Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.
Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.
Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.
Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.
Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vonis Mandul : 01
“Iya sayang, nanti aku jemput —”
“Kamu ngobrol sama siapa, Mas?” tanya wanita mengenakan kaos oblong, rambut dicepol, celana longgar selutut. Ia membawa secangkir kopi. Minuman rutin pagi hari suaminya.
Pria yang masih menggenggam ponsel dan tertempel pada telinga, tersenyum tipis lalu memasukan alat komunikasi itu ke saku celana jeans panjang.
“Kartika, cintaku,” ucapnya lembut dengan sorot mata penuh damba hanya ditujukan teruntuk istrinya seorang.
Helyara Utomo mengangguk paham. Tak mempermasalahkan. Ditaruhnya minuman masih mengepulkan uap di atas meja rotan bundar bagian atas ditimpa kaca transparan. “Minum dulu selagi hangat, Mas.”
Alandi mempersempit jarak, melingkarkan kedua tangan memeluk istrinya dari belakang. “Enam tahun sudah kita menikah, rasa cinta Mas ke kamu semakin bertambah setiap detiknya.”
Hatinya menghangat penuh rasa bahagia. Pria yang memeluknya ini tak berubah sedari awal menikah hingga detik ini selalu menghujaninya dengan kata-kata cinta serta tindakan nyata.
“Helya juga sayang banget sama kamu, Mas,” bisiknya mengutarakan perasaan tulus.
Pelukan perlahan mengerat, lalu disertai kecupan bertubi-tubi pada pipi mulus tanpa makeup. “Mas beruntung banget bisa menikah dengan wanita sebaik kamu. Penuh pengertian, keibuan.”
Ia memejamkan mata, meresapi dekapan penuh perlindungan bagi hidupnya sudah sebatang kara selama enam tahun lamanya.
“Sudah, sudah.” Ditepuknya lengan membelit perut. “Nanti minumannya dingin. Aku mau lanjutin menyelesaikan desain akhir sebelum diserahkan ke pandai emas.”
Cup.
Sebuah kecupan mendarat di sudut bibir, lalu pelan-pelan diputarnya tubuh terbilang gemuk dengan bobot tubuh 75 kilogram memiliki tinggi badan 156 centimeter.
“Jangan memaksakan diri, bila lelah istirahatlah. Mas gak mau ngeliat kamu sampai sakit dikarenakan terlalu memforsir tenaga serta pikiran, cintaku.” Ia jawil pucuk hidung terdapat tahi lalat kecil.
“Gak capek, kok. Aku cuma duduk berjam-jam di kursi meja kerja yang kamu belikan khusus demi membuatku nyaman dalam menuangkan ide di atas kertas sketsa desain emas,” jawabnya menenangkan.
“Kamu kalau dibilangin gitu terus pembelaannya.” Terlanjur gemas, digigitnya dagu memiliki lipatan lemak.
Akhhh!
Sang wanita memekik, pura-pura merajuk dengan melototi pria terkekeh tanpa rasa bersalah. “Kebiasaan banget mas Alan.”
“Habisnya kamu gemesin banget, Sayang.” Alan memeluk dari depan, meredam kekesalan istri yang memiliki tinggi hanya sepundaknya.
“Buruan minum gih, jangan lupa nanti siang jemput Kartika. Kalau telat bakalan marah-marah seharian penuh sampai sakit telingaku mendengar pekikannya.” Helya mundur, otomatis pelukan terlepas.
“Siap tuan putri.” Alan mengacak-acak rambut Helyara, kemudian dia duduk dan meraih tangkai cangkir, menyeruput kopi memiliki citarasa pas di lidahnya.
“Apa gak sebaiknya mbak Zanaya dan mas Wandi mulai mendisiplinkan Kartika, Mas?” tanyanya belum pergi dari teras halaman belakang hunian peninggalan orang tuanya.
Alan teguk dulu kopi yang tepi cangkirnya sudah menempel di bibir, sesudahnya meletakkan di atas piring pipih.
“Kartika itu putri semata wayang mereka, cucu pertama dikeluarga Mas. Kebanggaan sekaligus pelengkap kebahagian Mama sama Papa dan semua orang. Wajar saja kalau sangat dimanja,” jelasnya memberi pengertian.
Helya mengunci mulut, tahu betul kalau sudah ada kalimat cucu pertama, ia harus tahu diri jika belum bisa memberikan keturunan.
“Lagian kalau bukan untuk keluarga, buat siapa hasil kerja keras kita? Kamu tak kunjung hamil,” ucapannya pelan namun dalam.
“Maaf, Mas. Aku mau lanjutin kerjaan sempat tertunda.” Bibirnya mengulas senyum, tetapi sepasang bola mata kecoklatan berkaca-kaca.
Sakit, teramat menusuk kalimat pria yang mengungkit tentang keturunan. Helya berjalan cepat, secepat hatinya menyingkirkan perasaan terluka.
Alan menghembuskan napas lelah. Hubungannya dengan sang istri selalu harmonis, tak pernah memiliki masalah berarti, hanya satu masalah mereka yang hingga kini tak kunjung terselesaikan — belum memiliki keturunan.
Di dalam ruang kerja luas yang memiliki jendela besar terhubung dengan taman bunga Mawar, Helya melamun. Air mata ketidakberdayaannya meluncur bebas.
“Kenapa kamu belum juga hadir nak?” Diremasnya perut terasa lembek, berlipat lemak.
“Apa usahaku masih kurang? Atau memang tidak ditakdirkan memiliki anak?” gumamnya seorang diri.
Hamparan pohon Mawar yang sedang berkembang bewarna merah, pink, dan kuning tidak lagi ampuh memberi ketenangan bagi jiwa merindukan hadirnya buah hati.
Helya meninggalkan meja kerja, lalu melangkah ke lemari pajangan penuh barisan buku, piagam, lalu membuka laci bagian tengah dan menarik map diantara tumpukan berkas.
Diambilnya sebuah kertas yang pertama kali melihat membuatnya memucat ditampar oleh kenyataan. Dirinya divonis sulit hamil, dikarenakan hanya memiliki satu saluran indung telur yang berfungsi. Itupun tidak subur.
“Apa yang harus aku lakukan? Ini diluar kuasaku. Bukan gak mau berusaha, tetapi setiap usaha selalu menemui titik akhir — kegagalan.” Kertas dalam genggaman dimasukkan lagi ke dalam laci.
Dia benci keadaan yang membuatnya lemah, merasa kerdil.
“Sayang ….”
Saking asyiknya melamun, meratapi kekurangan, Helya sampai tidak menyadari suaminya masuk.
Alan bergeser ke depan, menjepit dagu istrinya agar wajah Helya mendongak. Ditatapnya langsung manik basah sedikit memerah. “Maaf. Mas gak bermaksud menyudutkanmu.”
Helyara memejamkan mata, bersamaan dengan itu air matanya tumpah.
Ia remat kemeja disetrika licin, menyalurkan perasaan berkecamuk dalam dada.
“Bukan mauku menunda kehamilan, tapi memang belum dikasih, lantas bisa apa?” katanya dengan suara lelah.
“Maaf, Helyara. Maafkan mulut tajam Mas yang tak berhati nurani.” Ia kencangkan dekapan sambil mengelus punggung istrinya yang mulai menangis kencang.
Kemesraan itu terganggu oleh dering ponsel Alan.
Dengan tangan kiri ia ambil handphone di saku celana, sedangkan tangan kanan masih memeluk pinggang Helya yang mulai tenang.
“Alan, jemput Mama sama Papa di terminal. Sekarang!”
Titah suara di ujung sana dengan nada enggan dibantah mengejutkan Helya.
“Mama datang kenapa gak kasih kabar dulu?” setengah terkejut dia bertanya, selebihnya sedikit kesal karena orang tuanya terkadang sesuka hati.
“Jangan banyak tanya! Buruan jemput kami. Panas di sini!”
Alan mendengus, ingin protes tetapi yang dihadapi orang tua kandungnya sendiri.
“Jemput lah, Mas. Kasihan Mama sama Papa, pasti kecapean habis menempuh perjalanan dua jam lamanya.” Ia memaksakan senyum manis, dalam hati menahan kesedihan.
“Kamu gapapa kalau Mama sama Papa menginap disini?”
“Gapapa. Mereka juga orang tuaku,” mulutnya berkata tidak keberatan, tetapi hatinya bilang sebaliknya.
“Ya sudah, Mas jemput mereka dulu. Pinta pembantu siapkan kamar sama hidangan lezat.” Alan mengecup kening Helya, lalu terburu-buru keluar dari ruang kerja.
Helyara tergopoh-gopoh keluar mencari asisten rumah tangga, lalu bersamanya bekerja gesit, merapikan kamar tamu.
Tak terasa jam berputar seperti melompat, waktu pun berkejaran membuat wanita berdiri di teras depan rumah merasa was-was menunggu kedatangan kedua mertuanya.
Mobil Fortuner warna hitam mengkilap memasuki halaman luas ditanami pohon buah-buahan.
Helyara menuruni anak tangga, berlari pelan sampai lengan bergelambirnya berayun-ayun.
Pintu mobil dibuka, seorang wanita tengah menggendong bayi menghentikan langkah kaki Helyara.
.
.
Bersambung.
mau minta duitmu itu, Hel...
tabok aja mukanya...bilang aja, reflek karena kaget 🤭
mobil udah di jual..
abis ini cari rumah baru.
rumah lama mau di apain nih?
kan umumnya yg dtang ke toko emas,orang yg punya duit 🤭