Demi membiayai operasi ayahnya, Natalie nekat menjual keperawanannya pada seorang pria yang tidak ia kenal. Namun pria yang datang ternyata seorang dokter berhati baik yang justru ingin menyelamatkannya dari jalan buntu itu.
Setelah melewati malam yang penuh gairah, Drake malah kecanduan dengan tubuh Natalie, padahal dia tahu kalau wanita itu hanya mengejar uang.
Saat rahasia tergelap mereka terbongkar, mampukah hubungan rapuh dan terlarang ini tetap bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAb 26
Cahaya matahari yang lembut menyusup melalui celah tirai jendela besar, menyinari wajahnya yang tampan namun kini penuh konsentrasi. Jam dinding di ruang kerjanya sudah menunjukkan pukul dua siang, tapi bagi Drake, waktu seolah berhenti. Ia masih tenggelam dalam tumpukan rekam medis pasien-pasiennya yang rumit, kasus-kasus yang menuntut ketelitian luar biasa, di mana satu kesalahan kecil bisa berarti hidup atau mati.
Jari-jarinya menari lincah di atas keyboard laptop, suara ketukan yang ritmis memenuhi ruangan yang sunyi. Sesekali ia berhenti, meraih pena emasnya dan mencatat poin-poin penting di buku catatan kulit hitam yang sudah usang di pinggirannya. Bau tinta dan kertas baru bercampur dengan aroma kopi hitam yang masih mengepul di cangkir di sampingnya. Alisnya berkerut dalam, matanya yang tajam menyipit membaca setiap baris diagnosis, prognosis, dan catatan pengobatan.
Sebagai dokter yang masih muda, Drake tidak pernah membiarkan dirinya lengah. Hidupnya adalah rutinitas kerja keras, dedikasi, dan kesunyian yang ia jaga rapat-rapat.
Tiba-tiba, keheningan yang nyaman di ruang kerja itu pecah dengan suara yang tak diinginkan.
Drtt… Drtt… Drtt…
Getaran ponselnya yang nyaring dan berulang memecah konsentrasi seperti palu yang menghantam kaca.
Drake mengerutkan keningnya dalam-dalam, wajahnya langsung berubah menjadi ekspresi kesal yang jelas terlihat. Bibirnya menipis, rahangnya mengeras.
Ia melirik layar ponsel yang tergeletak di sudut meja dengan tatapan dingin. Nomor tak dikenal, tapi ia sudah tahu persis siapa yang berada di balik panggilan itu. Hanya satu orang yang selalu menggunakan nomor berbeda setiap kali menghubunginya, seolah itu trik kecil untuk menghindari blokir.
Dengan gerakan kasar dan penuh keengganan, Drake meraih ponsel itu. Jarinya sempat ragu di atas tombol hijau, tapi deringan yang semakin mengganggu membuatnya akhirnya menyerah. Ia mengangkat panggilan itu setelah beberapa deringan yang terasa seperti siksaan.
“Halo,” ucap Drake datar, suaranya dingin dan tak ramah, seperti es yang baru dipatahkan.
"...."
Drake diam saja, mendengarkan tanpa menyela. Tangan kirinya mengepal kuat di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih.
Semakin lama ia mendengar, semakin jelas amarah mulai mendidih di dadanya seperti lava yang siap meletus. Wajahnya yang tadinya netral kini memerah padam, urat-urat di lehernya menonjol menahan emosi yang ingin meledak. Napasnya mulai berat, dada naik turun dengan cepat.
“Aku tidak janji. Banyak pasien yang harus aku tangani,” jawab Drake tegas, suaranya rendah tapi penuh penekanan. Nada kesalnya tak bisa disembunyikan lagi, setiap katanya seperti pisau yang dilemparkan.
"....."
Obrolan itu terus berlanjut. Suara di seberang sana terdengar semakin mendesak, penuh dengan kata-kata manis yang Drake tahu hanyalah topeng. Ingatannya melayang sejenak, pada semua panggilan serupa di masa lalu, permintaan yang tak pernah berhenti, manipulasi halus yang selalu membuatnya merasa terjebak.
Tangan kanannya mencengkeram ponsel begitu erat hingga terasa mau retak. Drake menghela napas panjang dan berat, matanya terpejam sejenak seolah sedang mengumpulkan seluruh kekuatan untuk menahan diri agar tidak membentaknya.
Jari-jarinya yang bebas mengetuk-ngetuk meja dengan ritme cepat dan gelisah, pertanda ia sedang sangat tidak senang. Denyut nadinya terasa di pelipisnya, kepalanya mulai pusing karena amarah yang tertahan.
“Baiklah,” akhirnya Drake pasrah, suaranya datar dan terpaksa.
Tanpa menunggu balasan lebih lanjut, ia langsung menutup telepon dengan jempolnya yang kasar. Ponsel itu dilemparnya ke meja dengan gerakan penuh emosi hingga benda tersebut meluncur beberapa senti dan hampir terjatuh ke lantai.
Suara denting kecil terdengar ketika ponsel menyentuh permukaan kayu meja.
Drake menyandarkan punggungnya ke kursi dengan kasar, kepalanya mendongak ke langit-langit ruangan. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, menarik napas dalam-dalam berkali-kali seolah berusaha mengusir racun dari tubuhnya. Amarah masih membara di dadanya, panas dan menyakitkan.
Panggilan itu dari neneknya, wanita tua yang selalu mengklaim sebagai satu-satunya keluarga yang tersisa. Dia meminta Drake datang ke rumahnya untuk makan malam keluarga. Tapi Drake tahu betul, itu hanya alasan. Di balik undangan manis itu, pasti ada agenda lain, entah omelan, atau upaya untuk mengatur hidupnya kembali.
“Wanita tua itu semakin merepotkan,” gumam Drake sendirian, suaranya penuh kejengkelan yang mendalam. “Setiap kali, selalu ada alasan baru. Seolah aku tidak punya kehidupan sendiri.”
Ia bangkit dari kursi, berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya yang luas. Bayangan masa kecilnya yang penuh tekanan melintas di benaknya, bagaimana neneknya selalu mengendalikan segalanya, bagaimana ia harus menjadi sempurna demi memenuhi harapan keluarga.
Sekarang, meski sudah sukses, beban itu tak pernah benar-benar hilang. Drake berhenti di depan jendela, memandang keluar ke taman rumahnya yang hijau, tapi pikirannya tetap gelap.
Malam ini, ia harus pergi. Bukan karena ingin, tapi karena rasa bersalah yang selalu berhasil ditanamkan neneknya. Dengan hati yang berat, Drake kembali ke meja kerjanya, mencoba melanjutkan pekerjaan. Tapi konsentrasinya sudah buyar. Hanya ada amarah yang tersisa, dan bayangan pertemuan yang tak diinginkan di depan mata.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nathalie berdiri di depan wastafel toilet rumah sakit, air dingin mengalir deras dari keran. Ia mencuci wajahnya berulang kali, berharap air itu bisa membawa sedikit kesegaran setelah berjam-jam menjaga ayahnya. Toilet di kamar ayahnya airnya tidak keluar, sehingga dia memggunakan toilet yang lain, di luar kamar ayahnya.
Ceklek....
Tiba-tiba pintu toilet terbuka. Nathalie melirik sekilas melalui cermin. Sela masuk dengan langkah cepat dan tegas. Wanita itu langsung mengunci pintunya.
Suasana langsung berubah. Udara terasa lebih berat, lebih sesak.
Nathalie mengerutkan kening, tangannya masih basah di atas wastafel. “Dokter Sela? Ada apa....”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimat, Sela sudah bergerak cepat seperti predator. Tanpa sepatah kata pun, tangan Sela menyambar rambut Nathalie dari belakang dengan kasar.
Jari-jarinya menjepit kuat, mencengkeram helai-helai rambut hitam itu hingga kulit kepala Nathalie terasa terbakar.
“Eh!”
Dalam sekejap, Sela menarik kepala Nathalie ke belakang dengan kekuatan penuh amarah, lalu membenturkannya keras ke permukaan wastafel keramik yang dingin.
DUGH!
Suara benturan yang mengerikan bergema di ruangan kecil yang tertutup itu. Kepala Nathalie membentur pinggiran wastafel dengan keras.
“Akhhh.....!” pekik Nathalie kesakitan. Rasa nyeri yang tajam dan panas langsung meledak di dahinya, menyebar ke pelipis dan belakang kepalanya. Pandangannya berkunang-kunang sejenak. Air mata tanpa sadar menggenang di sudut matanya.
Darah tipis mulai mengalir dari luka kecil di dahi atau hidungnya, ia tidak yakin. Rasa asin dan hangat menetes ke bibirnya. Lututnya goyah, tangannya mencengkeram pinggiran wastafel agar tidak jatuh.
Sela masih menarik rambutnya kuat-kuat, memaksa Nathalie tetap membungkuk di atas wastafel. Napas wanita itu terdengar berat dan penuh dendam di belakang telinga Nathalie.
“Sudah pernah kukatakan. jauhi Drake!! Kau tidak pantas untuk dia” sentak Sela dengan suara rendah yang penuh ancaman. “
Nathalie berusaha mengangkat kepalanya, tapi cengkeraman Sela terlalu kuat. “dokter Sela lepas, sakit…” suaranya parau dan terputus-putus karena nyeri.
Sela tertawa kecil, suaranya dingin dan sinis. “Kau pikir aku bercanda? Kau cuma orang kampung. Tidak punya darah biru, tidak punya nama besar, tidak punya apa-apa selain wajah cantik murahan ini"
Setiap kata diucapkan dengan penekanan penuh kebencian. Sela menarik rambut Nathalie lebih keras lagi, membuat gadis itu meringis dan menggigit bibirnya menahan erangan kesakitan.
Nathalie merasa dunia berputar. Bau darah bercampur dengan bau besi wastafel. Air keran masih mengalir, suaranya kini terdengar jauh dan samar. Rasa takut mulai merayap di dada, bercampur dengan amarah dan kebingungan.
“Kenapa dokter Sela melakukan ini…” bisik Nathalie lemah, suaranya hampir hilang.
“Karena kau tidak tahu diri,” jawab Sela dingin.
“Ini baru peringatan. Kalau kau masih nekat mendekati Drake, aku akan pastikan kau kehilangan segalanya. Pekerjaan, reputasi, bahkan nyawa sekalipun.”
Sela akhirnya melepaskan cengkeramannya dengan kasar.
Nathalie hampir ambruk, kedua tangannya bertumpu kuat di wastafel agar tubuhnya tidak jatuh ke lantai yang dingin. Rambutnya acak-acakan, beberapa helai menempel di wajahnya yang basah oleh air, keringat, dan darah.
Sela melangkah mundur, menatap Nathalie dengan pandangan jijik. Ia merapikan bajunya sendiri dengan tenang, seolah tidak ada yang terjadi.
“Ingat baik-baik. Jauhi Drake, atau kau akan menyesal seumur hidup.”