyengat kulit Arga yang tidak memakai jaket.
Sekitar dua puluh menit kemudian dia akhirnya sampai di pekarangan rumahnya yang sepi.
Kriet kriet.
Arga menyandarkan sepedanya di dinding kayu teras depan.
Dia langsung berjalan ke halaman belakang membawa slang air barunya.
Dia ingin memasang slang itu ke pompa air agar nanti sore tidak perlu menimba sumur lagi.
Langkahnya terhenti tepat di depan sepuluh petak tanah yang baru ditanaminya beberapa jam lalu.
Mata Arga terbelalak lebar seakan mau keluar dari rongganya.
Bruk.
Cangkul baru yang dipegangnya terlepas dan jatuh menimpa tanah.
"Aduh gila, tapi... tapi ini tidak mungkin terjadi secepat ini kan?"
Dia mengucek matanya dengan kasar lalu berjalan mendekat ke arah lubang tanam.
Dari dalam tanah gembur berwarna cokelat itu muncul tunas-tunas kecil berwarna hijau muda.
Tunas itu tidak hanya sekadar muncul tapi sudah memiliki dua helai daun yang memancarkan pendar kebiruan.
Tinggi tunasnya sudah mencapai tiga sentimeter padahal dia baru menanamnya kurang dari empat jam yang lalu.
"Pertumbuhan gila macam apa ini, ini mah namanya bukan tomat tapi monster sayuran."
Arga berlutut di tanah dan menyentuh pelan daun kecil yang terasa sangat lembut itu.
Wush.
Sebuah layar biru transparan tiba-tiba muncul lagi di depannya mengagetkan Arga.
[Peringatan! Benih Tomat Kristal Mutasi mendeteksi kekurangan nutrisi tanah.]
[Kecepatan pertumbuhan akan menurun drastis jika Host tidak segera memberikan pupuk kualitas menengah.]
Arga mengerutkan keningnya membaca peringatan berwarna merah dari sistem tersebut.
"Kekurangan nutrisi? Astaga, lahan kakek ini kan memang sudah tandus bertahun-tahun."
"Pupuk kandang dari Pak Kumis saja pasti tidak akan cukup untuk tomat mutasi ini."
[Sistem menyediakan Pupuk Cair Penumbuh Ajaib di Toko Sistem.]
[Apakah Host ingin membuka fitur Toko Sistem sekarang?]
Arga menelan ludah dengan susah payah melihat tulisan baru yang muncul itu.
Dia belum paham apa saja isi dari Toko Sistem ini dan berapa harga yang harus dibayarnya.
"Fitur baru lagi? Jangan bilang kalau harganya mahal-mahal semua dan akan menguras habis saldo suciku."