NovelToon NovelToon
KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Kirana Paramitha terbangun dari Peti Kaca Rembulan menghadapi Hukum Sumpah Sejiwa: wanita berusia dua puluh tahun wajib bersuami. Saat tunangannya kabur demi adik angkatnya, Kirana menjumpai Rangga Adinata, Panglima Kabut yang dilanda Krisis Api Darah. Dengan kidung dan ramuan ia menenangkannya, lalu bersumpah sejiwa. Tersembunyi sebagai penyanyi "Kinanti", Kirana membangun rumah tangga, melahirkan tiga anak bertalenta naga, dan bersama Rangga menyatukan ras-ras Cakrawala dalam Majelis Sejagat.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30 - TUAN TIDAK GEGABAH, ARSIP AGUNG YANG GEGABAH

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Kirana, dan begitu jatuh, ruangan yang tadinya hening menjadi semakin sunyi, seolah udara pun ikut menahan napas. Kedua tangannya meremas ujung seragamnya sendiri, dan ia menatap lurus ke arah pria di hadapannya — menunggu, setengah menyesal karena telah membuka pintu pembicaraan itu lebih dulu.

Rangga tidak langsung menjawab. Ia meletakkan gelas yang sedari tadi dipegangnya, menegakkan punggung, dan mengangkat wajah dengan tatapan yang perlahan berubah tajam. "Dari mana kau mendapat anggapan itu?" Suaranya rendah, tetapi setiap kata jatuh seperti batu ke permukaan air yang tenang.

Kirana mengerjap, tercengang oleh arah pembicaraan yang sama sekali tidak ia duga. "Bukankah... bukankah Tuan datang menemui aku untuk membicarakan perceraian?" jawabnya pelan, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tidak karuan.

Rangga menggeleng pelan. "Tidak. Aku tidak berniat bercerai."

Kirana terdiam.

Pedang di atas kepalanya yang selama ini ia khawatirkan akhirnya turun — tetapi meleset. Kirana malah semakin bingung, tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Rangga.

Guruh telah mengatur segalanya dengan rapi: dua gelas air putih diantar, satu diletakkan di dekat tangan Kirana, dan satu lagi di dekat tangan Rangga.

Sambil mengawasi majikannya, Guruh bergumam cemas, "Melihat Tuan berbicara sekaku itu dengan Nyonya, aku benar-benar khawatir!"

"Sungguh tepat peribahasa itu — Tuan tidak gegabah, tetapi Arsip Agung yang gegabah!"

Guruh terus mengedip-ngedipkan pancaran matanya ke arah Rangga, sampai akhirnya Rangga mengerutkan kening. "Aku tidak bilang aku mau air putih."

"Tuan..." Guruh nyaris kehabisan kata, "Ini namanya mengikuti pilihan sang istri! Kalau istri memilih air putih, Tuan semestinya ikut memilih air putih!"

Rangga: "..."

Kirana yang kebetulan sedang meneguk air mendengar kata-kata Guruh hampir saja menyemburkannya!

Ia buru-buru meminta maaf, mengambil tisu untuk membersihkan sudut bibirnya, lalu memutuskan untuk memperjelas semuanya.

"Panglima Rangga, apa maksud Tuan — pernikahan kita akan tetap berlanjut?"

Rangga meletakkan gelasnya, menyipitkan mata menatap Kirana, dan alisnya sedikit berkerut, tampak kurang berkenan.

Kirana: "..." Apakah ia salah berkata?

Rangga menatapnya lama sekali sebelum akhirnya berkata, "Kau tidak ingin melanjutkan?"

"Bukan begitu... maksudku..." Kirana menggeleng, kata-katanya tiba-tiba menjadi kusut. Ia merasa berbincang dengan bos sebesar ini sungguh melelahkan.

"Cepat bawa orang besar ini pergi dari hadapanku! Aku rindu sekali Rangga yang polos dan lembut itu!"

Tepat pada saat itu, Gelang Lentera di pergelangan tangan Rangga berbunyi. Guruh yang berada di dekatnya segera berkata, "Tuan, hampir tiba waktunya menghadap Baginda."

"Hmm." Rangga berdiri, mengambil topi militernya dan mengenakannya.

Kirana girang dalam hati. Rangga hendak ke istana menghadap Baginda — berarti pertemuan mereka berdua ini bisa segera berakhir?

Kalau pihak lain untuk sementara waktu tidak berniat bercerai, ya biarkan saja.

Lagipula, keduanya seperti dua garis sejajar yang sulit saling berpotongan. Selama ini mereka hampir tidak pernah bersinggungan, sehingga sebutan suami istri hanyalah nama di atas catatan belaka.

Ia tidak akan lagi didesak untuk menikah, dan masih bisa merasakan kebebasan hidup seorang diri — bukankah itu sempurna sekali!

"Kau mau ganti pakaian?" Rangga berjalan beberapa langkah, mendapati Kirana tidak mengikutinya, lalu menoleh. Ia melihat gadis itu masih berdiri di tempat dengan senyum ganjil di sudut bibirnya.

Kirana terkejut, "Kenapa harus ganti pakaian?"

"Sebenarnya kau bisa datang ke istana dengan pakaian ini juga."

Mata Kirana tiba-tiba menyipit. "Panglima Rangga, apa maksud Tuan — Tuan hendak membawaku ke istana?"

"Hmm, Baginda bilang belum pernah bertemu denganmu. Kebetulan aku hendak mengajaknya bertemu, sekalian memintanya memberimu sebuah amplop merah."

 

Sepuluh menit kemudian, Kirana sudah duduk di dalam kapal terbang pribadi Rangga dengan segelas sari buah di tangan. Sampai detik ini pun ia masih meragukan kehidupannya sendiri.

Kenapa, ke istana?

Ia menoleh ke arah pria yang duduk di sebelahnya.

Pria itu tampak sangat lelah sejak tadi; satu tangan bertumpu pelan di kening, kelopak matanya setengah terkatup, dan bayangan kecil jatuh di bawah bulu matanya yang panjang.

Sebagai panglima pertama Kekaisaran, tentu ia sangat sibuk dan letih.

Apalagi begitu matanya terpejam, aura ketajamannya seakan melemah, dan ia justru menyerupai Rangga yang polos itu.

Tetapi tepat saat itulah Rangga tiba-tiba membuka matanya. Kirana terkejut dan cepat-cepat mengangkat gelas untuk menutupi ulah mengintipnya.

Rangga mengerutkan kening, "Kau takut padaku?"

"Bukan takut... itu rasa hormat."

"Kalau begitu, ketika aku sedang dilanda Masa Api Darah, kau juga menghormatiku?"

Kirana menghentikan gerakan gelasnya, lalu bertanya dengan ragu, "Kau sama sekali tidak ingat apa pun tentang malam itu?"

"Aku hanya ingat, kaulah yang lebih dulu mengajakku menikah."

 

Melihat wajahnya yang memelas, hati Rangga melembut, tetapi ekspresi di wajahnya tetap dingin.

"Aku tidak bilang tidak," katanya.

Kirana sedikit pasrah, "Jadi, Panglima Rangga juga cukup puas dengan pernikahan ini, dan untuk sementara tidak berencana pergi?"

"Hmm."

Setelah memastikan pihak lain tidak berniat bercerai untuk saat ini, Kirana akhirnya mengerti bahwa begitu sampai di istana nanti, ia harus bekerja sama dengan Rangga.

Ia berkata, "Kalau begitu, kita lanjutkan saja pernikahan ini. Bagaimana kalau nanti di hadapan Baginda aku perlu bekerja sama dengan Tuan?"

"Katakan yang sejujurnya."

"Maksudku, karena aku khawatir dipaksa dijodohkan, aku menyeretmu — yang jatuh cinta pada pandangan pertama — untuk menikah denganku?" Begitu kalimat itu keluar, Kirana langsung menyesal.

Kalimat yang pertama benar, tetapi menyakitkan.

Kalimat yang kedua juga benar, tetapi tidak terdengar serius.

Benar saja, Rangga mengerutkan kening. "Katakan saja bagian yang kedua."

Kirana: "? ? ?"

Guruh yang berada di samping tidak tahan mendengar percakapan itu lagi!

Ia menjelaskan dengan sangat mesra, "Nyonya, nanti kau cukup bilang bahwa kau jatuh cinta pada pandangan pertama — tidak perlu menyebut yang lain-lain."

Kirana menatap profil dingin Rangga dan berpikir sejenak.

Kalau bicara hal yang lain, ia khawatir akan merusak wibawa keluarga kerajaan mereka.

Begitulah, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kirana melangkah masuk ke istana Kekaisaran Cakrawala dengan hati yang sangat gugup.

Berbeda dengan bangunan-bangunan lain di ibu kota, sebagian bangunan istana masih mempertahankan gaya arsitektur Kuna — tetapi itu hanya bagian luarnya. Begitu melangkah ke dalam, semua yang terlihat kembali seperti istana masa kini dengan ukiran megah dan ornamen yang rumit.

Beberapa orang berseragam militer berhenti untuk memberi hormat kepada Rangga. Kirana yang berjalan mengikuti di belakangnya akhirnya merasakan sendiri apa artinya berjalan di bawah naungan kuasa besar — setiap orang yang lewat memberi hormat, karena di sisinya berdiri sang Panglima Kabut.

Lanang dan Adrian yang baru saja keluar dari istana juga ikut memberi hormat kepada Rangga. Kirana samar-samar mengingat bahwa kedua orang ini pernah hadir di pernikahan mereka tempo hari.

Kirana membalas dengan anggukan ramah. Lanang berpikir sejenak, lalu memberi hormat kepadanya, "Selamat siang, Nyonya."

Adrian tersentak, lalu berseru lebih lantang lagi, "Selamat siang, Nyonya Panglima!"

Kirana belum terbiasa dengan sebutan itu; senyum di wajahnya sedikit canggung.

Saat itulah Rangga tiba-tiba mengulurkan lengan, melingkari pundaknya, dan berjalan masuk bersamanya.

"Jangan takut," bisiknya pelan.

Kirana ingin sekali berkata bahwa ia tidak takut, hanya terkejut.

Lagipula, kakimu begitu panjang — bisakah kau berjalan sedikit pelan? Aku dengan kaki pendekku tidak akan mampu mengikuti!

Tetapi kata-kata itu hanya bergumul di dalam hatinya. Untunglah setelah beberapa langkah, Rangga menyadari bahwa Kirana tampak kewalahan, lalu perlahan memperlambat langkahnya.

Tidak lama kemudian, mereka tiba di sebuah ruang tamu yang megah dan gemerlap. Di dalamnya ada sofa kulit merah tua, karpet bermotif indah, dan rak-rak yang dipenuhi porselen — barang yang hanya pernah Kirana lihat di Alam Kuna.

Ini barang yang sangat berharga!

Permaisuri telah duduk di sana dengan pakaian rapi, seakan sudah menunggu lama sekali.

Kirana pernah melihat permaisuri dalam tayangan siaran kerajaan. Bagaskara tampan dan anggun, sedangkan Permaisuri — seperti halnya saudarinya, Larasati — berambut ikal kemerahan.

Tetapi alis dan matanya jauh lebih lembut, dan temperamennya tampak jauh lebih baik daripada Larasati.

Begitu Kirana masuk bersama Rangga, Permaisuri langsung berdiri menyambut. Bagaskara melangkah cepat, dan matanya jatuh pada seragam taruna di tubuh Kirana.

"Ia dari Akademi Militer Kekaisaran?"

"Ya. Dan sebaiknya kau memanggilnya... Bibi." Kirana belum sempat mengatur napas; entah bagaimana, hari yang dimulai dengan kecemasan iTu kini berubah menjadi pintu menuju babak baru yang tidak pernah ia bayangkan.

-------------

Novel saya yang juga tidak kalah menarik:

https://noveltoon.mobi/id/share/6294192?app\_id\=2&utm\_source\=app\_share&utm\_campaign\=Share:2:6294192

1
falea sezi
ini kisah kayak saranjana kuno modern jd satu bner gak🤭
Kartika Candrabuwana: novel saya yang berjudul putri malam untuk panglima senja juga cukup menghibur
total 2 replies
Indriyati
novel sungguh bagus untuk pembaca wanita. penuh drama dan seru. semangat thor. kutunggu bab bab berikutnya
Kartika Candrabuwana: terima kasih atas votenya. supportnya sangat berarti bagi penulis
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Kartika Candrabuwana: makasih. sudah siap 3 bab per hari terjadwal. supportnya sungguh berarti🙏
total 1 replies
falea sezi
rangga ini aneh g bertanggung jawab bingung aq novel gendre apaan inj😒
Kartika Candrabuwana: agar ada permainan emosi disini. makasih banyak komennya😍
total 1 replies
falea sezi
q bingung ini kisah apa di bilang dr jaman masa depan tp kayak kuno bgt baju dan dll tp ada dokter ada hape ada pesawat atau di sebut kapal terbang 🤣🤣 ini jaman apa thor jelasin klo. kerajaan mahh meski jaman dlu aja rakyat bebas makan buah sayur kali ahh🤣
Kartika Candrabuwana: iya untuk zaman saya buat unik agar bawa nuansa baru. makasih banyak komennya👍
total 1 replies
falea sezi
ini cerita fantasi kahh🤣 kok aneh bgt ada dokter tp kisahnya kayak kuno
Kartika Candrabuwana: ini cerita fantasi, sengaja biar unik. makasih komennya.
total 1 replies
falea sezi
baru nemu
Kartika Candrabuwana: semoga bisa menghibur
total 1 replies
prameswari azka salsabil
sekali membaca novel ini, saya langsung penasaran untuk membaca terus sampai akhir. luar biasa novel ini
Kartika Candrabuwana: terima kasih banyak atas votenya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!