NovelToon NovelToon
Arkaholic

Arkaholic

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: siyunr

Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Arka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.

Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.

Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, ia keliru. Arka menikahinya tepat ketika dunia cowok itu di ambang runtuh.

Di sekolah Lintang adalah gadis yang selalu terlihat mengejar Arka, tapi di rumah, Lintang harus menghadapi kemarahan dan luka terdalam Arka.

Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?

Sanggupkah Lintang bertahan, atau perpisahan justru menjadi jalan terbaik bagi keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengantin Baru

Pagi hari menunjukkan pukul 05.20. Lintang baru saja balik ke ruang rawat inap Frina setelah keluar dari rumah sakit untuk membeli sarapan.

Sebenarnya tadi dia sempat mengajak Arka, tapi melihat cowok itu tertidur dengan wajah yang terlampau lesu dan kantung mata menghitam membuat Lintang tidak tega.

Ini hari Senin, dan keduanya sudah resmi mengantongi izin dari wali kelas untuk tidak masuk sekolah dengan alasan urusan keluarga darurat.

Pintu kamar VIP 304 terbuka pelan, Lintang melangkah masuk dengan kedua tangan membawa tentengan plastik besar berisi jajanan jadul.

Aroma manis dan gurih langsung menguar dari bungkus kue lupis, bubur sumsum, bubur mutiara, martabak mini, lemper, dan kue bugis yang masih mengepul hangat.

Pandangan Lintang langsung tertuju ke arah Arka yang sedang rebahan di sofa panjang dengan posisi kaki menekuk karena panjang sofa yang tidak sebanding dengan tinggi badannya, sementara kedua tangannya menyilang erat di dada.

"Eh, udah balik, Nak?" Suara sayu dari arah ranjang pasien memecah keheningan.

Lintang menoleh, memasang senyum manis andalannya. "Iya, Bunda. Habis beli sarapan di depan." Lintang menaruh kantong plastiknya di atas meja nakas. "Bunda better?"

"Alhamdulillah... Bunda jadi lebih siap buat operasi nanti siang kalau lihat menantu Bunda serajin ini..." ujar Frina dengan suara yang terdengar lebih stabil walau volumenya tetap pelan.

Mendengar kata "menantu", Lintang sempat salah tingkah sejenak, namun dia buru-buru menetralisasi debaran dadanya.

Lintang beralih mendekat ke arah sofa tempat Arka meringkuk, lalu mengulurkan tangan menggoyang pelan bahu cowok itu.

"Arka, sarapan," panggil Lintang. Suaranya entah kenapa mendadak berubah menjadi agak lemah lembut dan singkat, seolah insting mode malu-malu pengantin baru sedang berusaha menguasai dirinya.

Arka tetap bergeming, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

"Arka, bangun ih," panggil Lintang lagi. Kali ini dia menggoyang bahu cowok itu dengan kekuatan yang jauh lebih kencang.

"Hmm..." gumam Arka berat.

Badan jangkungnya menggeliat kecil, lalu kedua alis tebalnya langsung bertaut erat, meringis tipis menahan pening yang mendadak menyerang kepalanya.

"Kenapa dah lu?" Lintang memicingkan mata, curiga.

"Gak papa," Arka duduk perlahan. Namun, gerakan yang terlalu mendadak itu membuat dunianya serasa berputar, hingga tubuh tegapnya sempat sempoyongan ke kanan sebelum akhirnya berhasil tegak.

Tanpa babibu, tangan Lintang langsung bergerak menyentuh dahi Arka. Hangat, cenderung agak panas untuk ukuran suhu tubuh normal.

Matanya memicing tajam. "Pusing lu, ya?" tebaknya tepat sasaran.

"Sakit kepala," gumam Arka, membuang muka ke arah lantai karena tidak kuat menahan sorot mata Lintang yang tampak seperti intel sedang menginterogasi buronan.

Lintang mendengus kesal sambil berkacak pinggang di depan suaminya. "Iyalah sakit kepala! Ada bantal asli yang empuk nganggur di kasur bawah, lu malah milih bantalan di pegangan sofa. Itu kan kayu keras, Malih."

Arka tidak menjawab. Dia terlalu lemas untuk meladeni omelan Lintang pagi ini.

Tangan kanannya bergerak naik, memijat tengkuknya sendiri yang terasa luar biasa kaku karena tumpuan pegangan sofa yang kurang empuk. Padahal dia hanya berniat melanjutkan tidur sebentar di sofa itu, tapi rasanya tengkuk ini sekarang seperti sedang ditekan oleh sebongkah batu bata.

"Sakit banget?" tanya Lintang, intonasi suaranya mendadak melunak, terselip rasa cemas yang nyata di sana.

"Enggak," gumam Arka, meskipun tangannya masih sibuk menekan-nekan tengkuknya sendiri. Mulut dan gestur tubuhnya benar-benar tidak sinkron.

Lintang berdecak kecil melihat keras kepalanya sang juara silat. Tanpa meminta izin, dia melangkah maju lebih dekat, memposisikan tubuh mungilnya tepat di depan Arka yang sedang duduk menunduk.

"Sini, gue pijitin bentar. Habis itu lu wajib sarapan, gak ada penolakan."

"Nggak usah, gue bisa sendiri," tolak Arka, tangan kirinya bergerak hendak menepis pergelangan tangan Lintang.

"Jangan ngeyel, itu dilihatin Mak lu di kasur," sahut Lintang ketus, membuat mode sok malu-malu ala pasutri baru yang dia bangun sejak subuh tadi langsung lenyap tak berbekas dalam hitungan detik.

Arka akhirnya pasrah. Tangannya turun dan terkulai di atas paha.

Berganti tangan lentik Lintang yang kini sudah mendarat di tengkuk kaku milik Arka, lalu mulai memberikan pijatan dengan tekanan yang mantap dan pas.

Arka meringis kecil di balik rambut acak-acakannya yang berantakan khas orang bangun tidur. Kepalanya secara refleks semakin menunduk dalam, dengan kedua bahu yang terangkat samar menahan sensasi linu yang menjalar.

Jelas rasanya sakit karena ototnya sedang tegang. Tapi... entah kenapa, rasanya juga sangat enak dan membuat kepalanya yang tadinya berat perlahan menjadi lebih ringan.

Aroma parfum buah beri yang manis dari tubuh Lintang yang berdiri sangat dekat di depannya mendadak menguasai indra penciuman Arka, membuat cowok itu sempat menahan napasnya selama beberapa detik karena mendadak gugup.

Lintang yang tidak tahu isi hati suaminya justru semakin bersemangat, memijat dengan gerakan yang jauh lebih mantap.

Hal itu membuat Arka refleks mengeluarkan erangan tertahan karena linu. "Jangan kenceng-kenceng..."

"Ini udah pelan, Badrul! Tahan dikit napa, rewel banget kayak balita habis suntik imunisasi," sahut Lintang tanpa urat malu, tangannya tetap bekerja tanpa mengendurkan tekanan.

Di atas ranjang pasien, Frina diam-diam memperhatikan interaksi kedua anak muda itu dengan saksama.

Melihat bagaimana Lintang yang cerewet merawat Arka yang kaku, seulas senyum tulus terbit lebih lebar di wajah pucatnya. Air mata haru hampir saja lolos dari pelupuk matanya yang lelah.

Ya Allah... Jaga dan berkahi rumah tangga mereka selalu... doanya dalam hati dengan penuh harapan. Frina kini benar-benar ikhlas dan tenang jika takdir mengharuskannya pergi, karena Arka-nya sudah berada di tangan perempuan yang tepat.

Pijatan Lintang melambat saat dia merasakan otot-otot di tengkuk Arka mulai tidak setegang tadi. "Gimana? Agak mendingan kagak?"

Arka perlahan mendongak. Jarak wajah mereka yang hanya berkisar belasan sentimeter membuat mata elang Arka langsung terkunci pada sepasang mata bulat milik Lintang.

Arka berdehem pendek untuk menutupi rasa canggungnya. "Ya. Makasih."

"Nah, gitu dong! Bagus, sekarang waktunya asupan gizi!" Lintang langsung berbalik arah dengan riang, mengambil sebungkus bubur sumsum hangat dan sepotong kue lupis dari dalam plastik jualan.

Lintang menyodorkan sendok plastik ke arah Arka. "Nih, makan bubur sumsumnya dulu biar lambung lu gak demo kayak waktu pas kerkom."

Arka menerima sendok itu dengan gerakan kaku. "Lu gak makan?"

"Makanlah! Ini gue mau ngabisin kue lupis sendirian, lu jangan minta ya!" Lintang duduk di lantai beralaskan karpet tepat di samping lutut Arka, mulai menyuap kuenya dengan wajah penuh kemenangan yang hakiki.

Arka menatap punggung mungil di samping lututnya itu dalam diam, lalu menyuap bubur sumsum manis itu perlahan.

...----------------...

Waktu bergulir begitu cepat di dalam ruangan yang sunyi itu.

Jarum jam dinding perlahan tapi pasti merayap melewati angka sepuluh, lalu bergeser menuju pukul dua belas siang.

Atmosfer santai saat momen pijat dan sarapan bubur sumsum tadi pagi perlahan menguap, digantikan oleh ketegangan pekat yang kembali merayapi sudut kamar rawat VIP 304.

Sekitar pukul sebelas tadi, Leno dan Ilna sempat kembali datang ke rumah sakit.

Mereka membawakan koper kecil berisi pakaian ganti dan perlengkapan mandi untuk Lintang dan Arka yang semalam terpaksa tidur dengan baju seadanya.

Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian yang lebih segar, Lintang kembali duduk di sofa, memandangi Arka yang sejak tadi lebih banyak diam menatap jendela.

Tepat pukul satu siang, pintu kayu kamar rawat berderit terbuka lebar.

Langkah kaki beberapa perawat dan seorang dokter bedah yang mengenakan pakaian hijau khas ruang operasi terdengar tegas memasuki ruangan, membawa sebuah ranjang dorong (brankar).

"Keluarga Ibu Frina? Jadwal operasi transplantasi jantungnya akan dimulai sepuluh menit lagi. Mohon bantuannya untuk mempersiapkan pasien," ujar perawat kepala dengan nada profesional namun tetap ramah.

Jantung Lintang seketika mencelos. Ia melirik ke samping.

Wajah Arka yang tadi pagi sempat memerah karena pusing, kini mendadak berubah menjadi sangat pucat.

Cowok itu langsung berdiri tegak dari kursinya, memosisikan diri tepat di sisi ranjang Bundanya yang mulai dipindahkan ke atas ranjang dorong oleh tim medis.

Frina menatap wajah putranya lekat-lekat. Selang oksigennya sudah diganti dengan tabung oksigen portabel yang ikut digantung di sisi ranjang dorong.

"Arka... Bunda masuk dulu, ya..." bisik Frina lemah, namun sepasang matanya berusaha keras memancarkan binar ketegaran.

Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Garis rahang tegasnya mengeras kokoh, menahan badai emosi yang luar biasa hebat di dalam dadanya.

Laki-laki itu hanya mengangguk satu kali, menggenggam jemari ibunya untuk terakhir kali sebelum ranjang itu mulai didorong keluar membelah lorong rumah sakit.

Rombongan keluarga kecil itu ikut berjalan cepat di belakang tim medis, menyusuri koridor panjang menuju lantai dua, tempat ruang operasi utama berada.

Bau karbol antiseptik yang tajam serasa mencekik kerongkongan Lintang. Di sepanjang jalan, tidak ada satu pun dari mereka yang berani mengeluarkan suara. Hanya ada bunyi derit roda ranjang yang berputar cepat beradu dengan lantai keramik.

Sampai di depan pintu besi ganda yang besar dan kokoh bertuliskan "RUANG OPERASI UTAMA / OPERATING THEATRE", langkah mereka dipaksa berhenti.

"Keluarga hanya boleh mengantar sampai di sini. Silakan tunggu di ruang tunggu yang sudah disediakan," instruksi perawat dengan sopan sebelum berbalik arah.

Pintu besi itu terbuka otomatis, menampakkan lorong dalam yang remang dan dingin, lalu perlahan menutup kembali setelah ranjang Frina masuk ke dalam sana.

KLIK.

Lampu indikator merah di atas pintu seketika menyala terang, menampilkan tulisan: OPERASI SEDANG BERLANGSUNG.

Detik itu juga, Lintang bisa melihat bahu tegap Arka mendadak merosot lunglai.

Cowok itu mundur selangkah, lalu menyandarkan punggungnya pada dinding putih rumah sakit yang dingin. Kepalanya mendongak menatap langit-langit dengan pandangan yang benar-benar kosong dan rapuh. Topeng tegar yang sejak semalam ia pasang di depan Bundanya, kini runtuh tak bersisa.

Lintang menelan ludahnya yang terasa getir. Tanpa memedulikan keberadaan kedua orang tuanya yang sedang duduk di kursi tunggu tak jauh dari sana, Lintang melangkah maju mendekati Arka.

Dengan gerakan perlahan yang ragu, jemari lentik Lintang bergerak menyusup ke dalam sela-sela jari tangan kanan Arka yang kaku dan dingin, lalu menggenggamnya dengan sangat erat.

Arka sempat tersentak kecil karena kehangatan mendadak yang menyentuh kulitnya. Ia menolehkan kepalanya lambat-lambat, menatap lurus ke dalam manik mata bulat milik Lintang yang kini sedang menatapnya penuh keyakinan.

"Bunda pasti sembuh, Ka. Lu harus percaya," bisik Lintang lembut, intonasi suaranya mantap tanpa ada keraguan sedikit pun.

Arka tidak melepaskan tautan jari mereka. Sebaliknya, perlahan tapi pasti, jemari kekar sang atlet silat itu balas mencengkeram tangan Lintang dengan genggaman yang jauh lebih erat—seolah-olah Lintang adalah satu-satunya jangkar penahan yang membuatnya tidak ikut runtuh bersama dunianya siang itu.

1
siyuu nr
🩷
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!