Selama tiga tahun Keyra berkorban demi mendukung karier Arkan dari nol hingga sukses menjadi CEO. Namun setelah berada di puncak, Arkan justru mencampakkannya demi wanita kaya. Di tengah keterpurukannya, Keyra dipertemukan dengan Devan, konglomerat papan atas yang mengubahnya menjadi wanita bersinar tak tergapai. Saat Arkan menyadari berlian yang telah dibuangnya kini milik pria yang paling ditakutinya, penyesalan pun tiba. Apakah pintu maaf Keyra masih terbuka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Denara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran di Balik Air Mata
Helikopter medis Alister Group mendarat darurat di landasan atap rumah sakit privat milik keluarga Devan. Begitu pintu terbuka, Devan melompat keluar sembari menggendong tubuh lemah Keyra di dalam dekapannya. Ia tak membiarkan satu pun perawat menyentuh istrinya. Dengan langkah yang dipenuhi kepanikan, Devan membawa Keyra masuk ke dalam ruang perawatan VVIP yang telah steril.
Setelah melalui pemeriksaan intensif selama satu jam, dokter menyatakan bahwa Keyra hanya mengalami kelelahan fisik yang ekstrem dan syok berat, tanpa ada luka dalam yang membahayakan nyawanya. Efek obat bius dari penculikan itu juga sudah sepenuhnya dinetralkan.
Malam semakin larut, rintik hujan di luar jendela rumah sakit masih terdengar mengetuk kaca dengan ritme yang konstan. Di dalam ruangan bernuansa putih yang sunyi itu, Keyra perlahan-lahan membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar yang asing, disusul oleh aroma antiseptik yang khas.
Namun, perhatian Keyra seketika teralih saat merasakan jemari tangan kanannya digenggam oleh sesuatu yang sangat hangat dan kokoh. Ia menoleh pelan ke samping tempat tidur. Di sana, Devan Alister duduk di atas kursi kayu kecil dengan kepala bersandar di tepi ranjang. Pria perkasa itu tampak sangat lelah; setelan tuksedo hitam pernikahan yang dikenakannya kini tampak kusut dan ternoda debu pelabuhan. Ia tertidur dalam posisi menjaga Keyra, seolah takut jika ia melepaskan genggaman tangannya sebentar saja, Keyra akan menghilang dari hidupnya.
Keyra menatap wajah tampan Devan yang sedang terpejam. Rasa sakit hati akibat rahasia yang disembunyikan pria itu kembali menyeruak di dadanya Namun ingatan saat Devan rela menurunkan senjatanya dan berdiri menantang maut di hadapan Kenneth demi menyelamatkannya malam tadi membuat air mata Keyra kembali menetes tanpa suara. Ia mencoba menarik perlahan jemarinya dari genggaman Devan.
Gerakan kecil itu seketika membuat Devan tersentak bangun. Sepasang mata elangnya langsung terbuka lebar penuh kewaspadaan, namun kilatan tajam itu langsung mencair saat melihat Keyra sudah sadar dan sedang menatapnya.
"Keyra... kamu sudah sadar?" ucap Devan, suaranya terdengar teramat serak dan dipenuhi rasa lega yang luar biasa. Ia langsung menegakkan tubuhnya, mencoba memeriksa kening Keyra untuk memastikan suhu tubuh wanita itu. "Apakah ada bagian tubuhmu yang masih terasa sakit? Aku akan memanggil dokter sekarang—"
"Jangan, Devan," potong Keyra, suaranya terdengar begitu lirih dan lemah di dalam keheningan malam. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela, menolak menatap mata Devan secara langsung. "Aku tidak butuh dokter. Aku hanya butuh kejujuranmu. Sekarang, ceritakan semuanya padaku... tentang ibuku, dan apa yang sebenarnya dilakukan oleh ayahmu delapan belas tahun yang lalu."
Devan tertegun. Tangan yang hendak menyentuh kening Keyra perlahan turun dan terkepal kuat di atas pangkuannya sendiri. Pria itu menarik napas panjang yang terasa sangat berat, menyadari bahwa momen konfrontasi ini tidak akan bisa ia hindari lagi.
"Baik... aku akan menceritakan segalanya tanpa ada satu pun fakta yang dikurangi, Keyra," ucap Devan dengan nada suara yang sarat akan penyesalan yang mendalam. "Delapan belas tahun lalu, ayahku memang memimpin Alister Group dengan tangan besi. Saat itu, perusahaan kami terlibat persaingan bisnis yang sangat kejam dengan Aliansi Naga Hitam milik Kenneth untuk memperebutkan hak pengelolaan pelabuhan militer."
Devan menjeda kalimatnya, menatap punggung tangan Keyra yang terpasang jarum infus. "Ibu kandungmu, Sarah Anastasia, adalah seorang kepala auditor keuangan independen yang tidak sengaja menemukan dokumen transaksi gelap dan penyelundupan senjata yang dilakukan oleh Kenneth. Ibu-mu berniat menyerahkan bukti itu kepada pihak berwajib. Namun, Kenneth mengetahui hal itu dan merencanakan pembunuhan berencana dengan menyabotase rem mobil ibumu hingga terjadi kecelakaan murni di jalan raya."
Keyra seketika menoleh ke arah Devan, sepasang matanya membelalak lebar dengan air mata yang kian deras bergulir. "Jika Kenneth yang membunuhnya... lalu kenapa dokumen medis itu menyatakan ayahmu yang menutup barang buktinya?!"
"Karena ayahku memanfaatkan situasi tersebut, Keyra," jawab Devan, suaranya bergetar menahan perih. "Ayahku menemukan dokumen barang bukti milik ibumu sebelum polisi tiba di lokasi kejadian. Alih-alih menyerahkannya ke pengadilan untuk membersihkan nama ibumu, ayahku justru menggunakan dokumen tersebut untuk memeras Kenneth di bawah meja. Ayahku mengancam akan menjebloskan Kenneth ke penjara jika Aliansi Naga Hitam tidak menyerahkan seluruh hak kelola pelabuhan kepada Alister Group."
Devan menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Keyra. "Demi memenangkan persaingan bisnis dan merebut aset pelabuhan, ayahku menutup seluruh berkas penyelidikan kematian ibumu dan menyuap pihak rumah sakit militer agar kasus itu dinyatakan sebagai kecelakaan lalu lintas biasa. Ayahku tidak membunuh ibumu secara langsung... tapi ambisi dan keserakahannya telah mengubur keadilan untuk ibumu selama delapan belas tahun ini."
Mendengar seluruh kebenaran yang teramat pahit itu, Keyra menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisannya pecah seketika memenuhi seluruh penjuru ruangan VVIP. Dadanya naik-turun menahan rasa sesak yang teramat luar biasa. Kematian tragis ibunya ternyata hanyalah sebuah bidak catur yang dimanfaatkan oleh ayah dari pria yang kini menjadi suaminya demi mendapatkan harta dan kekuasaan.
"Aku baru mengetahui fakta mengerikan ini setahun yang lalu, saat aku melakukan pembersihan total terhadap arsip-arsip rahasia peninggalan mendiang ayahku," lanjut Devan. Perlahan Devan berlutut di samping ranjang rumah sakit Keyra, menatap wanita itu dengan pandangan penuh permohonan. "Saat aku tahu wanita itu adalah ibumu, aku merasa duniaku runtuh, Keyra. Aku teramat takut... aku takut jika aku mengatakannya padamu, kamu akan memandangkan dengan penuh kebencian dan pergi meninggalkanku. Aku egois... karena aku terlanjur mencintaimu lebih dari nyawaku sendiri."
Devan meraih tangan kanan Keyra yang dingin, membawanya ke dahinya sendiri yang berkerut dalam. "Keyra... ayahku sudah meninggal karena penyakitnya tahun lalu, dan Kenneth malam ini sudah aku pastikan akan membusuk di dalam penjara seumur hidupnya atas kasus penculikan dan pembunuhan berencana masa lalu. Seluruh keadilan untuk ibumu sudah aku kembalikan. Kamu boleh membenci nama Alister seumur hidupmu... tapi aku memohon, jangan pernah ragukan cintaku padamu. Aku rela menukar seluruh isi dunia ini hanya agar kamu tetap tinggal di sampingku."ucap Devan.
Keyra tidak menjawab. Ia hanya terus menangis tersedu-sedu di atas bantalnya, membiarkan Devan menggenggam tangannya di bawah keheningan malam yang panjang. Luka masa lalu yang kotor telah terbuka sepenuhnya, dan kini takdir sedang menguji apakah kekuatan cinta di antara mereka mampu menyembuhkan dendam darah yang selama ini tersembunyi di balik kemewahan Alister Group.