bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?
Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Cahaya lampu kristal yang menyilaukan menyambut Nadira saat ia membuka mata.
Langit-langit kamar yang tinggi dan perabotan mahal di sekelilingnya terasa sangat asing.
Aroma parfum mahal bercampur bau rokok sisa semalam memenuhi udara, membuat
kepalanya sedikit pusing.
"Aduh dimana ini!" Nadira menggumam. Ia mengedipkan mata beberapa kali, mencoba memproses di mana dia berada sekarang.
Nadira menatap tangannya yang lentik dan terawat, kulit yang tidak pernah ia miliki
sebelumnya. Ia menyentuh wajahnya, merasakan tulang pipi yang tajam dan alis yang terbentuk sempurna.
Di cermin besar di hadapannya, wajah Clarissa menatapnya dengan tatapan dingin yang sangat asing. Jantungnya berdebar kencang, menyadari bahwa ia bukan lagi dirinya yang lama.
"Eh, tubuh siapa ini? Kenapa aku bisa berada di tubuh ini? Mana pemilik tubuh ini sangat sempurna, pasti bukan dari kalangan biasa!"
Gumam Nadira lagi. Wanita itu menarik selimut sutra pelan-pelan, mencoba menstabilkan napasnya yang mulai memburu. Kakinya terasa berat saat mencoba turun dari ranjang king size yang terlalu
empuk.
Setiap langkah di atas karpet tebal terasa canggung, seolah-olah ia sedang
memakai kostum yang salah.
"Ahh!" kepalanya terasa sakit. Pemilik tubuh ini memberi penglihatan sebelumnya kepada Nadira. Meminta agar Nadira harus memainkan peran Clarissa dengan sempurna. jika ia ingin bertahan hidup di tempat ini.
Tiba-tiba, suara barang jatuh memecah kesunyian pagi itu. Nadira menoleh ke arah sofa di sudut ruangan. Arga, suaminya yang berantakan, sedang duduk dengan kaki di atas meja.
"Astaga pria itu membuatku kaget saja!" celoteh Nadira sembari mengusap dadanya.
Pria itu tampak kelelahan, dengan kemeja terbuka dan rahang yang mengeras.
Ketegangan memenuhi udara, membuat Nadira enggan untuk bergerak atau membuat
suara.
Sekarang Nadira tahu semuanya tentang pemilik tubuh ini. Pria tersebut adalah suaminya. Hubungan mereka tampak tidak baik. Entah bagaimana Nadira berada di situasi seperti ini. Apalagi pria itu adalah tipe idamannya. Nadira ingin berjingkrak mengetahui jika seharusnya posisinya saat ini adalah impiannya di masa depan.
Arga mendongak, menatap Nadira dengan mata merah yang penuh kemarahan.
"Kamu sudah bangun?" suaranya parau dan rendah.
"Aku pikir kamu akan tidur seharian setelah semua drama yang kau buat tadi malam."
"Memangnya apa yang kulakukan?"
"Pura-pura Amnesia!" cibir Arga dengan sinisnya.
Nadira menelan ludah, berusaha menyesuaikan suaranya agar tidak terdengar seperti dirinya sendiri. Ia mencoba mengingat bagaimana Clarissa biasa berbicara kepada pria ini.
"Aku tidak butuh komentar dari orang yang pulang pagi dan merusak suasana rumah,"
jawabnya, berharap nada itu cukup tajam untuk menutupi rasa takutnya.
Arga tertawa sinis, sebuah suara yang membuat bulu kuduk Nadira berdiri. Ia berdiri dan berjalan mendekat, menciptakan bayangan yang menakutkan di atas tubuh Nadira.
"Suasana rumah?" Ia berhenti tepat di depan Nadira, menatap tajam ke dalam mata
Clarissa.
"Kau yang menghancurkan rumah ini, Clarissa. Jangan berlagak seperti korban."
Nadira mundur selangkah, tapi punggungnya menabrak bingkai jendela yang dingin. Ia
bisa mencium bau alkohol dan kemarahan dari napas Arga. Kebencian di antara mereka
terasa nyata dan mengancam, jauh lebih berat daripada yang ia bayangkan. Ia harus
segera beradaptasi dengan kehidupan baru yang penuh dengan kebencian dan intrik
keluarga ini.
"Aku tidak punya waktu untuk bertengkar denganmu," Nadira berkata, mencoba
mengumpulkan sisa keberaniannya. Ia berpaling, memutus kontak mata yang
menyesakkan itu.
Matanya melirik ke arah pintu kamar mandi mewah, tempat ia bisa
bersembunyi sejenak untuk berpikir jernih tentang warisan dua ratus triliun itu.
Ia tahu jika ingin mendapatkan warisan tersebut, ia tidak boleh menunjukkan kelemahan sedikit pun di depan Arga atau siapapun.
"Aku sungguh tidak bisa membayangkan jika terus berada di sisi pria itu. Masalahnya banyak sekali intrik dengan pemilik tubuh ini," Nadira menarik napas panjang, merapikan kerah gaun tidurnya yang mahal, dan bersiap untuk keluar dari kamar.
Ini adalah perang pertamanya, dan ia harus memenangkannya dengan senyum yang palsu.
Napas pagi terasa dingin di ruang makan yang sepi. Arga berdiri di dekat jendela,
punggungnya membelakanginya. Suara langkah kaki Nadira di lantai marmer memicu
percakapan yang tajam.
"Kamu tidak akan pergi ke mana-mana hari ini, kan?" tanya Arga tanpa menoleh.
Nadira mengerutkan kening. Ia mencoba memproses memori Clarissa yang berkelebat di kepalanya. Tubuh ini menyimpan dendam lama, namun ia adalah Nadira yang
terperangkap.
Ia baru saja terbangun di tubuh wanita yang paling dibenci di rumah ini.
Arga akhirnya berputar. Suaminya yang urakan itu menatapnya dengan pandangan
meremehkan. Jemari Arga menggenggam erat bingkai foto hingga kuku jarinya memutih.
Ia menganggap Clarissa adalah beban yang harus diawasi terus-menerus.
Nadira menarik napas dalam. Ia mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu cepat. Ia harus bersikap tenang agar tidak dicurigai. Satu kesalahan kecil saja, maka warisan dua ratus triliun akan hilang selamanya.
"Aku ingin sarapan," jawabnya pelan.
Arga tertawa sinis. Tawa itu memenuhi ruangan dan memicu rasa sakit di dada Nadira.
Arga mendekat, menatap mata Nadira dengan curiga. Ia seolah tahu ada sesuatu yang
berubah dari cara Clarissa biasanya menyusun kata-kata.