Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.
Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.
Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.
Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Jebakan yang Datang Kembali
Emak kembali memusatkan perhatian pada kaki Yanti. "Nah, sekarang Mak urut sedikit, ya."
"I-iya..."
Awalnya pijatan itu terasa ringan. Namun perlahan, tekanan tangan emak semakin kuat.
"Aduh... Mak... pelan-pelan..." rintih Yanti sambil menggenggam ujung sofa.
Emak tetap tenang. "Kalau terlalu pelan, uratnya malah susah lemas. Biar cepat pulih, memang harus begini."
"Aduh... sakit..." Yanti mulai berkeringat.
Beberapa menit kemudian, ia sudah tidak sanggup lagi. "Mak... kayaknya sudah mendingan. Sudah nggak sakit lagi."
Emak menggeleng. "Belum selesai."
"Tapi aku sudah bisa jalan."
"Rasa sakitnya memang bisa berkurang," jelas emak sambil terus memijat, "tapi urat yang tegang harus dibenahi sampai tuntas. Kalau berhenti di tengah, nanti gampang kambuh."
Wajah Yanti mulai memerah menahan nyeri. Dalam hati ia mengumpat.
"Dasar sial! Gara-gara aktingku sendiri, sekarang malah benar-benar kesiksa."
Belum lagi piring yang pecah tadi harus diganti dari gajinya. Rencana mengambil alih toko benar-benar berantakan.
Beberapa saat kemudian, emak akhirnya menarik tangannya. "Nah, selesai."
Yanti langsung mengembuskan napas panjang penuh kelegaan.
Emak berdiri sambil merapikan kerudungnya. "Kalau nanti ada yang sakit lagi, tinggal panggil Mak."
Vira tersenyum manis. "Siap, Mak. Terima kasih banyak."
Emak mengangguk sambil melirik sekilas ke arah Yanti yang masih memegangi kakinya.
"Kakinya jangan dipakai buat alasan macam-macam lagi... eh, maksud Mak, jangan dipakai kerja terlalu berat dulu."
Yanti hanya bisa tersenyum kaku, sementara Vira buru-buru menunduk agar tawanya tidak lepas.
***
Daril baru saja pulang dari klinik. Ia memapah ibunya yang masih lemah menuju kamar, lalu membantu wanita itu duduk di atas ranjang.
"Daril, kenapa buru-buru membawa Ibu pulang? Bukannya Ibu masih harus dirawat?" protes Mirna.
Daril mengembuskan napas panjang.
"Bu, aku sudah gak punya uang buat biaya rawat inap. Tadi aku sampai jual bufet supaya bisa melunasi tagihan klinik."
"Apa?!" Mata Mirna membelalak. Ia refleks hendak berdiri.
Namun Daril buru-buru menahan bahunya.
"Tenang, Bu. Jangan dipaksakan. Nanti darah tinggi Ibu naik lagi."
"Bagaimana Ibu bisa tenang?" Mirna memegangi dadanya yang mulai terasa sesak. "Kalau begini terus, lama-lama semua perabot rumah habis dijual. Bisa-bisa kita tidur beralaskan tikar!"
Daril mengusap wajahnya dengan kasar.
"Mau bagaimana lagi? Aku juga belum dapat pekerjaan yang penghasilannya bagus."
Ia terdiam sesaat sebelum kembali berkata, "Ditambah lagi... Vira tiba-tiba berubah. Dia gak mau minjemin uang lagi."
Mirna langsung mengernyit. "Kenapa? Bukannya biasanya sekali kamu minta langsung dikasih? Ini jangankan kasih uang, nengokin Ibu saja enggak."
Daril menggeleng pelan. "Aku juga gak tahu, Bu. Pokoknya hari ini Vira benar-benar aneh. Rasanya kayak bukan Vira yang selama ini aku kenal."
"Aneh bagaimana?"
"Dia malah nyuruh aku kerja jadi ojol. Katanya aku gak boleh terus bergantung sama dia."
Mirna mendecak sinis. "Cih! Calon menantu macam apa itu? Kalau bukan karena dulu kamu menyelamatkan nyawanya, mungkin sekarang dia sudah mati."
Mirna menyipitkan mata. "Jangan-jangan dia sudah dekat sama laki-laki lain."
Daril mengangkat kepala. "Laki-laki lain?"
"Iya." Nada suara Mirna mulai dipenuhi kecurigaan. "Kalau bukan begitu, mana mungkin sikapnya berubah secepat itu? Kamu harus awasi dia. Jangan sampai ada orang lain yang merebutnya."
Daril mengepalkan tangannya. "Nggak akan kubiarkan."
Ia langsung berdiri dan melangkah menuju pintu.
"Eh, Ril!" panggil Mirna. "Mau ke mana?"
"Keluar sebentar." Daril berhenti sesaat di ambang pintu, lalu menoleh. "Dan Ibu jangan makan sembarangan lagi. Kalau darah tinggi Ibu kambuh, aku juga yang pusing cari duit buat biaya berobat."
Mirna mendengus kesal. "Iya, iya. Ibu tahu."
Daril pun keluar dari rumah dengan rahang mengeras. Di dalam kepalanya hanya ada satu pertanyaan.
Kenapa Vira berubah?
Dan jika benar ada pria lain di dekat Vira, ia harus mencari tahu siapa orang itu.
***
Setelah keluar dari rumah, Daril duduk di warung kopi di pinggir jalan. Ia hanya memesan segelas kopi hitam dan sebatang rokok karena uang di sakunya sudah hampir habis.
Di meja sebelah, tiga orang pria sedang mengobrol. Tak lama kemudian, sebuah motor sport melintas di depan warung.
"Eh, itu bukannya si Toyib?" tanya salah seorang dari mereka.
"Iya, benar. Wah, motornya baru, ya? Mahal tuh."
"Iya. Aku dengar usaha kredit pakaiannya lagi lancar. Baru dua tahun, tapi usahanya sudah maju pesat."
"Sekarang memang paling enak jualan kredit pakaian."
"Betul. Untungnya lumayan. Modalnya juga terus berputar."
"Iya. Orang kampung lebih senang nyicil daripada beli tunai."
"Apalagi sekarang banyak yang kapok belanja online. Barang yang datang sering gak sesuai sama gambarnya."
Daril yang sejak tadi melamun mulai memasang telinga.
Salah seorang pria kembali berkata, "Kalau punya modal tiga puluh sampai lima puluh juta, usaha begitu sudah bisa jalan."
"Sepertinya harus dicoba." Daril menghabiskan kopinya dalam sekali teguk, lalu berdiri.
"Eh, Ril, mau ke mana?" tanya salah seorang pria.
"Mau pulang dulu," jawab Daril sambil melambaikan tangan.
Sesampainya di rumah, ia langsung menghampiri Mirna yang sedang duduk di atas karpet sambil menonton televisi.
"Bu."
Mirna menoleh. "Ada apa?"
Daril duduk di samping ibunya. "Tadi aku dengar orang-orang ngomongin usaha kredit pakaian. Katanya untungnya lumayan. Modal sekitar tiga puluh sampai lima puluh juta saja sudah bisa mulai."
Mirna langsung mematikan televisi. "Terus?"
"Aku kepikiran mau coba."
Senyum Mirna langsung mengembang. "Nah, itu baru anak Ibu."
"Tapi..." Daril menggaruk tengkuknya. "Modalnya dari mana?"
Mirna mendekat. "Besok temui Vira."
Daril menghela napas. "Tapi setelah kejadian tadi pagi... aku gak yakin dia bakal mau, Bu."
"Kalau dia takut uangnya hilang, bilang saja kalian segera menikah," ujar Mirna mantap. "Rumahnya besar, 'kan? Suruh dia gadaikan saja."
Daril masih tampak ragu. "Ibu yakin dia bakal setuju?"
Mirna tersenyum penuh keyakinan. "Perempuan yang benar-benar mencintai laki-laki pasti rela berkorban."
Perlahan, keraguan di wajah Daril menghilang. Ia mengangguk pelan.
"Baiklah." Senyum tipis terbit di sudut bibirnya.."Kalau modal itu sudah di tanganku... hidup kita pasti berubah."
Mata Daril langsung berbinar. Ia mulai menghitung dalam hati.
"Kalau Vira mau kasih modal... usaha ini pasti bisa jalan."
Semakin dipikirkan, ia semakin bersemangat.
"Kalau usahaku berhasil, aku bisa hidup enak."
Dalam benaknya, meminta modal kepada Vira bukanlah sesuatu yang salah. Bukankah dulu ia pernah menyelamatkan gadis itu?
Keesokan harinya...
Daril kembali mendatangi rumah Vira. Dari kejauhan, ia melihat gadis itu sudah sibuk melayani pelanggan di toko sembakonya.
Senyum Daril langsung mengembang.
"Ra..."
...✨"Tidak semua utang budi harus dibayar dengan mengorbankan seluruh masa depan."...
..."Orang yang terbiasa hidup dari pengorbanan orang lain akan menganggap bantuan sebagai kewajiban, bukan lagi kebaikan."✨...
.
To be continued
silahkan saja kalo bisa,nanti kalianlah yang akan menyesal...
buat mereka jera Vira
orang yg di beri kesempatan bukan ya berbuat Baik tapi malah semakin jahat ..
keluarga bisa Jadi musuh terbesar dalam ujian hidupmu vira , kamu usir Salah g kamu usir kamu sendiri yg di buat menderita oleh mereka
keep strong vira
semangat buat kak Nana juga
ra vira usir aja tuh yanti sudah cukop kamu kasih dia kesempatan Dan tempat tinggal ,, jauhilah orang² yang tak pernah menghargai kebaikanmu
Hayo lo Yanti bentar lagi kamu di usir karena ulahmu sendiri nyari penyakit sama Vira😄
mirna sm daril hukim untuk minta maaf dan denda sejumlah uang.. krn dia sdh menyebabkan usaha vira menurun., dan biarkan hukuman sosiak daru masyarakat..