Alena Kirana adalah seorang aktris papan atas yang berada di puncak popularitasnya. Namun,
sebuah kesalahan yang terjadi di satu malam yang dilakukan bersama seorang pria misterius yang ternyata adalah sutradara
sekaligus pewaris tunggal konglomerat dan sangat kejam kepada wanita yg berani menganggu hidupnya, Adrian Dewangga. Ketakutan akan hancur karirnya tidak dia pedulikan asalkan dia selamat dari pria ini . Alena memilih mengundurkan diri dan menghilang total dari panggung hiburan, bersembunyi sangat jauh dari orang-orang yang dia kenal.
Di sana, dia hidup dalam kesunyian, dia melahirkan dan membesarkan dua anak perempuan kembar yang cantik Kiara dan Kiana. Enam tahun berlalu, rahasia yang terkunci rapat itu mulai koyak ketika takdir
membawa Adrian kembali ke hadapannya, menuntut jawaban atas malam kelam yang tak pernah bisa dia lupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perisai Seorang Suami
Deru mesin sedan mewah Adrian membelah jalanan raya menuju kawasan Bogor dengan kecepatan tinggi. Di dalam kabin yang kedap suara, atmosfer terasa begitu dingin dan menekan. Jari-jari Adrian mengetuk kemudi dengan ritme yang konstan, sementara pandangan matanya lurus menatap aspal di hadapannya.
Pikirannya tidak benar-benar berada di jalan raya; sebagian besar fokusnya masih tertinggal di ruang makan rumah Menteng, pada bayangan Alena yang menangis terguncang setelah dihantam badai penghinaan oleh Baskoro Dewangga.
Adrian menarik napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa amarah yang masih mendidih di dalam dadanya. Ia tahu, bentakan yang ia lontarkan kepada ayahnya tadi pagi adalah sebuah titik balik. Ia telah resmi membakar jembatan kepatuhan yang selama dua puluh enam tahun ini ia bangun dengan susah payah di hadapan sang patriark. Namun, anehnya, tidak ada penyesalan sedikit pun di dalam hatinya. Ketika ia melihat Alena duduk merapat di kursinya dengan tubuh gemetar, sebuah naluri purba yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mendadak bangkit dan mengambil alih akal sehatnya: naluri untuk melindungi miliknya.
Mobil akhirnya berbelok memasuki area resor mewah di Bogor yang menjadi lokasi utama syuting episode terakhir drama mereka. Suasana di sekitar set tampak riuh oleh kru yang berlarian membawa peralatan pencahayaan dan reflektor. Namun, begitu mobil Adrian berhenti di depan lobi utama, keriuhan itu mendadak mereda secara bertahap. Tatapan mata semua orang mulai dari penata rias, figuran, hingga asisten sutradara seketika tertuju pada pintu mobil yang terbuka.
Adrian melangkah keluar dengan setelan jas formal abu-abu gelapnya. Wajahnya datar, sedingin es, dan memancarkan aura ketegangan yang membuat orang-orang di sekitarnya enggan untuk sekadar menyapa. Ia berjalan tegap menuju ruang tunggu artis tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri.
"Adrian! Akhirnya kamu sampai juga," sapa Sutradara Hanung yang langsung masuk ke dalam ruangan dengan selembar naskah baru di tangannya. Wajah pria paruh baya itu tampak kusut akibat kurang tidur. "Kami sudah menyiapkan set untuk adegan terakhirmu hari ini. Tapi... jujur saja, atmosfer di lokasi agak sedikit canggung sejak foto pernikahan kalian keluar kemarin sore."
Adrian duduk di depan cermin rias, membiarkan seorang penata rambut mulai merapikan rambutnya tanpa mengeluarkan suara. "Kita di sini untuk bekerja, Sutradara. Bukan untuk membahas urusan domestik saya. Di mana naskah revisinya?"
Sutradara Hanung berdeham canggung, lalu menyerahkan beberapa lembar kertas kepada Adrian. "Ini dia. Seperti yang disepakati dengan tim hukummu kemarin, karakter Alena diceritakan mengalami kecelakaan kecil di luar kota dan harus segera diterbangkan ke Singapura oleh keluarganya untuk perawatan medis jangka panjang. Karaktermu, sebagai kekasihnya, akan melakukan adegan monolog emosional di kamar rumah sakit yang kosong, meratapi kepergiannya sebelum akhirnya memutuskan untuk menyusulnya di adegan penutup."
Adrian membaca baris demi baris dialog yang tertera di naskah tersebut. Sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman kecut yang penuh ironi. Ke Singapura untuk perawatan medis. Narasi fiksi di dalam naskah ini secara mengerikan hampir sama dengan rencana asli Siska yang ingin membuang Alena ke Singapura secara nyata demi menyembunyikan kehamilannya.
Dunia hiburan dan realitas terkadang memiliki cara yang sangat sinis untuk saling bercermin.
"Baik. Aku butuh waktu sepuluh menit untuk menghafal dialog ini. Setelah itu kita bisa langsung melakukan pengambilan gambar," ujar Adrian dingin, menutup naskah tersebut dan meletakkannya di atas meja rias.
"T-tentu, Adrian. Ambil waktumu," sahut Sutradara Hanung buru-buru, melangkah mundur dan keluar dari ruangan sebelum aura intimidatif Adrian mencekiknya lebih dalam.
Di saat yang sama, di koridor luar ruang tunggu, beberapa aktris senior dan pemain pendukung sedang berkumpul di dekat meja konsumsi, berbisik-bisik dengan volume suara yang sengaja direndahkan namun penuh dengan nada selidik.
"Kamu lihat muka Adrian tadi? Dingin banget, kayak patung hidup," bisik salah seorang aktris muda yang menjadi rival Alena di industri kecantikan. "Aku yakin banget berita pernikahan mereka itu cuma pengalihan isu. Gila aja, Alena Putri yang terkenal suci dan pemilih banget itu mendadak mau dinikahin dalam waktu semalam. Pasti ada skandal besar yang lagi ditutup-tutupi sama Dewangga Group."
"Iya, bener banget. Kemarin malam aku sempat lihat ada utas aneh di forum gosip luar negeri tentang aktris yang hamil duluan di lokasi syuting," sahut aktris lainnya dengan mata yang berbinar penuh kepuasan dengki. "Tapi anehnya, pas aku mau *screenshot* buat disebarin di grup chat, utasnya langsung hilang total dalam waktu lima menit. Pihak cowoknya pasti pakai kekuatan uangnya buat bersih-bersih internet."
"Ssst! Jaga mulut kalian! Adrian berjalan ke arah sini!" peringat seorang aktor senior yang baru saja keluar dari ruang kostum.
Kerumunan gosip itu seketika bubar dan berpura-pura sibuk dengan ponsel masing-masing ketika sosok Adrian melangkah keluar dari ruang tunggu menuju set utama. Langkah kaki Adrian terdengar mantap di atas lantai kayu selasar resor. Ia bisa merasakan tatapan-tatapan penuh selidik dan bisikan-bisikan beracun yang mengapung di sekitarnya. Industri ini sangat kejam; mereka memuja Anda saat Anda berada di puncak, namun mereka akan menjadi orang pertama yang melemparkan batu ketika melihat Anda mulai goyah.
Namun, alih-alih merasa terintimidasi, Adrian justru menghentikan langkahnya tepat di tengah-tengah koridor, membalikkan badannya menghadap ke arah kerumunan aktris yang sedari tadi bergosip. Sepasang mata elangnya menatap mereka satu per satu dengan pandangan yang begitu tajam, membuat atmosfer di koridor itu mendadak turun hingga ke titik beku.
"Jika kalian memiliki waktu luang yang begitu banyak untuk membahas kehidupan pribadi istri saya, saya sarankan kalian menggunakannya untuk membaca kembali kontrak kerja kalian dengan rumah produksi ini," ujar Adrian, suaranya terdengar sangat tenang namun bergaung dengan kekuatan yang mengancam.
"Karena mulai besok pagi, firma hukum Dewangga Group akan meninjau ulang seluruh klausul kerja sama dan investasi kami di proyek drama berikutnya. Dan saya pastikan, siapa saja yang mulutnya tidak bisa dijaga di lokasi ini tidak akan pernah melihat namanya tertera di lembar produksi mana pun yang didanai oleh keluarga saya."
Pernyataan dingin itu bagaikan tamparan keras yang mendarat di wajah para aktris tersebut. Wajah mereka seketika memucat, dan mereka menundukkan kepala dalam-dalam, tidak berani menatap langsung mata Adrian yang menyalang penuh ancaman nyata. Di industri ini, menyinggung Adrian Dewangga sama saja dengan melakukan bunuh diri karier secara sukarela.
Adrian membalikkan badannya kembali dan melanjutkan langkahnya menuju set dengan rahang yang mengeras. Hari ini, ia telah membuktikan ucapannya kepada Alena pagi tadi: ia akan menjadi perisai pertama yang menghancurkan setiap anak panah beracun yang mencoba melukai ketenangan hidup baru mereka.
Proses pengambilan gambar adegan monolog terakhir berjalan dengan sangat intens. Di bawah lampu sorot studio yang panas, Adrian duduk di tepi sebuah ranjang rumah sakit yang kosong, menatap sebuah bingkai foto karakter Alena yang ditinggalkan di atas meja nakas.
Kamera mulai berputar, dan Sutradara Hanung memberikan aba-aba action.
Dalam sekejap, topeng dingin Adrian runtuh, digantikan oleh ekspresi kehancuran yang teramat dalam dari karakter yang ia perankan. Matanya mendadak berkaca-kaca, memancarkan rasa kehilangan, penyesalan, sekaligus ketakutan yang luar biasa akan masa depan yang harus ia hadapi sendirian tanpa wanita yang dicintainya.
"Kenapa kamu harus pergi secepat ini...?" bisik Adrian dengan suara yang tercekat di tenggorokan, air matanya menetes satu per satu membasahi jemarinya yang mencengkeram pinggiran bingkai foto. "Kamu berjanji kita akan menghadapi dunia ini bersama-sama... Kamu berjanji tidak akan membiarkan aku berjalan sendirian di dalam kegelapan ini..."
Dialog itu tertulis di dalam naskah revisi, namun bagi Adrian yang sedang mengucapkannya saat ini, kata-kata itu seolah menjelma menjadi refleksi dari ketakutan bawah sadarnya sendiri. Di balik aktingnya yang memukau seluruh kru di lokasi hingga membuat beberapa penata rias ikut menangis, Adrian menyadari satu hal yang mengerikan: ia tidak sedang berakting tentang kehilangan karakter Alena di dalam drama. Ia sedang merasakan ketakutan yang nyata jika suatu hari nanti, tekanan dari ayahnya atau kelicikan Siska benar-benar berhasil merenggut Alena dan calon bayi mereka dari hidupnya.
Pernikahan ini mungkin dimulai sebagai sebuah kesalahan malam yang tragis, sebuah kesepakatan bisnis di atas kertas pranikah untuk menyelamatkan nama baik. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, seiring dengan suara detak jantung pertama yang ia dengar di ruang tengah tadi pagi, dan seiring dengan rasa hangat tubuh Alena yang menangis di dalam pelukannya... dinding es di hati Adrian telah resmi mencair. Alena dan janin di dalam rahimnya bukan lagi sekadar tanggung jawab hukum yang harus ia pikul; mereka telah resmi menjadi poros baru dari seluruh tujuan hidupnya.
"Cut! Sempurna! Akting yang sangat luar biasa, Adrian!" teriak Sutradara Hanung dari balik monitor dengan suara yang bergetar karena emosi yang ikut hanyut. "Kita selesai untuk adegan hari ini! Terima kasih atas kerja kerasnya!"
Adrian langsung menghapus sisa air mata di pipinya dengan kasar menggunakan tisu yang disodorkan asistennya. Topeng dinginnya kembali terpasang dalam hitungan detik. Ia berdiri dari ranjang rumah sakit, mengangguk sopan kepada kru produksi, lalu melangkah cepat kembali menuju ruang tunggu untuk berganti pakaian. Ia tidak ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi di tempat ini; hatinya terus mendesak untuk segera pulang, kembali ke rumah Menteng, dan memastikan bahwa perisai yang ia bangun di sekeliling Alena tidak kebobolan oleh serangan susulan dari luar sana.
Malam harinya, tepat pukul sembilan lewat tiga puluh menit, mobil Adrian kembali melewati pintu gerbang besi kediaman Menteng yang dijaga ketat. Begitu melangkah masuk ke dalam lobi utama, Adrian disambut oleh kesunyian rumah yang menenangkan, berbanding terbalik dengan riuhnya atmosfer lokasi syuting yang penuh intrik tadi siang.
Bi Asih berjalan mendekat dari arah dapur dengan senyuman ramah. "Selamat malam, Tuan Adrian. Mau disiapkan makan malam atau air hangat untuk mandi?"
"Tidak usah, Bi. Saya sudah makan di jalan tadi," jawab Adrian seraya meletakkan tas kerjanya di atas meja lobi. "Bagaimana kondisi Alena sore ini? Apakah dia makan dengan baik?"
"Nona Alena sudah jauh lebih tenang, Tuan. Sore tadi beliau menghabiskan seluruh porsi sup ikan salmon yang disiapkan ahli gizi," jelas Bi Asih dengan nada lega. "Sekarang Nona sedang berada di perpustakaan lantai dua, sedang membaca beberapa buku referensi tentang kehamilan yang dikirimkan oleh Dokter Saras tadi siang."
Adrian mengangguk pelan. "Baiklah. Bi Asih bisa istirahat sekarang. Terima kasih."
Adrian melangkah menaiki tangga utama menuju lantai dua, menyusuri koridor berlantai kayu jati yang temaram. Ia berhenti di depan pintu kaca buram perpustakaan pribadi rumahnya yang menampilkan seberkas cahaya hangat dari dalam. Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, Adrian melihat Alena sedang duduk meringkuk di atas sofa beludru besar dengan sebuah buku tebal di pangkuannya. Rambut panjangnya diikat asal-usul ke belakang, dan wajahnya tampak sangat damai di bawah pencahayaan lampu baca yang kuning keemasan.
Adrian berdiri mematung di sana selama beberapa menit, hanya menatap pemandangan tersebut dari kejauhan tanpa ingin mengganggu kedamaian yang baru saja kembali ke hidup istrinya. Rasa lelah yang mendera tubuhnya setelah seharian melakukan adegan emosional di lokasi syuting seolah menguap begitu saja digantikan oleh sebersit rasa tenang yang amat sangat di dalam dadanya.
Ia melangkah mundur secara perlahan, menutup kembali pintu perpustakaan dengan bunyi yang sangat minim agar tidak mengejutkan Alena. Sembari berjalan menuju kamarnya sendiri di sayap timur, Adrian mengeluarkan ponsel pribadinya, melihat sebuah pesan teks terbaru yang masuk dari Baskara beberapa menit lalu.
> Baskara:“Tuan Adrian, tim cyber kami telah berhasil mengidentifikasi staf administrasi klinik yang dibayar oleh Siska. Surat perintah penangkapan atas nama hukum pidana sedang diproses oleh pihak kepolisian malam ini. Besok pagi, kita sudah bisa menekan Siska secara legal menggunakan kartu as ini.”
> Adrian menatap layar ponselnya dengan senyuman dingin yang penuh kemenangan. Ia telah menepati janjinya hari ini: berdiri sebagai perisai pertama yang menghancurkan musuh-musuh mereka dari luar, sementara Alena fokus menjaga kehidupan suci yang sedang bertumbuh di dalam rahimnya. Pertempuran di balik layar industri hiburan ini mungkin baru saja dimulai, namun di dalam sunyinya malam Menteng, Adrian tahu bahwa tim mereka tidak akan pernah terkalahkan selama mereka berdiri berdampingan menghadapi badai bersama.