NovelToon NovelToon
The Lecturer'S Secret Wife

The Lecturer'S Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Saya terima nikahnya Yuna bin Adnan..."




​Suara berat Labib saat mengucapkan kalimat itu tadi malam masih terngiang jelas di telinga Yuna. Pernikahan mendadak ini adalah wasiat terakhir almarhum ayahnya, sahabat karib Labib meskipun usia mereka terpaut jauh. Ayah Yuna tahu hidupnya tak lama lagi karena sakit, dan ia memercayakan putri tunggalnya pada satu-satunya pria yang ia tahu punya integritas tinggi: Labib.

​"Yuna Anindya."

​Suara berat itu memecah lamunan Yuna. Ia tersentak, mendongak, dan mendapati seisi kelas kini tengah berbalik menatapnya. Di depan sana, Labib sedang memegang daftar absensi, menatapnya lurus tanpa ekspresi ragu sedikit pun. Profesional. Seolah tadi malam ia tidak menyematkan cincin di jari manis Yuna.

​"Ya, Pak. Hadir," sahut Yuna pelan, mengangkat tangannya sedikit.

​Labib mengangguk sekilas, lalu beralih ke nama berikutnya tanpa jeda. Tidak ada perlakuan khusus. Memang itu yang Yuna inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berbagi Kamar

​Taksi online yang membawa Yuna berhenti di depan sebuah rumah berdesain minimalis modern dengan dominasi warna abu-abu gelap dan putih. Rumah itu lumayan besar untuk ukuran pria yang tinggal sendiri, lengkap dengan halaman kecil yang tertata rapi di bagian depan.

​Yuna turun dari mobil, menyeret kopernya dengan langkah ragu. Labib rupanya sudah menunggunya. Pria itu berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kemeja kuliahnya yang lengannya sudah digulung hingga siku, menampilkan kesan santai yang jarang sekali Yuna lihat di kampus.

​"Sudah semua barangnya?" tanya Labib datar, langsung mengambil alih koper besar dari tangan Yuna tanpa menunggu jawaban.

​"Sudah, Mas. Cuma ini dulu," jawab Yuna pelan sambil mengekor di belakang suaminya.

​Memasuki bagian dalam rumah, Yuna tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. Interior rumah ini sangat rapi, mencerminkan selera seorang dosen arsitektur yang perfeksionis. Sambil berjalan, Yuna mengingat cerita almarhum ayahnya dulu. Labib sebenarnya adalah adik tingkat ayahnya saat kuliah dahulu. Meskipun perbedaan usia mereka terpaut cukup jauh—hampir sepuluh tahun—dan sang ayah sudah dianggap seperti mentor sendiri, keduanya menjadi sangat dekat karena sering terlibat dalam proyek desain yang sama. Kedekatan emosional itulah yang membuat sang ayah tanpa ragu menitipkan Yuna pada Labib.

​"Rumah ini punya tiga kamar tidur," Labib membuka suara, memecah keheningan sambil menaiki tangga menuju lantai dua. "Satu di bawah yang biasa dipakai kalau Ibu saya berkunjung, dan dua di lantai atas."

​Yuna mengangguk-angguk. Dalam hatinya, ia sudah mulai menyusun rencana. 'Baguslah, ada kamar kosong. Aku bisa pakai kamar sebelah,' pikirnya lega.

​Namun, langkah Labib berhenti tepat di depan kamar terbesar di lantai atas—kamar utama. Pria itu mendorong pintunya terbuka, lalu meletakkan koper Yuna di dekat lemari pakaian besar.

​"Mulai hari ini, kamu pindahkan barang-barangmu ke lemari ini. Ini kamar kita," kata Labib tenang, berbalik menatap Yuna yang langsung mematung di tempat.

​"Eh? Kamar... kita, Mas?" Yuna mengerjapkan mata, mendadak gugup. "Tapi... tadi Mas bilang ada tiga kamar? Maksud saya, apa nggak sebaiknya saya pakai kamar yang satu lagi? Saya... saya takut mengganggu istirahat Mas Labib."

​Labib berjalan mendekat, menghentikan langkahnya tepat dua langkah di depan Yuna. Tatapan matanya yang tajam di balik kacamata membuat Yuna refleks menahan napas. Aura tegas dosennya menguar kuat, namun ada nada mutlak yang tidak bisa dibantah sebagai seorang suami.

​"Yuna," panggil Labib dengan suara beratnya yang tenang. "Kita memang menikah karena wasiat, dan saya setuju untuk merahasiakannya di kampus demi kenyamananmu. Tapi di rumah ini, kita adalah suami istri yang sah. Saya tidak berniat menjalani pernikahan formalitas di mana kita tidur di kamar terpisah."

​Yuna menelan ludah, meremas ujung bajunya. Wajahnya mendadak terasa panas.

​"Saya tahu kamu masih canggung, dan saya tidak akan memaksamu melakukan apa pun yang belum kamu siap," lanjut Labib, nadanya sedikit melunak saat melihat kepanikan di mata istrinya yang baru berusia 21 tahun itu. "Tapi kita harus mulai membiasakan diri berbagi ruang. Mengerti?"

​Yuna terdiam sejenak, menatap kamarnya yang luas dengan ranjang berukuran king size di tengah ruangan. Meskipun hatinya masih berdebar tak karuan dan rasa canggungnya terasa begitu mencekik, ia tahu apa yang dikatakan Labib ada benarnya. Pria 31 tahun di depannya ini sekarang adalah pelindungnya, suaminya.

​"I-iya, Mas. Mengerti," sahut Yuna pelan, nyaris berbisik sambil menundukkan kepala.

​Labib mengangguk puas. "Bagus. Sekarang bersihkan dirimu, lalu rapikan barang-barangmu. Saya akan memesan makan malam untuk kita berdua."

​Setelah Labib keluar dan menutup pintu kamar, Yuna langsung terduduk di tepi ranjang yang empuk. Ia memegangi dadanya yang berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Menghadapi Pak Labib yang galak di kelas ujian saja sudah membuat lututnya lemas, dan sekarang, ia harus berbagi tempat tidur dengan pria yang sama setiap malam.

1
Rian Moontero
mampiiirrrrR🤣
Sri Afrilinda
so sweet😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!