Ini adalah buku lanjutan dari buku sebelumnya, mengisahkan perjalanan seorang Nova Arvena untuk menjadi seorang kultivator muda terkuat dan membawa kedamaian bagi seluruh mahluk hidup yang ada.
Bagaimana kisahnya, silahkan simak cerita lanjutan ini, semoga teman-teman suka!
kali ini season ke 2 akan menggunakan alur cepat, dan banyak harem.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA TEMAN-TEMAN😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Monster Roh
Ledakan keras yang mengguncang Penginapan Awan Abadi membuat seluruh penghuni kota dalam sekejap jatuh ke dalam keadaan siaga penuh. Suara lonceng peringatan dari menara penjaga mulai berdentang nyaring, bergema ke seluruh penjuru Kota Yunfeng, sementara formasi pelindung kota perlahan menyala membentuk lapisan cahaya tipis yang membentang di atas langit seperti kubah raksasa.
Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Lin Xue sudah bergerak terlebih dahulu.
"Semua ikut aku! Ke arah tembok kota!"
Perintah itu langsung diikuti oleh seluruh anggota rombongan. Yan Mei yang masih berada di kamar Nova langsung berubah ekspresi, namun tanpa banyak bicara ia segera berlari menyusul yang lain. Nova sendiri hanya mengangguk singkat sebelum melangkah keluar kamar, mengikuti aliran para kultivator yang bergerak cepat menuju arah luar kota.
Semakin mereka mendekati tembok Kota Yunfeng, semakin jelas suara pertempuran terdengar. Energi spiritual beradu di udara, menciptakan gelombang tekanan yang membuat tanah sedikit bergetar. Dari kejauhan, Nova dapat melihat siluet makhluk raksasa sedang menyerang lapisan formasi pelindung kota, setiap hantaman cakarnya meninggalkan retakan cahaya di permukaan formasi tersebut.
Ketika akhirnya mereka tiba di garis pertahanan, pandangan Nova langsung tertuju pada sosok monster yang berdiri di luar tembok kota. Makhluk itu memiliki tubuh besar seperti harimau bercorak hitam pekat, namun di punggungnya tumbuh enam bilah tulang seperti pedang yang memancarkan aura korosif. Matanya berwarna merah gelap, dan setiap napas yang keluar dari mulutnya membawa kabut hitam yang mampu mengikis batu spiritual di sekitarnya.
Namun yang membuat Nova benar-benar terdiam bukanlah ukurannya, melainkan aura yang dipancarkannya.
Sangat mirip, dengan monster yang pernah ia hadapi di ruang dimensi saat berlatih bersama Zira.
Seketika, ingatan itu kembali muncul di benaknya—ruang kosong tanpa batas, tekanan hukum yang kacau, dan makhluk buas yang muncul dari retakan dimensi sebagai bagian dari ujian mereka.
"Monster ini..." gumam Nova pelan sambil menyipitkan mata, "mirip sekali dengan yang ada di ruang dimensi itu."
Di dalam lautan jiwa, Tian Long juga ikut memperhatikan dengan ekspresi serius.
"Itu bukan makhluk alam biasa."
"Ada sisa-sisa energi ruang di tubuhnya. Sepertinya ia pernah terperangkap atau lahir dari celah dimensi yang tidak stabil."
Namun Nova tidak menunggu penjelasan lebih lanjut.
Begitu melihat monster itu mulai menghantam formasi kota sekali lagi hingga membuat seluruh lapisan pelindung bergetar hebat, ia perlahan melangkah maju. Di tengah kerumunan para kultivator Kota Yunfeng, kehadirannya yang semula tidak terlalu diperhatikan kini mulai menarik perhatian setelah Lin Xue tanpa sadar memberi jalan.
"Nova?" Yan Mei memanggilnya dengan nada terkejut. "Kau mau ke mana?"
Nova menoleh sekilas sambil tersenyum tipis.
"Menyelesaikan masalahnya."
Sebelum ada yang sempat menahan, tubuhnya sudah melesat ke depan tembok kota dengan kecepatan yang tidak terlalu mencolok, namun setiap langkahnya terasa stabil dan penuh kontrol. Dari atas tembok, para penjaga sempat terkejut melihat seorang pemuda asing tiba-tiba melompat keluar dari perlindungan formasi.
"Siapa itu?!"
"Itu bukan orang dari sekte kita!"
Namun Lin Xue hanya mengangkat tangannya, memberi isyarat agar mereka tidak bertindak gegabah.
"Aku yang bertanggung jawab."
Sementara itu, Nova sudah berdiri di tanah terbuka di luar tembok, tepat di hadapan monster raksasa tersebut. Angin yang membawa aroma darah spiritual berhembus kencang, namun ekspresi Nova tetap tenang, bahkan cenderung santai.
Perlahan ia mengangkat tangan kanannya, dan dari dalam gelang penyimpanannya, sebuah pedang panjang perlahan muncul dengan kilatan cahaya biru gelap yang dingin.
Oceanus Crown Blade.
Saat pedang itu keluar sepenuhnya, permukaan bilahnya langsung beresonansi dengan energi di sekitar, sementara sebuah batu merah tua yang tertanam di gagangnya Red Stone mulai berdenyut pelan, mengalirkan energi panas yang stabil ke seluruh bilah pedang.
Monster itu menggeram keras, seolah merasakan ancaman dari makhluk kecil di depannya. Tanpa ragu ia melompat, enam bilah tulang di punggungnya meluncur seperti hujan pedang menuju Nova dengan kecepatan yang mampu merobek ruang udara.
Namun Nova hanya menarik napas pelan.
"Aku sudah berlatih cukup lama untuk ini."
Begitu suara itu jatuh, ia mengayunkan Oceanus Crown Blade dengan gerakan sederhana namun presisi sempurna, tidak ada gerakan berlebihan, tidak ada teknik yang berkilau mencolok, hanya satu garis tebasan lurus yang dipenuhi keseimbangan sempurna antara energi air dan api yang menyatu melalui Red Stone.
Dalam sekejap, ruang di depannya seperti terbelah oleh arus samudra yang membeku, menghantam seluruh bilah tulang monster itu sebelum bahkan sempat mendekat.
DUAARRR!!
Ledakan energi biru keperakan menyapu area luar tembok kota, menciptakan gelombang tekanan yang membuat pasir dan batu beterbangan. Tubuh monster itu langsung terpental ke belakang, enam bilah tulangnya hancur sebagian, sementara luka besar menganga di bagian dadanya. Makhluk itu meraung kesakitan, namun Nova tidak berhenti di situ.
Ia melangkah maju sekali lagi, dan dalam satu gerakan lanjutan yang nyaris tidak terlihat oleh mata biasa, Oceanus Crown Blade kembali menebas udara, kali ini membawa aliran energi yang jauh lebih stabil dan terkonsentrasi.
Cahaya pedang itu seperti garis horizon laut yang menutup segalanya, dan sebelum monster itu sempat bereaksi, tubuhnya langsung terbelah oleh tekanan energi tersebut hingga akhirnya runtuh perlahan di tanah.
Keheningan sesaat menyelimuti seluruh area luar tembok Kota Yunfeng.
Tidak hanya para penjaga kota, bahkan para kultivator dari berbagai sekte yang hadir di garis pertahanan juga terdiam tanpa kata.
Lin Xue menatap dari atas tembok dengan ekspresi sulit dibaca. Yan Mei membuka mulutnya sedikit, namun tidak ada suara yang keluar.
"Dia..." gumam Gu Shen pelan, "baru saja mengalahkan monster itu… dengan satu pedang?"
Nova perlahan menurunkan pedangnya, lalu menyarungkannya kembali seolah tidak terjadi sesuatu yang besar. Ia menoleh ke arah Lin Xue dan yang lainnya, lalu berkata dengan nada tenang.
"Masalahnya sudah selesai," gumam Nova sambil merendahkan badannya dan mengambil inti monster di hadapannya itu, lalu memasukannya ke dalam gelang penyimpanan miliknya. "Lumayan."
Namun di dalam lautan jiwa, Tian Long hanya tertawa pelan, suaranya dipenuhi makna dalam.
"Bukan selesai, bocah."
"Ini baru awal."
Sementara di atas tembok Kota Yunfeng, beberapa tatapan dari kultivator kuat mulai mengarah ke Nova dengan ekspresi yang jauh lebih serius daripada sebelumnya. Karena mereka semua menyadari satu hal yang sama.
Pemuda itu… bukan sekedar pendatang biasa. Tak lama setelah itu, aura yang lebih menekan datang memenuhi udara. Pria berjubah yang sempat di temui Nova kembali datang, seorang Mortal King.
Begitu pria tua itu hadir di antara mereka semua orang menundukkan kepalanya.