terjadi kesalahan cerita, cerita akan di mulai dengan cerita baru. cerita ini tiba-tiba terjadi kesalahan yang tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Cinta untuk Nona Muda" 9
"LUCY! LUCY! BANGUN!"
Suara itu memecah keheningan malam. Bukan suara halus atau bisikan—ini teriakan. Tepat di telinganya.
Lucy mengerang, satu tangannya menepuk-nepuk asal ke arah sumber suara. "Lili... ini jam berapa..."
"BANGUN! INI PENTING!"
Mata biru Lucy terbuka. Bukan mata hitam yang disembunyikan softlens—ini mata aslinya, berkilau dalam gelap seperti dua safir yang berpendar. Dia menatap jam dinding. Jarum pendek menunjuk ke angka dua belas. Jarum panjang di angka dua belas. Tengah malam.
"Ini jam dua belas malam, Lili." Suara Lucy rendah dan berbahaya. "Ada apa?"
Lili berdiri di atas dadanya—kucing putih kecil itu benar-benar menginjak-injak tubuhnya sekarang. Ekornya mengibas-ngibas, bulunya sedikit mengembang. "Protagonis wanita. Dia mengalami perubahan."
"Maksudmu Hana?" Lucy masih setengah sadar. "Perubahan apa?"
"Aku belum bisa mendeteksi detailnya. Tapi..." Lili melompat turun dari dada Lucy, duduk di pinggir kasur dengan postur tegang. "Sepertinya dia terlibat dalam pembunuhan keluarga dari Lucy—pemilik tubuh yang kau tempati ini."
Kantuk Lucy menguap seketika. Dia mendorong tubuhnya untuk duduk, menyandarkan punggung ke dinding. "Apa maksudmu terlibat? Hana Himura? Protagonis wanita yang polos dan baik hati itu?"
"Aku tidak tahu detailnya. Data dunia ini... sedikit kacau sekarang. Sepertinya dewa yang meminta bantuanmu sedang mengalami kesulitan dengan protagonis wanita ini."
"Kesulitan bagaimana?"
"Hana Himura terlibat dengan sesuatu. Sesuatu yang gelap. Dan itu di luar alur cerita aslinya."
Lucy mengerutkan kening. "Jadi Hana yang seharusnya menjadi gadis baik yang tersakiti, sekarang terlibat dalam pembunuhan? Pembunuhan keluarga pemilik tubuhku?"
"Kemungkinan."
"Dan itu kenapa baru ketahuan sekarang?"
"Karena..." Lili terdiam, telinganya bergerak-gerak. "Karena aku baru bisa mendeteksinya sekarang. Seseorang—atau sesuatu—menutupi jejak ini sebelumnya. Seperti kabut yang tiba-tiba terangkat."
Lucy menyilangkan tangannya. "Jadi dewa dari dunia ini minta tolong padaku untuk membereskan antagonis pria dan wanita... tapi ternyata protagonis wanitanya sendiri terlibat masalah?"
"Sepertinya begitu."
"Huh." Lucy mendengus. "Menarik."
"Itu saja reaksimu? 'Menarik'?"
"Lili, aku tidak peduli dengan alasan apa pun." Lucy menguap. "Aku di sini untuk bersenang-senang. Mengumpulkan nilai suka. Menurunkan nilai kejahatan. Kalau protagonis wanitanya ternyata punya sisi gelap... itu malah lebih seru."
"Tapi ini bisa mempengaruhi seluruh alur cerita."
"Bagus. Alur cerita yang bisa ditebak itu membosankan."
Lili menghela napas panjang. "Ada satu hal lagi. Kedatangan Hana Himura tertunda. Tiga hari."
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa mendeteksi alasannya. Tapi sepertinya terkait dengan... keterlibatannya dalam sisi gelap itu."
Lucy mengangguk pelan. "Jadi aku punya tiga hari ekstra sebelum protagonis wanita muncul."
"Ya."
"Dan Akane?"
"Masih sesuai jadwal. Dia akan kembali satu minggu setelah Hana masuk."
"Baiklah." Lucy menjatuhkan dirinya kembali ke kasur, menatap langit-langit. "Sekarang, biarkan aku tidur—"
Dia memejamkan mata.
Dua detik kemudian, dia membukanya lagi.
"Aku tidak bisa tidur."
"Aku tahu."
"Kau membangunkanku dan sekarang aku tidak bisa tidur lagi."
"Aku minta maaf?"
Lucy mendengus dan bangkit. "Sudah. Aku lapar. Aku akan pergi ke supermarket."
"Jam dua belas malam?"
"Supermarket dekat apartemen buka dua puluh empat jam. Aku sudah memeriksanya."
Dia berjalan ke lemarinya, mengeluarkan kaos biru tipis dan celana pendek hitam. Pakaian santai. Tidak ada yang akan melihatnya tengah malam, jadi tidak perlu berdandan. Dia mengambil softlens hitamnya dari meja—lalu meletakkannya lagi.
"Malas," gumamnya. "Lagipula ini tengah malam. Siapa yang akan lihat?"
Lili memiringkan kepalanya. "Mata aslimu?"
"Akan kubiarkan begitu saja untuk malam ini. Rambutku masih hitam—itu cukup."
Dia mengikat rambut sebahu ke belakang dengan karet gelang sederhana. Lalu meraih dompet dan kunci, dan melangkah keluar.
Angin malam menyambutnya begitu pintu apartemen terbuka. Dingin. Cukup dingin untuk membuat manusia normal menggigil. Tapi Lucy bukan manusia normal. Kekuatan ilahinya mengalir hangat di bawah kulit, melindunginya dari hawa dingin yang mencoba menyusup melalui kaos tipisnya.
"Kau akan masuk angin," komentar Lili yang berjalan di sampingnya—kucing putih kecil yang tidak terlihat oleh mata manusia biasa.
"Aku Dewi. Kami tidak masuk angin."
"Tapi tubuhmu ini manusia."
"Setengah manusia. Dan aku sudah memodifikasinya cukup untuk tidak sakit hanya karena angin malam."
Mereka berjalan menyusuri trotoar yang sepi. Distrik Higashi memang tenang—tidak banyak orang berkeliaran di jam seperti ini. Lampu-lampu jalan memancarkan cahaya oranye yang menciptakan bayangan panjang di aspal.
Supermarket itu terang benderang, kontras dengan kegelapan di sekitarnya. Lucy masuk dan mulai mengambil apa pun yang menarik perhatiannya. Ayam goreng instan. Mie kuah. Udang keju. Cokelat. Keripik. Anggur—bukan dari kastilnya, tapi anggur manusia biasa yang rasanya tidak seberapa. Tapi malam ini dia ingin mencoba.
Saat dia keluar dari supermarket dengan dua kantong belanjaan, suara itu terdengar.
Bunyi pukulan. Bentakan. Suara tubuh yang membentur dinding.
Lucy berhenti. Di ujung jalan, di gang sempit antara supermarket dan gedung tua, dia melihat gerakan. Lima—mungkin enam—bayangan. Mereka mengerumuni satu orang yang sudah terjatuh.
"Jangan terlibat," kata Lili di kepalanya. "Ini bukan urusanmu."
"Aku tahu." Lucy melanjutkan langkahnya. "Aku hanya lewat."
Tapi saat dia mendekat—karena apartemennya memang melewati gang itu—dia bisa melihat lebih jelas. Lima remaja laki-laki, mungkin seumuran SMA atau sedikit lebih tua, memukuli satu orang yang sudah tersungkur. Korban itu tidak bergerak banyak. Hanya melindungi kepalanya dengan tangan.
Mereka menghalangi jalanku, pikir Lucy malas. Dan aku tidak ingin berputar.
Dia menghela napas. Lalu, dengan satu jentikan jari yang tersembunyi di balik kantong belanjaan, suara sirine polisi memekik keras—seolah-olah datang dari ujung jalan.
"POLISI! LARI!"
Kelima remaja itu langsung panik. Mereka berhamburan ke arah yang berlawanan, menghilang dalam hitungan detik. Sirine itu berhenti. Suasana kembali sunyi.
Tinggal satu orang di tanah.
Lucy berjalan melewatinya. Dia benar-benar berniat untuk terus berjalan—sampai matanya menangkap sesuatu yang familiar. Jaket tim basket SMA Seiran. Rambut pirang gelap. Tangan yang memegangi perut, di mana ada noda merah yang mulai merembes.
Oh.
"Lili," bisiknya. "Itu Kaito."
"Aku tahu."
Lucy berdiri di sana, menatap pemuda yang hampir pingsan di depannya. Kaito Fujiwara. Antagonis pria. Orang yang seharusnya dia dekati perlahan-lahan, dengan rencana yang matang, bukan ditemukan tergeletak di gang gelap jam setengah satu malam.
Ini di luar rencana, pikirnya.
Tapi tidak apa-apa. Dia bisa improvisasi.
Lucy berjongkok, meletakkan kantong belanjaannya di samping. "Hei. Kau baik-baik saja?"
"Tentu saja dia tidak baik-baik saja! Lihat perutnya!" suara Lili di kepalanya hampir seperti bentakan. "Kenapa kau tanya dia baik-baik saja?! Itu jelas-jelas tidak!"
"Diam, Lili."
Kaito mengangkat kepalanya perlahan. Wajahnya babak belur—bibir pecah, alis berdarah, pipi memar. Tapi matanya—mata cokelat gelap itu—menatap Lucy dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Dan dia diam.
Hanya menatap.
Lucy menunggu. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Tidak ada jawaban.
"Baiklah," katanya akhirnya, mulai berdiri. "Kalau kau tidak mau bicara, aku pergi—"
"Tolong."
Suara itu pelan. Hampir tidak terdengar. Tapi cukup untuk membuat Lucy berhenti.
Dia menatap Kaito lagi. Pemuda itu masih memegangi perutnya, darah merembes di sela-sela jarinya. Wajahnya pucat, tapi matanya—matanya menatap Lucy dengan sesuatu yang putus asa.
Lucy mendesah. "Kenapa kau ada di sini dalam kondisi seperti ini?"
Tidak ada jawaban.
"Baik. Tidak perlu cerita." Dia duduk di samping Kaito, menyilangkan kakinya di aspal dingin. Tangannya merogoh kantong belanjaannya—pura-pura mencari sesuatu.
"Apa yang kau lakukan?!" Lili panik. "Kau tidak beli obat!"
"Aku tahu. Makanya aku ambil dari kastil."
"TAPI DIA AKAN CURIGA—"
"Dia hampir pingsan, Lili. Dia tidak akan memperhatikan detail."
Dan benar saja—dengan gerakan cepat, Lucy mengambil ramuan dari kastilnya melalui cincin penyimpanannya, menyembunyikannya di balik kantong belanjaan. Sebotol kecil bubuk herbal yang manjur untuk luka manusia. Dan perban bersih. Dia mengeluarkannya seolah-olah dari dalam kantong.
"Angkat pakaianmu," katanya datar.
Kaito tidak bergerak. Mungkin terlalu sakit. Mungkin terlalu bingung.
Lucy tidak menunggu. Dia menarik tangan Kaito dari perutnya—tangannya sendiri kecil dibandingkan tangan Kaito yang kasar dan besar—lalu mengangkat jaket dan kaosnya ke atas.
Luka di perutnya lumayan dalam. Bukan luka tusuk, lebih seperti sobekan akibat benda tumpul. Mungkin pipa besi. Mungkin tongkat baseball. Darah masih mengalir, tapi tidak terlalu deras.
Tanpa bicara, Lucy mulai membersihkan luka itu. Gerakannya cekatan—bukan gerakan seorang gadis SMA biasa, tapi dia berharap Kaito terlalu kesakitan untuk menyadarinya. Dia menuangkan bubuk herbal ke atas luka, lalu membalutnya dengan perban, melingkarkannya di perut Kaito dengan kencang.
"Selesai," katanya, menurunkan kembali kaos Kaito. Dia berdiri, mengambil kantong belanjaannya. "Jangan banyak bergerak. Itu akan sembuh."
Dia berbalik dan mulai berjalan.
"Terima kasih."
Suara itu menghentikannya lagi. Lucy menoleh sedikit. Kaito masih duduk di tanah, satu tangannya menyentuh perban di perutnya. Wajahnya masih pucat, tapi matanya... matanya menatap Lucy dengan intensitas yang berbeda.
"Sama-sama," jawabnya singkat, lalu berbalik lagi.
"Tunggu."
Lucy berhenti. Kali ini dia berbalik sepenuhnya, menatap Kaito dengan alis terangkat. "Ada apa?"
Kaito membuka mulutnya—lalu menutupnya lagi. Dia baru menyadarinya sekarang.
Mata Lucy.
Di bawah cahaya lampu jalan yang redup, mata gadis itu bukan hitam seperti yang dia ingat dari sekolah. Mata itu biru. Biru permata. Biru yang begitu dalam dan berkilau, seperti bintang yang terjebak di dalamnya.
"Matamu..." kata Kaito tanpa sadar.
Lucy mengerutkan kening. "Apa?"
Kaito menggeleng, menyadari dia telah menatap terlalu lama. Dia melepaskan jaketnya—jaket tim basket yang sudah kotor dan sedikit robek—dan mengulurkannya pada Lucy.
"Ini. Pakailah."
"Untuk apa?"
"Hari sudah malam. Dingin. Dan kau..." Dia menelan ludah. "...kau hanya pakai kaos tipis."
Lucy menatap jaket itu. Lalu menatap Kaito. Lalu menatap jaket itu lagi.
"Jangan terima," Lili memperingatkan. "Ini tidak ada dalam rencana."
Tapi Lucy tidak mendengarkan. Karena saat dia menatap jaket itu, dia mencium aroma yang membuat indra ilahinya bergetar.
Aroma jiwa Kaito.
Begitu kuat. Begitu liar. Begitu... menggoda.
Energi. Pikirnya. Ini sumber energi yang sangat bagus.
"Baiklah." Dia mengambil jaket itu dan memakainya. Jaket itu terlalu besar untuknya—lengannya menggantung melewati ujung jarinya, dan ujung bawahnya hampir mencapai lutut. Tapi rasanya hangat. Dan aromanya... aromanya memenuhi seluruh indranya.
"Terima kasih," katanya, lalu berbalik dan berjalan pergi. Kali ini dia benar-benar pergi.
Kaito menatap punggungnya yang semakin kecil, jaketnya yang kebesaran membungkus tubuh gadis itu. Mata biru itu masih terngiang di kepalanya. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dia merasa... penasaran.
Lima menit kemudian, suara langkah kaki berlarian mendekat.
"Kaito! Kaito! Kau di sini?!"
Teman-teman Five Shadows muncul dari ujung gang. Wajah mereka panik, napas mereka terengah-engah. Yang pertama tiba adalah Riku—pemain basket berambut cokelat yang selalu menjadi wakil Kaito.
"ASTAGA! KAITO! DARAH!" Riku langsung meraih bahu Kaito. "Siapa yang melakukan ini?! Ke mana mereka?!"
"Sudah pergi," jawab Kaito singkat.
"Kita harus bawa kau ke rumah sakit—"
"Tidak. Bawa aku pulang. Panggil dokter keluarga."
Riku mengangguk, lalu dengan bantuan dua teman lainnya, mereka membantu Kaito berdiri dan berjalan ke mobil yang menunggu di ujung jalan.
Satu jam kemudian, di rumah Kaito—sebuah penthouse mewah di puncak gedung tertinggi di kota—dokter pribadi keluarga Fujiwara membuka perban yang melilit perut Kaito. Dan dia terdiam.
"Ini... tidak mungkin," gumamnya.
"Apa?" tanya Riku yang berdiri di sudut ruangan.
"Luka ini..." Dokter itu menunjuk perut Kaito. "Lukanya sudah hampir tertutup. Ini terlihat seperti luka yang sudah berumur tiga atau empat hari, bukan luka baru. Tapi Tuan Kaito bilang ini baru terjadi malam ini?"
Kaito tidak menjawab. Dia hanya menatap perutnya sendiri. Luka yang tadi masih terbuka dan berdarah, kini hanya tersisa bekas merah samar. Seperti luka lama yang hampir sembuh.
Bagaimana mungkin?
Pikirannya kembali pada gadis itu. Pada tangannya yang cekatan membersihkan luka. Pada bubuk yang ditaburkannya. Pada mata biru yang begitu indah.
"Siapa dia?" bisiknya pada dirinya sendiri.
"Tuan Kaito?"
"Tidak apa-apa." Kaito menyandarkan punggungnya ke sofa. "Kalian boleh pergi."
Setelah dokter dan teman-temannya pergi—meskipun dengan enggan—Kaito duduk sendirian di ruang tamunya yang luas. Lampu-lampu kota berkilauan di balik jendela kaca besar. Tapi yang dia lihat bukanlah pemandangan itu.
Dia melihat mata biru. Rambut hitam sebahu. Kaos tipis yang seharusnya tidak cukup untuk menahan dingin malam.
Siapa dia sebenarnya?
Sementara itu, di apartemen kecilnya, Lucy duduk bersila di atas kasur. Di hadapannya, makanan-makanan instan tersebar seperti pesta kecil. Ayam goreng. Mie kuah yang masih mengepul. Udang keju. Cokelat. Keripik. Anggur manusia yang rasanya biasa saja.
Lili duduk di sisi lain, menjilati makanannya sendiri—makanan kucing kalengan premium yang Lucy ambilkan dari supermarket.
"Presentase," kata Lili tiba-tiba, suaranya tercekat.
"Hm?" Lucy menggigit ayam gorengnya.
"Kaito Fujiwara. Rasa suka: ♡♡♡ | 30%. Hampir setara dengan rasa sukanya pada protagonis wanita."
Lucy mengunyah perlahan. "Tiga puluh persen? Baru saja aku menolongnya, langsung naik dua puluh persen?"
"Itu belum semua." Lili menelan ludah. "Tingkat kejahatannya menurun. Tadinya 80%. Sekarang 60%."
"Huh." Lucy meraih udang kejunya. "Cukup bagus untuk pekerjaan malam hari."
"KAU TIDAK PEDULI?!"
"Tentu saja aku peduli. Ini kemajuan." Lucy menjilati jarinya. "Tapi aku lebih peduli dengan makanan ini sekarang. Aku lapar."
"Kau baru saja menaikkan presentase secara drastis tanpa rencana, tanpa strategi, hanya karena kebetulan—dan reaksimu hanya 'cukup bagus'?!"
"Lili." Lucy menatap kucingnya dengan mata biru yang tenang. "Aku sudah bilang. Aku di sini untuk bersenang-senang. Kalau keberuntungan berpihak padaku, aku tidak akan menolaknya."
Lili hanya bisa menghela napas panjang.
Lucy menyelesaikan makanannya, lalu merebahkan diri. Matanya menatap jaket basket yang tergantung di kursi—jaket Kaito yang masih memancarkan aroma jiwa pemiliknya. Samar, tapi menggoda.
Dia menjilati bibirnya.
"Inti jiwa antagonis pria itu mungkin terasa sangat enak," gumamnya. "Tapi makanan ini mengenyangkan lebih cepat. Aku akan mencicipi makanan penutupnya nanti."
"Makanan penutup?"
"Kaito." Lucy tersenyum. "Ren. Dan siapa pun yang menarik. Tapi untuk sekarang..."
Dia menutup matanya, masih tersenyum.
"Aku kenyang."