Rosa Evalina, hanya seorang anak pelayan yang menggantikan Ibunya menjadi pelayan di rumah keluarga Hartanto. Lalu, tiba-tiba anak dari majikannya meminta dia untuk menggantikannya dalam sebuah perjodohan. Tidak bisa menolak, akhirnya dia terjebak dalam permainan sandiwàra ini.
"Seharusnya aku tidak pernah jatuh cinta padamu, karena nyatanya kamu tetap tidak akan di takdirkan untukku"
Sementara Albyan Danuel, seorang pria tampan yang sudah matang. Memiliki pribadi yang hangat, lembut dan sopan. Dia yang tidak pernah mengenal cinta, akhirnya menemukan perempuan yang membuatnya nyaman. Namun, apa yang akan terjadi ketika dia tahu jika perempuan itu hanyalah seseorang yang bersandiwara?
Bisakah mereka bersama dalam kisah yang berliku, tentang cinta yang dimulai dari sandiwara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Yang Mendapatkan Hatinya
Hari ini banyak hal mengejutkan yang terjadi, ketika Eva melihat amarah Byan yang membuat semua orang takut. Lalu dia juga melihat bagaimana sikap manja pria itu saat berdua bersamanya. Membuat Eva perlahan semakin tahu kepribadiannya.
Setelah lebih dari satu bulan sejak mereka memutuskan untuk menjadi pasangan kekasih setelah semua kenyataan terbongkar. Eva belum berani datang ke rumah Laila untuk meminta maaf secara langsung pada orang tua Laila. Meski memang bukan Eva yang sepenuhnya salah, tapi apapun yang terjadi semua juga karena Eva setuju dengan permintaan Laila. Jadi, dia tetap merasa bersalah pada orang tua Laila yang sudah begitu baik padanya, dan dia malah mengecewakannya.
Dan hari ini akhirnya hari ini Eva memberanikan diri untuk datang. Sudah membertahu Laila sebelumnya. Tadinya Eva ingin pergi sendiri saja, tapi Byan tetap ingin pergi bersamanya juga.
"Sayang, aku bisa sendiri kok. Ini juga permasalahan aku sama mereka, aku yang harus meminta maaf pada Tuan dan Ibu, soalnya apa yang terjadi juga karena aku mengiyakan permintaan Nona"
Byan menghela napas pelan, dia mengelus puncak kepala Eva dengan lembut. "Sayang, aku disini datang sebagai kekasihmu. Aku juga perlu mendampingimu untuk hal ini. Bukan aku tidak percaya kau bisa menyelesaikan semuanya sendiri, tapi ... aku hanya ingin memastikan kau tetap baik-baik saja"
Mungkin perjodohan ini akan berhasil jika saja Laila tidak menukar peran dengan Eva. Namun, bisa saja ini adalah hal yang Tuhan berikan untuk kehidupan Eva dan Byan. Setiap kejadian, akan menjadi cerita yang terkenang di masa mendatang.
Sudah cukup lama Eva tidak masuk ke dalam rumah ini, ketika dia kembali menginjakan kaki di rumah ini, rasanya cukup canggung. Apalagi setelah apa yang sudah terjadi diantara dirinya, Laila dan Byan.
Kedua orang tua Laila sudah menunggu di ruang tamu, sepertinya Laila sudah lebih dulu memberitahu mereka jika Eva dan Byan akan datang. Eva mengangguk penuh hormat pada keduanya, tersenyum sopan.
"Tuan, Ibu, apa kabar?"
Tuan Hartanto terlihat lebih diam, seperti masih ada kekecewaan dalam dirinya karena anak perempuannya malah memberikan pria seperti Byan pada perempuan lain. Padahal Tuan Hartanto sudah sangat berharap Byan akan menjadi menantunya, apalagi dia yang sudah lama berteman dekat dengan orang tua Byan.
Namun, Ibu Lisma terlihat lebih terbuka. Dia membalas senyuman Eva seperti biasa. "Kami baik Ev, kamu bagaimana? Sudah lama ya tidak datang kesini, sampai saya tidak percaya kalau sekarang kamu akan datang"
Eva tersenyum tipis, dia duduk di sofa bersama dengan Byan. Sungguh suasana saat ini benar-benar canggung, tidak seperti biasanya. Eva melirik Laila yang juga terlihat sangat canggung, kedua tangannya yang bertaut erat di atas pangkuannya.
"Em, saya datang kesini cuma ingin meminta maaf secara langsung pada Tuan dan Ibu. Maaf sekali karena sudah ikut andil dalam kekacauan ini. Maaf juga karena baru sekarang saya berani datang kesini menemui kalian"
"Ya, memang sebenarnya kalau kamu tidak pernah menyetujui tentang keinginan Laila, mungkin semuanya tidak akan seperti ini" ucap Tuan Hartanto.
Eva menunduk, bukan merasa di sudutkan. Tapi dia menyadari jika yang di ucapkan oleh Tuan Hartanto adalah benar. "Saya benar-benar meminta maaf, Tuan. Semuanya memang kesalahan kami"
"Pa sudahlah, jangan menyalahkan Eva. Lagian aku yang memaksanya" ucap Laila, dia juga akan semakin merasa bersalah jika Eva juga disalahkan, padahal dia yang memaksanya untuk melakukan ini.
"Dan sekarang, apa kalian berpacaran?" tanya Ibu Lisma.
Eva melipat bibirnya ke dalam, diam karena bingung harus menjawab seperti apa. Merasa tidak enak juga karena sebenarnya sejak awal Byan dijodohkan untuk Laila, bukan untuk dirinya. Mungkin keinginan orang tua Laila juga untuk yang terbaik. Namun sayangnya Laila merasa jika pilihan mereka bukan yang dia inginkan.
"Ya, kami berpacaran. Kami telah saling jatuh cinta saat Eva menggantikan Laila. Dan perasaan itu bukan karena Eva yang menjadi Laila, tapi saya mencintainya karena dia adalah Eva. Tidak peduli jadi siapapun, saya hanya tetap mencintainya"
Ibu Lisma tersenyum tipis, meski sebenarnya dia cukup kecewa juga karena harapannya sama dengan suaminya. Ketika orang tua hanya menginginkan yang terbaik untuk anak satu-satunya mereka. Namun semuanya jadi kacau karena ulah anak mereka sendiri. Dan sekarang hanya perlu mengubur harapan itu.
"Tuan, Ibu, saya minta maaf karena-"
"Tidak Eva, kamu tidak perlu meminta maaf soal perasaan kalian. Karena itu hak kalian, kami juga mengerti" ucap Ibu Lisma.
Eva menghela napas lega, sejak dulu keluarga ini memang begitu baik padanya dan mendiang Ibunya. Membuat Eva semakin merasa tidak enak karena ikut andil dalam mengacaukan rencana mereka untuk memberikan jodoh yang terbaik pada anaknya. Namun sekarang, Eva juga tidak bisa melepaskan Byan begitu saja hanya untuk mengalah. Dia juga mencintainya dan ingin memilikinya.
"Em, Om dan Tante, saya hanya minta satu hal pada kalian. Karena yang terjadi pada aku dan Laila juga bukan keinginanku, jadi aku minta pada kalian untuk tidak bicara dulu pada Papa dan Mama saya. Biarkan nanti saya sendiri yang berbicara pada mereka"
Tuan Hartanto mengangguk, meski hati kecewa. Tapi apa boleh buat ketika semua ini terjadi juga karena ulah anaknya sendiri. Tuan Hartanto juga tidak bisa menyalahkan Eva atau siapa pun, karena jelas semua ini terjadi karena Laila yang memulainya.
"Baiklah"
*
Setelah pertemuan ini, semuanya terasa lebih baik. Laila membawa Eva ke kamarnya, sementara obrolan di ruang tamu berubah menjadi tentang pekerjaan dan bisnis. Membiarkan mereka tetap mengobrol, Eva mengikuti Laila ke kamarnya.
"Jadi, kapan kalian berencana menikah?" tanya Laila antusias.
Eva menghela naps, dia duduk di pinggir tempat tidur. "Aku tidak tahu. Karena Mas Byan juga masih menyembunyikan hubungan kita. Buktinya tadi dia melarang orang tua Nona memberitahu orang tuanya. Mungkin masih membutuhkan waktu yang tepat untuk memberitahu semua orang"
Laila ikut duduk di sampingnya, mengusap bahu Eva. "Jangan berprasangka buruk dulu, mungkin memang Byan sedang mencari waktu yang tepat untuk memberitahu semua orang dan keluarganya. Apalagi kejadiannya seperti ini, orang tuaku saja hampir tidak bisa menerimanya. Mungkin orang tua Byan juga sama, bahkan lebih kecewa dan keras daripada orang tuaku"
Eva mengangguk. "Ya, mungkin juga seperti itu. Masih membutuhkan waktu yang tepat. Tapi Nona, bagaimana jika orang tuanya tidak pernah setuju dengan saya? Status sosial kami terlalu jauh, dan wajar saja jika orang tuanya ingin putranya mendapatkan yang setara dengan mereka"
Ada nada penuh khawatir dalam bicaranya. Seperti ada ketakutan besar dalam hatinya yang tidak bisa dia ungkapkan.
Laila merangkul bahu Eva, menepuknya pelan seperti memberikan semangat baru untuknya. "Jangan berpikir kejauhan, aku yakin orang tua Byan pasti akan setuju padamu. Lagian apa yang menjadi alasan mereka untuk tidak setuju? Kau baik, tulus dan mencintai Byan sepenuh hati"
Eva menghembuskan napas pelan, dia tersenyum pada Laila. "Aku hanya khawatir saja, karena bersanding dengan Mas Byan bukan hal yang mudah. Pasti akan banyak wanita yang iri dan mungkin membenciku karena bersama Mas Byan"
"Justru itu, jadi kau harus selalu bersinar dan dapatkan hatinya. Buat dia semakin jatuh cinta padamu. Meski banyak wanita cantik yang menginginkan untuk berada di samping Byan, tapi yang terpenting kamu adalah pilihannya untuk berada di posisi itu. Tetap percaya diri, jangan merasa kurang atau tidak percaya diri. Eva, kamu yang mendapatkan hatinya, itu saja yang perlu kau ingat"
Eva mengangguk mengerti, memang Laila selalu mendukung apapun yang Eva lakukan selama itu bukan melanggar hukum. Dan hal ini yang membuat Eva selalu merasa banyak berhutang budi pada keluarga Laila, karena kebaikan mereka yang tak terhitung lagi.
Bersambung