Dipertemukan secara tidak sengaja dengan mantan suaminya yang dulu pernah disia-siakan lewat anaknya yang ditolong karena masuk got.
Lalu apa yang akan terjadi setelah tragedi masuk got itu? Akankah ada cinta di hati kedua mantan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Sebuah Foto di Dompet Marisa
Marisa sudah tidak bisa dikejar lagi, sebab travel yang membawanya sudah pergi. Raka nampak menyesal tidak bisa mengejar Marisa. Tapi apa boleh buat, dompet Marisa yang tertinggal di meja Kasir tadi, terpaksa harus dia kembalikan besok saat di Jakarta.
"Bagaimana, Den, travelnya tidak bisa terkejar?"
"Tidak , Mang. Travelnya sudah keburu pergi, terpaksa besok saya harus kembalikan," sahut Raka seraya menyimpan dompet berwarna kuning itu ke dalam saku celananya.
"Kalau tidak keberatan, biar saya saja yang kembalikan besok, asal ada alamat Nona tadi," usul Mang Raga yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari Raka.
"Biar saya besok pertimbangkan, lagipula saya ragu alamatnya masih di sana atau sudah pindah. Sekarang lebih baik Mang Raga dan Bi Rasmi bersiap untuk kepulangan kita ke Jakarta, ba'da Dzuhur," ujar Raka yang diangguki Mang Raga.
Raka kembali ke dalam hotel dan bersiap untuk berkemas, untuk kepulangannya nanti habis Dzuhur ke Jakarta. Raka merogoh dompet Marisa yang dia simpan di saku celananya, lalu dilihat sejenak, kemudian disimpan dan diamankan di dalam tas ranselnya.
"Papaaa," teriak Cila seraya merangkul Raka. "Coba kita pulangnya tadi bareng sama Tante Risa dan Tante Qisa, aku pasti akan tahu rumahnya di mana," celoteh Cila sembari merengut.
"Kita tidak mungkin sama-sama mereka, sebab mereka sudah dijemput oleh mobil travel. Sudahlah, Cila jangan ngambek lagi, ya. Sekarang bersiap-siap, minta Bi Rasmi persiapkan barang-barang Cila," ujar Raka membujuk Cila.
Akhirnya Cila tidak ngambek lagi, dia mau mengikuti Raka setelah berhasil dibujuk.
Setelah Dzuhur, Raka check out dari hotel itu. Mobil Raka yang dikemudikan Mang Raga, segera keluar dari kawasan hotel dan kini melaju di jalan yang menghubungkan ke arah Jakarta.
Kurang lebih 9 jam, perjalanan Raka dari Pantai Pangandaran ke Jakarta tiba dengan selamat. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam, Bi Rasmi segera membawa Cila ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Raka.
Raka segera memasuki kamarnya, dengan sangat lelah dia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Sejenak dia melepas lelah sebelum ke kamar mandi membasuh diri.
Tiba-tiba sekelebat bayangan Marisa hadir di kepala Raka. Raka segera bangkit dan ingat akan dompet Marisa yang tertinggal tadi di Kasir resto. Raka meraih tas ransel dan membukanya, mencari dompet Marisa. Dengan mudah dompet warna kuning mencolok bertuliskan Deasy itu diraihnya. "Ini dia," serunya seraya menimbang-nimbang sejenak di tangannya.
Raka bingung bagaimana caranya dia mengembalikan dompet Marisa ini. Apakah menyuruh Mang Raga untuk mengembalikan atau dia saja yang kembalikan. Ada dua kemungkinan untuk Raga mengembalikan. Ke tempat Marisa bekerja atau ke rumahnya. Tapi yang menjadi masalah adalah, apakah Marisa masih tinggal satu rumah dengan orang tuanya atau tidak, dan pilihan kedua ke alamat kantornya yang dia belum tahu di mana Marisa bekerja.
Raka yakin di dalam dompet itu pasti ada petunjuk tentang alamat kerja Marisa, untuk itu Raka terpaksa harus membongkar dompet milik Marisa tanpa ijin.
Sejenak Raka masih ragu untuk membongkar isi dompet Marisa, Raka menyesal tadi dia tidak meminta nomer Hp Marisa. "Sialan, kenapa tadi aku tidak meminta nomer Hp perempuan sok ABG itu, atau meminta nomer adiknya saja. Kalau tahu nomernya, kan enak biar dia saja yang datang mengambil dompetnya ke tempat yang aku mau," dengusnya.
"Baiklah, aku buka saja dompetmu mantan istri nakalku," ejeknya sembari mulai membuka sleting dompet itu, dengan maksud mencari petunjuk alamat kantor atau rumah Marisa. Dompet itu sedikit tebal, bisa jadi Marisa menyimpan uang kes yang banyak di dalamnya.
Baru saja sleting dompet itu terbuka penuh, Raka diperlihatkan benda pertama adalah uang berwarna merah dan biru. Kalo diperkirakan mungkin saja uang itu ada tiga juta lebih. Raka sebenarnya tidak enak melihat-lihat dompet punya orang lain, dia merasa dosa. Namun hal ini dia lakukan dengan terpaksa. Tapi kali ini dia harus nekad menghitung uang itu, biar dia bisa melaporkan jumlah uang itu ke Marisa dengan jelas sesuai yang ia temukan.
Saat dihitung, uang itu ada tiga juta tiga ratus empat puluh ribu. "Banyak juga dia nyimpan uang cash di dompet, apa tidak takut hilang?" guman Raka khawatir. Penemuan pertama uang yang telah dihitungnya, dia catat dalam hati jumlahnya, lalu dia masukkan kembali ke sela di dalam dompet itu seperti semula.
Setelah itu, Raka mulai merinci satu persatu sela di dalam dompet itu, tadinya hanya ingin melihat KTPnya saja yang statusnya masih kawin padahal dia janda. "Statusnya masih kawin, alamatnya juga masih sama di perumahan Puspa Residen," gumannya lagi. Dalam hati Raka sedikit lega, sebab jika dia mau mengembalikan dompet itu tidak akan susah banget sebab alamat rumahnya masih di situ.
Tidak berhenti di situ, Raka masih menyuai sela dompet lainnya. Ada kartu ATM dua buah, kartu nama, kartu vaksin Covid, BPJS, dan lain-lain. Lalu yang terakhir Raka melihat sebuah foto di sela dompet transparan, jelas itu foto Marisa saat usia sekitar dua puluhan. Lalu dibukanya lagi, ternyata di bawahnya masih ada foto lainnya. Raka penasaran dan mengeluarkan semua foto-foto itu dari dalam sela transparan itu.
Ada beberapa foto Marisa bersama Qisa, juga kedua orang tuanya atau mantan kedua mertuanya. Raka jadi teringat kembali masa di mana dia jadi menantu mereka, mereka sangat baik. Bahkan saat Raka mengambil keputusan mengembalikan baik-baik Marisa pada mereka, kedua orang tua Marisa saat itu sangat sedih dan terpukul, serta menyesal atas perlakuan putrinya pada Raka.
Raka terhenyak, saat dua foto terakhir dia lihat, ternyata Marisa masih menyimpan foto pengantinnya serta satu foto saat dirinya dan Marisa difoto di rumah orang tua Raka yang pada saat itu sedang melaksanakan syukuran ngunduh mantu.
"Dia masih menyimpan foto pengantin ini dan foto saat di rumah Mama, untuk apa dia menyimpannya? Bukankah Marisa tidak mencintai aku? Atau sekarang dia menyesal karena dulu telah menyia-nyiakan aku?" tanyanya berbisik dengan perasaan heran. Beberapa menit, Raka masih menatap foto pengantin itu. Sungguh cantik Marisa saat itu dan nampak masih belia.
"Kamu memang cantik dan masih muda saat itu, dan kini juga ...." Raka tidak melanjutkan gumanannya, dia terlalu kecewa jika harus mengingat kembali masa lalu di mana Marisa terlalu mementingkan dirinya sendiri dibanding mengurus dirinya sebagai suami.
"Cantik, sih, tapi sayang kamu tidak bisa dijadikan sebagai partner hidup," desah Raka menyesalkan sembari meletakkan kembali dompet itu di atas meja riasnya.
Raka kembali membaringkan dirinya di ranjang sembari memikirkan foto yang diselipkan Marisa di balik sela dompetnya. "*Apakah Marisa mencintai aku*?" tanya Raka dalam hati.
tak gibengae