Ada alasan kenapa banyak orang menyebutnya Perfect Husband.
Leo J memiliki semua yang diimpikan seorang wanita. Ia setia, bertanggung jawab dan mencintai istrinya dengan cara yang membuat siapa pun iri.
Namun, cinta itu tidak pernah sederhana.
Leo J mencintai dengan cara yang berlebihan. Terlalu melindungi, terlalu posesif, terlalu takut kehilangan. Hingga terkadang, cintanya itu terasa menyesakkan.
Di masa lalu, pria yang kini begitu memuja istrinya itu... pernah mencintai wanita lain hingga rela memberikan seluruh dunianya.
Pada suatu hari, mereka dipertemukan dalam satu meja. Keheningan berubah menjadi sesak ketika Leo J menatap wanita yang pernah menjadi alasan hidupnya.
"Sekarang, Leo ada di depanmu, Kiara. Apa yang ingin kau katakan padanya?"
Yuna mengizinkan mereka berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liburan 2
Malam hari di kastil pinggir pantai. Si kecil tidur lebih awal, karena dia sibuk bermain sepanjang hari.
Saat ini, Yuna dan Leo duduk berdua di teras samping yang langsung mengarah ke pantai. Menyaksikan air laut yang berkerlip seperti bintang-bintang di langit.
“Mom,” panggil Leo.
“Ya?”
“Apa ada hal yang kau rasakan belakangan ini?” tanya Leo dengan kekhawatiran. Di kehamilan Yuna yang kedua ini, bukankah ia telah berjanji untuk selalu menjaga Yuna dengan sangat baik tapi ternyata kesibukannya belakangan ini membuatnya lupa pada apa yang seharusnya dia lakukan.
Leo tidak menatap pantai itu. Dia lebih suka menatap istrinya. Tangannya mengulur dan mengusap-usap perut Yuna.
Yuna menoleh padanya. “Hal yang ku rasakan?” tanyanya balik.
“Ya. Apa ada hal yang kau rasakan belakangan ini?”
“Merindukanmu,” jawab Yuna.
Tangan Leo bergerak naik dan mengusap pipi Yuna. Kemudian meminta Yuna untuk duduk di pangkuannya. "Kemari."
Pelan, Yuna menggeser tubuhnya lalu duduk di pangkuan Leo. Kedua tangannya secara refleks melingkar di leher pria itu.
“Aku akan mengambil libur yang panjang untuk mengobati rindumu,” ujar Leo, mengusap punggung Yuna penuh kasih.
Yuna tersenyum. Dia menyusupkan jemarinya diantara rambut halus Leo, memainkan rambut itu.
“Setelah mengambil libur panjang, bagaimana jika kau lebih sibuk dari sebelumnya,” jawab Yuna.
Bukankah saat Leo libur panjang, itu artinya ada pekerjaan yang tertunda dan Leo tetap harus mengerjakannya setelah itu. “Bekerjalah sesuai waktunya, Daddy. Asal Daddy tidak pulang larut, tidak kerja saat hari libur, itu sudah sangat istimewa,” lanjut Yuna.
Leo mengusap pipi Yuna. “Terima kasih pengertiannya, Mom,” ucapnya.
Yuna menjawabnya dengan senyum manis di bibirnya. Tangannya bergerak turun ke pipi Leo. Membuat usapan halus di sana. Kemudian bergerak lembut pada bibir Leo. Mengusap halus bibir seksi merah muda itu.
Leo menatap wajah Yuna, terus menatapnya meskipun Yuna tidak membalas tatapan matanya. Mata wanita itu lebih fokus menatap bibir Leo. Jemarinya masih membuat usapan di sana. Dan dengan nakal, ia membuka bibir Leo lalu mengambil ciumannya.
Tangan Leo refleks menangkap pinggul Yuna. Dia memejamkan matanya, membiarkan Yuna menggodanya.
"Daddy," panggil Yuna dengan suara serak yang lembut. Ia mendekat, lalu mengecup singkat telinga Leo, membuat pria itu tersenyum tipis.
"Sayang..." gumam Leo pelan.
Yuna tertawa kecil. Jemarinya dengan usil merapikan kerah kemeja Leo, lalu mulai membuka satu per satu kancing kemeja itu.
"Kau sangat tampan," bisiknya tulus.
Tatapan Leo langsung melembut tapi penuh keinginan. Kedua tangannya mengusap perlahan punggung Yuna.
"Benarkah?" tanyanya.
Yuna mengangguk. Ia kembali mengecup singkat rahang Leo. "Sangat tampan."
Leo mengembuskan napas pelan. Tanpa berkata apa-apa, ia mengangkat Yuna sedikit lebih tinggi agar sejajar dengannya.
Kening mereka saling bersentuhan.
"Kamu juga cantik," ucap Leo serak. "Selalu cantik di mataku."
Yuna tersenyum malu. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher Leo, sementara Leo memeluknya semakin erat, berhati-hati agar tetap menjaga kenyamanan Yuna dan calon bayi mereka.
Tanpa tergesa, Leo mengecup lembut bibir istrinya. Sebuah kecupan singkat yang dipenuhi kerinduan dan kasih sayang.
Saat bibir mereka berpisah, Yuna tersenyum tipis.
"Aku mencintaimu, Daddy."
Leo mengusap pipinya dengan ibu jari. "Aku lebih mencintaimu, Mom."
Yuna terkekeh pelan. "Selalu begitu."
Leo mengangguk. "Karena memang begitu."
"Ouh Daddy..." lirih Yuna ketika Leo mengecup lembut pangkal bahunya.
Leo tersenyum kecil. Menurunkan dres malam Yuna lalu membuat kecupan di setiap inci kulitnya. Namun tak lama kemudian, ia mengangkat wajahnya dan menatap Yuna penuh kelembutan.
"Kenapa, Daddy?" tanya Yuna pelan. Ada sedikit kekecewaan yang tak sempat ia sembunyikan. Dia ingin Leo melanjutkan ini.
Leo merapikan baju Yuna yang terbuka.
"Di sini dingin, Sayang. Aku tidak mau kamu masuk angin." Senyumnya mengembang. "Kita pindah ke kamar saja."
Tanpa menunggu jawaban, Leo mengangkat tubuh Yuna dengan hati-hati ke dalam gendongannya.
Yuna spontan melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Leo.
"Daddy selalu merusak suasana," gumamnya pelan, pura-pura menggerutu.
Leo terkekeh. "Bukan merusak. Aku hanya ingin memastikan kau tetap sehat."
Pelan, dan diam-diam, ia mengecup singkat leher Leo sebagai balasan.
"Manja," bisik Leo sambil menggeleng kecil.
"Memangnya tidak boleh?"
"Boleh. Untuk Mom, apa pun boleh."
Leo mempererat pelukannya, lalu melanjutkan langkah menuju kamar
Leo merebahkan Yuna di atas ranjang mereka dengan hati-hati. Ia mengusap lembut pucuk kepala Yuna sebelum mendaratkan sebuah ciuman manis di sana. Bibirnya perlahan bergerak menyusuri wajah Yuna, hingga berakhir pada bibir ranum yang selalu berhasil memikatnya.
Malam ini, dunia seolah milik mereka berdua. Sentuhan Leo mengalir seperti kuas di atas kanvas, menari lembut di atas kulit Yuna dan menuntunnya tenggelam lebih dalam ke dalam pesona cinta mereka. Setiap kecupan Leo membawa kehangatan yang membuat Yuna menggeliat pelan, terhanyut dalam romansa yang begitu memabukkan.
“Daddy,” lenguh Yuna pelan saat belaian halus Leo beralih, memberikan sentuhan yang membuat debaran di dadanya kian berpacu.
Yuna kehilangan kata-kata, ia tidak mampu memikirkan apa pun lagi selain menyerahkan dirinya pada kehangatan dan kasih sayang yang Leo berikan.
Leo seolah ingin mengukir memori keindahan Yuna di setiap detiknya. Ketika gelombang hasrat itu memuncak dan membawa Yuna pada puncak keindahan yang luar biasa, Yuna meremas seprei dengan kuat, mengembuskan napas panjang dengan peluh yang mulai menetes di keningnya.
Leo menghentikan gerakannya sejenak. Ia diam, membiarkan keheningan malam melingkupi mereka, sambil menatap lekat wajah Yuna yang tampak begitu memesona di matanya.
Yuna terengah-engah, dadanya naik turun seiring dengan napasnya yang belum teratur. Perlahan, ia membuka mata dan langsung disambut oleh tatapan tajam namun penuh cinta dari pria rupawan di hadapannya. Leo J, sosok yang selalu berhasil membuatnya tak berdaya.
Yuna meraih tangan Leo, membawanya ke depan wajah, lalu mengecup jemari pria itu satu per satu dengan penuh pengabdian.
“Daddy, aku mencintaimu,” bisik Yuna, tatapannya begitu menghipnotis.
Kini, giliran Yuna yang memegang kendali, menghujani Leo dengan balasan cinta yang sama besarnya, membiarkan malam panjang itu dipenuhi oleh nama mereka yang saling bersahutan.
boleh request gk kak... kpan² klo kiara ketemu yuna pas ada leo juga,pasti seru..