Di dunia di mana status ditentukan oleh kekuatan roh bela diri, Lin Xiao dianggap sebagai sampah tak berguna karena hanya memiliki roh berupa sebuah makam kuno yang hancur.
Dikhianati oleh klannya sendiri, dirundung habis-habisan oleh sepupunya, dan secara terbuka dihina oleh tunangannya yang sombong, Lin Xiao mencapai titik terendah.
Namun, di saat kematian mendekat, rahasia makam itu bangkit. Alih-alih sebuah sampah, makam itu ternyata adalah Makam Para Raja, gudang tersembunyi yang menyimpan sisa-sisa jiwa, ingatan, dan teknik tak terkalahkan dari ratusan kaisar dan raja bela diri kuno yang pernah mendominasi dunia.
Didorong oleh dendam membara, Lin Xiao berlatih secara diam-diam menggunakan warisan terlarang tersebut.
Dari pemuda yang diremehkan, dia tumbuh menjadi sosok dingin yang kejam terhadap musuh, siap menghadapi seluruh klan dan sekte demi melindungi ayahnya yang lemah, serta mendaki puncak kekuatan bela diri sebagai Pewaris Makam Para Raja yang sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Lin Xiao mengabaikan pujian itu dan terus mempertahankan aliran energinya hingga setengah jam berlalu.
Cahaya keemasan pada Inti Logam Bumi di tangannya mulai meredup, menandakan separuh energinya telah habis diserap.
Wush.
Lin Xiao perlahan menarik kedua tangannya dari punggung ayahnya dan menghembuskan napas panjang yang terasa sangat berat.
Pakaiannya basah kuyup oleh keringat akibat menguras tenaga mentalnya secara berlebihan.
"Selesai." ucap Lin Xiao dengan nada lega yang sangat dalam.
"Bagaimana perasaan Ayah sekarang?"
Lin Tianhai duduk diam tak bergerak selama beberapa detik, masih berusaha memproses apa yang baru saja terjadi pada tubuhnya.
Dia perlahan mengangkat kedua tangannya dan mengepalkan tinjunya erat-erat.
Tring.
Sebuah letupan energi spiritual tiba-tiba meledak dari tubuh Lin Tianhai, menciptakan gelombang angin yang menyapu seluruh ruangan.
Rambutnya yang sudah mulai memutih bergerak tertiup angin dari kekuatannya sendiri.
"Kultivasiku..." gumam Lin Tianhai dengan air mata yang langsung mengalir deras membasahi pipinya.
"Meskipun belum kembali ke masa puncaknya, tapi energi spiritualku bisa mengalir bebas tanpa hambatan lagi."
Pria yang sebelumnya hanya bisa terbaring tak berdaya itu kini melompat turun dari ranjangnya dan berdiri tegak dengan kokoh di atas lantai.
Postur tubuhnya kembali memancarkan wibawa seorang petarung sejati, bukan lagi pria pesakitan yang menyedihkan.
Lin Tianhai berbalik dan menatap Lin Xiao yang sedang tersenyum lelah di atas ranjang.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sang ayah melangkah maju dan memeluk putranya dengan sangat erat.
"Terima kasih, Xiao'er." isak Lin Tianhai menahan luapan emosi yang membakar dadanya.
"Kau tidak hanya menyelamatkan nyawa ayah, kau telah mengembalikan harga diri ayah sebagai seorang pria."
Lin Xiao membalas pelukan ayahnya dengan perasaan hangat yang jarang dia rasakan.
"Ini adalah tugasku sebagai anakmu, Ayah." balas Lin Xiao dengan lembut.
"Mulai hari ini, tidak ada satu pun orang di klan ini yang bisa meremehkan keluarga kita lagi." lanjut Lin Xiao dengan nada yang kembali berubah tegas dan tajam.
Lin Tianhai melepaskan pelukannya dan menatap wajah putranya dengan bangga sekaligus penasaran.
"Kekuatan yang kau miliki sekarang ini, sungguh di luar akal sehat manusia biasa."
"Penyembuhan tadi bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan oleh sembarang kultivator tingkat dasar." ucap Lin Tianhai mencoba mencari kebenaran.
"Apakah kau benar-benar bertemu dengan seorang guru ahli di luar sana?"
Lin Xiao terdiam sejenak, memikirkan kebohongan apa yang paling aman untuk menutupi keberadaan Makam Para Raja.
"Aku tidak bertemu dengan manusia, Ayah." jawab Lin Xiao setengah berbohong.
"Saat aku dipukuli oleh Lin Jian waktu itu, roh makamku menyerap darahku dan tiba-tiba membangkitkan ingatan kuno." jelas Lin Xiao menyusun karangannya.
"Ingatan itu berisi berbagai macam teknik medis dan bela diri yang telah lama hilang dari dunia ini."
Mata Lin Tianhai membelalak lebar mendengar penjelasan ajaib tersebut.
"Kebangkitan roh mutasi?" gumam Lin Tianhai mengaitkannya dengan legenda kuno.
"Surga sungguh memberikan kompensasi yang setimpal untuk semua penderitaanmu selama ini." ucap Lin Tianhai sepenuhnya percaya pada kebohongan putranya itu.
"Jika roh makammu memiliki ingatan leluhur, maka masa depanmu tidak akan terbatas hanya di Kota Jade River ini."
Lin Xiao mengangguk setuju, merasa lega karena ayahnya tidak bertanya lebih jauh lagi tentang rahasia terbesarnya.
"Untuk saat ini, tolong rahasiakan kesembuhan Ayah dari orang-orang klan." pinta Lin Xiao.
"Mengapa harus dirahasiakan?" tanya Lin Tianhai dengan kening berkerut tidak paham.
"Jika mereka tahu ayah sudah sembuh, Kepala Tetua tidak akan berani bertindak semena-mena lagi pada kita."
Lin Xiao tersenyum tipis, senyum yang mengingatkan Lin Tianhai pada serigala yang sedang mengincar mangsanya.
"Justru itu yang aku inginkan, Ayah." jawab Lin Xiao dengan dingin.
"Biarkan mereka berpikir bahwa kita masih lemah dan tidak berdaya." lanjut pemuda itu merencanakan sesuatu yang besar.
"Biarkan mereka menunjukkan sifat asli dan kelicikan mereka di depan semua orang."
"Saat mereka merasa sudah menang dan berada di atas angin, di situlah kita akan menghancurkan mereka dengan satu pukulan telak yang tidak bisa mereka sangkal." ucap Lin Xiao penuh perhitungan.
Lin Tianhai tertegun melihat aura kepemimpinan dan kekejaman yang terpancar dari mata putranya.
Dia menyadari bahwa Lin Xiao bukan lagi anak kecil yang perlu dia lindungi, melainkan seekor naga muda yang siap mengoyak langit.
"Ayah mengerti." ucap Lin Tianhai sambil menepuk pundak putranya dengan mantap.
"Ayah akan mengikuti semua rencanamu mulai sekarang."
"Bagus." jawab Lin Xiao sambil bangkit berdiri dari ranjang.
"Sekarang, aku harus pergi ke balai tugas klan untuk menyerahkan Rumput Tulang Besi ini dan menyelesaikan misiku secara resmi."
Tok tok.
Pintu kamar diketuk dengan pelan dari luar.
"Tuan Muda, apakah sudah selesai?" suara Paman Zhou terdengar penuh harap.
Kriet.
Lin Tianhai sendiri yang berjalan ke arah pintu dan membukanya dengan gerakan yang sangat gesit.
Paman Zhou yang berdiri di luar langsung membeku melihat tuannya berdiri tegak tanpa bantuan siapa pun.
"T-Tuan Besar?" gagap Paman Zhou tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.
"Anda... Anda bisa berjalan lagi?"
"Berkat usaha Xiao'er, aku bukan orang cacat lagi, Kakak Zhou." jawab Lin Tianhai sambil tertawa pelan dan menepuk lengan pelayan tua itu.
Air mata Paman Zhou langsung tumpah membasahi wajahnya yang keriput.
Pria tua itu bersujud di tanah sambil terus mengucapkan syukur kepada surga berulang-ulang kali.
"Bangunlah, Paman Zhou." ucap Lin Xiao sambil membantu pelayan itu berdiri.
"Masa-masa kelam kita sudah berakhir."
Lin Xiao kemudian mengambil sepuluh batang Rumput Tulang Besi dari atas meja dan menyimpannya kembali ke balik bajunya.
"Aku akan pergi ke balai tugas sekarang, tolong jaga Ayah selagi aku pergi."
"Hati-hati, Tuan Muda." pesan Paman Zhou sambil menyeka air matanya.
"Orang-orang dari faksi Kepala Tetua biasanya yang menjaga meja pendaftaran balai tugas."
"Mereka pasti akan berusaha mencari-cari kesalahan Tuan Muda meskipun Tuan Muda membawa hasil misinya." tambah Paman Zhou memperingatkan.
Lin Xiao mendengus pelan dan merapikan pakaiannya.
"Jika mereka hanya mengonggong, aku akan mengabaikannya." jawab Lin Xiao dengan sangat tenang.
"Tapi jika mereka berani menghalangiku, maka balai tugas klan akan membutuhkan petugas baru besok pagi."
Dengan langkah yang sangat ringan dan penuh rasa percaya diri, Lin Xiao meninggalkan halaman belakang menuju area pusat kediaman Klan Lin.
Genderang perang secara perlahan mulai ditabuh dari kedua belah pihak.