Demi melunasi utang keluarga dan menyelamatkan ayahnya dari kehancuran, Laras terpaksa menerima pernikahan yang dipaksakan—menjadi istri Arga Pratama, pewaris konglomerat yang dingin, angkuh, dan memandang pernikahan ini sekadar kewajiban bisnis semata. Tidak ada restu hati, tidak ada janji manis; hanya kesepakatan: hidup bersama, tapi tak perlu saling mencintai.
Awalnya, rumah tangga mereka bagai dua kutub yang bertabrakan. Arga bersikap dingin bagaikan es, sementara Laras berusaha menjaga harga diri di tengah cemoohan lingkungan dan tekanan keluarga besar. Namun seiring berjalannya waktu, di balik sikap kasarnya, Laras mulai melihat sisi lain Arga—rasa tanggung jawab, perlindungan diam-diam, dan luka masa lalunya yang tersembunyi. Sebaliknya, ketulusan serta ketabahan Laras perlahan mencairkan hati beku Arga.
Apa yang dimulai dari keterpaksaan dan permusuhan, perlahan berubah menjadi getaran rasa yang tak terduga. Ketika ancaman luar dan rahas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Restu yang Datang Tulus
Beberapa hari setelah acara peresmian itu, Daffa datang berkunjung secara khusus ke kediaman Pratama bersama Sari. Kali ini ia datang bukan sebagai orang asing atau pemuda yang sedang kesulitan, melainkan sebagai seseorang yang ingin meminta izin dengan cara yang paling sopan dan terhormat.
Sari yang sudah lama ingin bertemu kembali dengan Laras langsung berlari kecil menghampiri gadis itu begitu masuk ke dalam halaman. “Nona Laras! Akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi!” serunya riang sambil merangkul lengan Laras.
Laras tersenyum lebar sambil memeluk gadis kecil itu. “Aku juga sangat merindukanmu, Sari. Senang sekali melihatmu terlihat semakin sehat dan ceria.”
Setelah berbincang sejenak di ruang tamu, Daffa meminta izin untuk berbicara empat mata bersama Ayah, Ibu, dan Kakek Laras. Suasana menjadi hening sejenak sebelum Daffa mulai menyampaikan maksud kedatangannya.
“Bapak, Ibu, Kakek… Aku datang ke sini hari ini untuk menyampaikan satu hal yang sudah lama ada di dalam hatiku. Aku mencintai Laras, dan ingin memohon izin untuk mempersuntingnya menjadi istriku kelak. Aku tahu dulu Bapak dan keluarga sempat meragukanku. Namun aku berjanji sekuat tenagaku, aku akan menjaga kehormatan, kebahagiaan, serta nyawa Laras seumur hidupku. Tidak akan pernah aku menyia-nyiakannya.”
Ia berhenti sejenak untuk menenangkan hati, lalu melanjutkan dengan suara yang mantap namun tetap rendah hati. “Jika Bapak dan Kakek masih merasa ragu atau menganggap aku belum layak, aku siap menunggu berapa lama pun waktu yang Bapak berikan. Namun tolong jangan paksa Laras untuk bersanding dengan orang yang tidak ia cintai.”
Ayah Laras menatap Daffa lekat-lekat dalam waktu yang cukup lama. Tidak ada kemarahan di wajahnya, melainkan tatapan yang penuh dengan pertimbangan yang dalam.
“Daffa, kami sudah melihat siapa dirimu sebenarnya. Kami melihat bagaimana caramu berjuang, bagaimana kamu menjaga adikmu, dan bagaimana kamu tetap rendah hati meski kini sudah memiliki segalanya kembali,” ucap Ayah perlahan. “Kami tidak lagi meragukan ketulusanmu. Namun satu hal yang ingin kami tanyakan: apakah cintamu hanya karena Laras baik padamu saat kau sedang susah, atau kau benar-benar mencintai dirinya apa adanya?”
“Cintaku tumbuh bukan karena apa yang ia berikan padaku,” jawab Daffa tegas tanpa ragu sedikit pun. “Melainkan karena hatinya yang lembut namun teguh, karena keberaniannya melihat kebaikan di balik segala kesulitan, dan karena ia adalah satu-satunya orang yang membuatku merasa berharga saat aku merasa tidak memiliki apa-apa sekalipun.”
Mendengar jawaban itu, perlahan senyum mulai terukir di bibir Arga Muda. “Itulah jawaban yang kami harapkan. Dulu aku dan istriku pun melalui jalan yang tidak mudah, namun ketulusan selalu menemukan jalannya. Kami merestui niatmu, Nak. Anggaplah kami sebagai orang tuamu sendiri.”
Hati Daffa terasa sangat terharu hingga matanya berkaca-kaca. Ia segera menundukkan kepala sebagai tanda terima kasih yang sebesar-besarnya. “Terima kasih, Bapak, Ibu, Kakek. Aku tidak akan mengecewakan kepercayaan yang besar ini.”
Sementara itu di beranda, Laras tidak sengaja mendengar sebagian percakapan itu dari balik pintu yang sedikit terbuka. Air mata bahagia menetes pelan di pipinya. Ia bersyukur kepada Tuhan bahwa jalan yang terjal dan penuh rintangan ini akhirnya mulai terbuka lebar dengan restu yang tulus dari semua pihak.
Saat pertemuan itu selesai dan Daffa hendak berpamitan, ia sempat berpapasan dengan Laras di halaman depan.
“Terima kasih telah menungguku sampai detik ini,” bisik Daffa pelan hanya untuk mereka berdua.
“Terima kasih juga karena kau berjuang sampai sejauh ini demi kita,” balas Laras sambil tersenyum lebar.
Sore itu langit terlihat begitu cerah, seolah ikut merayakan gugurnya segala keraguan yang selama ini menjadi dinding pemisah di antara mereka. Namun mereka berdua tahu, bahwa persiapan menuju ikatan suci itu masih membutuhkan waktu, dan mereka akan melangkah bersama dengan sabar dan penuh rasa syukur.
(Bersambung ke Bab 33)