NovelToon NovelToon
Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Popularitas:6
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Arga Bayu Pratama, mantan prajurit Kopassus, terbangun di kamar kosnya yang sempit.
Tanggal di ponselnya: 10 November 2040 — dua hari sebelum kiamat.
Di kehidupan sebelumnya, ia bertahan selama enam tahun di dunia yang hancur. Ia menyaksikan hujan api menghujani kota, zombie berkeliaran di jalanan, dan manusia saling membunuh demi segenggam beras. Ia mati sendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa.
Tapi sekarang ia kembali. Dengan seluruh ingatan masa depan di kepalanya. Dan satu kekuatan baru yang membuatnya bisa mendengar pikiran setiap orang di sekitarnya.
"Kali ini, aku tidak akan menjadi yang paling lemah."
Sambil membeli puluhan karung beras, air mineral, dan gas elpiji sebelum dunia runtuh, Arga mulai menyusun rencana: membangun tim terkuat, menguasai kota, dan mencari tahu siapa — atau apa — yang sebenarnya menyebabkan kiamat ini.
Karena kiamat bukan kebetulan. Seseorang sedang menonton dari atas sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 007 - Ujian Pertama Kiara

"Pelajaran kedua datang lebih cepat dari yang kuperkirakan."

Arga mengejar tanpa terburu-buru.

Dengan tubuh tiga kali lebih kuat dari manusia biasa, langkah Kiara yang panik tidak sulit disusul. Tapi ia tidak langsung menghentikannya. Beberapa pelajaran tidak bisa ditanam dengan kata-kata. Harus ada sesuatu yang menghantam mata.

Asrama mahasiswi UNDIP berdiri di sisi kampus yang lebih rendah. Halamannya penuh lumpur, pecahan kaca, dan motor-motor hangus yang tumbang saling tindih. Pintu utama terbuka setengah, seperti mulut yang dipaksa menganga.

"Ratna!" Kiara berteriak.

Arga langsung mengerutkan mata. "Jangan berteriak."

Terlambat.

Dari balik pintu asrama, sesuatu bergerak.

Seorang perempuan keluar dengan langkah patah-patah. Rambutnya basah oleh kotoran hitam. Kulitnya pucat keabu-abuan. Seragam tidur yang menempel di tubuhnya sobek di beberapa bagian. Matanya kosong, tapi kepalanya miring ke arah suara Kiara seolah masih mengenali nama itu.

Kiara berhenti seperti ditabrak dinding.

"Ratna..."

Mulut Ratna terbuka.

Bukan jawaban yang keluar.

Geraman rendah.

Zombie itu menyeret kaki, lalu maju.

Kiara menggeleng pelan. "Tidak. Tidak mungkin. Ratna, ini aku. Kiara."

Zombie Ratna bergerak lebih cepat saat mendengar suara itu. Tangannya terulur. Kukunya hitam. Di sela giginya ada bekas darah kering.

Arga berdiri di belakang Kiara.

"Bunuh dia."

Kiara menoleh dengan wajah hancur. "Apa?"

"Bunuh dia."

"Dia Ratna!" Suara Kiara pecah. "Dia teman sekamarku. Dia yang membagi makanan denganku waktu banjir. Dia yang menahanku supaya tidak turun ke lantai bawah saat orang-orang panik."

"Dia sudah mati."

"Belum! Dia masih bergerak!"

"Yang bergerak itu tubuhnya." Arga menunjuk Zombie Ratna dengan Pedang Hi-Tech. "Yang mengenalmu sudah hilang."

Kiara menggenggam pisau dapur cadangan, tapi tangannya gemetar parah. Zombie Ratna semakin dekat. Jaraknya tinggal enam meter.

"Aku tidak bisa," bisik Kiara.

"Kalau kamu tidak bisa, dia akan menggigitmu."

"Aku tidak bisa!"

Arga menatapnya beberapa detik, lalu berbalik.

Kiara membeku. "Kamu mau ke mana?"

"Pergi."

Wajahnya berubah pucat. "Jangan tinggalkan aku!"

"Aku tidak membawa orang yang tidak bisa memilih hidupnya sendiri."

Zombie Ratna menerjang.

Kiara menjerit dan jatuh mundur. Tangannya terangkat refleks, menahan bahu Ratna yang menekan ke arahnya. Bau busuk menyergap wajahnya. Gigi Ratna menggigit udara hanya sejengkal dari pipi Kiara.

"Arga!"

Arga tidak bergerak.

Ia bisa membunuh Zombie itu dalam satu tebasan.

Tapi kalau ia melakukannya sekarang, Kiara akan tetap menjadi gadis yang menunggu orang lain menyelamatkannya. Ratu Bayangan tidak lahir dari belas kasihan.

"Tangannya," kata Arga datar. "Tekan pergelangan kirinya. Putar pinggul. Pisau ke kepala."

"Dia Ratna!"

"Dia Zombie."

Ratna menggeram, kuku mencakar lengan Kiara. Darah tipis muncul, untung tidak robek dalam. Kiara menangis, napasnya tersendat. Dalam kepalanya, Telepati menangkap badai yang kacau.

Maaf. Ratna, maaf. Jangan paksa aku. Aku tidak mau mati. Aku tidak mau mati. Aku tidak mau mati.

Tiba-tiba mata Kiara berubah.

Bukan menjadi dingin.

Belum.

Tapi di antara air mata, ada keputusan.

Ia menekan pergelangan kiri Ratna seperti instruksi Arga, memiringkan tubuh, lalu menusukkan pisau ke samping kepala. Tusukan pertama tertahan tulang. Ratna makin liar.

"Lebih dalam," kata Arga.

Kiara menjerit untuk memaksa seluruh tubuhnya bergerak. Ia menarik pisau, lalu menghunjamkannya ke rongga mata Ratna.

Kali ini masuk.

Tubuh Ratna berhenti.

Beratnya jatuh menimpa Kiara.

Kiara mendorongnya menjauh, lalu merangkak mundur. Pisau lepas dari tangannya. Ia memeluk lutut, tubuhnya gemetar hebat. Tangisnya keluar tanpa suara selama beberapa detik, lalu pecah menjadi isakan yang kasar.

"Ratna... maaf... maaf..."

Arga berjalan mendekat. Ia mengambil pisau dari tanah, membersihkannya, lalu meletakkannya di samping Kiara.

"Ambil."

Kiara menatapnya dengan mata merah. "Kamu kejam."

"Ya."

Jawaban itu terlalu tenang hingga Kiara kehilangan kata-kata.

Arga berjongkok, tidak terlalu dekat. "Tapi kamu hidup."

Kiara menunduk. Air mata jatuh ke lumpur.

"Aku membunuh temanku."

"Tidak. Kamu menghentikan tubuhnya sebelum tubuh itu membunuhmu." Arga menunjuk mayat Ratna. "Ingat rasanya. Jangan cari alasan untuk menikmatinya. Jangan juga bohong bahwa kamu tidak akan melakukannya lagi. Di dunia ini, kamu akan melakukannya lagi."

Kiara menggenggam pisau. Kali ini ia tidak menjatuhkannya.

Arga melihat itu.

Nilainya naik.

Ia mengulurkan tangan, menyentuh bahu Kiara sebentar. Tidak lembut, tapi cukup kuat untuk menariknya kembali ke kenyataan.

"Tangis selesai, berdiri."

Kiara mengangkat wajah.

"Ini akhir zaman. Kalau kamu mau hidup, ini baru langkah pertama."

Ia terdiam lama. Lalu, dengan kaki gemetar, Kiara berdiri.

Di saat yang sama, suara pintu terbuka terdengar dari gedung asrama.

Beberapa mahasiswi keluar dari lantai dasar dan tangga samping. Jumlah mereka lebih dari sepuluh orang. Wajah mereka kuyu, pakaian kotor, sebagian memegang tas kecil, sebagian hanya memegang botol kosong. Mereka menatap Arga, Pedang Hi-Tech di tangannya, dan mayat Zombie di tanah.

Bisikan langsung menyebar.

"Dia membunuhnya..."

"Dia punya senjata..."

"Tadi aku lihat dia kasih Kiara makanan."

"Kiara kenal dia?"

Seorang gadis dengan rambut panjang yang masih berusaha dirapikan melangkah paling depan. Meski wajahnya pucat, ia sengaja menarik jaketnya sedikit turun di bahu, menampilkan kesan rapuh yang terlatih.

Rina.

Arga mengenali nama itu dari gumaman beberapa mahasiswi.

"Bang," kata Rina dengan suara lembut. "Tolong bawa kami juga. Kami tidak punya siapa-siapa. Kalau Bang mau, aku bisa bantu apa saja."

Kiara masih berdiri di samping Arga, wajahnya basah oleh air mata dan lumpur.

Rina meliriknya sekilas.

Dalam kepalanya, suaranya berbeda total dari bibirnya.

Kiara beruntung sekali. Baru juga kiamat sudah dapat pria kuat. Kalau aku bisa ambil perhatian pria ini, Kiara tidak ada apa-apanya. Dia cuma gadis sok suci yang baru membunuh temannya sendiri.

Tatapan Arga menjadi dingin.

Rina melangkah lebih dekat, pura-pura lemah. "Aku bisa nurut, Bang. Aku tidak akan merepotkan seperti dia."

Beberapa mahasiswi ikut memohon.

"Bawa kami, Bang."

"Kami bisa masak."

"Kami bisa bersih-bersih."

"Kami cuma butuh air."

Arga mengangkat Pedang Hi-Tech sedikit.

Semua suara berhenti.

Bilah hitam itu masih basah oleh darah Zombie. Cahaya pagi memantul di sisinya, dingin dan tidak memberi ruang untuk salah paham.

"Aku bukan membuka panti evakuasi," kata Arga.

Wajah Rina menegang.

"Tapi Bang bawa Kiara."

"Dia lulus ujian."

"Ujian apa? Membunuh teman sendiri?"

Kiara gemetar. Kata-kata itu mengenai luka yang masih terbuka.

Arga maju satu langkah.

Tekanan dari tubuhnya yang sudah diperkuat tiga kali lipat membuat Rina otomatis mundur. Arga bahkan tidak perlu menaikkan suara.

"Dengar baik-baik," kata Arga. "Kalian boleh tetap hidup dengan cara kalian sendiri. Cari air, cari makanan, cari tempat aman. Tapi jangan berpikir kalian punya hak atas barangku, senjataku, atau orang yang sudah memilih mengikutiku."

Rina memaksakan senyum. "Bang salah paham. Aku cuma..."

"Aku tahu apa yang kamu pikirkan."

Senyum Rina hilang.

Arga menatapnya seolah melihat bagian terdalam yang ia sembunyikan.

"Kamu tidak ingin diselamatkan. Kamu ingin menempel pada yang paling kuat, lalu menyingkirkan siapa pun yang menghalangi. Itu bukan dosa besar di akhir zaman. Banyak orang akan melakukan hal yang sama. Masalahnya, kamu terlalu lemah untuk melakukannya di depanku."

Wajah Rina memerah, lalu pucat.

Para mahasiswi lain saling pandang. Beberapa menjauh darinya tanpa sadar.

Rina menggigit bibir. "Bang... itu tidak benar."

Arga tidak menjawab. Ia hanya mengayunkan pedang ke samping.

Satu Zombie yang tertarik oleh suara mereka baru keluar dari balik pagar tanaman.

Sret!

Kepalanya terpisah dari tubuh sebelum siapa pun sempat berteriak.

Mayat itu jatuh di dekat kaki Rina.

Rina langsung terduduk, seluruh tubuhnya gemetar.

"Kalau mau ikut aku," kata Arga kepada semua orang, "ambil senjata, bunuh Zombie, kumpulkan Kristal, dan buktikan nilaimu. Kalau hanya bisa menangis dan menghitung cara memanfaatkan orang lain, menjauhlah."

Tidak ada yang bergerak.

Arga tidak terkejut.

Ia menoleh ke Kiara. "Ambil Kristal dari Ratna."

Wajah Kiara kembali pucat.

"Aku..."

"Lakukan."

Kiara menatap tubuh Ratna. Air matanya belum kering. Namun setelah beberapa detik, ia berlutut, mengikuti cara yang Arga ajarkan, dan mengambil Kristal kecil dari bagian belakang kepala Ratna dengan tangan gemetar.

Saat ia berdiri, sesuatu dalam posturnya berubah.

Masih rapuh.

Tapi tidak lagi kosong.

Arga menerima Kristal itu, lalu memasukkannya bersama yang lain. Setelah membersihkan area sekitar, ia sengaja membunuh beberapa Zombie yang tertarik oleh kerumunan, cepat dan rapi. Kiara ikut satu kali, menusuk Zombie yang sudah ia jatuhkan.

Jumlah Kristal akhirnya mencapai sepuluh.

Cukup.

Arga menatap sepuluh Kristal kebiruan di telapak tangannya. Di kehidupan sebelumnya, ia butuh tiga bulan untuk mengumpulkan jumlah ini. Tiga bulan penuh lapar, sembunyi, terluka, dan hampir mati lebih dari sekali.

Kali ini, hanya satu hari.

Kiara berdiri di sampingnya, wajah masih pucat, tapi matanya menatap Kristal itu dengan sesuatu yang baru.

Harapan.

Arga menutup genggamannya.

"Kita kembali ke hotel."

"Sekarang?" tanya Kiara.

"Sekarang. Malam ini, aku naik ke Tingkat 1."

Ia melihat ke arah Semarang yang hancur di kejauhan.

Enam kali kekuatan manusia biasa.

Itu baru awal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!