NovelToon NovelToon
Logika Diatas Cinta

Logika Diatas Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Seeula

Nadine Lavena membatalkan pernikahannya tiga minggu sebelum hari H setelah membongkar perselingkuhan tunangannya, Heyden Ames, di depan diskusi formal dua keluarga besar. Pengkhianatan itu membangkitkan trauma masa kecil saat dibuang ibu kandungnya, membuat Nadine skeptis pada cinta dan hanya memercayai uang.
Seminggu kemudian, di sebuah restoran industrial, Nadine menyaksikan Kyle Ernest pewaris bisnis sedingin es disiram air oleh teman kencan butanya akibat klausul pernikahan kontrak yang teramat kaku. Senyum sinis Nadine memicu harga diri Kyle yang angkuh hingga melayangkan tantangan gila: pernikahan kontrak tiga tahun dengan gaji 100 juta per bulan dan denda pembatalan 30 miliar.
Nadine menerima tantangan itu demi uang, murni sebagai mitra kerja. Namun, Kyle tidak menduga bahwa di balik sikap acuh tak acuh Nadine, wanita itu menyimpan kecerdikan tajam untuk menghadapi badai fitnah dari Kinara Inka, masa lalu Kyle yang licik yang tiba-tiba kembali untuk merebut segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seeula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Ketika Dinding Es Rubah Mematahkan Insting Posesif sang Predator

​Aroma tanah basah dan uap hujan yang pekat menguar dari celah jendela besar yang sedikit renggang, berpadu intim dengan kehangatan tubuh Kyle Ernest yang mengungkung Nadine Lavena di atas ranjang satin hitamnya. Kegelapan total akibat padamnya aliran listrik di kawasan Menteng malam itu justru mengamplifikasi setiap indra yang mereka miliki secara liar. Sunyi yang mencekam di dalam kamar seolah membuat suara gemuruh badai di luar terdengar begitu jauh, digantikan oleh suara deru napas Kyle yang hangat dan teratur di permukaan kulit leher Nadine, mengusir hawa dingin yang dibawa oleh angin malam.

​Nadine bisa merasakan ketegangan yang luar biasa dari otot-otot dada bidang Kyle yang menempel ketat pada tubuhnya melalui sekat tipis piyama satinnya. Namun, di balik keterkejutan yang sempat membuat jantungnya berdegup kencang menahan getaran asing, akal sehat dan kalkulasi dingin di dalam otak Nadine kembali bekerja dengan kecepatan penuh. Sepasang mata indahnya yang mulai terbiasa dengan kegelapan menatap lurus ke arah siluet wajah tegas Kyle yang berada tepat beberapa sentimeter di atasnya.

​Nadine menarik napas panjang, menstabilkan ritme jantungnya sebelum memecah keheningan di antara deru hujan. "Lepaskan tangan Anda, Tuan Ernest. Tindakan Anda malam ini sudah masuk dalam kategori pelanggaran berat terhadap draf kontrak pasal ketiga mengenai batas privasi fisik."

​Kyle menarik sudut bibirnya ke atas perlahan. Sebuah kekehan rendah yang terdengar serak, berbahaya, dan dipenuhi oleh keangkuhan yang terluka lolos dari tenggorokannya. Cengkeraman tangannya yang hangat di pergelangan tangan Nadine tidak melonggar sama sekali, justru semakin mantap mengunci posisi wanita itu di atas kasur, namun tetap dengan kehati-hatian yang presisi agar tidak menyakiti kulit lentiknya.

​"Pasal ketiga? Aku sudah mengatakannya tadi, Nadine. Lembaran kertas itu tidak lagi berlaku di dalam kamar ini, setidaknya tidak untuk malam ini saat aku menyadari bahwa istrimu yang cerdik ini hanya melihatku sebagai mesin uang."

​Jemari Nadine yang terkunci di bawah cengkeraman tangan Kyle bergerak sedikit, merasakan gesekan kulit yang hangat dan mendebarkan. Ia mengabaikan debaran aneh di dadanya, mempertahankan sorot mata tajam yang menantang manik mata kelabu Kyle yang berkilat samar di bawah berkas cahaya kilat yang sesekali menembus gorden.

​"Uang adalah fondasi yang paling jujur, Pak Kyle. Jauh lebih aman daripada ego seorang pria yang sedang berusaha membuktikan pesona fisiknya di tengah kegelapan."

​"Kalau begitu, mari kita lihat seberapa tinggi harga kejujuranmu itu jika dihadapkan pada situasi seperti ini."

​Kyle memajukan wajah tampannya tanpa ragu, mengikis sisa jarak di antara mereka hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan dengan lembut. Embusan napas panasnya yang beraroma min menyapu bibir Nadine, membiarkan aroma pekat dari parfum amberwood berkayu miliknya menguasai seluruh indra penciuman dan kesadaran Nadine dalam sekejap.

​"Apakah kamu akan tetap menghitung denda materi saat suamimu sendiri berada selingkar ini dari bibirmu?"

​{Pria ini benar-benar sudah gila. Keangkuhannya yang terluka akibat urusan provokasi potong gaji di dapur sore tadi tampaknya telah mengubahnya menjadi sosok predator yang sangat nekat malam ini. Dia ingin melihatku memohon belas kasihan atau panik di bawah kuasanya? Sayang sekali, Kyle Ernest, kamu salah memilih lawan tanding emosi.}

​Nadine tidak memalingkan wajahnya sedikit pun. Sebaliknya, ia justru melemaskan seluruh otot-otot tubuhnya, membiarkan punggung anggunnya bersandar rileks pada kasur empuk yang dingin di bawah kungkungan tegap Kyle. Sebuah senyuman tipis yang sarat akan ketegasan dingin dan kecerdikan yang mematikan perlahan-lahan terukir di bibir anggunnya.

​"Jika Anda tidak melepaskan saya dalam hitungan ketiga, saya pastikan besok pagi seluruh saham Ernest Group akan menghadapi sentimen negatif yang luar biasa akibat gugatan hukum perceraian atas tindakan pemaksaan fisik yang diajukan oleh istri sah Anda sendiri. Silakan pilih, Tuan Ernest: kepuasan ego sesaat Anda malam ini, atau kehilangan valuasi pasar sebesar dua triliun rupiah di lantai bursa besok jam sembilan pagi?"

​Kyle terdiam seketika. Rahang tegasnya mengeras rapat mendengar ancaman kalkulatif yang keluar dari bibir Nadine dengan begitu tenangnya di tengah situasi intim yang seharusnya memicu kepanikan wanita pada umumnya.

​Kecerdikan Nadine yang selalu mengaitkan segala hal dengan dampak finansial makro kembali berhasil memukul mundur insting posesifnya dengan telak. Pria beraura es itu menatap wajah unik Nadine di tengah kegelapan dengan tatapan yang dipenuhi rasa frustrasi yang mendalam sekaligus kekaguman liar yang tak terbendung.

​Hening yang kaku merayap di antara mereka selama beberapa detik, sebelum akhirnya Kyle perlahan-lahan melepaskan cengkeraman tangannya pada pergelangan tangan Nadine. Pria itu bangkit berdiri di samping ranjang, mengembuskan helaan napas berat yang terdengar sangat kesal di tengah kegelapan malam.

​Seberkas cahaya putih dari lampu senter ponsel Nadine akhirnya menyala, membelah kepekatan malam di kamar tidur sayap barat lantai dua. Bersamaan dengan itu, keharuman mewah dari lilin aromaterapi cendana yang mulai menguap kembali menguar hebat, mendominasi setiap sudut udara kamar yang dingin.

​Kyle Ernest berdiri membelakangi ranjang, kedua tangannya tenggelam di dalam saku celana kain hitamnya. Ia menatap lurus ke arah jendela kaca besar yang masih dihantam oleh sisa-sisa air hujan malam, membiarkan punggung tegapnya yang kaku menjadi tameng visual dari rasa frustrasinya yang belum reda. Ketegangan fisik di antara mereka berdua mungkin telah mereda, namun atmosfer canggung yang sarat akan gengsi tingkat tinggi kian mengental di udara.

​Nadine duduk di tepi ranjang, merapikan piyama satin hitamnya yang sedikit kusut dengan gerakan tangan yang sangat anggun dan teratur, seolah-olah insiden penguncian fisik yang baru saja terjadi hanyalah sebuah gangguan kecil dari kurir paket harian.

​"Listrik di kawasan ini biasanya membutuhkan waktu empat puluh menit untuk pulih kembali setelah badai petir, Pak Kyle. Jika Anda sudah selesai menguji tingkat ketahanan mental saya, silakan kembali ke sayap timur."

​Nadine meletakkan ponselnya di atas meja nakas dengan ketukan yang sengaja diperjelas di tengah kesunyian kamar.

​Kyle membalikkan tubuhnya perlahan. Wajah tampannya terlihat sangat kaku di bawah siraman cahaya senter yang temaram dari arah bawah meja nakas, memproyeksikan bayangan rahang tegasnya yang tajam pada dinding semen ekspos.

​"Kamu benar-benar tidak memiliki sedikit pun ruang untuk perasaan, Nadine? Apakah semua hal di dalam hidupmu selalu berakhir dengan angka-angka di lantai bursa dan draf pasal hukum?"

​Nadine menuangkan air putih hangat dari teko kaca ke dalam gelas pribadinya dengan gerakan tangan yang sangat tenang.

​"Perasaan adalah komoditas yang terlalu fluktuatif, Tuan Ernest. Nilainya bisa merosot tajam dalam waktu satu malam akibat pengkhianatan, seperti yang dialami oleh Anda dengan Kinara, atau saya dengan Heyden. Angka dan hukum memberikan kepastian yang mutlak. Sesuatu yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh hati seorang manusia."

​Nadine menyesap air hangatnya perlahan, menatap Kyle dengan sepasang mata indah yang bersih dari segala bentuk ilusi romansa murahan.

​Kyle menatap wanita di hadapannya itu dengan kedalaman pandangan yang kian rumit. Ia mulai memahami dengan sangat pahit malam ini bahwa dinding es yang membentengi hati Nadine jauh lebih tebal, kokoh, dan sulit ditembus daripada miliknya sendiri. Dinding es Nadine dibangun di atas fondasi trauma masa lalu yang rasional dan penuh kalkulasi matematis, menjadikannya wanita mandiri yang tidak bisa disentuh oleh rayuan fisik atau intimidasi kekuasaan pria mana pun.

​Kyle menegakkan kembali postur tubuhnya, ada nada tersinggung yang samar dalam intonasi bicaranya yang berat. "Aku tidak menyamakan diriku dengan bajingan seperti Heyden Ames, Nadine."

​"Dan saya juga tidak menyamakan diri saya dengan Kinara Inka yang bisa Anda kendalikan dengan uang atau status sosial, Pak Kyle."

​Nadine meletakkan kembali gelasnya ke atas meja nakas dengan bunyi ketukan yang konstan.

​"Kerja sama kita akan tetap menguntungkan selama kita berada di koridor yang sama. Jangan merusak sistem yang sudah berjalan lancar hanya karena Anda merasa kesepian di sayap timur."

​Kyle mendengus pelan. Seulas senyuman smirk kaku kembali muncul di sudut bibirnya yang kokoh saat ia melangkah perlahan menuju pintu kamar Nadine yang masih terbuka sedikit, membiarkan aroma parfum amberwood-nya mengalir pergi bersamanya.

​"Sistem ini mungkin berjalan lancar karena kecerdikanmu, Nona Nadine. Tapi ingat satu hal... aku adalah pemilik sistem yang sah, dan suatu saat nanti, aku akan memastikan kamu sendiri yang meminta amandemen terhadap pasal ketiga itu tanpa paksaan sedikit pun dari pihakku."

​Kyle melangkah keluar dari kamar dengan langkah yang konstan dan berbobot, meninggalkan koridor sayap barat dalam sekejap.

​Nadine hanya menatap kosong ke arah daun pintu kayu jati yang tertutup kembali, merasakan sisa kehangatan tubuh Kyle dan parfum wood and amber yang masih tertinggal samar di udara malam, berbaur tipis dengan harum kayu cendana yang menenangkan namun terasa sedikit sunyi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!